JoyNovel

Let’s Read The World

Open APP
Sahabat Jadi Suami

Sahabat Jadi Suami

Author:ninanatt

Finished

Introduction
Lia adalah seorang wanita yang menyimpan bnyak luka. Lahir di tengah keluarga yang tidak harmonis membuat dia tidak mempercayai pernikahan yang setia. Perjumpaan kembali dengan sahabat semasa SMP yang ternyata jatuh cinta kepadanya membuat dia percaya bahwa sahabatnya ini tidak akan melukai hatinya. Berpacaran selama 7 tahun dengan sahabatnya membuat dia merasa pondasi pernikahannya kuat. Tapi bagaimana Lia ketika ia mendapati bahwa orang yang paling dia percayaialah mengkhianatinya? Apakah Lia hancur atau malah menjadi sosok yang lebih kuat.
Show All▼
Chapter

Beberapa bulan belakangan ini aku merasa ada yang berbeda dari suamiku. Ya, dia menjadi lebih dingin, terasa ada jarak denganku. Biasanya kami bercerita tentang banyak hal, tentang pekerjaan kami, tentang perkembangan Ryu, bahkan hal-hal receh tentang gosip-gosip di TV. Tapi sekarang dia hanya banyak terdiam dan lebih banyak menghabiskan waktu dengan HP nya. Saat aku bertanya dia hanya menjawab dia hanya lelah saja dengan pekerjaannya yang makin banyak. Tapi ada perasaan yang tidak dapat dijelaskan yang aku rasakan ketika melihatnya. Ada sesuatu yang berbeda. Meskipun aku tidak yakin apa itu. Seharusnya aku percaya bahwa Tuhan memang menganugerahkan perasaan yang lebih tajam kepada seorang wanita ketika prianya melakukan "sesuatu" yang menodai janji pernikahan. Intuisi seorang istri

Perkenalkan namaku Lia. Aku adalah si bungsu yang lahir di tengah keluarga yang tidak harmonis. Papaku bukan seorang suami yang setia. Bahkan sejak mama mengandung kakakku yang pertama. Sedangkan mamaku, dia mempertahankan pernikahannya karena alasan ketiga anaknya. Aku tumbuh menjadi seorang wanita yang mandiri, karena mamaku mengajarkanku untuk tidak mengandalkan pria. Mamaku adalah wanita yang kuat, ketika dia disakiti dia hanya diam dan bertahan. Ketika papa tidak bekerja, dia berganti peran menjadi tulang punggung keluarga. Tapi pada akhirnya, akulah yang memberikan pilihan kepada papa. Saat kuliah sambil bekerja aku mendengar berita dari keluarga papaku di Jakarta bahwa ia sudah menikah lagi dengan wanita lain bahkan sudah mempunyai anak, aku sangat kecewa. Lalu aku memberinya pilihan, papa atau aku yang keluar dari rumah. Menjadi anak kesayangan papa tidak menjadi alasan bagiku untuk mempertahankan keberadaannya di rumah. Papa memilih dialah yang akan keluar dari rumah. Sekeluarnya papa dari rumah, keadaan di rumah terasa lebih tenang. Tidak ada umpatan atau bahasa kasar. Tidak ada suara tinggi yang terdengar memerintah. Saat di rumah yang dia bisa hanya memaki mama, bodoh dan berbagai nama binatang sudah biasa dia keluarkan untuk mama. Wanita yang sudah memberinya 3 anak, wanita yang menemaninya bahkan setia kepadanya saat dia tidak setia, wanita yang rela bertukar peran menjadi tulang punggung bagi keluarga saat papa tidak bekerja. Aku yang sudah semakin dewasa dan mengerti keadaan yang tidak baik ini akhirnya berdiri membela mama. Sekeluarnya dia dari rumah mama tetap mengasihinya dan memperdulikannya. Tetap menanyakan kabarnya lewat anak-anak. Tetap mengaharapkan kehadirannya di rumah meskipun cuma mampir untuk memasang lampu rusak atau melihat sanyo air yang tidak menyala. Ah mama hatimu terbuat dari apa. Ada satu hal yang mama selalu bilang padaku. Wanita diberikan hal yang special oleh Tuhan. Hatinya tahu ketika orang yang dia cintai sedang tidak baik-baik saja. Suami ataupun anak-anaknya. Tapi aku hanya menganggap lalu saja perkataan mama. Pengalaman pernikahan orang tuaku membuat aku ragu akan sebuah kesetiaan pernikahan. Tapi ketika Heru, seorang sahabat menawarkan rasa sayang sebagai kekasih, aku percaya aku bisa bahagia. Karena dia sahabatku. Sahabat yang tidak pernah menyakiti hatiku. Sahabat yang bisa menerima aku apa adanya. Dan waktu 7 tahun kami berpacaran adalah waktu yang cukup untuk membangun pondasi yang kuat untuk pernikahan kami. Itu yang aku percaya.

Saat ini usia pernikahanku baru menginjak usia 3 tahun. Kami sudah dikaruniai satu anak laki-laki yang kami beri nama Ryu. Dia anak laki-laki yang tampan. Wajahnya mirip sekali papanya. Dia menjadi kesayangan nenek kakeknya baik dari pihakku maupun pihak suamiku, karena dia adalah cucu pertama. Aku bersyukur sekali karena Ryu mendapatkan limpahan kasih sayang.

Aku bekerja di sebuah foodcourt terkenal di kota Bandung sebagai bagian keuangan. Sedangkan suamiku Heru, dia bekerja di panrik atas rekomendasi papanya. Papa mertuaku adalah seorang manajer di sebuah pabrik kain besar di Bandung, dan Heru ditempatkan di pabrik cabang sebagai staff. Pernikahanku terasa sempurna. Kami memang belum mempunyai rumah sendiri. Karena mama tinggal hanya bersama satu kakakku yang belum menikah, kami tinggal bersama mama. Alasan lainnya karena mamalah yang membantuku mengurus ryu selama aku bekerja. Tapi ketika usia Ryu setahun, dengan alasan belajar mandiri, kami memutuskan untuk keluar dari rumah mama dan mengontrak rumah yang dekat dengan tempat kerjaku. Sebenarnya alasan lainnya karena mama mertuaku yang meminta agar kami mengontrak. "Kasian suamimu Lia, kalo masih tinggal di rumah mamamu." Padahal aku merasa mamaku memperlakukan suamiku dengan baik seperti anaknya sendiri. Memang mamaku punya sifat yg keras, tapi sikapnya kepada suamiku baik-baik saja. Tapi karena aku mencintai suamiku akupun setuju dengan usul mertuaku. Bahkan mertuaku memutuskan agar asisten rumah tangga yang selama ini membantunya di rumah sekalian saja tinggal di rumahku agar bisa menjaga anakku selama aku bekerja.

Bahagia rasanya tinggal mengontrak sendiri. Tidak ada yang mengatur ini dan itu. Suamiku pun nampaknya lebih bahagia.

Beberapa bulan setelah kami mengontrak, aku merasakan ada sesuatu yang berbeda dari suamiku. Tapi entah. Sulit menjelaskannya. Belakangan ini sering sekali dia pulang terlambat dengan alasan lembur. Bukannya suamiku tidak pernah lembur sebelumnya, tapi entah kenapa kali ini hatiku selalu merasa was-was.

Setiap hari suamiku pergi ke pabrik tempat dia bekerja menggunakan motor. Suatu malam ketika aku hendak mengunci pagar rumah, tak sengaja aku memperhatikan bahwa pijakan motor bagian belakang dalam posisi terbuka, seperti habis digunakan membonceng. Aneh. Biasanya kalaupun dia pulang dengan teman kerjanya dia selalu bercerita kepadaku.

"Tadi bonceng siapa pulang kerja? "tanyaku

"Oh temen pabrik nebeng."

"Siapa? " jawabku menyelidik

"Itu bu Cucu, tenang aja sayang, uda tua koq. Ngga usah cemburu. " sambil tersenyum.

"Oh. Bukan cemburu koq. Tapi tumben biasanya kan kamu cerita" jawabku menyudahi.

Tapi jawabannya barusan tidak membuat hatiku tenang. Entah kenapa tetap terasa aneh rasanya. Mungkin inilah yang namanya intuisi seorang istri. Dan harusnya aku percaya bahwa ada sesuatu yang salah dengan suamiku.