"Berhenti! Lihat aku akan menangkapmu pencuri, akan kupatahkan kakimu! "
Acha mendengar kalimat ini, sambil berlari, sambil melihat ke belakang, hatinya sangat tidak senang.
Ayolah! Sudah dibilang dirinya tidak mencuri dompet itu, orang ini kenapa masih mengejar dia!
Meskipun dia yatim piatu, tetapi dia juga memiliki moral dasar, tidak akan berpikir untuk tidak bekerja keras malah pergi mencuri dompet orang.
Entah orang kurang ajar mana yang menuduhnya?
Ia mengutuknya supaya jadi jones seumur hidup!
Acha marah dalam hati, tetapi kakinya tidak berani berhenti, saat berbalik melihat orang yang pelan-pelan hampir mengejarnya, ia sangat berharap dirinya dapat menumbuhkan sepasang sayap untuk terbang.
Tampang orang tersebut terlihat sangat ganas, jika dia tertangkap, bahkan jika dia tidak benar-benar mematahkan kakinya, diperkirakan juga tidak akan ada hasil yang baik.
Untuk dapat berhasil kabur dari orang di belakang, Acha berniat kuat, tidak peduli dengan mobil yang melalu lintas, ia tetap berlari menyeberangi jalan.
Para pengemudi di jalan yang melihatnya menyeberang, menghentikan mobil mereka, mengeluarkan kepala dari jendela dan memarahinya.
Acha tidak peduli apa yang mereka marahi, yang penting sekarang adalah dia bisa melarikan diri.
Saat dia hendak mencapai sisi lain jalan, sebuah mobil tiba-tiba muncul dari sudut jalan.
Pada saat Acha menyadarinya, mobil itu sudah sangat dekat dengannya.
Seolah-olah tubuhnya telah membeku, Acha menyaksikan mobil yang menabrak dirinya, hanya terpikirkan satu kata besar di kepalanya.
Sialan!!!
"Buk--"
Tidak mengherankan, Acha terlempar seperti layang-layang yang benangnya patah dan jatuh ke tanah.
Tergeletak di jalanan, Acha membuka matanya lebar-lebar dan menatap mobil yang menabraknya dengan tidak percaya.
Perlahan-lahan, dia merasakan panas hangat yang mengalir keluar dari tubuhnya, dan aroma nya penuh dengan bau darah.
Apakah dirinya sudah mau mati?
Tapi ia tidak puas!
Dirinya baru berusia 18 tahun, banyak tempat menyenangkan belum pernah dikunjungi, makanan lezat yang tidak pernah dicicipi, dan yang paling menyedihkan adalah dia belum pernah berpacaran!
Tuhan, apakah ada masalah dengan penglihatan-Mu?!
Pencuri sungguhan, Engkau tidak hukum, tapi Engkau malah membiarkan aku tertabrak mobil?
Aku kutuk kamu jadi jones seumur hidup!
Mengutuk di hati, Acha perlahan-lahan menutup matanya dan tidak pernah membukanya lagi.
Tetapi kesadarannya malah melayang ke ruang angkasa yang asing...
~
Di kamar tidur yang simple namun mewah, seorang pria yang tinggi bernapas pendek berdiri menyandar di dinding di depan ranjang, wajahnya penuh dengan keringat yang menetes, dan warna merah yang mencurigakan.
Tetapi semua ini juga tidak bisa menyembunyikan penampilannya yang luar biasa indah, yang dari sisi manapun seperti telah diukir oleh Tuhan dengan hati-hati, sulit dilupakan.
Alis yang tebal, hidung tinggi, bibir merah tipis berbentuk berlian, dan dagu yang tajam seperti dipotong dengan pisau, tidak peduli dari sudut pandang mana pun, bisa melebihi artis laki-laki terkenal sekarang.
Terutama sepasang mata yang seperti tinta, seperti kolam yang dalam, jika melihatnya lebih lama, maka akan tenggelam di dalamnya.
Dan saat ini sepasang mata ini memancarkan sedikit kesabaran, dan ada lebih banyak kemarahan.
Dia telah diberi obat, dan obatnya ada di cangkir teh yang baru saja dia minum.
Dengan terhuyung-huyung, dia berjalan ke meja tempat cangkir teh ditempatkan, dan langsung menghempaskannya ke lantai, membuat suara "prang", suara cangkir pecah.
Siapa yang begitu lancang, berani memberinya obat di rumah sendiri, ingin mati?
Pria itu belum sempat memikirkan alasan dari semua ini, dari belakangnya muncul suara gagang pintu berputar.
Ketika pria itu melihat ke belakang dan melihat ada orang datang, dalam sekejap dia mengerti semuanya.
"Kak Ryan, apakah kamu tidak enak badan?"
Suara lembut wanita masuk ke telinga pria itu, diikuti oleh aroma wangi setelah mandi saat gadis itu mendekat...
"Biarkan Acha membantumu ya?"
