"Ini semua salahmu Morgen!" gertak Maple.
Laki-laki brengsek itu hanya tersenyum sinis lalu meraih sekotak rokok yang tergeletak diatas meja. "Salahku? Coba sebutkan apa kesalahanku! " Laki laki itu dengan angkuhnya menyalakan rokok itu lalu menghisapnya.
Maple wanita malang itu hanya bisa menahan tangisnya. Ia sudah jengah dengan laki-laki di hadapannya itu.
"Kau... kau sudah membuatku hamil hiks… dan kau sekarang tidak mau bertanggung jawab hiks hiks hiks…." Maple meremas roknya menyalurkan semua emosinya yang begitu kacau saat itu.
Laki-laki itu masih terlihat santai dan tidak terpengaruh sedikit pun melihat Maple. Laki-laki itu masih sibuk menyesap asap rokoknya. "Kau hamil itu bukan urusanku," ucapnya tanpa rasa bersalah sama sekali.
Mendengar ucapan Morgen membuat hati Maple remuk cukup ia menanggung kehamilan di luar pernikahan itu dan coba lihat sekarang laki-laki yang paling dicintainya itu sama sekali tidak mau bertanggung jawab atas kehamilan dirinya. Menggigit bibirnya kuat mencoba bertahan untuk menghadapi mahkluk brengsek di hadapannya saat ini. Dia tidak boleh terlihat lemah jika ia sampai terlihat lemah maka sama saja ia kalah dan menghancurkan harga dirinya sendiri. "Aku akan menuntut mu!" jeritnya tak tertahan.
"Menuntut? Kau lucu sekali kau sadar bukan saat melakukan 'itu' kau sendiri yang mau?" ejek Morgen.
"Tidak akan seperti ini jadinya jika kau mau bertanggung jawab dan tidak menyelingkuhiku dengan wanita lain," balas Maple dengan suara sendu.
Morgen memandang rendah ke arah Maple. "Kau bukan istriku jadi aku berhak ingin bermain dengan siapa saja bukan?"
PLAK!
Sebuah tamparan melayang di pipi kanan Morgen. Morgen yang mendapatkan tamparan tersebut sempat merasa terkejut namun tidak lama kemudian ia hanya tertawa-tawa seperti orang gila.
"DASAR GILA! APA KAU TIDAK PUNYA HATI NURANI SEDIKIT SAJA?!" geram Maple sembari menangis.
Morgen tersenyum miring. "Untuk apa aku memiliki hati nurani untuk wanita murahan sepertimu?" sinisnya. Morgen kembali tertawa dia benar-benar merasa puas telah memperdaya seorang wanita yang telah benar-benar jatuh cinta pada dirinya.
"Jahat... jahat... sekali...." ringis Maple.
Tidak mau terlihat semakin lemah di hadapan laki-laki brengsek itu Maple segera mengemasi barang-barangya dengan asal-asalan. Sementara itu Morgen yang masih berbaring tampak tidak peduli dan matanya masih senantiasa melihat wanita itu yang terlihat terburu-buru mengemasi barang-barangnya.
Saat Maple selesai memasukan semua barangnya dan hendak membuka pintu.
Morgen berteriak, "Kau pasti butuh uang bukan?"
Maple terdiam. Dia sadar betul bahwa dirinya sangat membutuhkan uang jika dirinya tetap nekat untuk pergi dari sini.
Morgen tersenyum mengejek melihat nasib wanita malang tersebut. Lalu ia mengambil dompetnya dan mengeluarkan beberapa lembar uang dari sana. "Ambil ini jalang!" ujarnya sembari melemparkan lembaran uang itu pada Maple.
"Aku tidak butuh uangmu bangsat!" Maple menatap tajam pada lembaran uang yang telah dilemparkan oleh Morgen. Dia merasa benar-benar telah dipermalukan oleh laki-laki sialan tersebut.
Morgen menyeringai memandang remeh wanita di hadapannya itu dengan pandangan mata yang terlihat sangat menjijikkan. "Terserahmu saja jalang. Tapi aku sangat tahu kau tak memiliki uang sepeserpun bagaimana mungkin kau bisa pulang ke Perancis jika tanpa uang sepeserpun? Asal kau tahu saja selama ini kaulah yang bergantung padaku, selama di Amerika inilah aku yang menanggung semua biaya hidupmu disini. Kau harus ingat itu jalang." Morgen kembali menyeringai setelah mengucapkan kata-kata kasar tersebut pada Maple.
Walau sebenarnya Maple tidak bisa menerima kata-kata kasar yang telah dilontarkan oleh Morgen namun di satu sisi Maple juga tidak bisa membantah karena semua kata-kata kasar itu benar adanya. Dengan rasa malu dan terhina Maple akhirnya memungut lembaran uang tersebut.
"Aku jadi merasa kasihan padamu. Apa setelah kepulanganmu nanti keluargamu masih mau menerima dirimu yang hina ini? Aku sangat mengenal betul keluargamu itu. Bukankah keluargamu itu sangat terkenal dengan gila hormat, Maple?" cemooh Morgen.
Maple hanya diam tidak menanggapi lalu dengan terburu-buru ia segera pergi dari sana meninggalkan laki-laki brengsek yang sudah menghancurkan hidupnya tersebut. Namun sebelum pergi Maple sempat bersumpah bahwa Morgen tidak akan pernah bisa hidup bahagia untuk selama-lamanya dan dia juga tidak akan bisa mati dengan tenang sebelum mendapat pengampunan dari anak yang saat ini tengah ia kandung.
"Kau akan mengingat ini untuk selamanya Morgen. Kau tidak akan pernah bisa hidup bahagia untuk selamanya dan kau jugalah yang akan mengejar-ngejar pengampunan pada anak yang sedang kukandung saat ini!" sumpah Maple di hadapan Morgen. Setelah bersumpah Maple segera beranjak pergi dari sana.
BRAAK
Pintu dibanting dengan sangat begitu keras oleh Maple yang pergi meninggalkan apartemen sialan tersebut. Kini apartemen yang sebelumnya ditinggali oleh sepasang kekasih tersebut. Hanya menyisakan seorang pria di sana.
"Bodoh, memangnya dia bisa apa tanpa uang dan keluarganya? Dia dibesarkan oleh keluarga sendok perak dan ia sendiri juga sudah membuang keluarganya sendiri. Lucu sekali begitu mengingat bahwa wanita itu pernah membentak kedua orang tuanya sendiri dan kabur dari rumahnya hanya atas demi nama cinta semata," Morgen bermonolog seorang diri di sana. Ia kembali mengingat masa-masa di mana dirinya masih bersama dengan Maple.
Morgen menoleh ke arah samping tempat tidurnya. Di atas meja yang sebelumnya ia letakkan sekotak rokok di sana. Morgen menemukan sebuah bingkai foto dirinya bersama dengan Maple. Morgen tersenyum mengejek ketika matanya tidak sengaja melihat ke arah bingkai foto tersebut. "Tetap saja naif dan polos…."
Morgen tidak menyesali sama sekali perbuatan buruknya. Baginya saat ini wanita yang telah pergi itu hanya ia anggap sebatas mainannya. Mainan hanya akan dimainkan ketika pemiliknya merasa tertarik namun ketika pemiliknya bosan tentu saja mainan itu tidak akan dimainkan lagi dan bahkan dibuang. Sama seperti wanita itu yang sudah tidak menarik lagi dan Morgen sudah mendapatkan mainan baru yang lebih bagus dan tentunya lebih menarik perhatiannya.
***
9 Bulan Telah Berlalu
Maple yang telah pergi meninggalkan kekasihnya yang telah ketahuan berselingkuh. Kini hidup seorang diri di Paris. Maple sama sekali tidak berani pulang ke Uzès di mana rumah orang tuanya berada di sana. Ia sudah menganggap bahwa kedua orang tuanyaitu tidak akan pernah mau menerima dirinya lagi. Karena itulah Maple memutuskan untuk tidak pernah pulang ke rumah orang tuanya dan memilih untuk tinggal seorang diri di Paris.
Dan soal kehamilannya, Maple sama sekali tidak mau menggugurkan janinnya. Ia tetap memilih untuk membesarkan bayi itu meskipun hanya seorang diri nantinya. Ia sempat berencana untuk menjadi orang tua tunggal bagi anaknya kelak.
Namun sayang semua rencana itu harus pupus. Setelah satu bulan semenjak bayinya lahir, Maple merasakan munculnya sebuah teror yang akan mengancam keselamatan bayinya. Karena itulah Maple kembali meninggalkan Paris dan pergi menuju rumah sahabatnya dulu yang berada di Strasbourg.
Maple masih ingat dengan jelas sahabatnya itu. Ia tahu jika selama ini ia telah mengabaikan sahabatnya sendiri yaitu Rina. Rina sendiri adalah orang yang selalu menghkwatirkan dirinya sejak dulu. Bahkan, Rina adalah orang yang masih selalu berusaha untuk mencoba menghubunginya sampai saat ini, meskipun Maple selalu berusaha untuk menghindarinya dan mencoba menutup dirinya. Maple sejujurnya tidak ingin menitipkan bayinya pada Rina namun mengingat ancaman pada bayinya itu yang sangat berbahaya, maka mau tidak mau Maple harus tetap meminta bantuan pada sahabatnya itu.
