JoyNovel

Let’s Read The World

Open APP
The Scandal

The Scandal

Author:Ken_Aoyama

Updating

Introduction
Davonna Wang seorang reporter sekaligus produser di kantor penerbitan majalah bisnis bernama The Binz, mendapat misi untuk mencari informasi kehidupan asmara Presdir WG groub bernama Dylan Wu. Laki-laki tampan, kaya raya yang tak pernah sedikitpun tersentuh akan kehidupan asmaranya, karena begitu pandai menyembunyikan fakta akan kisah cintanya. Gosipnya yang penyuka sesama jenis membuat para pencari berita berlomba-lomba mencari fakta tentangnya termasuk Davona. Suatu Malam, Davon, panggilan akrab Davonna, pergi ke club malam bersama teman-temannya dan berakhir mabuk, hingga pagi dia baru sadar jika dia berakhir satu ranjang dengan Dylan
Show All▼
Chapter

"Arghhh!!!"

Gadis cantik berambut dark brown itu menjerit heboh di pagi hari. Rambutnya yang semrawut semakin terlihat mengenaskan saat kedua tangannya memilih mengacak-acak kepalanya karena frustasi.

Mata bulat jernihnya melotot horor saat menemukan seorang pria tertidur di sampingnya tanpa busana.

Davonna, nama lengkapnya adalah Davonna Wang. Gadis cantik bermata cokelat dan berambut dark brown. Dia bekerja sebagai reporter dan produser di sebuah kantor penerbitan majalah bernama The Binz.

Semalam dia merayakan keberhasilannya mengungkap kisah asmara seorang pengusaha muda dan seorang model pendatang baru, hingga penjualan majalahnya laris manis di pasaran. Bersama dengan rekan-rekannya dia mabuk di sebuah club malam terkenal di Taipe sebuah kota besar di negara Taiwan.

"Bagaimana bisa aku seranjang dengan orang ini, Davon, kau sungguh bodoh." Dia memukuli kepalanya sendiri. Sesekali matanya melirik ke arah sosok laki-laki yang tertidur dengan posisi menyamping.

Dia membuka selimutnya. Melihat keaadaan tubuhnya di bawah selimut.

"Huff, untung saja." Dia bisa bernapas lega untuk saat ini. Namun, pikiran-pikiran negatif mulai berkeliaran lagi di otaknya.

"Ahhh, bagaimana ini, jika ternyata dia memperkosaku lalu memakaikan kembali bajuku untuk menghilangkan barang bukti. Mama, maafkan Davon."

Suara tangis Davon ternyata membuat tidur pria di sampingnya ini sedikit terganggu. Terdengar suara gerutuan yang membuat Davona dengan sigap menutup tubuh bagian atasnya dengan selimut putih tebal yang dia gunakan tadi.

Laki-laki itu mengerang lalu bangkit dengan posisi membelakanginya. Sesekali memutar kepalanya dan terdengar kretakan tulang di lehernya.

"Siapa yang berisik pagi buta begini?" ucapnya dengan posisi tubuh masih membelakangi Davon. Tangan kanannya bergerak memijat lehernya yang terasa kaku.

"Hei Tuan, apa yang kau lakukan padaku semalam!"

Mendengar suara di belakangnya. Tubuh tegap itu mematung sesaat, dan sontak menoleh ke belakang dengan wajah horor.

"Kau!"  Jari telunjuknya menunjuk-nunjuk ke arah Davon yang semakin merapatkan tubuhnya ke tembok dengan tangan mencengkeram ujung selimutnya.

Deg

Dada Davon berdebar kencang. Astaga pria di depannya ini tamoan sekali. Tidak, tidak bukan saatnya terpesona Davon.

"Jangan menunjuk-nunjuk padaku! Apa yang kau lakukan padaku, kau pasti telah bertindak tak senonoh padaku, kan. Ayo mengaku!" teriaknya.

"Aku tidak memperkosamu."

"Penipu, mana ada seorang penjahat mengaku."

Tidak mau berdebat dengan wanita ini. Pria itu dengan santainya membuka selimut yang membungkus tubuhnya, membuat Davon reflek memejamkam kedua matanya, namun masih melirik sedikit.

Dalam hati dia cukup lega karena ternyata laki-laki itu tak sepenuhnya telanjang, masih ada bokser berwarna hitam yang menutupi area privatnya. Mata Davon masih melirik pergerakan pria itu yang melenggang ke arah kamar mandi.

"Hei, brengsek! Kau harus bertanggung jawab," ucapannya membuat kaki jenjang pria itu berhenti di depan kamar mandi berpintu kaca bening tersebut.

"Berisik," ucapnya tanpa mau repot menanggapi wanita itu, dan membawa tubuhnya menghilang di balik pintu kamar mandi mewah tersebut.

Netranya merotasi ke seluruh penjuru ruangan. Terdapat barang-barang mewah, dan lemari besar juga sebuah meja nakas yang terletak di samping ranjang, di atasnya ada lampu tidur dan beberapa buku bisnis, dan novel yang ditata rapi. Tak luput dari pandangannya, satu set sofa mewah bewarna maroon yang sepertinya harganya melebihi 1 tahun gajinya bekerja yang terletak tak jauh dari ranjang yang ia tempati sekarang, dan dia baru sadar jika kamar ini benar-benar luas, mungkin lebih luas dari rumah kecilnya.

Terhanyut dalam pandangannya yang mengobservasi semua ruangan sampai ke sudut-sudutnya tanpa sadar dia terlonjak saat suara pria yang tadi tidur di sampingnya menyapa gendang telinganya.

"Kau lebih suka bertelanjang rupanya."

Davon sontak menoleh ke arah pria tersebut yang baru ke luar dari kamar mandi dengan sebuah handuk yang membungkus area privatnya. Mulutnya menganga lebar saat pemandangan indah tersaji di depannya. Tubuh atletis yang terbentuk sempurna, rambut yang basah membuatnya tanpa sadar menelan ludahnya gugup.

"Kenapa kau tak pakai baju, jangan-jangan kau ingin memperkosaku lagi, ya."

Laki-laki itu memutar jengah kedua bola matanya. Tanpa berkata-kata dia menuju ke arah lemari besar mencari pakaiannya, dan segera kembali ke kamar mandi untuk berganti pakaian.

Davon masih belum bisa mencerna kejadian tersebut. Kenapa si pemerkosa itu santai sekali. Wajahnya sangat tampan seperti seorang artis dari agensi ternama yang terkenal dengan visualisasi yang memukau.

"Wajahnya seperti tidak asing." Dia berpikir kembali, memutar ingatannya tentang pria itu, lalu dia berteriak heboh, dan bergegas memunguti pakaiannya, yang diletakan di sudut kamar. Saat ini dia hanya memakai celana pendek selutut tanpa atasan. Dia membungkus tubuhnya dengan selimut, lalu mengambil kaos miliknya.

"Dia tega sekali membuang kaosku, dasar pria berotak mesum. Aku harus meminta pertanggungjawaban, walaupun aku bukan remaja lagi, tapikan aku masih perawan, tapi sayangnya aku tidak laku, ya Tuhan nasibku sangat jelek." Dia menggerutu sendiri. Dahinya mengernyit bingung saat memungut kaosnya yang tergeletak mengenaskan di atas lantai terlihat menjijikan dengan bau menyengat.

"Siapa orang menjijikan yang muntah di atas bajuku, pasti pria mesum itu mabuk dan muntah di bajuku, haish menjijikan sekali, aku akan minta ganti rugi padanya, lihat saja."

Bersamaan dengan itu, pintu kamar mandi tersebut terbuka dan menampilkan sosok pria karismatik yang benar-benar tampan, ke luar dengan setelan jas rapi, membuat mulut Davob lagi-lagi mengangga lebar, dan sebuah handuk putih melayang ke arah wajahnya.

"Cepat mandi, dan pulang ke rumahmu," ucapnya datar. Davon hanya mampu menatap tak percaya si pria yang terindikasi telah memperkosanya secara diam-diam dan dipastikan menghilangkan jejaknya.

"Apa-apaan kau mengusirku, dasar pria mesum, kau sudah memperkosaku, 'kan. Ayo mengaku, dan lagi kau juga muntah di atas bajuku yang berharga ini, aku minta ganti rugi, dan pertanggungjawaban atas semua tindakan pelecehan yang kau lakukan padaku," ucapnya bossy, dan sok memerintah membuat pria tampan di depannya itu menatapnya begitu tajam.

"Cepat jalan."

"Apa?"

"Lakukan saja!"

"Kau ini selain cabul juga tukang pemaksa, baiklah-baiklah aku jalan." Davon terlihat berjalan mendekat ke arah pria itu dengan santainya.

"Nah sudah, apalagi."

"Kau baik-baik saja, jalanmu tidak pincang, jadi pulang sana, rumahku bukan tempat pengungsian," dengusnya.

"Hei! Apa katamu, seenaknya saja kau mengusirku, tidak bisa, enak saja kau mengkonsumsi tubuhku semalam suntuk lalu kau mengusirku, dasar laki-laki bejat."

Dengusan sebal kembali terdengar dari bibir tipis laki-laki. Dia berjalan mendekat lalu menoyor kepala Davon yang membuat si empunya menggerutu, dan reflek mengusap dahi yang menjadi korban pria itu.

"Apa yang kau lakukan!"

"Berapa umurmu?"

"Kenapa kau bertanya umurku? untuk apa? Jangan-jangan kau  diam-diam ingin mengetahui identitasku lalu setelah itu kau ingin memantraiku membawa fotoku ke tempat cenayang lalu, lalu .., hmmmmmpppffff..,"

Laki-laki itu sontak membekap bibir wanita cantik di hadapannya.

"Kau memang bodoh, apa kau merasakan sakit di tubuh bawahmu."

Mata bulatnya mendelik mendengar ucapan frontal laki-laki itu, lalu menggeleng cepat.

"Aku tidak memperkosamu, tidak ada untungnya memperkosamu, badanmu sudah kurus, tubuhmu tidak seksi,  juga rata, dan lagi kau bau muntahan, benar-benar menjijikan."

Davon berontak dan berusaha melepaskan bekapan tangan laki-laki itu di bibirnya, dan terpaksa pria tampan itu melepaskannya karena Davon mengigit telapaknya

"Sial, kenapa kau menggigitku!"

"Kau mengataiku, bodoh."

"Kau memang bodoh, usiamu berapa memangnya tidak bisa membedakan orang yang habis diperkosa sama bukan, jelas-jelas kau tidak merasakan sakit, dan kau menuduhku memperkosamu, enak saja, dan yang muntah itu kau, bukan aku. Kau ingin mencemarkan nama baikku jangan harap."

"Mana mungkin begitu, tapi kau tidur di sampingku dengan bertelanjang dada, dan aku juga sama, apalagi jika kau tidak berbuat macam-macam."

Astaga, pria benar-benar sudah habis kesabaran. "Kau ingin berakhir cepat, atau mau berurusan dengan polisi, huh!"

"Apa? Kenapa harus bawa polisi, bukankah kau yang melecehkanku."

Rasanya pria itu ingin mengumpat.

"Aku tidak memperkosamu, dasar otak udang, kau bisa melakukan visum untuk membuktikannya."

"Visum itu mahal."

"Terserah, pergi sana, kau mau kulempar ke kantor polisi karena sudah mengganggu hidup orang, cepat pergi!"

Davon mendesah kesal dia bergumam sendiri, meracau tidak suka atas sikap lelaki di depannya ini. Jika dilaporkan ke kantor polisi dia jelas akan kalah. Laki-laki ini pasti akan menyuap polisi karena memiliki uang, dan dia sendiri hanya gadis sederhana yang tidak memiliki pasangan hidup, mengenaskan, sekaligus menyedihkan. Dia tidak ingin menjadi perawan tua di dalam sel tahanan.

"Baiklah aku pergi, tapi setidaknya pinjami aku bajumu, ya. Apa kau tega melihat tubuhku menjadi konsumsi umum."

"Itu sih bukan urusanku, aku tidak mau meminjamkan bajuku, cepat ke luar dari rumahku."

Laki-laki itu menyeret lengan Davon ke luar dari kamarnya, menuntun ke pintu utama disaksikan  beberapa maid yang berbisik-bisik membicarakan wanita yang ke luar dari kamar Tuan mudanya dengan dengan tubuh terbungkus selimut. Untung saja Tuan besar dan Nyonya besar di rumah ini sedang tidak di rumah, dipastikan mereka akan pingsan melihat puteranya membawa wanita ke dalam kamarnya, dan ke luar dengan setengah telanjang.

"Cepat pergi," ucapnya setelah sampai di depan pintu utama mansion, lalu melempar kaos milik Davon tepat di wajahnya.

"Pakai kaosmu sendiri."

Blammm

Dan pintu besar itu kembali tertutup rapat.

"Sialan, kejam sekali dia, astaga bagaimana semalam aku bisa bersama dia, bodoh kau, Von."

Davon mengacak-acak rambutnya."

"Kau pikir aku tidak tahu, Dylan Wu si pengusaha muda yang kisah asmaranya begitu misterius. Jangan-jangan dia gay, astaga." Dia horor sendiri dengan isi pikirannya.

Davon melirik kaosnya yang jatuh di atas lantai. Dia terlihat berpikir apakah harus memakai kaosnya atau tidak.

"Jika kupakai orang-orang akan menertawakanku, bodoh, kutinggalkan di sini saja sebagai kenang-kenangan untung si pengusaha menyebalkan itu." Lalu Davon melenggang pergi walau harus berjalan tanpa memakai baju hanya celana pendek saja yang membungkus tubuhnya, dan selimut tebal yang membungkus tubuh atasnya.