JoyNovel

Let’s Read The World

Open APP
My Sweety Psycho

My Sweety Psycho

Author:Vibby

Finished

Introduction
Menjadi wanita cantik mungkin dambaan bagi setiap orang, tetapi tidak untuk Illy, karena memiliki wajah yang cantik ia harus mengalami kehidupan yang tidak ia inginkan, apalagi terlahir dari keluarga miskin yang banyak menuntut, membuat hidup Illy semakin tertekan, hingga akhirnya Illy bertemu dengan seorang lelaki kaya bernama Charles, bagaimanakah kelanjutan ceritanya?
Show All▼
Chapter

"Aku kan sudah bilang berkali-kali, kau tidak perlu sekolah tinggi-tinggi! untuk apa kau sekolah? hanya membuang-buang uang saja, lihatlah dirimu sekarang! sungguh menyedihkan! harus bergelud dengan buku, dan tugas-tugas sekolah, coba saja kau patuh dengan perintahku untuk menikah dengan Sir Luis, pasti kita sudah bisa hidup enak sekarang!" ujar wanita kepala 4 itu kepada gadis cantik yang tengah duduk diam membisu mendengarkan omelan dari wanita tersebut.

"T-tapi Bu, aku bahagia bisa bersekolah seperti teman-temanku yang lainnya, aku ingin menghabiskan masa mudaku seperti anak-anak lain yang bisa bersekolah, berinteraksi dengan banyak orang, menjadi murid berprestasi, aku ingin bisa membahagiakan Ayah dan Ibu," jawab gadis cantik tersebut.

"Illy, dengar ya! kalau kamu mau bikin kami bangga sama kamu seharusnya kamu nurut pas ibu nyuruh kamu untuk nikah sama Sir Luis, dia itu orang kaya, hidup kita bakal tenang, enggak kayak sekarang miskin terus! aku juga pengen tahu bisa shopping, dasar beban!" cetus perempuan yang merupakan kakak dari gadis itu.

"Maafkan Illy ya Bu, Kak Rara, tapi Illy janji habis lulus ini Illy bakal kerja keras biar hidup kita enggak sesusah ini lagi, sekarang kan Illy sudah kelas 12, tinggal menghitung bulan Illy akan lulus, bantu doa ya semoga nilai Illy memuaskan dan Illy bisa mendapatkan pekerjaan yang baik," sahut gadis cantik bernama Illy itu dengan tutur kata yang sopan dan lembut, walaupun sebenarnya hatinya sakit mendengar cercaan dan hinaan dari Ibu tiri dan kakak tirinya itu.

"Halah! doa terus, makan tu doa! doa enggak bikin kaya, mending kamu berhenti sekolah dan cepat nikah sama Sir Luis biar kita cepat kaya!" ujar Ibu tiri tersebut.

"Bu, Illy kan sudah bilang, Illy masih mau sekollah, Illy akan segera cari kerja kok setelah lulus sekolah, lagian juga Illy kan enggak pernah nyusahkan ayah, ibu, dan kakak, Illy sekolah dengan hasil jerih payah Illy sendiri," jawab Illy dengan linangan air mata dan suara lirih karena sedih dengan perlakuan keluarganya.

"Terserah! selama kamu masih sekolah, selama itu juga aku tidak akan mengganggap kamu sebagai anakku!" cetus Delisya, ibu tirinya Illy dan segera berlalu dari hadapan Illy.

Aurelly Arabelle, atau yang kerap disapa Illy, ia adalah gadis cantik, dan berprestasi, dulu ia adalah sosok yang ceria, ia gadis yang baik, ditambah memiliki ayah dan bunda yang begitu sayang kepadanya, membuat hidupnya terasa sempurna, hingga akhirnya itu semua berubah semenjak bundanya meninggal dunia akibat sakit yang dialami, selang 2 bulan bundanya wafat, ayahnya menikah lagi dengan ibu tirinya yang sekarang, ditambah dengan seorang kakak tiri bernama Chalondra Citra, yang kerap disapa Rara. Awalnya Illy merasa bahagia karena memiliki keluarga yang utuh seperti sedia kala, tetapi ternyata ia salah, kehidupannya menjadi semakin menyedihkan, keluarga bukanlah tempat ia berpulang melepas lelah, melainkan keluarga sekarang menjadi topik yang menyeramkan baginya.

Setiap hari Illy sudah seperti pembantu, bangun paling awal, tidur paling akhir, ayahnya tidak tahu mengenai hal ini, yang ayahnya tahu istri baru dan anak tirinya itu sangat menyayangi Illy, dan Illy juga tidak pernah cerita ke ayahnya karena ia takut kena amuk ibu tirinya. Setiap ada ayahnya, Illy akan diperlakukan dengan baik, setiap ayahnya tidak ada di rumah, Illy akan kembali diperlakukan layaknya babu.

"Illy! Illy!" suara Rara memanggil-manggil nama Illy.

"Iya kak, sebentar," sahut Illy sambil tergopoh-gopoh menghampiri kakak tirinya itu.

"Lihat nih! kamu bodoh atau gimana? kan aku sudah bilang setrika yang rapi, lihat nih masih kusut, enggak becus banget sih kamu!" cetus Rara ke Illy, Illy yang mendengarnya hanya bisa terdiam menunduk.

"Maaf kak, kepalaku tadi pusing, sini aku setrika ulang," jawab Illy sambil berusaha mengambil baju Rara untuk di setrika ulang.

"Enggak perlu! aku mau jalan sekarang, bikin lambat aja!" tolak Rara sambil merampas bajunya dari tangan Illy yang hendak menyetrika bajunya tadi.

Illy hanya bisa diam, menunduk sambil menahan tangis, setelah Rara berlalu meninggalkannya, Ia segera ke kamarnya untuk meluapkan semua kesedihannya.

"Aku capek banget, sampai kapan sih aku kayak gini, aku juga pengen hidup bahagia, andai aja bunda masih ada, pasti aku enggak bakal seperti sekarang, aku harus apa sekarang, semua yang kulakukan selalu terlihat salah, aku pengen kabur, tapi aku enggak mau pisah dari ayah, cuma ayah satu-satunya yang kupunya walaupun ayah enggak selalu ada untuk aku, tapi secapek apapun aku, aku harus tetap kuat, aku harus bisa buktikan kalau aku hebat, aku bisa aku hebat," ujar Illy berusaha menyemangati dirinya sendiri setelah meluapkan tangisannya.

"Ayah pulang!" suara ayah Illy datang, mendengar suara itu Illy pun bergegas mendatangi ayahnya.

"Ayah! Illy rindu banget," ujar Illy sambil menghambur pelukan ke arah ayahnya.

"Wah anak ayah, apa kabarmu, Nak?" tanya ayah ke Illy.

"Kabar Illy baik, Ayah sudah makan? apakah istirahat Ayah cukup?" tanya Illy kembali ke ayahnya, karena pekerjaan sebagai buruh bangunan dengan penghasilan minim ditambah lagi jarang pulang kerumah untuk menghemat ongkos transportasi tentu membuat Illy khawatir dengan kesehatan ayahnya.

"Ayah baik-baik saja, Nak, yang penting kamu jaga kesehatan dan belajar yang rajin ya, oh iya mana kakak dan ibumu?" selidik ayah, karena sedari tadi tidak nampak batang hidung mereka berdua.

"Kak Rara jalan keluar bersama teman-temannya, kalau ibu tidak tahu kemana, sepertinya pergi arisan," jawab Illy seadanya karena ia memang tidak tahu kemana perginya ibu tirinya itu.

"Baiklah kalau begitu, ayah mau bersih-bersih dulu, badan lengket semua karenan debu, dan keringat di jalan tadi," ucap ayah Illy sambil berlalu ke arah kamar mandi.

"Setelah itu langsung makan dan istirahat ya, Yah! Illy siapkan makanan nih, awas enggak dimakan," ancam Illy karena ia khawatir dengan ayahnya, mendengar ancaman Illy tersebut ayahnya hanya merespon dengan tawa kecil.

Setelah mandi, makan, saatnya istirahat, Illy pun berinisiatif untuk memijit ayahnya, ketika sedang memijit ayahnya, datanglah ibu tirinya dengan membawa banyak sekali belanjaan yang membuat Illy dan ayahnya heran.

"Darimana kamu dapatkan belanjaan sebanyak ini?" tanya ayahnya Illy heran kepada istrinya itu.

"I-ini, aku dapatkan dari temanku tadi, dia menang arisan hari ini, jadi ia berniat untuk mentraktir kami, a-aku ke kamar dulu ya," jawab Dellysa dengan terbata-bata yang menambah kecurigaan bagi Illy dan ayahnya.

Illy yang melihat tingkah ibu tirinya itu hanya bisa terdiam, karena itu adalah hal yang biasa baginya, memang seperti itu kelakuan ibu tirinya itu ketika ayahnya tidak ada dirumah.

**

"Illy! kamu ada ngadu apa ke ayahmu? hah! jawab!" tuduh Dellysa ke Illy.

"Enggak ada, Bu, Illy enggak ada bilang apa-apa," sahut Illy ketakutan, karena ia hendak berangkat sekolah tetapi ditahan oleh ibu tirinya itu untuk dipaksa jujur.

"Bohong! kenapa tadi malam ayahmu interogasi aku? pasti kamu habis cerita yang enggak-enggak kan?" cetus Dellysa semakin menuduh Illy, dan memukuli Illy dengan rotan hingga ia meng-aduh kesakitan.

"Aduh Bu, sakit, ampun Bu, Illy mau sekolah, jangan sakiti Illy," pinta Illy tetapi ibu tirinya itu tidak peduli, hingga akhirnya, terjadi sesuatu.