JoyNovel

Let’s Read The World

Open APP
Hot Single Man

Hot Single Man

Author:Bara Zindagi

Finished

Introduction
Bram adalah seorang Gigolo atau laki-laki bayaran untuk menemani wanita kencan satu malam. Pekerjaan ini sengaja ia lakoni untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Lalu, ia bertemu dengan seorang wanita yang membuatnya sadar bahwa pekerjaan ini tidak baik untuknya dan keluarga. Wanita ini berusaha membantunya keluar dari pekerjaan hina ini. Mereka saling jatuh cinta. Namun, banyak penolakan dari keluarga besar si wanita. Bagaimana kisah selengkapnya? Ikuti terus ya hanya di HotBuku App.
Show All▼
Chapter

Malam itu suasana club sangat ramai dipadati pengunjung. Bram, seorang hot single man tidak pernah absen sehari pun di club tersebut.

Sebagai seorang hot single man, Bram selalu mampu membuat pengunjung wanita terpesona dengan tubuh indahnya.

Kehadiran Bram, sudah sangat ditunggu. Terlambat lima menit saja, antrian sudah penuh sampai pagi.

Para wanita penikmat nafsu sesaat sering mengakali dengan BO

Booking

Bram, jauh-jauh hari. Bahkan, ada yang BO hari tertentu supaya bisa bermalam dengan Bram.

Willona merupakan pelanggan setia Bram yang sejak tiga puluh menit yang lalu sudah menunggunya di kamar 212.

“Bram, kenapa baru datang? Kamu sudah terlambat lima menit, nih!” tegur mommy Lauren.

“Maaf, Mom. Jalanan macet banget!”

“Alasan, buruan gih ke kamar 212, sudah ada nyonya Willona yang menunggumu.”

“Baik, Mom.”

Bram mendatangi Willona, pelanggan setia yang cantik dan masih muda. Willona adalah keturunan pengusaha kaya di kotanya. Dia tidak pernah bermain dengan pria lain kecuali dengan Bram.

Bram membuat Willona tidak bisa move on dengan permainan ranjang yang begitu fantastis. Apalagi tubuh Bram memang sangat seksi dan atletis.

Willona seakan sudah bersiap untuk bertempur dengan Bram. Pakain bikini yang dikenakan begitu menggoda membuat Bram pun sangat bergairah.

Tanpa diawali obrolan terlebih dahulu, Bram langsung mendekati Willona dan melucuti semua pakaian yang melekat di tubuhnya.

Saat bibir Willona hampir bersetuhan dengan bibir Bram, Willona menyetopnya, “Tunggu, Bram!”

“Kenapa, beiby?” panggilan sayang Bram ke Willona.

“Kamu kenapa? Permainanmu malam ini berbeda dari malam-malam sebelumnya.”

“Loh, apa ada yang salah? Bukannya malam ini aku lebih liar mainnya?”

“Justru itu, biasanya kamu tidak seliar ini. Kita sudah beberapa kali main, Bram. Jangan bohongi aku, ceritakan jika kamu sedang ada masalah.”

Bram, mulai menjauh dari Willona dan mengenakan kembali pakaiannya. Begitu, juga Willona.

“Aku sedang memikirkan ibuku yang sedang sakit. Beliau memintaku untuk menikah sebelum ajalnya tiba.”

“Ya sudah Bram, ikuti saja kemauan ibumu?”

“Tidak semudah itu!”

“Apanya yang sulit? Bukannya banyak yang menyukaimu?”

“Meskipun, aku brengsek, tapi untuk mencari pendamping hidup aku ingin dia yang bisa menjadikan aku menjadi orang yang lebih baik lagi. Terutama untuk mendidik anak-anakku kelak.”

“Yaelah, gampang itu. Buat orang setampan kamu sangat mudah. Apa perlu aku carikan?”

“Nggak yakin aku dengan pilihanmu, kamu saja begini.”

“Eits, jangan salah kamu Bram. Begini-begini aku adalah pengusaha. Klienku, rekan kerjaku, partner bisnisku tidak semuanya sepertiku. Mereka juga mungkin menyangka aku wanita baik-baik. Hanya saja, mereka tidak tahu yang sebenarnya.”

“Iya juga sih. Orang tuaku juga tidak ada yang tahu aku seperti ini.”

“Gimana? Tertarik nggak dengan penawaranku?”

“Aku pikir-pikir dulu deh, kamu sendiri gimana?”

“Kalau aku belum kepikiran soal itu. Aku masih suka dengan kebebasan.”

“Enak ya, jadi kamu?”

“Lebih enak kaya gini.”

Willona menunjukkan hidup enak versinya dia dengan melumat bibir Bram. Sekarang dia yang mulai mengambil alih permainan.

Baju yang dikenakan Bram, mulai dilucutinya satu persatu. Bram terlihat menikmati permainan dari Willona.

Willona tidak akan menyiakan malam ini. Karena belum tentu bisa mendapatkan malam seperti ini jika Bram jadi menikah nantinya.

Permainan semakin panas, tidak ada selembar kain pun yang menutupi kulit mereka. Akhirnya, Bram pun tidak kuat menahan cairan putih yang mendorong untuk keluar.

Willona meminta Bram untuk menemaninya sampai pagi. Lalu, Bram mengiyakan. Willona pun tidur di atas dada Bram dan merasakan kenyamanan yang selama ini belum pernah iya rasakan. Karena, biasanya setelah permainan selesai, Bram langsung kembali pulang.

***

Sedang asyiknya merasakan pelukan hangat dari Bram terdengar suara keras menggedor pintu. Willona bangun dan membukakan pintu.

“Hai, gantian dong. Sudah lima jam kamu main dengan my hot single man.”

“Terserah aku lah, dia milikku untuk malam ini.”

“Aduh jangan ribut di sini. Tolong hargai mommy.” Teriak mommy mencoba mendamaikan keduanya.

“Mom, aku kan sudah membayar lebih untuk malam ini. Kenapa wanita ini tiba-tiba merusak waktu kami?”

“Maaf, nyonya. Mommy sudah coba untuk menghentikannya, tapi wanita ini tetap memaksa.”

“Hai wanita jalang, tidak punya etika ya kamu? Bram, sudah aku BO sampai pagi malam ini. Kamu sebaiknya pergi!” cetus Willona ke Brenda. Brenda adalah wanita yang sudah mengganggu malam Willona dan Bram.

Menyaksikan pertengkaran itu, Bram langsung beranjak dari kasur dan pergi keluar.

Willona mencoba menahanya, “Bram, mau kemana kamu?”

“Silahkan, lanjutkan pertengkaran kalian. Aku mau pergi!”

“Tidak bisa, Bram. Kamu sudah jadi milikku malam ini!”

“Lupakan! Kamu nggak perlu bayar jika keberatan!”

“Bram ... Bram ...” teriak Willona.

Bram tidak menggubris panggilan Willona. Ia terus melangkah pergi tanpa menengok ke belakang.

Bram tidak langsung pulang. Dia hanya menjauh dari keributan dan memilih untuk menunggu di waiting room.

Mommy ternyata menyusulnya dari arah belakang dan meninggalkan sejenak pertengkaran Willona dan Brenda sambil memanggil satpam untuk melerainya.

“Bram, maafkan Mommy sudah membuatmu tidak nyaman seperti ini.”

“Nggak papa, Mom!”

“Kamu kenapa? Sedang ada masalah? Mommy lihat sikapmu beda hari ini?”

“Nggak ada masalah, Mom. Aman kok!”

“Jujurlah ke mommy. Aku kenal kamu sejak masih remaja, Bram. Jadi, mommy paham sekali denganmu.”

“Sebenarnya, dikepalaku ini sedang penuh sekali dengan masalah, Mom.”

“Masalah apa? Coba ceritakan!”

“Ibuku sedang sakit, dia memintaku untuk segera menikah. Selain itu, minggu depan ibu harus menjalani operasi. Dana ku belum cukup untuk biaya operasi ibuku.”

“Berapa sih, kalau mommy boleh tahu?”

“Dua ratus juta, Mom.”

“Besar sekali? Mommy bisa bantu tapi tidak penuh. Ini ada cek seratus juta, silakan kamu cairkan di Bank.”

“Ini mommy serius?”

“Iya, Bram. Kamu sudah lama bekerja dengan mommy. Banyak sekali keuntungan yang sudah mommy dapat darimu.”

“Terimakasih banyak mommy.”

“Sekarang, kamu datangi Willona. Kasian dia sudah terganggu dengan keributan malam ini.”

“Lalu, wanita yang satunya lagi itu siapa? Dan dimana dia sekarang, Mom?”

“Dia Brenda, salah satu fans berat kamu. Dia tidak pernah mendapatkan bagian untuk kencan denganmu. Makanya malam ini dia memaksa. Dia sudah diamankan satpam, kok. Kamu tenang saja.”

“Oke, Mom. Kalau begitu, aku langsung menyusul Willona.”

Bram, mendatangi Willona. Namun, dia tidak lagi berpakaian seksi melainkan rapi dan tertutup. Ada luka lebam di pipinya yang disebabkan perkelahian dengan Brenda.

Kemudian, Bram membawakan kotak obat dan mencoba menawarkan diri untuk membersihkan juga mengobati luka Willona.

Terpancar rasa bahagia terlihat dari bola mata Willona. Bram, memberikan sentuhan lembut di pipi Willona yang lebam. Lalu, Bram juga membalas tatapan Willona dan memberikan ciuman terbaiknya ke Willona.

Bersambung ....