JoyNovel

Let’s Read The World

Open APP
Like Father Like Son

Like Father Like Son

Author:marcelladiva

Finished

Introduction
Narah si gadis mungil yang suka uang. Gadis yang punya bentuk tubuh ideal itu bisa menghabiskan ratusan juta dalam sehari untuk bersenang-senang dan memanjakan diri, bahkan ia rela menjadi Sugar Baby seorang duda kaya raya beranak satu bernama David demi mencukupi biaya hidup mewahnya. Tak cukup dengan David, Narah juga memacari anak duda tampan itu, Darren. Bagaimana bisa Ayah dan Anak berbagi satu gadis? Mari menelisik lebih dalam tentang Anarah Grisella.
Show All▼
Chapter

"Mau kemana kamu?"

"Aku akan menjemput Narah dan pergi ke sekolah bersama."

"Jangan bermain-main dengannya. Dia milik Ayah."

"Narah pacarku, aku juga punya hak."

•••

Ponselku berdering, menandakan ada panggilan masuk. Aku meraba pinggir bantalku, mencari-cari di mana benda pipih itu.

"Halo?"

"Aku ada di depan rumahmu." Itu suara Darren.

"Masuk saja. Kenapa harus menganggu tidurku?"

Panggilan berakhir. Aku mendengus kesal lalu kembali menutupi seluruh tubuhku dengan selimut tebal. Pintu kamarku dibuka, aku masih diam saja.

"Bangun."

Aku pura-pura tuli. Aku masih mengantuk, kenapa pemuda ini datang pagi-pagi sekali?

"Bangun atau kamu akan terlambat."

Aku tidak menggubris, aku meraih ponselku lalu mengecek jam, mataku melebar.

"JAM DELAPAN?!" pekikku dan sontak bangkit.

"Cepat mandi," titah Darren.

Aku mendengus, "Kamu tidak mau menciumku dulu? Ciuman pagi." Aku mengerjapkan mata untuk menggodanya.

"Tidak," tolaknya lalu mendudukan bokongnya di sofa.

"Kamu menyebalkan sekali." Aku turun dari ranjang lalu segera beranjak ke kamar mandi.

Aku tidak mau menatap pemuda menyebalkan itu. Lihat saja nanti, dia akan membayar mahal karena sudah mengacuhkanku.

Selesai mandi, aku mulai berganti pakaian dan Darren yang masih tetap duduk di sofa untuk menungguku. Aku tidak sungkan berganti pakaian di depan pacarku, toh dia juga sering melihat tubuhku.

Seragam sekolah sudah membalut tubuhku dengan rapih, aku sudah siap berangkat. Tanpa menegur Darren, aku langsung saja melenggang pergi dan turun ke lantai bawah.

"Kenapa tidak menungguku?" tanya Darren saat berhasil menyusulku yang sudah berada di ambang pintu.

Aku tidak menggubrisnya, aku langsung saja masuk ke dalam mobil dan Darren langsung menyusulku.

"Ada apa?" tanya Darren saat masuk ke dalam mobil.

"Tidak ada," balasku dengan ketus.

Darren menghela napas, "Terserah."

Aku merutukinya berkali-kali. Dasar pacar tidak peka!

Sepanjang perjalanan aku tidak menghiraukan Darren, aku fokus dengan ponselku dan tidak menatapnya sama sekali. Aku tau dia mengawasiku tapi aku tetap bermasa bodoh.

"Jangan mengacuhkanku seperti itu." Darren menghentikan mobilnya di pinggir jalan.

Aku tidak menjawab, mataku masih fokus menatap layar ponsel.

"Hei!" bentaknya.

Aku menoleh dan menghunuskan tatapan tajam. Dia selalu saja membentak saat emosi, aku tidak suka! Dengan kesal aku turun dari mobil si bajingan itu yang terus saja meneriaki namaku, apa dia pikir aku takut padanya? Cih, tentu tidak.

Aku melangkahkan kaki jenjangku menjauh dari mobil Darren dengan menenteng tas limited edition pemberiannya minggu lalu. Aku tidak butuh tas murahan ini jadi aku menghempaskannya ke trotoar jalan.

Seseorang menarik lenganku, aku otomatis berbalik.

"Jangan pergi."

"Apa pedulimu? Lepaskan!" Aku menyentakan tangan Darren yang mencekal lenganku dengan kuat.

"Maafkan aku."

Aku tidak merespon dan berniat berbalik tapi lagi-lagi Darren menghentikanku. Kali ini pemuda itu menarik pinggangku untuk mendekat lalu mencengkramnya dengan kuat.

"Sudah kubilang, jangan tinggalkan aku."

"Kamu selalu bersikap sesuka hati dan membentakku. Aku tidak suka, tahu."

"Maafkan aku."

"Pergi saja. Aku akan menghubungi Daddy David dan memintanya untuk menjemputku."

"Jangan menyebut namanya saat bersamaku." Darren mencengkram pinggangku lebih kuat.

Aku meringis, "Lepaskan aku."

"Kembali ke mobil atau kamu akan menyesal."

"Tidak mau," tolakku dengan sarkas.

Aku melotot saat tiba-tiba saja Darren menggigit kecil leherku dan menaruh kedua tangannya di pinggangku. Aku mendorong tubuhnya, jangan sampai ada yang melihat aksi bejat pemuda ini. Kami sedang berada di pinggir jalan, yang benar saja!

"Masuk ke mobil," perintah Darren dengan suara beratnya.

Pipiku terasa panas, aku malu sekali. Ini bukan hal yang baru tapi tetap saja bisa membuatku tersipu. Dengan cepat aku kembali ke mobil Darren sebelum pemuda itu menghabisiku di sini. Ya, menghabisi dalam arti kata lain.

Setibanya di sekolah, ternyata gerbang sudah di tutup. Sudah jam sembilan dan kami baru saja sampai. Tapi tidak masalah, Satpam sekolah pasti akan membukakan gerbang untuk Darren, anak pemilik yayasan.

"Kita terlambat." Aku membuka kaca mobil.

"Itu semua karenamu yang terlalu lama memilih warna pakaian dalam," balas Darren dengan mulut manisnya yang terlalu manis hingga aku ingin merobeknya sekarang juga.

Aku mendecih, "Dasar bedebah sialan. Aku melakukan hal-hal merepotkan itu untukmu."

Aku benar-benar kesal, dia yang memaksaku untuk melakukan hal-hal tidak penting dan dia juga yang mempermasalahkan hal bodoh itu.

"Warnanya harus sama, jangan memakai yang ini, jangan memakai yang itu. Kamu sangat merepotkan!"

"Berhenti mengoceh atau aku akan membuka pakaianmu di sini."

Bedebah sialan!

Darren memarkirkan mobilnya di parkiran khusus mobil yang di isi oleh kendaraan para Guru dan petinggi sekolah. Darren turun dari mobil dan membukakan pintu untukku, aku keluar dengan anggun dan merapihkan seragamku yang agak berantakan karena ulah Darren.

"Seragammu terlalu ketat dan rok yang kamu kenakan terlalu pendek. Aku ingin kamu menggantinya besok."

Aku mendongak, "Aku tidak punya seragam yang lebih tertutup selain ini."

Darren menatapku dengan mata elangnya, "Aku akan membeli semua seragam di sekolah ini untukmu jika kamu mau."

"Tidak usah, aku akan menggantinya besok. Hanya saja.." Aku sengaja menggantung kalimatku.

"Hanya saja apa?"

"Aku melempar tasku ke jalanan tadi, sekarang aku tidak punya tas," eluhku.

"Aku akan menyuruh orangku untuk membelikannya untukmu. Katakan saja model tas apa yang kamu inginkan," ujar Darren.

Aku tersenyum, "Baiklah."

Aku dan Darren melangkah masuk ke dalam sekolah, Darren memeluk pinggangku dengan posesif seperti biasanya.

•••

"Aku tahu kabar itu. Benar, dia menjual dirinya agar bisa mendapatkan uang."

"Dia sangat cantik tapi tidak punya harga diri."

"Ya, namanya Narah."

Samar-samar aku mendengar suara beberapa orang yang sedang berbincang dan menyebut namaku dalam obrolan mereka. Aku mendekat dan mencoba mendengarkannya lebih jelas.

"Dasar gadis tidak tahu diri, pantas saja Darren mau memacarinya."

"Tubuhnya bagus, Darren pasti suka."

Aku tersenyum sinis. Dasar gadis-gadis tidak tahu diri, apa mereka tidak punya pekerjaan lain selain menggosip?

Aku mendekat ke arah mereka, ada tiga orang gadis. Sialnya, aku pernah menemukan ketiga gadis ini mabuk dan dinikmati oleh pria hidung belang secara gratis di Bar milik Darren minggu lalu. Berani-beraninya gadis tanpa harga diri membicarakan harga diriku.

"Ada apa? Membicarakan aku lagi?" tanyaku saat berada di hadapan mereka.

"Apa? Tidak," elak salah satu dari mereka.

Karena geram, aku menarik rambut gadis yang menjawabku tadi dan membuatnya memekik kesakitan.

"Jangan coba-coba membohongiku."

"Lepaskan!" Gadis itu meronta.

"Lepaskan dia, gadis murahan!" pekik gadis lain.

Aku melepas cengkamanku dari rambut bau gadis tadi lalu menatap lekat jadi yang baru saja meneriakiku.

"Hei, apa yang baru saja kamu katakan? Aku tidak bisa mendengarmu."

"Gadis muraha—"

PLAK!

"Jangan pernah menyebutku murahan, aku selalu dibayar mahal untuk hal-hal yang aku lakukan." Aku tersenyum ke arah gadis yang tengah menangkup pipinya yang mungkin terasa panas.

"Sedangkan kalian." Aku menatap mereka satu persatu. "Dinikmati oleh lelaki hidung belang tanpa dibayar. Lantas, apa sebutan untuk gadis tidak berharga seperti kalian?" Aku terkekeh geli.

"Bahkan kata murahan terlalu bagus untuk kalian."

Satu gadis lagi bangkit dan hendak menamparku. Tiba-tiba lengannya ditahan oleh seseorang.

"Jangan menyentuh gadisku dengan tangan kotormu." Darren menghentakkan tangan gadis itu dengan kasar.

Aku tersenyum seraya melipat tangan di depan dada menatap para gadis itu yang tampak panik.

"Aku bisa saja menendang kalian keluar dari sini jika gadisku mau." Darren memeluk pinggangku dan membawaku pergi.

"Selamat tinggal."