Ve adalah seorang gadis desa, yang mencoba peruntungan di Jakarta, untuk membantu orang tuanya memenuhi kebutuhan hidup. Ve berangkat ke Jakarta bersama dengan Sesilia, atau biasa dipanggil dengan nama Sisil.
"Ve, inilah kontrakanku, maaf ya sangat kecil sekali," ucap Sisil dengan nada suara yang lembut.
"Tidak apa-apa Sil. Ini cukup kok untuk kita berdua. Besok kalau aku udah dapat kerja, aku akan bantu kamu membayar sewanya ya," ucap Ve sambil tetap merapikan pakaiannya untuk dimasukkan ke dalam sebuah lemari plastik, yang tidak begitu besar. Sisil pun tampak membantu Ve merapikan pakaiannya, agar lemari itu bisa menampung pakaian miliknya dan milik Ve.
"Dah, selesai, saatnya makan. Yuk kita cari makam dulu Ve. Di dekan sini, ada warung nasi yang lumayan murah, tetapi rasanya enak kok." Sisil bangkit dari duduknya, di ikuti oleh Vei dari belakang.
Mereka berdua berjalan beriringan menuju warung nasi, untuk mengisi perutnya yang sudah terasa lapar. Dan benar saja, karena ini adalah waktu makan siang, warung nasi itu tampak sanngat ramai dengan pengunjung. Rata-rata yang makan disana adalah karyawan perusahaan. Mereka rata-rata laki-laki, dan hanya sedikit saja yang perempuan.
Setelah menunggu lumayan lama, kini giliran Ve dan Sisil untuk memesan makanannya.
"Ve, kamu mau pakai lauk apa?" tanya Sisil.
"Emmm, itu saja lah, sayur sawi, sama telur dadar saja, gorengannya satu." Ve menunjuk menu makanannya.
Mereka berdua pun makan dengan lahapnya. Setelah membayar, mereka berdua, pulang ke kontrakan, untuk sekedar berisitirahat mempersiapkan fisik agar lebih segar menghadapi pekerjaan baru.
“Ve, besok kamu di kontrakan sendirian nggak apa-apa? Atau kamu mau mencari kerja?” tanya Sisil, begitu sampai di kontrakan.
“Nggak papa. Aku besok mau jalan-jalan sendiri, sambil lihat-lihat siapa tahu ada lowongan kerja buat aku.” Ve berkata dengan santai.
“Baiklah kalau begitu, lebih baik sekarang kita istirahat saja. Agar besok bangun-bangun badan menjadi fresh.”
Keesokan paginya, Sisil sudah terlihat rapi dengan baju dan make up yang di poleskan pada wajahnya yang sudah terbilang cantik. Sementara Ve baru saja keluar dari kaamar mandi, dengan handuk yang sengaja di gulung di atas kepala. Untuk mengurangi air yang ada pada rambutnya.
“Aku berangkat ya Ve, nanti kalau kamu mau makan, kamu bisa beli lauk di warung kemaren saja. Aku belum belanja untuk isi kulkas.” Selesai berkata seperti itu, Sisil segera keluar dari kontrakannya dan bergegas untuk berangkat bekerja.
“Hati-hati Sil,” teriak Ve dari ambang pintu. Entah mendengar entah tidak, karena Sisil sudah tidak terlihat.
Kini Ve sudah rapi dengan pakaian rapi. Kemeja lengan panjang, dipadukan dengan celana jeans, serta rambut yang dibiarkan tergerai begitu saja, karena masih basah, membuat Ve semakin terlihat cantik. Ya, Ve yang memang sudah memiliki paras manis, dengan wajah bulat, hidung kecil tapi lancip, serta bibir tipis bagian atas, dan tebal bagian bawah, dengan warna pink, walau tanpa dipoles lipstik sekalipun, membuat Ve terlihat cantik alami, walau tanpa sentuhan make up sedikit pun.
“Bismillahirrohmanirrohiim, akan kucoba peruntungan di Jakarta,” ucap Ve penuh semangat membara.
Dengan langkah peelahan tapi pasti, Ve berjalan sepanjang jalan, menyusuri pertokoan kecil hingga besar. Bertanya dari toko satu ke toko lainnya, tapi tak kunjung ada lowongan kerja pun.
“Huft, lelahnya, aku akan membeli es disana ah.” Ve menghampiri pedagang es yang tak jauh dari tempat dia duduk, dengan keringat yang masih menetes membasahi tubuh rampingnya.
“Bu, es jeruk satu.”
“Berapa Bu?” tanya Ve.
“Lima ribu saja Neng,” ucap pedagang itu ramah.
“Ini uangnya Bu, terimakasih.” Ve segera meninggalkan pedagang itu, dan kembali duduk. Sambil menyeruput es teh yang ada di tangannya, Ve memperhatikan sekeliling. Terlihat gedung-gedung pencakar langit yang menjulang tinggi, dengan dinding kaca, yang membuat gedung itu terlihat bagus dan mewah.
“Andai saja aku bisa kerja di salah satu gedung itu, pasti akan terasa sangat enak sekali. Pakaian rapi, wangi, ruang kerja ber ac, ah, indahnya.” Khayal Ve.
Sedang asik menghayal, Ve melihat seorang anak laki-laki tengah berlari di pinggir jalan. Dan tanpa anak itu ketahui, dari arah belakang, melintas sebuah mobil, dengan kecepatan tinggi. Menyadari hal berbahaya akan menimpa anak laki-laki, Ve segera berlari untuk menolongnya. Dan untung saja Ve bergerak cepat. Telat sedikit saja, entah apa yang akan terjafi dengan anak laki-laki tersebut.
“Ya ampun Den, Bibi takut sekali, kalau sampai terjadi sesuatu dengan kamu.” Seorang wanita yang sudah tidak muda lagi, dengan menggunakan seragam seorang pengasuh, mendekap tubuh anak laki-laki tersebut.
“Kakak, terimakasih Ya. Siapa nama kakak?” anak laki-laki itu, mengulurkan tangannya, dan disambut oleh uluran tangan Ve.
“Nama kakak, Kak Noverima, kamu bisa memanggil kakak cukup dengan nama Ve. Siapa nama kamu tampan?” Ve mengusap pipi gembul anak laki-laki itu.
“Namaku Nathan. Kakak bisa memanggilku Nath.” Nath tersenyum manis ke Arah Ve. Ya Nath adalah anak laki-laki yang usianya kurang lebih delapan tahun, dengan kulit putih bersih, rambut hitam lebat, dan sedikit pirang, dengan hidung yang lancip, pipi yang gembul, serta bibir tipis, berwarna merah, membuat Nath terlihat tampan dan menggemaskan.
“Den, ayok kita kembali. Nanti Bibi bisa dimarahi sama Papa Aden. Permisi ya Neng, dan terimakasih.” Bibi membawa Nath, menjauh dari Ve, sambil membungkukkan badan.
“Sama-sama Bi,” ucap Ve lembut.
“Tunggu dulu Bi.” Nath kembali berlari ke arah Ve.
“Kakak, aku tahu, kakak orang baik. Aku berharap, kita akan bertemu kembali. Terimalah ini, dan ingat selalu namaku.” Nath memberikan sebuah kalung, dengan liontin berupa batu berwana hijau, di kelilingi beberapa batu mengkilat berukuran kecil, membuat kalung itu begitu mewah dan terlihat cukup mahal.
“Tapi sayang, kakak tidak bisa menerima ini.” Ve menolak kalung pemberian Nath.
“Kakak, Kakak jangan kembalikan sekarang. Tapi kakak bisa mengembalikannya, saat kita bertemu kembali.” Nath tersenyum sangat manis, kemudia berlalu meninggalkan Ve. Ve pun dengan berat hati menerima kalung pemberian Nath, kemudian menyimpannya ke dalam dompet di antara kartu ktp dan kertas-kertas lainnya.
“Anak yang lucu. Andai saja dia anakku, pasti aku akan sangat beruntung,” gumam Ve, sambil berjalan meninggalkan tempat diaman dia dipertemukan dengan Nath.
Ve kembali menyusuri pertokoan, untuk mencari lowongan pekerjaan. Hingga langkahnya terhenti pada penjual koran. Ve pun membeli koran yang berisi iklan lowongan kerja.
Karena hari sudah sore, Ve pun kembali ke kontrakan Sisil dengan jalan kaki. Saat perjalanan menuju ke kontrakan, Ve melihat orang yang masih berjualan sayuran. Ve pun membeli beberapa sayuran serta bumbu, untuk di masak besok. Ve harus berhemat, agar uang yang dibawanya cukup sampai dia menemukan pekerjaan. Ya, Ve sadar, orang tuanya hanya membekali dengan beberapa lembar uang saja, ditambah dengan tabungan yang di dapatnya dari membongkar celengan kesayangannya. Dengan langkah yang sudah leleah, Ve berjalan hingga ke kontrakan Sisil.
