JoyNovel

Let’s Read The World

Open APP
Stay With You

Stay With You

Author:Aditya Wibowo

Updating

Introduction
Dua orang yang mempertahankan hubungan karena saling membutuhkan. Namun keduanya tidak sadar sampai mereka kehilangan semua orang yang berada di sisi mereka. Walau jauh dan terus berusaha menghindar, keduanya saling mencari dan kemudian kembali lagi. Begitu terus hingga mereka lelah dan memutuskan untuk tetap tinggal bersama.
Show All▼
Chapter

DINA: Yang Harus Dipertahankan

Ayahku dan ayahnya adalah seorang yatim piatu. Mereka dibesarkan di sebuah panti asuhan yang sama. Di sebuah desa dimana kami dilahirkan. Bertahun-tahun mereka hidup bersama di panti asuhan itu. Sudah selayaknya seorang saudara yang tidak bisa terpisahkan.

Biar nanti ku ceritakan pada kalian. Bagaimana keempat orang tua kami ini tak dapat terpisahkan. Bahkan hingga akhirnya membuat kami juga tak dapat terpisah.

Inilah pernikahan ku.

Bertahun-tahun aku mengenalnya sebagai kawan. Hingga akhirnya aku dipaksa untuk mau menjadi istrinya atas permintaan keempat orang tua kami. Orang tuaku, juga orang tuanya.

Mereka menjodohkan kami atas alasan yang tidak pernah bisa kami terima. Adalah agar mereka dapat menjadi keluarga selamanya. Dimataku alasan itu sungguh egois. Tidak aku bisa mengerti mengapa mereka memiliki fikiran sedangkal itu. Bukankah masih ada banyak cara agar bisa menjadi keluarga?

Tepat diusia ku yang ke tujuh belas tahun. Ayah menyuruhku untuk menikah dengannya. Saat itu ayahku di vonis leukimia. Bayang-bayang kematian sudah ada di kepala mereka. Ketakutan yang sebenarnya tidak perlu dirasakan kini menjadi beban untukku.

"menikahlah dengannya, nak... Agar kelak kau dan semua keturunanmu tidak merasakan apa yang ayah rasakan. Sungguh menderita menjadi sebatang kara. Ayahnya sudah seperti saudara ayah sendiri. Ia orang yang baik, putranya juga pasti lelaki yang baik untukmu"

Hingga detik ini aku belum juga paham alasan ayah yang sebenarnya. Walau telah berkali-kali ayah mengatakannya, tapi sungguh aku tak dapat memahaminya. Bahkan setelah tujuh tahun usia pernikahan ini. Masih saja aku mempertanyakannya.

Pernah sekali aku bertanya pada ibu. Mengapa? Mengapa aku harus menikah dengannya? Alih-alih aku seolah ingin mendapatkan pembelaan darinya. Namun sayangnya, ibu memberiku alasan yang sama. Tiada pula ia membelaku.

Keadaan membuatku harus tetap bertahan dengannya hingga bertahun-tahun lamanya. Orang tua adalah alasan utama. Hingga orang tua pula menjadikan kami saling melampiaskan kekecewaan pada satu sama lain.

Tiada pernah kalimat manis ia ucapkan padaku. Tiada pula senyuman indah yang pernah ku berikan padanya. Tanpa sadar kami saling menyakiti satu sama lain. Mencaci dan menghina begitulah pernikahan ini berlangsung selama bertahun-tahun.

Kendati demikian, orang tua kami tidak pernah mengetahuinya. Yang mereka tahu, kami baik-baik saja.

"Dina..." Panggil ibu dari luar kamarku. Membuyarkan lamunanku di dalam kamar ini.

"Ya... Ada apa, bu?"

"Kau sibuk? Ayo kita ke rumah Dion"

Sejenak aku terdiam.

"Ya? Bagaimana?"

"Iya, bu"

Lekas aku mengganti pakaian. Keluar dari kamar dan menunggu ibu di depan.

Tak berapa lama aku dan ibu mulai berjalan kaki menuju rumahnya. Terus ku gandeng tangan ibu karena ia tak sekuat yang terlihat dari luar.

Lantas aku menata hatiku. Berdamai dengan keadaan dan menyiapkan diriku untuk bertemu dengannya hari ini. Lalu mulailah aku berfikir untuk mencari alasan agar sesampainya nanti, aku bisa segera pergi.

Tiba di rumahnya, telah ku dapati ibu Shinta menunggu kedatangan kami. Ia lantas memeluk ibuku seperti biasanya. Tak luput aku pun juga ia peluk dengan lembut lalu dikecupnya keningku.

"Masuklah " Kata ibu Shinta. "Dion... Ada Dina dan ibunya. Keluarlah dari kamarmu!"

Maka ia pun keluar dari kamarnya. Ku lihat betapa raut wajahnya di penuhi kekesalan. Ia pun mendekati ibuku. Disalaminya ibuku dengan lembut lalu diberinya ibu ku sebuah senyuman manis. Lantas ia menghampiri ku. Menghilangkan senyumannya dan menunjukkan wajah garangnya. Lalu ia menyodorkan tangannya. Menyuruhku untuk menyalaminya karena ada ibu di hadapan kami.

Terpaksalah aku meraih tangannya. Lalu mendekatkan pada dahi dan hidungku. Tak lama aku langsung melepasnya dan membiarkannya berlalu.

"Kau mau kemana?" Tanya ibunya.

"Ambil handphone" Jawabnya.

Kembali aku berpikir. Alasan apa yang dapat membuatku segera meninggalkan rumah ini. Bukan ibunya yang membuat ku tidak nyaman. Andai saja tanpa ada dirinya, sungguh aku betah berlama-lama di rumah ini.

Kedua ibuku ini lantas mengobrol bersama. Sedang aku hanya memperhatikan keduanya dan sesekali mencoba menanggapi. Beberapa menit berselang, Dion kembali bergabung bersama kami.

"Kau jaga apa hari ini, Dion?" Tanya ibuku.

"Hemp? Eee hari ini aku libur... Besok masuk pagi"

"Oh... Kenapa tidak kalian manfaat kan untuk berkencan?" Celetuk ibunya.

Lantas sejenak ia memandangku. Diremasnya wajahnya itu dengan kedua tangannya. Seolah ia menahan kekesalan.

"Ibu hanya bertanya kan" Kata Dion pada ibunya.

Ia beranjak dari tempatnya. Masuklah ia ke dalam kamarnya. Saat itu lah waktu bagi ku untuk pergi.

"Bu, aku mau ke rumah temanku. Ibu tidak apa kan di sini?"

"Tidak apa..." Jawab ibuku.

"Biar Dion antar, Dina" Kata ibunya.

"Tidak perlu, bu... Rumah teman ku hanya di dekat sini. Cukup berjalan kaki saja"

"Tak apa. Dion.... Dion..." Panggil ibunya.

Segera ia keluar dari kamarnya. Lalu ditunjukkannya lagi wajah kesalnya.

"Apa lagi?"

"Dina mau ke rumah temannya. Kau antar sana!" Kata ibunya.

Lalu ia menatapku.

Ku alih kan pandanganku darinya.

"Biar aku pergi sendiri, bu" Kataku.

"Heishh... Jangan... Ayo cepat ganti bajumu" Lanjut ibu pada putranya.

Hampir setiap menit hidup kami di paksa melakukan hal yang tidak kami inginkan. Membuat kami semakin membenci satu sama lain. Ingin sekali aku mengumpat di hadapannya saat ini. Selayaknya dirinya yang begitu mudah saat mengumpat di hadapan wajahku. Namun aku tertahan oleh rasa takut.

Takut karena ada kedua ibu kami di sini. Entah apa yang akan terjadi jika kami bertengkar hebat di hadapan mereka.

Akhirnya aku harus semobil dengannya. Ku sadari ia amat kesal dan ingin segera meluapkan amarahnya. Dikemudikannya mobil ini dengan begitu cepat. Seolah ia ingin menyakitiku.

"Besok ibu cuci darah... Pesankan antrian!" Kataku.

Tidak ia menjawab tapi aku tahu dia mengerti maksudku.

"Turun dimana?" Tanya ia dengan nada ketusnya.

"Di sini" Jawabku.

Lantas ia benar-benar menghentikan mobilnya. Segera aku turun dan segera pula ia berlalu.

Seperti itulah pernikahan yang harus ku pertahanan. Mengorbankan diriku sendiri sebagai pelampiasan marah dan kecewanya. Menjadikan ia yang seharusnya laki-laki yang paling aku hormati. Mejadi ia laki-laki yang paling aku benci.

Tolong, jangan salahkan aku. Ini bukan mau ku. Aku pun ingin bebas dari belenggunya. Tapi entah kapan belenggu ini akan berakhir.

Berjalan aku perlahan menyusuri tepian kota Surabaya. Menikmati panas terik matahari dan polusi. Serta debu yang terus ku hirup.

Ku pandangi wajahku di sebuah kaca hitam. Betapa aku memang terlihat amat buruk. Seolah tiada ku miliki aura wanita anggun.

Kembali aku melangkahkan kakiku. Mencoba menemukan tujuan. Namun sayangnya tiada ku miliki tujuan selain rumah. Terus aku berjalan.

Lalu ku perhatikan sekeliling ku. Ku dapati sepasang pelajar sekolah menengah atas yang baru saja pulang dari sekolahnya. Keduanya berboncengan sepeda motor. Terlihat amat mesra. Ikut aku merasa senang akan kebahagiaan pasangan itu. Biarlah mereka menikmati indahnya hubungan cinta monyet yang sesaat. Hingga tak perlu lagi ada Dina lain yang seperti ku.