JoyNovel

Let’s Read The World

Open APP
Twist Of Fate

Twist Of Fate

Author:Titiny Boa

Finished

Introduction
Dikejar-kejar preman yang ingin membunuh itu memang menyeramkan. Tapi, apa jadinya jika di balik itu, kamu justru mendapat sebuah cakrawala baru yang menenangkan? Itulah yang dialami Serin. Saat ia menyangka hidupnya akan lebih baik jika jahat saja 100℅, dia malah terjebak di karung sampah dan membuatnya dipertemukan dengan empat direktur tampan bersaudara yang tak pernah akur. Tapi ... kalau salah satu menunjukkan ia sangat menyukainya, begitupun dengan yang lain, bukankah ini sama dengan mengundang bencana? Apalagi, keempat direktur itu, sama-sama berkubang dalam segala suntikan 'perih' dan memutuskan jadi penjahat. Lalu, apakah Serin, yang sudah menganggap hidupnya terlalu suram, hingga ia pun jatuh dalam hal hitam, akan mengambil keputusan aneh soal ... 'Aku akan mengubah direktur-direktur ini menjadi baik sebab, meski semesta mengecewakanmu, kamu tetap tak boleh mengacaukan dirimu sendiri.'
Show All▼
Chapter

Ardhan, Rakhan, dan Leonid, sedang duduk di ruang tamu. Mereka adalah Direktur dari perusahaan warisan cabang-cabang Ayah mereka.

Tapi, karakter mereka, berbeda-beda.

Ardhan, cowok hobi masak. Tapi, kemampuannya mencampur bumbu memang sepayah itu. Dia ... bahkan lebih jago main PS. Yang sayangnya itu kuno sekali.

Rakhan. Kembarannya Ardhan. Adik tapi bermulut super sinis yang pernah ada. Dia menolak takdir harus mirip sama Ardhan karena ia benci dahulu mereka dipisahkan berkat perceraian orangtua.

Ditambah lagi, Ardhanlah yang menyebabkan Ibu meninggal. Dulu, waktu harus memilih untuk diadopsi dengan siapa, Rakhan sebenarnya ingin diadopsi Mamanya.

Tapi, sayang, karena Rakhan lebib 'pintar' daripada Ardhan, alhasil, Rakhanlah yang dipaksa seatap dengan Papa seribu istri tersebut.

Lanjut ... Leonid.

Namanya memang paling macho tapi kelakuannya paling nggak jelas.

Dia adalah playboy sejati khas 'mata keranjang' yang sepertinya mengalir dari Papa. Dari zaman SMA, ceweknya sudah 200 orang. Mantannya memang banyak sekali. Dan, dia ... belum tobat juga meski sudah punya jabatan tinggi.

Karena seperti yang kita tahu, harta, tahta, wanita, adalah tiga hal yang paling telak dan mutlak untuk mengacaukan reputasi. Huhh ...

Tapi, di antara mereka bertiga, yang paling berguna cuma satu, Senggara.

Dia putra dari istri pertama keluarga Geraldi. Pembawaannya tegas, tidak suka hal-hal yang tidak berguna, tampan, dan tentunya ... budak 'kesejahteraan' versi masyarakat.

Bagaimana tidak?

Riwayatnya bersih. Kelakuannya penuh akhlak. Wanita ditendang. Harta diacuhkan. Dia bak raja Sulaiman versi masa kini.

Tapi, dengan satu perbedaan.

Antipati, woy.

Dan, lengkaplah malam itu mereka bersama.

Mereka kini berada di villa zaman baheula yang dikhususkan Papa untuk menginap.

Mereka dilarang menginap di hotel, fyi.

Itu dikarenakan, di pernikahan Papa ke-6. Istri keempat kebetulan mandul dan sudah cerai. Dia ingin semua anaknya datang.

Dan, di sinilah mereka sekarang.

Mereka baru saja pulang dan melepas penat masing-masing.

"Gelas gue!" Rakhan menghentak. "Haram hukumnya lo nyentuh-nyentuh barang gue!"

Bisa dilihat memang kebenciannya meluruh sampai ke ubun-ubun. Disentuh urusan benda saja ... tak mau.

"Ya ampun, Rak ..." Ardhan menepuk jidat. "Apa salahnya, sih? Toh, gelas yang terisi air di kulkas. Ya, jelas, siapapun megang juga! Lo nggak tahu aja kalau Leonid suka salah ngambil gelas pribadi!"

Rakhan tampak mendengus, "Dasar playboy nggak tahu diri!"

Sementara yang disinisin malah asyik teleponan, "Iya, sayang. Maaf, ya. Tadi, tuh, ada pertemuan keluarga gitu. Iya, Papa aku. Mungkin juga sekalian mau ngadain pembangunan cabang baru perusahaannya, deh. Kayaknya mau bikin pabrik juga. Iya, ya, do'ain, ya. Bye ..."

Lalu, telepon satunya berdering lagi.

Jangan heran.

Ponselnya memang ada enam. Tapi, untuk sehari-hari hanya dipakai dua saja.

"Eh, halo, Sarah, sayang. Kenapa, nih? Oh, iya, kita ada makan malem, ya?" Alisnya mengerucut lalu bergumam pelan, "Perasaan gue ada janji ngajak lari anak orang namanya Cessa. Kok, jadi, Sarah?"

"Heh, sayang, kamu ngomong apa?!" Terdengar pekikkan di sana.

"Eh, nggak, sayang. Baru inget aja, Pak Biwomo, juga ngajak aku makan malem sebenarnya hari ini. Tapi, aku baru inget. Dia ngajak ke Bandung."

"Jadi, kamu ke Bandung berduaan sama cowok?"

'Mati gue!' batin Leonid.

"Astaga, enggak, sayang. Maksudnya sekalian ngecek infrastruktur gedung baru di Bandung, gitu ... Oh, ya, kamu udah pake kalung berlian yang aku kasih?"

Emang dasar, buaya.

Sementara Senggara menatap mereka dari sini.

Dari lantai dua yang hanya dilapisi pagar untuk menatap mereka dari atas. Dia meneguk yogurt untuk menjernihkan kepalanya.

'Memang terkadang butuh yang asam-asam untuk menghilangkan pemandangan pahit di hadapannya,' pikirnya.

Dia sebenarnya heran aja gitu.

Kenapa dia harus bersaudara dengan tiga laki-laki tersebut?

Ya, meski mereka semua good man. Bedanya, karakter mereka memang punya ciri khas 'miring' tersendiri.

Senggara pun menghela napas. Dia beranjak menuju tong sampah yang terletak di belakang dapur. Malam itu, berencana juga menelepon petugas kebersihan untuk mengangkut sampah-sampah yang sudah banyak tersebut.

Sekalian buang botol minuman yogurt tentunya.

"Ada enam, udah cukup diangkut."

Namun, saat ia tengah menekan ikon call di ponselnya, alangkah terkejutnya ia, ketika kantung besar sampah tersebut bergerak. Seolah ada raksasa yang baru bangun dari perut bumi.

Yang tentu saja itu membuatnya berdebam mundur, terjatuh.

Senggara yang penasaran makhluk apa yang menghuni kantung tempat sampah itu pun, mendekatinya.

Yang lebih mengagetkannya adalah ... seorang perempuan lusuh, rambut berantakan, dengan luka lecet di telepak kaki, berada di karung tersebut.

Bedanya adalah ... karung tersebut seolah masih baru dan tanpa sampah.

Tunggu dulu, kenapa bisa ada di sini?

***

Pagi yang mendung

Rintik hujan terdengar nyaring dan merintik di genteng-genteng villa mewah tersebut. Membuat telinganya terganggu dan menjadi alarm alamiah untuk memaksanya segera beranjak dari kasur.

Dengan lenguhan malas, Serin meregangkan tangannya. Tidurnya semalam terasa nyenyak meski pegal-pegal menjalar ke seluruh tubuh.

"Hoaamm ... aw!"

Ah ... kakinya. Terasa sangat menyakitkan karena nyeri dan banyak luka bertengger di sana.

Eh, tapi, tunggu. Kenapa sekarang lukanya jadi bersis dan berganti perban begini?

Dan, begitu dilihat-lihat tempat ini asing di matanya. Tunggu, di mana ia sekarang?

Serin pun bangkit dari tidurnya. Tak ia perdulikan lagi sengatan-sengatan perih di tubuhnya.

Namun, alangkah terkejutnya Serin begitu melihat ada laki-laki lain yang menghuni kamar ini juga.

"Astaga," ucap Serin.

Laki-laki itu sedang duduk dan sibuk dengan beberapa berkas di meja yang tak jauh dari ranjangnya.

"Siapa kamu?"

Laki-laki itu menatap acuh. "Harusnya aku yang tanya, kenapa kamu bisa ada di rumahku?"

Serin mengernyit.

Satu kilasan memori seketika berputar di kepalanya.

Ah ... lupa.

Semalam ia terjebak kejar-kejaran dengan pengkhianat club Averes.

Mereka meminta Serin menjadi pengedar narkoba tapi nyatanya ia dijaminkan ke perdagangan manusia karena timnya korupsi sabu-sabu pada mereka. Dan, pembalas dendaman itu, membuat Serin terjebak untuk memikirkan bagaimana caranya lari dari mereka.

Preman-preman itupun mengikuti Serin. Sampai Serin akhirnya nekat menaiki mobil pick up yang entah menuju ke mana.

Waktu itu, Serin sudah berhasil menghilangkan jejak usai petak umpet di gudang penyimpanan senjata milik pemimpin mereka.

Hingga pada akhirnya, Serin pun memutuskan mengambil kantung plastik sampah tersebut dan memutuskan mengelabuhi musuh dengan masuk ke bagian belakang villa. Lalu, menutup dirinya sendiri.

Syukurlah, kalau sekarang ia aman dan tak tertangkap.

Yang jadi masalah sekarang ... apakah laki-laki ini berbahaya?

Sontak, Serin pun mengangkat pistol, sebuah perbekalan kejahatan yang memang ia simpan untuk jaga-jaga terhindar dari bahaya.

Dia mengatakan, "Katakan, siapa kamu?!"

Tapi, laki-laki itu menatapnya dingin, "Senggara."

Lagi. Seril pun mengerutkan dahi, 'SENGGARA?'