JoyNovel

Let’s Read The World

Open APP
Loving A Grown Man

Loving A Grown Man

Author:P.Putrie

Finished

Introduction
Nadine gadis berumur 18 tahun selepas kelulusan ,memilih untuk melanjutkan kuliahnya diluar kota ,jauh dari tempat asalnya. Karna orang tuanya merasa khawatir ,mereka menitipkan Nadine kepada salah satu sahabatnya di kota tersebut. Dengan alasan ,agar ada yang menjaganya. Sahabatnya yang memang seorang janda tanpa anak,tentu tidak keberatan dengan hadirnya Nadine. Lagipula ,sahabatnya hanya tinggal bersama adiknya yang belum menikah diusia 30 tahun. Barra ,pria matang berumur 30 tahun yang masih belum mau menikah. Hidupnya penuh kebebasan. Hingga akhirnya ia bertemu dengan gadis polos bernama Nadine ,hidupnya seketika berubah. "Om Barra ,aku kasih tahu Tante Sasa nih. Kalau Om Barra suka bawa cewek kedalam ka--" Barra dengan segera membungkam mulut gadis polos itu ,takut suaranya terdengar kakaknya. Setelah hadirnya Nadine di rumahnya ,mempersulit Barra jika ingin membawa kekasihnya ke rumah saat kakaknya sedang pergi.
Show All▼
Chapter

Nadine menapakkan kakinya diatas pelataran rumah yang bisa dibilang sangat mewah. Besarnya dua kali lipat dari rumahnya sendiri. Gadis itu merasa takjub dengan keindahan yang baru ia lihat di halaman bagian depan. Indah dengan tanaman bunga cantik yang sangat terawat. Juga adanya air mancur kecil yang terdapat ditengah-tengah tanaman bunga. Sangat cantik ,sungguh indah. Sangat disayangkan sekali ,rumah sebesar ini hanya ditempati dua anggota keluarga saja. Tante Sasa dan seorang adiknya.

"Nadine ,ayo masuk," ajak Tante Sasa yang sudah berdiri didepan pintu utama. Nadine dengan malu-malu menghampirinya. Rasanya canggung ,harus tinggal serumah dengan orang lain. Walaupun Tante Sasa beberapa kali sering main ke rumah ,namun Nadine tidak terlalu akrab. Tante Sasa adalah teman karib Mama dan ternyata mantan suami Tante Sasa adalah sepupu dari Mama. Ya ,walaupun sepupu jauh. Mereka sudah bercerai dua tahun lalu. Namun masing-masing dari keduanya ,belum ada yang menikah. Sepupu Mama juga belum menikah sampai sekarang ,juga Tante Sasa yang masih betah menjanda.

"Nadine , jangan sungkan-sungkan ya. Anggap aja ini rumah kamu sendiri. Tante senang tau ,kalau kamu tinggal disini. Jadi, Tante ada temennya. Soalnya adik tante si Barra ,dia sibuk sekali," Nadine melihat kesedihan disorot matanya Tante Sasa. Gadis itu sangat paham jika Tante Sasa merasa kesepian. Kadang dia juga sedikit mendengar pembicaraan Mama dan Tante Sasa ,kalau Tante Sasa sebenarnya masih sangat mencintai mantan suaminya. Makanya belum mau menikah.

"Oh iya Nadine ,kamar kamu ada diatas. Karna kamar yang kosong ada diatas ,bersebelahan dengan kamar adik Tante. Kalau Tante lebih nyaman letak kamarnya dibawah. Biar gak capek ,naik tangganya. Hehe." Nadine hanya mengangguk. Gadis itu masih asyik melihat interior yang ada di rumah itu. Dia mungkin akan merasa nyaman tinggal disini ,apalagi Tante Sasa orangnya baik banget. Dan dia juga tidak perlu adaptasi dengan orang banyak ,karna rumah itu hanya dihuni dua anggota keluarga saja.

"Nadine ,kamu lapar gak? Tante bikinin makanan ya. Kebetulan Mbok Rum lagi ijin pulang kampung ,jadi sementara beberapa hari ini belum ada pembantu. Tapi Tante biasa kok bersih-bersih rumah sendiri," Tante Sasa terus saja mengajak bicara Nadine ,wanita itu sepertinya sangat senang dengan kehadiran Nadine.

"Tante ,Nadine kebelet pipis," ucapnya setelah sekian lama diam. Tante Sasa menunjuk toilet yang ada dibelakang dapur. Dengan arahan Tante Sasa ,Nadine pun paham.

Brukkhh..

Nadine ditabrak seseorang setelah dia keluar dari toilet. Tubuhnya yang kecil terhempas ke tembok.

"Aww..." Nadine meringis kesakitan. Karna badannya terbentur tembok.

"Hey.. kau siapa ada di rumahku?" tanya seseorang yang ada dihadapannya sedang menatapnya dengan tajam. Nadine masih menahan sakit di punggungnya. Namun lelaki ini dengan tanpa kasian langsung menghujani pertanyaan.

Nadine berusaha tenang ,sabar. Dia hanya tamu di rumah ini. Jaga perilaku ,tutur kata dan jaga diri itu pesan yang Papanya sampaikan kepadanya. Nadine menelisik penampilan pria dewasa yang ada didepannya , tubuhnya tinggi ,kekar dengan wajahnya yang sangat tegas. Hidungnya yang mancung ,matanya yang bulat ,alisnya yang tebal dan terdapat bulu-bulu halus disekitar wajahnya.

"Hey.. kau siapa?" Tanya pria itu kembali ,saat tidak ada jawaban dari gadis itu.

"A-ku Na-dine ,Om." Nadine menjawab sedikit gemetar. Jika dilihat secara jelas ,wajah pria ini terlihat menakutkan walau sebenarnya sangat rupawan.

"Aku tidak bertanya siapa namamu ,maksudnya kau siapa berada di rumahku?" Barra memicingkan kedua matanya. Dia mengamati Nadine dari ujung kaki sampai ujung kepala. Dia memperkirakan umur Nadine masih belasan tahun ,terlihat dari badannya yang mungil ,wajah polos dan tonjolannya yang masih kecil. Barra tersenyum meledek.

Nadine merasa takut saat Barra menatapnya tanpa henti. Tiba-tiba gadis itu langsung kabur. Dia langsung menghampiri Tante Sasa dan memasang wajahnya yang masih ketakutan.

"Nadine ,kau kenapa? Kenapa wajahmu seperti ketakutan?" tanya Tante Sasa yang merasa terkejut ,melihat Nadine tiba-tiba lari kearahnya.

"Itu Tante.. ada manusia seram dibelakang," Nadine mengadu layaknya anak kecil yang baru saja melihat hantu.

"Hey apa kau bilang? Manusia seram? Ganteng gini dibilang seram. Dasar." Barra yang baru muncul merasa tidak terima dengan ucapan gadis kecil itu. Dia melototkan matanya ke Nadine ,hingga gadis itu kembali takut.

"Oh ini Barra ,adiknya Tante. Barra ,ini Nadine. Dia akan tinggal disini sampai kuliahnya selesai."

"Siapa dia sih Kak ,dia saudara kita?" Barra merasa aneh ,kenapa Kakaknya tiba-tiba membawa gadis asing ke rumahnya.

"Dia anaknya teman Kakak dari Kota A, karna orang tuanya khawatir disini tidak ada yang menjaganya. Jadi ,dititipin ke Kakak. Kau juga harus menjaganya ,jangan membuatnya takut. Anggap saja seperti keponakanmu"

"Keponakan? Keponakan kurang ajar namanya ,baru ketemu udah bilang aku seram. Dasar anak kecil." Barra melayangkan tatapan tajam lagi saat ia berlalu pergi meninggalkan mereka menuju kamarnya.

"Nadine ,jangan takut lagi ya. Panggil saja Om Barra. Sebenarnya orangnya baik kok ,cuma terlihat tegas saja. Tapi dia sangat penyayang orangnya. Oh iya ,dia dulu kuliah dengan jurusan yang sama denganmu. Kalau kau kesulitan bisa bertanya dengannya ,pasti Barra mau membantumu." Nadine mengangguk. Setelah memakan makanan yang dibuatkan Tante Sasa , Nadine pun diantar ke kamar untuk beristirahat.

"Kalau ada apa-apa tinggal ke kamar Tante ya atau kamu telfon Tante aja." Tante Sasa terlihat begitu baik. Wanita itu bahkan mengusap kepalanya dengan lembut , seperti Mama yang biasanya melakukan itu.