JoyNovel

Let’s Read The World

Open APP
Love Dramatic

Love Dramatic

Author:Chi_Chi

Finished

Introduction
Zeline berada dalam dilema, Xavier—musuhnya sejak masa kanak-kanak dengan segala manuver yang berakhir pada kematian itu, mengantarkannya pada perasaan aneh. Sebuah pusaran yang belum pernah disentuhnya. Melarikan diri adalah hal yang tak mungkin, hal itu malah menjauhkannya pada tujuan yang sudah dirangkai sejak lama. Hubungan mereka dapat dikategorikan sebagai simbiosis mutualisme—kekasih kontrak. Sama-sama memiliki tujuan yang jelas demi keserakahan. Namun, misi ketiga bersama pria bak dewa Yunani itu meyakinkannya terhadap gejolak aneh yang menyentuh hatinya. Ketika pria itu mengecoh, dan hampir menghabisinya.
Show All▼
Chapter

“Aku memang merindukannya, tapi bukan berarti aku menginginkannya berada di sisiku ... lagi.” Suaranya menekan ujung kalimat. Mencoba meyakinkan bahwa nama laki-laki itu tak lagi bersemi dalam hatinya. Karena pernyataan pria berpupil amber itu seakan menudingnya.

Apakah ini karma?

Perempuan itu mendengkus. Sosok yang dicintainya pergi bersama wanita lain, sedangkan pria yang dibenci sejak masa kanak-kanak malah menyiratkan kelembutan dari sorot matanya seperti lebih paham dengan apa yang dirasakannya.

Semesta, engkau mempermainkannya lagi?

Embusan napasnya terasa hangat menyapa puncak kepala perempuan berdarah Portugal itu. Dia bertanya lagi. “Jadi, apa alasanmu mengakhiri hubungan itu?”

“Caranya memperlakukanku, pelukan, ciumannya. Seberapa berisiknya dia ketika melihat aku pulang malam, terlalu sibuk hingga mengabaikan diriku sendiri. Rasanya benar-benar tidak nyata.”

Seperti fantasi. Sosok yang dulu Zeline kira sempurna, seseorang yang sempat dikira akan menjadi rumah untuk pulang. Pelepas lelah yang diwarnai kenangan indah namun, malah menyakitinya.

Pandangannya menerawang, ingatannya kembali pada laki-laki itu alasan dari sebagian masalah yang kini menghuni separuh dari rongga kepalanya. “Semuanya begitu indah, sulit bagiku untuk melupakannya, tapi untuk mengulang? Itu cukup pahit.” Ia tersenyum getir, perhatiannya teralih pada puncak es dataran salju tebal yang melingkupi gunung Titli.

Keindahan yang sama sekali tak bisa dihindarkan saat berkunjung di negara  Switzerland of The Middle East.

Ini tahun baru.

Apakah sosok kurang ajar yang merusak segenap cinta yang ia berikan sedang bersenang-senang?

 

Apakah senyumannya lebih lebar daripada yang dia tunjukkan pada Zeline?

Seperti bom, dengan kecepatan cahaya benda berwarna-warni itu meledak mewarnai langit yang awalnya gelap sebanding dengan isi hatinya. Pemilik surai gelombang itu terperanjat. Merasakan sesuatu menyelinap di balik t-shirtnya.

Manik birunya melebar, siap melontarkan umpatan. “Xavier Fidel—”

“Bolehkah aku memelukmu?”

Tanpa menunggu balasan seperti biasanya lengan kukuhnya merengkuh Zeline erat. Menenggelamkannya dalam aroma parfum yang begitu menenangkan. Lavender, cardamon berpadu fresh bergamot.

Membuatnya merasa benar-benar tenang.

Seperti diberkati.

 

Pelukan mana lagi yang diperlukan selain ini?

***

“Aku perlu membicarakan sesuatu denganmu.”

“Kita perlu memperbincangkan suatu kesepakatan.”

Pria itu menyeringai puas, dia melipat lengannya dengan angkuh.

Ternyata tujuan mereka sama.

Uang dan kekuasaan.

Keluarga Fidel dan Avilash ternyata bisa begini juga. Perempuan 28 tahun itu mengisap sentuhan terakhir hot americano yang terasa membakar kerongkongan. Minuman yang pas untuk cuaca kota Swiss yang hangat ini.

Hampir dua puluh tahun, hubungan keluarga keduanya retak. Zeline Avilash serta Xavier Fidel adalah satu sekutu yang entah karena apa harus memupuskan hubungan—yang awalnya begitu lurus kini berkelok—dan mengakhiri segala hal dari keluarga besar. Awalnya mereka adalah perusahaan raksasa yang menempati rekor ke-10 di dunia. Penghasilan yang benar-benar luar biasa. Investor di mana-mana, kolega, anak perusahaan yang tersebar di beberapa negara besar.

Namun, seiring berjalannya waktu paku yang mencuat antara ikatan mereka menghancurkan segalanya. Perusahaan yang berjalan dalam bidang Fashion itu hampir runtuh, lalu diambil alih keluarga besar yang seharusnya tak mengambil industri itu kembali kalau bukan karena penyelesaian hubungan kekeluargaan yang telah dibangun sejak lama. Ya, Zeline serta Xavier hanyalah korban dari kejadian itu. Mereka hidup mengikuti arus tanpa menahu sebab dari apa yang sebenarnya terjadi.

Manusia memang begitu, selalu menyesuaikan diri dengan lingkungan. Ragu untuk membuat 'pergerakan' baru karena tak pernah ada, namun bagaimana manusia akan berubah kalau ketakutan itu masih terbayang?

Tak menutup kemungkinan jika sosok yang tersenyum, paling besar suara tawanya adalah pemeran utama yang paling banyak menangis.

“Well, bagaimana jika kita memulainya dengan tanda tangan kontrak?”

Ujung bibirnya tertarik naik. “Tn. Fidel, sepertinya kau sangat bersemangat. Kenapa tidak menyebutkan apa Project-nya terlebih dahulu?”

Xavier mengembuskan napasnya seolah mencoba mengatur air muka setenang mungkin. Tahu saja wanita itu hanya sedang mempermainkan emosinya. Padahal siapa pun yang berada di sana akan tahu di mana percakapan ini berakhir.

“Selain sering membenci orang, ternyata Nona Zeline sedikit miring,” ungkapnya, blak-blakan.

Wanita itu menarik ujung bibirnya membentuk asimetris. “So, kalau kautahu itu benar. Apa hubungan kontrak yang akan terjalin ini, berakhir?”

“Kau ingin yang seperti itu?” Alisnya tertarik naik, lalu tawanya terdengar seperti mengejek. “Oh, karena keluargaku lebih dekat dengan keluarga besar sudah pasti perusahaan menjadi milikku. Dan lowongan sekretaris akan kusediakan. Gajinya juga akan naik dua kali lipat.”

“Baiklah.” Keningnya berkerut begitu Xavier mengangkat jemarinya sebesar uang yang ditawarkan sebagai sekretaris. “Ini terasa menyebalkan sekarang,” balasnya, kesal tak setuju dengan apa yang ditawarkan laki-laki itu.

“Jangan lupa, bagiku juga seperti itu,” katanya, memperingatkan. Dengan senyuman yang tak henti-hentinya hadir. Terlihat begitu ramah namun, terpandang sinis.

 Ia berdehem. “Oke, lanjutkan mari kita lihat penawaranmu.”

Pria itu menyapa sekretarisnya di sudut ruangan. Atensi Zeline mengikutinya. Wanita yang tampak apatis itu mendekat sembari merapikan jasnya, tak peduli dengan pandangan orang-orang yang berada dalam kafe, seakan bertanya-tanya tentang apa profesinya karena busana yang digunakan. Ya, dia kelewat rapi.

Atau mungkin perfeksionis?

Cocok dengan pria aneh yang berada di hadapan Zeline. Rambut ikal berwarna hitam cokelat madunya sepadan dengan gadis blonde bermata zamrud dilengkapi kulit tan yang siap membuat beribu wanita benua Eropa ini iri.

Berbeda dengan pemilik marga Avilash itu. Memikirkan untuk bersama dengan Xavier saja sudah cukup menggelikan. Walau dapat diakui aura kepemimpinan dan kebijaksanaannya begitu mendominasi.

Mungkin jika ia bukan seorang lulusan psikologi, tangannya sudah bergetar hanya demi duduk di hadapannya.

Untuk mengajak pria itu bertemu saja dipikirkan berulang kali, memperhitungkan banyak hal. Hingga lelaki itu dululah yang mengirimkan undangan.

Musuh seperti mereka memang lebih baik saling lempar-lemparan pujian dengan pisau yang tenggelam di dalamnya. Daripada saling baik-baikkan, itu akan canggung, oke?

“Kau sudah menyelesaikannya, bukan?” Pria itu menekuri sebuah map yang kini berada di pengakuannya, lalu berpindah meletakkannya di atas meja untuk dibaca  Zeline lantas ditandatangani.

“Apa yang akan kau lakukan setelah ini?” 

Pria itu menatapnya janggal. “Apakah itu diperlukan demi kelangsungan kontrak ini?”

“Kau tidak akan mengajakku makan malam romantis, 'kan?” simpulnya, sepersekian detik. Tak menunggu perempuan itu membalas.

Ia terkekeh. “Uji coba seorang kekasih. Lagi pula kau terlihat begitu sibuk, ingin langsung menyuruhku menandatangani kontrak lalu membuangku begitu?”

Xavier beralih menatap sekretarisnya. “Bagaimana Lousiana?” 

“Anda ada pertemuan setelah ini dengan Kolega Anda. Dirut agensi Redplay untuk makan bersama, dan memperbincangkan model untuk pro—”

“Batalkan. Dua jam ke depan jangan terima undangan makan siang di mana pun,” potongnya, tegas seraya mengusap dagu licinnya.

Zeline menangkapnya. Selain sentuhan ke-narsisan pria ini juga memiliki suatu hal yang menarik, selera humor yang aneh dan tak sabaran.

“Puft ... sifatmu memang seperti ini?” tanyanya gamblang, sembari menyerahkan kembali map yang sudah ditandatangani setelah puas membacanya.

Pria itu mengerling, memamerkan deretan gigi putihnya. “Uh, nah. Maka biasakan dirimu, Babe.”

Di waktu yang sama, punggungnya mendingin. Merasakan tekanan psikologis yang kuat dari sorot pria itu.

***