JoyNovel

Let’s Read The World

Open APP
Shoot Me Now

Shoot Me Now

Author:Shailak

Finished

Introduction
Aluna Devara, seorang mahasiswi semester tiga, yang begitu terkenal karena penampilannya yang begitu bergaya. Ia memiliki sifat yang tidak baik, yaitu senang mempermainkan hati pria. Namun, ketika ia bertemu dengan Yudha, sikapnya mendadak berubah. Ia dapat mulai mengerti, apa arti cinta yang sesungguhnya.
Show All▼
Chapter

"Luna, gue cinta sama lo!" ucap seorang pria yang tengah berlutut di depan seorang wanita berambut pirang, di sebuah taman yang saat itu tak begitu ramai seperti biasanya. Pria itu menyodorkan seikat bunga kepada wanita yang memakai pakaian begitu mewah itu, sehingga membuat gayanya terlihat begitu berkelas. Wanita yang tengah berdiri di depan seorang pria tadi dikelilingi oleh dua orang wanita lain di sampingnya yang bergaya sama berkelas seperti halnya wanita tersebut.

"Hah, lo cinta sama gue? Ngaca dulu dong!" sahut wanita itu sembari mendorong pria yang berlutut di depannya hingga ia terjatuh ke belakang. Ia juga menepis seikat bunga yang disodorkan pria tadi sehingga terlempar cukup jauh. Wanita itu kemudian tertawa. Begitu juga ketiga temannya yang berada disampingnya. Ia merasa begitu bahagia melihat ada seorang pria yang berhasil ditaklukannya lagi.

Wanita itu bernama Aluna Devara. Ia merupakan Putri tunggal dalam sebuah keluarga yang berada. Ia kini tinggal bersama ayahnya. Ibunya telah meninggal dunia beberapa tahun lalu karena sakit yang begitu parah. Ayahnya seorang pengusaha yang berjaya. Ia merupakan seorang mahasiswi semester tiga. Gayanya yang begitu mempesona membuatnya banyak dikenal oleh orang-orang di kampusnya.

Ia memiliki dua orang teman yang selalu mendampinginya kemanapun ia pergi. Mereka adalah Bianca dan Reina. Aluna dan teman-temanya dikenal sebagai wanita-wanita yang sangat suka memperhatikan hati pria. Seringkali mereka mendekati pria yang menjadi sasaran mereka, kemudian mereka meninggalkannya setelah pria itu mulai tertarik dengan mereka.

Dalam waktu satu hingga dua hari, mereka telah berhasil meluluhkan hati pria yang menjadi sasaran mereka. Sudah cukup banyak pria yang berhasil ditaklukan oleh Aluna. Mereka semua mengaku mencintai seorang Aluna. Namun, ketika mereka berniat mengutarakannya kepada Aluna, seringkali ia membuat malu pria itu di depan banyak orang, dengan menolaknya secara terang-terangan ataupun membuatnya dipermalukan dengan hal-hal yang lain.

Sama seperti halnya seorang pria yang baru saja mengutarakan perasaannya kepada Aluna. Ia begitu dipermalukan di depan orang-orang yang tengah berada di taman itu. Aluna menolaknya secara terang-terangan, kemudian ia pergi begitu saja bersama kedua temannya tadi.

"Guys, ke cafe yok, kita nongkrong." ajak Aluna pada kedua temannya setelah puas mempermalukan pria di taman itu. Bianca dan Reina menatapnya kemudian mereka mengangguk sebab menyetujui ajakan Aluna untuk pergi ke cafe. Tanpa pikir panjang, mereka langsung menuju cafe yang letaknya tak jauh dari taman itu. Mereka bertiga berjalan dengan gaya mereka yang begitu khas menuju cafe yang mereka maksud.

Karena letak cafenya begitu dekat dengan taman, tak lama kemudian mereka telah sampai. Suasana cafe pada saat itu tak begitu ramai tetapi juga tak begitu sepi. Ada beberapa pelanggan yang tengah bersantai di cafe tersebut.

"Coffe latte tiga ya kak." ucap Bianca memesankan kopi untuk kedua temannya tersebut. Mereka kemudian langsung memilih tempat yang menurut mereka nyaman untuk bersantai dan segera duduk di tempat itu.

"Lun, bisa-bisanya lo nolak cowok kaya dia. Gila lo." ucap Bianca memulai obrolan di antara. Aluna yang semula sedang memainkan ponselnya, kemudian ia berhenti dan menatap Bianca. "Emang kenapa sama dia?" sahutnya singkat, kemudian ia kembali memainkan ponselnya lagi.

"Lo nggak tau? Dia itu anak konglomerat. Apa aja yang lo mau pasti bakal dikasih sama dia." sambung Reina. Ia terlihat sangat serius memperhatikan Aluna yang begitu bodohnya sempat mempermalukan pria di taman tadi.

"Emang kenapa kalau dia anak konglomerat? Kalo gue enggak suka ya enggak. Mau dia anak konglomerat atau apapun itu, bodoamat. Kan tujuan gue deketin banyak cowok cuma buat seneng-seneng aja. Gue juga ngga cinta sama mereka. Dan satu lagi, soal dia anak konglomerat, bokap gue juga lebih kaya kali." sahut Aluna, membantah ucapan teman-temannya itu.

"Gila lo, konsisten banget ya hidup lo." ucap Bianca sembari tertawa melihat temannya itu yang terlalu bermain-main dengan hidupnya. Aluna dan Reina kemudian membalasnya dengan tertawa juga. "Ingat ya, tujuan kita begini itu buat senang-senang aja, kalian jangan dibuat serius, apalagi sampai baper beneran." sambung Aluna. Seketika semuanya tertawa, menyetujui ucapan Aluna.

Kring

Pintu cafe kembali terbuka setelah beberapa saat. Kali ini, seorang pria berparas begitu mempesona yang baru saja masuk ke cafe itu, menarik perhatian Aluna dan teman-temanya. Pria itu hanya mengenakan kaos berwarna hitam dipadukan dengan celana jeans berwarna biru keabu-abuan. Begitu sederhana, namun ia terlihat sangat berkarisma.

"Sasaran gue selanjutnya tuh." ucap Aluna sambil menunjuk pria tersebut. Ia terus menatap wajah pria itu hingga pria itu tersadar dan menatapnya balik. Namun, ketika pria itu menatapnya balik, Aluna tak mengalihkan pandangannya sedikitpun. Hal tersebut membuat pria itu menjadi seolah salah tingkah.

Pria itu bernama Yudha. Ia merupakan mahasiswa semester lima di kampus yang sama dengan Aluna. Ia juga seorang ketua organisasi yang begitu ternama di kampusnya. Yudha memang berkarisma. Pesonanya mampu menarik perhatian setiap wanita yang memandangnya. Begitupun ketiga wanita itu. Walaupun mereka memiliki niat yang tidak baik yaitu hanya untuk mempermainkan Yudha, namun mereka mengakui bahwa Yudha begitu mempesona.

"Lun, dia ketua salah satu organisasi di kampus kita loh. Lo seriusan bakal jadiin dia sasaran lo?" sahut Bianca setelah mendengar bahwa Aluna akan mempermainkan pria tadi.

"Emang kenapa? Yang penting dia cowok kan, dan gue mau. Jadi, kenapa engga?" sahut Aluna dengan santai. Ia kemudian berniat untuk melakukan suatu hal. Ia mengambil ponselnya yang tadinya diletakkan diatas meja. Kemudian ia berdiri dari tempat duduknya dan mulai melangkahkan kakinya.

Aluna berjalan santai menuju ke kasir, tempat dimana seorang pria itu sedang membayar pesanannya. Bianca dan Reina mengkhawatirkan temannya itu akan berbuat sesuatu yang tidak mereka inginkan. Mereka terus menatap langkah ke mana Aluna pergi. Dan langkahnya terhenti di depan seorang pria tadi.

"Hai boleh kenalan nggak? Gue Aluna, panggil aja Luna." ucap Aluna. Ia mengulurkan tangannya kepada pria itu. Namun, pria itu sama sekali tidak membalas uluran tangannya. Ia hanya menolehnya dan kemudian mengalihkan perhatian yang kembali pada pelayan cafe yang tengah menyodorkan pesanan yang ia pesan.

"Ya, gue Yudha." sahut pria itu singkat. Aluna terus menatapnya kemudian menyalakan ponsel yang dipegangnya. "Boleh, minta nomor hpnya?" ucap Aluna lagi, begitu frontal. "Maaf gue buru-buru." sahut pria itu. Kemudian ia pergi dengan terburu-buru keluar dari cafe. Melihat Yudha yang cepat-cepat pergi, Aluna juga cepat-cepat kembali menuju teman-temannya tadi.

"Beneran kan perasaan gue nggak enak." ucap Bianca ketika Aluna baru sampai di tempat mereka duduk. Aluna merengut, kemudian ia mengambil kopi yang ternyata sudah datang dan ia menyeruputnya.

"Sombong banget tuh cowok, lihat aja besok lo bakal berlutut di depan gue kayak cowok tadi." ucap Aluna geram. Wajahnya terlihat begitu kesal, karena kejadian yang baru saja terjadi.