JoyNovel

Let’s Read The World

Open APP
Kelahiran Kembali Sang Ratu

Kelahiran Kembali Sang Ratu

Author:Anana_chan

Finished

Introduction
Diana siap memberikan kejutan ulang tahun kepada tunangannya, Namun Diana malah memergoki tunangannya yang sedang bermesraan dengan saudara tirinya. Kemudian, Diana sadar bahwa tunangannya ingin menikahinya demi cincin peninggalan ibunya yang merupakan kunci kekayaan keluarganya. Saudara tiri dan ibu tirinya yang telah merencanakan kecelakaan mobil, yang membuatnya lumpuh dengan satu kaki yang hilang. Saudara tirinya mendorong Diana dari atas balkon yang tinggi. Dunia yang begitu kejam. Diana melompat, diam-diam menelan cincinnya. Mereka tidak akan pernah menemukannya, kan? Hah. Kelahiran kembali? Wow, Diana mendapatkan kakinya kembali. Bukankah Tuhan ingin dia mengambil semuanya kembali dengan memberinya kehidupan yang lain? Tapi tunggu. Mengapa dia kembali ke malam ketika dia sebelumnya kehilangan keperawanannya. Pria yang tidur bersamanya, seorang lelaki sewaan? Dan lelaki itu melamarnya! Siapa dia?
Show All▼
Chapter

Diana Kusuma mendorong dirinya sendiri menuju kamar tidur dengan susah payah. Dia memegang cangkir porselen yang dibuatnya. Diana merasa bahwa barang buatan sendiri merupakan hadiah terbaik yang pernah ada. Dia berusaha keras untuk membentuk cangkir itu.

Hari ini adalah hari ulang tahun Fahri Jaya. Diana ingin memberinya kejutan. Diana bekerja keras setiap harinya. Seharusnya dia sudah tidur sekarang. Diana pergi ke kamar tidurnya dan melihat Fahri. Diana tidak melihatnya selama setengah bulan ini.

Ketika Diana hendak membuka pintu, dia mendengar suara seorang wanita yang sangat tidak asing,

"Fahri, apakah kau benar-benar akan menikahi Diana? Dia seorang yang cacat ..."

Diana tertegun. Pintu dibiarkan terbuka. Dia melihat tunangannya, Fahri Jaya, sedang memeluk saudara tirinya, Lidia Kusuma, di atas tempat tidur.

Fahri mencibir, "Tentu saja aku akan menikahinya. Ini adalah satu-satunya cara untuk membuatnya memberikan cincin berlian yang diberikan ibunya."

Lidia menoleh, "Baiklah, bisakah kamu menceraikannya setelah kamu mendapatkan cincin itu darinya?"

Fahri lalu tersenyum dingin. "Aku akan membuatnya mati. Aku tidak akan bercerai." Lidia tertawa, "Kamu benar-benar buruk."

"Apakah kau suka aku menjadi orang jahat?" tanya Fahri dengan suara yang sedikit serak.

"Aku menyukainya..." sahut Lidia dengan malu-malu sebelum mereka berpelukan dan saling berciuman lagi.

Brak!

Cangkir porselen di tangan Diana jatuh ke tanah dan pecah berkeping-keping. Dia mencoba mendorong dirinya sendiri dengan panik. Namun, kursi rodanya macet.

"Siapa itu?" tanya Fahri seketika.

Fahri segera turun dari tempat tidur dan membungkus dirinya dengan handuk sebelum dia berlari keluar. Fahri terkejut ketika melihat Diana di sana.

"Diana, kenapa kau ada di sini?" sahut Fahri.

Diana tersenyum pahit dan menjawab dengan sinis, "Aku akan melewatkan pertunjukan yang bagus jika aku tidak ada di sini."

"Diana, tolong dengarkan aku," kata Fahri dengan cemas. Dia hanya tinggal selangkah lagi menuju kesuksesannya. Fahri memegang kursi roda Diana dengan erat. Diana tidak memiliki banyak kekuatan karena dia hanya memiliki satu kaki. Diana tidak bisa menggerakkan kursi roda sama sekali.

Lidia membungkus dirinya dengan selimut dan berlari keluar. Dia meraih tangan Diana dan meminta maaf, "Diana, maafkan aku. Ini semua salahku. Tolong jangan salahkan Fahri. Aku hanya ingin tinggal bersamanya. Aku tidak akan menghentikanmu untuk menikah dengannya."

Diana hampir putus asa.

"Lepaskan aku. Kalian menjijikkan!” teriak Diana. Diana spontan mengangkat tangannya dan menampar wajah Lidia. Wajah perempuan itu menjadi bengkak seketika.

"Lidia, apakah kamu baik-baik saja?" Fahri menatap wajah Lidia dan bertanya dengan cemas.

Lidia menggelengkan kepalanya. Tiba-tiba, ekspresi Fahri berubah.

"Diana, jangan terlalu tak tahu malu. Apakah kau pikir aku akan benar-benar jatuh cinta padamu dan menikahimu? Jika kau tidak memiliki cincin berlian yang diberikan ibumu, apakah kau benar-benar berpikir kau punya kesempatan untuk menikahiku? Ya ampun, lihatlah dirimu sendiri! Kau hanya punya satu kaki. Bagaimana aku bisa melihatmu? Aku takut! Kamu punya bekas luka besar di sana!" sahut Fahri.

Diana meraung dengan suara gemetar, "Aku kehilangan kakiku karena aku mencoba menyelamatkanmu! Bagaimana kamu bisa mengatakan bahwa kamu takut?"

Fahri menjawab dengan dingin, "Hanya karena kau menyelamatkanku, apa kau pikir aku akan peduli padamu? Kamu menyedihkan." Diana tertawa getir saat air mata mengalir di pipinya. Tuhan tahu apa yang telah dia berikan untuk Fahri?

***

"Fahri, kakak iparku, tolong pergi sekarang. Aku akan menjelaskannya kepada Diana. Pernikahanmu akan diadakan dalam waktu tiga hari lagi. Ditambah lagi, kami mengharapkan banyak tamu. Tolong jangan bertengkar karena aku. Aku akan menyerah padamu. Aku akan berbicara dengannya," kata Lidia Kusuma sambil memegang lengan Fahri.

Diana mencibir ketika mendengar Lidia memanggilnya 'kakak ipar'. Bagaimana mungkin dia bisa tidur dengan 'saudara iparnya'?

"Hmph," Fahri mendengus dan langsung pergi. Lidia berdiri di belakang Diana dan mendorongnya ke balkon.

"Lidia, jangan sentuh aku!" sahut Diana keras.

Ketika mereka berada di balkon, Lidia menatap langit dan bertanya sambil tersenyum, "Diana, apakah kamu tahu siapa yang mematahkan kakimu?" Diana langsung menatapnya. Matanya sudah basah. Lidia adalah orang yang sok tahu.

"Ini aku, haha ..." kekeh Lidia.

"Kau pasti bertanya-tanya mengapa aku harus menyakiti Fahri?" sambungnya.

"Kau benar-benar bodoh. Jelas, aku tidak ingin menyakitinya. Aku tahu bahwa kau akan menyelamatkannya karena kau sangat mencintainya."

Diana memandang Lidia seolah-olah dia adalah iblis. "Apakah kamu sangat membenciku?" tanya Diana segera.

"Ya, aku membencimu! Aku seharusnya menjadi satu-satunya anak perempuan dari keluarga Kusuma. Ayah dan Ibuku telah saling jatuh cinta selama bertahun-tahun sebelum ibumu menggoda ayahku. Dia bahkan menikah dengan keluarga Kusuma. Kau mengubah ibuku menjadi wanita simpanan. Pada akhirnya, aku menjadi anak haram yang memalukan!" Lidia menggertakkan giginya.

Semakin banyak yang Lidia katakan, semakin dirinya marah. Dia menambahkan, "Diana, semua yang kau miliki sekarang seharusnya menjadi milikku. Villa ini, perusahaan, dan Fahri Jaya! Aku mengambil kembali semua yang menjadi milikku."

"Apakah kamu yakin? Villa ini milik ibuku. Perusahaan ini milik kakekku. Ayah tidak akan memiliki apa-apa jika ibuku tidak menikah dengannya. Kau juga tidak akan memiliki semua kekayaan ini," jawab Diana dengan dingin.

Diana mendengus, "Juga, ayah kita lah yang mengejar ibuku. Ibuku tidak tahu bahwa dia berpacaran dengan ibumu."

"Diam!" Lidia menutup mulut Diana dengan tangannya.

Lidia membenci Diana yang begitu acuh tak acuh seolah-olah dia tidak peduli. Kemarahan dan kebencian Lidia sudah mencapai batasnya. Dia membenci Diana yang begitu acuh tak acuh terhadap hal-hal yang sangat diperhatikan Lidia! Lidia telah lama berjuang melawan Diana, untuk merebut apa yang menurutnya paling penting bagi Diana. Namun, ternyata Diana bahkan tidak pernah peduli tentang semua itu. Ini sangat menyebalkan!

Diana berhenti berbicara. Tiba-tiba, Lidia terkikik dan berkata, "Oh, ngomong-ngomong, tahukah kamu bahwa kakimu bisa diselamatkan? Ibuku yang menandatangani formulir persetujuan untuk amputasimu. Dia juga sering meracuni makananmu, lihatlah bagaimana perasaanmu semakin buruk setiap hari, hahaha."

Lidia tertawa terbahak-bahak setelah mengatakan itu.

Pipi Diana bergerak-gerak tanpa sadar. Tubuhnya gemetar. Kemarahan meledak dari dirinya saat dia berseru, "Kalian berdua tidak tahu malu! Hina! Jangan pernah bermimpi untuk menaruh tangan kotormu pada apapun yang ditinggalkan ibuku."

Lidia menatapnya dan meraung, "Diana, dengarkan! Aku akan mempertimbangkan untuk menyelamatkan nyawamu jika kau memberikan cincin berlian itu padaku."

Diana tersenyum dan berkata, "Tidak mungkin!"

Kemarahan Lidia memuncak. Tanpa ragu-ragu, dia mendorong Diana yang berada di kursi roda dari balkon.

Diana melihat sekilas wajah pucat Lidia saat dia jatuh dari balkon. Diana mengeluarkan cincin berlian merah delima dari sakunya, memasukkannya ke dalam mulutnya, dan menelannya.

Diana berteriak dalam hatinya, "Lidia Kusuma, Fahri Jaya! Kalian berdua tidak akan pernah tahu bahwa cincin itu ada di dalam perutku! Mustahil bagi kalian berdua untuk mendapatkannya.

Bersambung ...