Blurb~
Pertemuannya kembali dengan Nicholas Kennedy membuat hidup Gwen Florine menegangkan setiap harinya bak naik rollercoaster yang membuat jantungnya selalu memompa dengan cepat.
Kisah yang belum usai itu, ternyata menyeret Gwen ke dalam pusaran kehidupan seorang Nicholas.
Gwen benci sekaligus cinta mati kepada laki-laki yang mengenalkannya pada petualangan panas semasa SMA dulu.
***
Aku yang terlalu lemah, atau aku yang terlalu bodoh, karena lagi-lagi aku terperosok ke dalam pesonanya. Lagi dan terus berulang hingga dada ini semakin terasa sesak. ~Gwen
Kau milikku, Gwen. Dan selamanya akan tetap seperti itu. ~Nich
***
Prolog ~
"Nich, hentikan! A-aku bilang hen … ti … kaaaan …." Tengkuk Gwen meremang, saat Nich malah meniupnya. "A-aku mohon … bi-biarkan aku pergi." Kali ini Gwen semakin memejamkan kedua matanya, dan meremas erat-erat kemeja Nich.
Reaksi Gwen menciptakan seringai di bibir Nich. Tanpa berminat menjauhkan wajahnya dari lekuk leher Gwen yang harum, Nich bertanya, "Kau masih menyukaiku 'kan? Hmm, katakan, Gwen."
Gwen menggeleng tanpa bersuara.
"Benarkah?" Nich meniup belakang telinga Gwen, lalu mengecupnya. "Kau bahkan tidak menolak ini." Lagi, Nich mengecup singkat rahang Gwen.
Memang Gwen bisa apa, selain diam dan menerima perlakuan Nich? Sementara Nich mengungkungnya dan tidak membiarkannya pergi.
"K-kau lancang, Nich." Suara Gwen putus-putus, nyaris menyamai dengan suara desahan.
"Aku lancang, begitu?" Punggung tangan Nich mengelus sisi rahang Gwen, lalu turun perlahan ke leher. Lantas Nich semakin memangkas jarak yang ada. "Menikahlah denganku, Gwen. Maka, akan aku berikan segalanya padamu."
"Ti-tidak. A-aku tidak mau." Gwen menggigit bibir bawahnya, saat sensasi panas yang diciptakan Nich di setiap nadinya.
"Harus mau," bisik Nich, setengah memaksa. Memegang batang leher Gwen yang jenjang dengan satu telapak tangannya yang besar. Lalu berkata lagi, "Apa kau tidak mau mengulanginya, Gwen?"
"A-apa?"
"Malam itu." Nich mengecup daun telinga Gwen. "Buka matamu, Gwen. Kalau kau seperti ini, kau akan mengingatkanku saat pertama kali aku menyentuhmu. Kau sangat cantik malam itu, dan aku adalah pria beruntung yang bisa mendapatkanmu."
"Tapi aku tidak! Aku tidak beruntung. Kau seolah-olah membuangku, Nich." Tanpa disadari Gwen, sudut matanya yang terpejam mengeluarkan cairan bening. Dadanya terasa sangat sesak, tenggorokannya tercekat hebat.
Nich terkesiap, lekas menghapus jejak basah di pipi Gwen dengan ibu jari. "Jangan menangis, Gwen. Selama ini aku tidak pernah berhenti memikirkan dirimu. Percayalah padaku. Hingga detik ini aku masih mencintaimu, Gwen."
Bola mata Gwen seketika terbuka lebar-lebar dan langsung bertemu dengan tatapan Nich yang sayu. "Kau merayuku, Nich?" sindirnya seraya meremat kemeja Nich.
"Tidak," geleng Nich. "Aku jujur dengan perasaanku. Dulu dan sekarang." Nich melihat bola mata Gwen yang memerah dan basah.
"Bagaimana kalau aku tidak? Aku sudah tidak memiliki perasaan apa pun padamu?" tanya Gwen. Mulut dan sorot matanya mengartikan hal yang berbeda.
Sungguh, Nich ingin sekali tertawa melihat polosnya Gwen ketika berusaha berbohong. Sejak dulu Gwen tidak pandai berbohong.
"Baik. Aku akan membuktikannya secara langsung." Nich sudah mengambil ancang-ancang untuk mencium bibir Gwen yang menggiurkan. Memiringkan kepala, dan siap mencerup manisnya bibir Gwen yang melebihi madu.
Namun, kedua tangan Gwen menahan dada Nich dengan cepat. "K-kau mau apa?" tanyanya menelan ludah susah payah. Tatapannya malah terarah di bibir Nich.
"Mau ini."
"Mmmfftt."
