JoyNovel

Let’s Read The World

Open APP
CEO ITU TERNYATA KEKASIHKU

CEO ITU TERNYATA KEKASIHKU

Author:Nita_nitnot

Finished

Introduction
Apakah kamu meyakini adanya reinkarnasi? Bisa jadi, salah satu dari kita adalah seseorang yang pernah terlahir. Namun, di hidup kan kembali. Untuk menebus karma dari dosa masa lalu. Cerita ini, diambil dari perjalanan hidup seseorang yang pada akhirnya dia mengetahui bahwa dia pernah menjalani kehidupan masa lalu. Siapa dia? Dia adalah sosok gadis cantik yang hidup dari keluarga sederhana. Dibilang miskin tidak, di bilang kaya juga tidak. Percintaan masa lalu, membuatnya selalu merasa rindu kepada seseorang yang entah di mana dan kepada siapa. Dia adalah Felicia, seorang gadis cantik yang memiliki dua bola mata coklat nan indah. Serta rambut panjang bergelombang, senantiasa dia urai. Felicia pada akhirnya jatuh cinta kepada seorang CEO dari sebuah perusahaan terkenal, di dalam sebuah pertemuan yang tidak di sengaja. Namun sayang, pria itu sangat angkuh dan arogan. Apakah pria itu adalah kekasih hatinya dari masa lalu? Simak terus cerita ini sampai tamat, jangan lupa tinggalkan jejak komentar. Untuk meyakini penulis, bahwa cerita ini diminati oleh kamu para pembaca ter-love. Terima kasih.
Show All▼
Chapter

“Mah, aku pergi dulu. Doa kan Felicia, mendapatkan pekerjaan ya, mah,” pinta wanita muda, cantik. Yang baru saja lulus dari bangku SMA. Kepada wanita paruh baya, yang selalu memberikan rasa sayang kepada Felicia, karena hanya dia anak satu-satunya.

Debora, memberikan kecupan kecil kemudian mendarat di kening Felicia, “Hati-hati di jalan ya, ‘nak. Mamah akan selalu doa kan. Hati-hati di jalan ya,” ujar wanita paruh baya ini, lirih di kuping Felicia.

Wanita muda itu pun tersenyum kecil, lalu memberikan anggukan pelan di kepalanya.

Perlahan dia menarik hendel pintu, sebelum dia kibaskan jemari ke udara. Memberikan salam kepada wanita yang melahirkannya.

Felicia melangkah cepat, setelah dia hempaskan kuat-kuat udara yang mengalir dari kedua lubang hidungnya yang mancung.

Berharap, hari ini adalah hari terbaik buat dia.

Felicia, hidup hanya bersama Ibu tercinta. Sudah lama wanita paruh baya itu bertarung mencari rupiah, demi anak tercintanya agar dapat mengenyam bangku sekolah. Walau tidak sampai ke jenjang universitas.

“Ini saatnya, aku yang mencari pekerjaan. Mamah tidak akan mampu selamanya bertahan bekerja, seperti ini,” gumam Felicia, sembari menoleh ke kanan dan ke kiri. Menunggu bus kota yang akan berhenti di sebuah halte, di mana dia duduk saat ini.

Memang, cuaca sedang tidak mendukung. Butiran air hujan masih saja terus membasahi bumi. Tetapi, tekad Felicia untuk mendapatkan pekerjaan terus berkobar di dalam dadanya.

SLAAASHH!!

Tetapi sangat di sayangkan, tiba-tiba saja mobil sedan mewah berwarna hitam, melaju dengan kencang. Hingga genangan air hujan, yang berada persis di depan halte, menciprat ke arah Felicia.

Kini, baju wanita muda itu pun setengah basah.

“Iih!! Brengseeekk!! Nggak tau apa, gue lagi buru-buru!!” bentak Felicia, berdiri dari tempat duduknya. Sambil memandang sinis mobil yang melaju kencang itu.

Di kejauhan, ternyata mobil sedan itu pun berhenti.

Terlihat, lampu sen belakang berkedip-kedip. Menandakan, mobil itu mencari tempat yang aman untuk parkir.

Sosok pria berseragam hitam, keluar dari pintu sopir. Kemudian, berlari kecil menghampiri Felicia.

“Maaf, maaf mba. Saya terburu-buru. Ini kartu nama saya. Jika mba mau minta ganti rugi, hubungi nomor yang ada di dalam kartu ini,” ujar pria paruh baya itu, sembari menyodorkan kartu nama ke hadapan Felicia. Dengan nafas tersengal-sengal.

Wanita muda itu pun mendengkus kecil, “Huh, enak banget jadi orang kaya. Saya tidak butuh belas kasihan Anda. Yang saya butuh sekarang, sebuah pekerjaan! Anda tidak tau? Kalau saya lagi ada interview hari ini!!” maki Felicia dengan bola mata memerah.

“Maaf, maaf mba. Saya tidak bisa lama-lama. Hubungi nomor yang tertera di kartu itu. Saya permisi, dulu,” pinta pria tersebut dengan cepat, lalu berlari kecil. Kembali ke dalam mobil yang terparkir beberapa meter dari posisi Felicia.

Dengan langkah cepat, Felicia mengekori pria tersebut. Lalu, menghadangnya saat pria itu hendak melajukan kuda besi yang dia kendarai, “Hey! Tunggu dulu!” pekiknya sambil merentangkan kedua tangan di depan mobil.

Pria itu pun menoleh ke bangku penumpang belakang, “Tuan, bagaimana ini?” tanya pria yang tadi menemui Felicia.

“Kasih dia uang, lalu cepat pergi,” kata pria yang duduk di bangku penumpang belakang, dengan suara berat.

Lalu, pria yang diberikan perintah pun lekas keluar dari mobil dan memberikan beberapa lembar uang ratusan ribu kepada Felicia, “Mba, maaf. Saya sudah terlambat. Ini uang untuk membeli baju baru, agar mba dapat pergi dengan selamat ke tempat yang Anda tuju,” kata pria tersebut dengan lembut.

Felicia pun menurunkan kedua tangannya yang masih saja dengan posisi menghadang mobil, lalu bola mata indah miliknya melirik ke arah lembaran uang di tangan pria tersebut, “Nah, dari tadi kek. Saya nggak punya baju lagi soalnya buat interview hari ini,” tukas Felicia, seraya menyambar lembaran uang itu dengan kencang.

Pria berseragam hitam pun tersenyum kecut, lalu melangkah kembali ke dalam mobil. Dengan cepat dia melajukan kuda besi tersebut, bersamaan dengan gerakan kaca mobil penumpang belakang, tertutup perlahan. Sehingga Felicia melihat jelas, sosok pria yang duduk di dalam sana.

“Huh! Mentang-mentang orang kaya. Gampang banget ngeluarin duit buat ganti rugi,” gerutu wanita muda itu sembari mengerucutkan bibirnya.

Tidak lama kemudian, bus yang ditunggu pun tiba.

Felicia dengan cepat menaiki bus, dan berhenti di sebuah mall yang tidak begitu jauh dari perusahaan di mana dia akan interview pekerjaan.

Wanita muda yang biasa tampil sederhana, namun kecantikannya tidak dapat ditutupi. Felicia hanya membeli sebuah kemeja sederhana, yang cocok untuk dia kenakan. Karena uang yang diberikan pria berseragam hitam tadi, cukup lumayan banyak. Sehingga, sisanya dapat dibelikan makanan untuk Ibu tercinta ketika dia pulang nanti.

“Selamat siang, mba. Saya dapat panggilan kerja untuk hari ini. Mau bertemu dengan Ibu Laura,” kata Felicia, setelah tiba di perusahaan yang bergerak di bidang elektronik.

Perusahaan yang terkenal, siapa yang tidak kenal dengan JAYA CORP. Sebuah perusahaan yang merajai alat elektronik di kota ini.

Beruntung sekali Felicia mendapatkan panggilan dari perusahaan tersebut, itu juga karena tempat kursus komputer di mana dia belajar. Memberikan referensi, karena wanita muda itu sangat mahir dalam komputer.

“Silakan duduk sebentar ya mba. Saya akan menghubungi Ibu Laura,” kata wanita penerima tamu, yang duduk di meja berwarna hitam.

Felicia pun menganggukkan kepala dengan pelan, “Baik, terima kasih,” ujarnya. Lalu duduk di kursi tamu, yang berada di ruang tunggu.

Tidak berapa lama kemudian, wanita penerima tamu itu pun menyodorkan lembaran kertas.

Ya, kertas itu adalah formulir data calon pekerja.

Setelah Felicia selesai mengisi formulir tersebut, dia pun kembali memberikan kertas tersebut. Dan pada akhirnya, wanita muda itu bertemu dengan Laura.

“Selamat pagi Bu, saya Felicia,” sapa wanita muda itu sembari menyodorkan tangannya ke hadapan wanita cantik, berumur 40 tahunan tersebut.

“Pagi, silakan duduk,” pinta Laura, “karena saya sangat membutuhkan orang. Hari ini, kamu langsung saja ya. Saya kenalkan kepada atasanmu,” sambungnya.

“Oh, iya. Baik, Bu,” kata Felicia, tersenyum kecil.

Wanita muda ini memiliki sebuah tanda tanya besar, mengapa dia dengan cepat diterima oleh pihak perusahaan. Sedangkan, dia sendiri belum sempat di pertanyakan mengenai tugas yang akan dia kerjakan.

Laura pun lekas menghubungi seseorang melalui pesawat telepon, “Pak, calon sekretaris Bapak sudah datang. Saya suruh ke ruangan Bapak sekarang, ya?” ucapnya di ujung telepon.

Kemudian, wanita cantik itu pun memutuskan pembicaraan, setelah mendapatkan izin dari orang yang berada di ujung telepon.

“Ikuti saya,” ajak Laura, berdiri dari posisinya. Kemudian, melangkah meninggalkan ruangannya.

Sebuah kantor yang cukup mewah bagi Felicia, sehingga dia berdecap kagum. Kedua bola matanya menyapu tiap sudut ruangan yang dia lewati. Hingga berhenti di ujung lorong. Ruangan dengan pintu yang berdesain sangat elegan. Dia pun masuk, setelah Laura mempersilakan wanita muda tersebut memasuki ruangan yang besar tersebut.

Kini, Felicia berdiri di depan pintu setelah Laura meninggalkan dia di ruangan itu.

“Selamat siang, Pak,” sapa Felicia, gugup.

Pria itu, masih saja duduk di kursi dan menghadap ke jendela. Sehingga, posisinya membelakangi Felicia.

“Siang, silakan duduk,” kata pria itu dengan suara baritonnya.

“Wow! Suaranya seksi sekali,” batin Felicia, melangkah pelan. Hingga dia duduk di bangku, yang berada di depan meja kerja pria tersebut.

Pandangan Felicia masih saja menyapu, isi ruangan tersebut, “Leonardo Abigail, CEO JAYA CORP,” bisiknya dalam hati, “wah, ini sih...”

Belum sempat hatinya menjawab pertanyaan yang berkutat di dalam hati, pria yang tengah duduk membelakanginya pun, berputar menghadap Felicia.

Wanita muda itu, sontak membulatkan kedua mata lentiknya.