JoyNovel

Let’s Read The World

Open APP
Bukan Pernikahan Impian

Bukan Pernikahan Impian

Author:Mugiraraa

Finished

Introduction
Menikah adalah impian setiap wanita, namun tidak dengan menikah karena perjodohan. Selina, terpaksa menikah dengan pria yang telah memiliki istri dan menjadi istri ke dua karena perjodohan dari Ayahnya. "Aku merasa menjadi wanita jahat, karena menikah dengan pria yang telah memiliki istri!" Selina Bie Takeshi.
Show All▼
Chapter

[ Satu : Selina Bie Takashi ]

_____

_____

 

[ Selina  Bie Takashi ]

“Hey ...”

Aku terjengkit kaget saat merasakan seseorang menepuk pelan pundakku. Aku melihat ke samping, ternyata seorang lelaki yang tidak aku kenal sudah duduk di sampingku dan tengah memperhatikanku.

“Tumben sendirian?” tanyanya bersuara lagi.

Aku masih diam memperhatikan nya, Siapa tau saja aku pernah bertemu dengannya namun aku lupa di mana. Tapi tidak, aku sama sekali tidak mengenal dan merasa pernah bertemu dengan lelaki ini.

Seperti menyadari kebingungan ku lelaki ini mengulur kan tangan kanannya padaku. “Oh kita belum berkenalan ya, aku Rasya.” katanya memperkenalkan diri.

Dengan ragu aku pun membalas uluran tangannya, tidak sopan juga kalau aku tidak membalas uluran tangannya. “Aku Selina.” balasku singkat seraya tersenyum tipis.

“Nama yang cantik, secantik orangnya.” katanya dengan tersenyum lebar.

Aku hanya bisa menunduk, menyembunyikan pipiku yang merona karena malu. Sudah banyak orang yang mengatakan hal itu, tapi kenapa aku bisa sangat malu hanya dengan kata cantik dari orang yang baru aku kenal. Eh kenal? Kurasa aku belum mengenalnya kan? Hanya tahu sebatas nama.

“Hey kenapa kau menunduk?” tanyanya. Rasya mengangkat daguku agar tidak menunduk dan menatapnya.

“Kau blushing hahahhaa ...” katanya dan langsung tertawa. Apa nya yang lucu?

“Tidak lucu!” kataku ketus.

Menatap lurus ke depan, melihat Monumen Nasioal atau biasa orang sebut secara singkat dengan nama Tugu Monas. Hari sudah mulai gelap dan lampu Tugu Monas pun sudah menyala. Terlihat kerlap-kerlip sangat indah.

“Maaf, maaf maaf.” katanya setelah selesai dengan tawanya.

Aku hanya diam dan terus memperhatikan Tugu Monas. Ini sudah menjadi kebiasaanku, setiap sore aku akan duduk di taman ini dan memperhatikan Tugu Monas dari kejauhan. Menurutku dari jauh lebih indah dari pada dari dekat, apalagi kalau malam hari seperti ini.

Aku pernah membayangkan bagaimana jika aku duduk di sini menikmati indahnya lampu kerlap-kerlip Tugu Monas di temani seorang kekasih. Pasti akan sangat menyenangkan, tapi itu hanya gambaranku saja dan tidak akan pernah bisa menjadi kenyataan. Karena sampai sekarang aku belum memiliki kekasih.

“Kau melamun?” tanya Rasya.

Aku mendengus kesal saat Rasya melambaikan tangannya di depan wajahku. Membuyarkan khayalan indahku ssaja

“Ada apa sih?” tanyaku sebal.

“Tidak ada, kau kenapa melamun?” tanyanya lagi.

“Bukan urusanmu.” Kataku ketus.

“Owh baiklah, Nona Selina sedang marah ternyata. Omong omong kau sendirian di dini, biasanya kau selalu di temani seorang pelayan dan juga dua orang bodyguard mu itu ... “ kata Rassya panjang lebar seraya melihat ke sekeliling kami.

Aku mengeryitkan dahiku bingung. “Bagaimana kau tau?” tanyaku penuh selidik. Jangan jangan dia ini penguntit lagi?

Oh ya perkenalkan namaku Selina Bie Takashi, setiap sore memang aku selalu duduk di bangku taman dekat Tugu Monas di temani dua bodyguard dan satu pelayan. Namun hari ini aku menyuruh mereka menunggu di mobil karena aku hanya ingin sendiri.

“Aku hanya sering melihatmu dari kejauhan, setiap hari kau ‘kan datang ke tempat ini bersama seorang pelayan dan dua bodyguard mu itu. Jadi aku tidak berani untuk mendekatimu, tapi karena hari ini aku melihat mu seorang diri makanya aku berani mendekatimu.” Kata Rasya panjang lebar disetai dengan senyum manisnya.

“Aku sengaja menyuruh mereka untuk menunggu di mobil. Tunggu! Kau sering memperhatikan ku dari jauh.” Balasku terkejut bahwa selama ini ternyata ada yang memperhatikan kegiatanku.

“Iya, habis bodyguard mu itu terlihat sangat menakutkan sih.” katanya di akhiri dengan tawa yang mempesona.

Aku memperhatikan Rasya yang tengah tertawa, sangat tampan. Apalagi dengan cahaya yang minim karena matahari yang sudah tenggelam, hanya ada lampu dari Tugu Monas yang menerangi kami.

“Kau seorang fhotografer?” tanyaku menyadari dia membawa kamera yang menggantung indah di lehernya.

“Hanya cita-cita saja.” jawabnya.

Rasya mengangkat kameranya dan klik... aku mendelik saat tiba tiba saja Rasya mengambil gambarku. Pasti terlihat sangat jelek sekali.

“Apa yang kau lakukan? hapus tidak!” kataku kesal.

“Tidak.” Balasnya sembari melihat hasil jepretannya barusan.

“Pasti sangat jelek sekali.” kataku sambil mencebikkan bibirku kesal.

·        Klik... Lagi.

Rasya kembali mengambil gambarku lagi saat wajahku tengah lagi jelek jeleknya.

“Rassya!” Pekikku kesal.

“Apa? Kau tetap cantik dengan ekspresi apapun kok ...” ucap Rasya seraya melihat lihat gambarku yang ia ambil barusan.

“Sini aku mau lihat.” pintaku berusaha merebut kamera dari tangannya.

“Tidak. Nanti kau akan menghapusnya.” kata Rassya, ia bangkit dari kursi dan menjauhkan kameranya dari jangkauanku.

“Kenapa kau tidak menjadi fhotografer saja?” tanyaku.

Rasya kembali duduk di sampingku. Menatap lurus kearah Tugu Monas yang berkerlap kerlip indah.

“Maunya sih begitu, tapi kakakku ingin aku membantunya mengurus perusahaan nya.” balasnya sambil menghembuskan nafas panjang.

“Kenapa kau tidak menolak dan menjadi fhotografer saja kan nanti bisa anak kakakmu saja yang membantu perusahaan itu?” tanyaku.

“Kau kepo juga ya.” balasnya seraya terkekeh pelan.

“Aku hanya bertanya saja, jika tidak di mau jawab juga tidak apa-apa.” balasku kesal di katakan kepo olehnya.

Mengalihkan pandangan ku yang tadinya memperhatikan nya dan kembali memperhatikan Tugu Monas.

“Aku tidak bisa menolak keinginan kakakku. Dia sudah seperti Ayah bagiku, dia selalu menuruti apapun yang aku mau.” balas Rasya, masih dengan menatap Tugu Monas di depan kami.

____

Bukan pernikahan impian.

____

[ Normal pov ]

“Jadi bagaimana Salindra, kau menerima tawaranku?” tanya seorang lelaki paruh baya.

Salindra menghela nafas berat. “Kau tahu kan jika aku sudah mempunyai seorang istri.” balas Salindra pelan, dia tidak habis pikir dengan permintaan orang lelaki paruh baya di depannya itu.

“Ya aku sudah tahu.” balasnya santai. Lelaki itu sengaja menjeda ucapannya.

“Aku tidak perduli akan statusmu, Salindra. Aku hanya ingin kau menikahi putriku, tidak masalah menjadi istri keduamu. Karena aku tahu kau pasti akan bersikap adil pada mereka.” lanjut lelaki paruh baya yang ada di depan Salindra.

“Bagaimana jika adikku saja yang menikah dengan putrimu. Dia masih single.” kata Salindra mencoba menawarkan adiknya.

Lelaki paruh baya itu menghela nafas panjang. “Kau tahu Salindra, aku ini sudah semakin tua. Aku ingin melihat putriku bahagia bersama suaminya. Dan aku juga sudah menganggap kau sebagai putraku sendiri. Aku hanya ingin kau menikah dan membahagiakan putriku saja, bukan adikmu atau orang lain. Apa kau sudah mengerti?”

Salindra hanya diam menatap lelaki paruh baya yang berada di depannya. Lagi dan lagi, Salindra hanya bisa menghela nafas berat mendengar permintaannya untuk menikahi putrinya.

Padahal lelaki paruh baya itu tahu jika Salindra sudah beristri tapi lelaki paruh baya itu tetap tidak peduli dengan statusnya, yang ia inginkan hanya Salindra harus menikah dengan putrinya atau perusahaannya terancam hancur karena kini tengah kritis.

Salindra sudah merekomendasikan adiknya sebagai ganti Salindra, karena adiknya masih single, jadi tidak masalah jika menikah dengan putri lelaki paruh baya  yang ada di hadapannya ini. Tapi sayangnya lelaki paruh baya itu keukeh dialah yang harus menikahi putrinya bukan orang lain.

“Aku akan memberimu waktu seminggu untuk memikirkannya. Selamat malam ...” kata lelaki paruh baya itu bangkit dari kursinya dan meninggalkan Salindra yang frustasi sendiri di ruangannya.

‘Ya Tuhan. Apa yang harus aku lakukan? Bantu aku Tuhan.’ Batin Salindra frustasi, ia memijit pangkal hidungnya dan mendesah frustasi. Sepertinya memang tidak ada jalan lain.

Sorry for typo!!

Thanks for Reading!!