JoyNovel

Let’s Read The World

Open APP
BLIZZARD

BLIZZARD

Author:Nichole A

Finished

Introduction
Punya geng di masa sekolah itu hal yang biasa. Bagaimana jika punya geng yang mana ketuanya pernah berkencan dengan semua anggota perempuan secara bergantian? Itulah Blizzard. Mereka menamakan Blizzard lantaran masing-masing dari mereka memiliki yang bertolak belakang, bahkan sulit dibayangkan bisa bersama. Namun, Blizzard menunjukkan bahwa meski sifat dan latar belakang kehidupan mereka berbeda, mereka masih bisa bersama. Pertengkaran dalam suatu hubungan persahabatan itu wajar, adanya ketertarikan antara satu dengan yang lain pun wajar. Mereka juga mengalaminya. Ini adalah kisah tentang sekelompok anak sekolah yang tergabung dalam Blizzard. Mereka setelah kelulusan mereka dipaksa untuk berpisah demi mencapai mimpi masing-masing, tapi pada akhirnya mereka tetap kembali. Karena Blizzard sudah seperti 'rumah' bagi mereka.
Show All▼
Chapter

Layar kamera menampakkan gambar seorang belia yang tersenyum lebar dengan latar belakang pantai dan sekelompok temannya yang sedang bercanda jauh di belakang. Anggap saja pemuda itu tampan, ya … karena dia menganggap dirinya seperti itu. Meski deretan angka di kamera telah berjalan, tetap saja ia melakukan gerakan absurd, mengusap rambutnya ke belakang dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya memegang kamera.

“Aku tampan sejak lahir, aku tahu itu,” ujarnya di depan kamera. “Oh, hai! Aku Gilland Baxter, teman-teman biasa memanggilku Go dan … entah aku tidak tahu mengapa mereka bisa menyebutku seperti itu. Ah, aku pernah mendengar Christine mengatakan alasannya dan itu sangat banyak! Aku tidak bisa mengingatnya, dia berbicara sangat cepat.”

Laki-laki bernama Go itu memperbesar gambar kamera, menunjukkan sosok perempuan yang tengah berdiri sambil berkacak pinggang, mulutnya komat-kamit, kali ini entah siapa lagi yang menjadi sasaran empuk ocehannya yang dikenal tanpa henti.

“Nah, itu Christine. Lihat betapa cerewetnya dia.” Kemudian Go tertawa, tangan kiri menutup mulutnya, kemudian kembali mengusap rambutnya ke belakang. “Bagaimana kalian bisa mengukur seberapa cerewetnya si Miss C, kalian hanya melihatnya, tidak mendengarnya langsung.”

Go mendekat ke kamera, meletakkan tangannya di sebelah bibir. “Kau tidak akan tahan duduk di sebelahnya, percayalah! Aku mantan pacarnya,” bisiknya.

Masih sambil tersenyum tanpa dosa, Go mengalihkan gambar, kali ini ke perempuan yang seperti paling muda di antara mereka. Rambutnya keriting berwarna merah, ia tengah mengerucutkan bibirnya, melirik kesal pada laki-laki bertopi yang tertawa di sebelahnya.

“Itu Bie. Nama aslinya Ruby, tapi sejak awal mengenalnya kami sudah memanggil dengan nama Bie. Nama itu seperti sudah melekat pada dirinya. Dia cute, dan … dia selebgram di kelompok kami. Followers-nya sangat banyak, Klub Penggemar Go saja tidak memiliki banyak followers seperti itu.”

Go menggumam. “Mungkin seharusnya aku bertanya padanya.

“Oh satu hal yang harus kalian tahu, dia itu mommy’s and daddy’s little daughter. Manja sekali! Kau akan melihatnya menangis sepanjang hari saat kuku di jari kelingkingnya patah, atau ada lecet di ujung kakinya. Astaga! Aku tidak tahu bagaimana Raph bisa bertahan dengannya, sedangkan aku hanya bertahan sekejap saja menjadi pacarnya.”

Go tersenyum bangga. “Ya, dia mantan pacarku, aku pernah berkencan dengan selebgram dan itu sedikit membuat banyak stalker yang main ke akunku. Saat putus, ya … ada juga yang menghujat. Biasa, netizen. Meski begitu, para anggota Klub Penggemar Go yang loyal membelaku.” Go tertawa saat menyebut Klub Penggemar Go yang loyal.

“Lalu di sebelahnya, Raphael. Kami memanggilnya Raph.”

Go menunjuk laki-laki bertopi yang masih mengganggu Bie tanpa henti. Bie sudah menangis, Raph tertawa, dan Christine akhirnya menarik telinga Raph.

“Dia si usil yang tidak pernah berhenti mengganggu Bie. Jika kalian menganggap keberadaannya mengganggu peradaban umat manusia, oh kalian salah besar! Dia siswa berbakat di sekolah yang sering memenangkan turnamen sepak bola antar sekolah. Klub sepak bola putra di sekolah kami sangat bergantung padanya.”

Go memperlihatkan tangan kirinya. “Wow aku merinding saat membicarakannya. Yah, aku juga tidak terima dengan kenyataan itu, tapi … itulah yang terjadi. Kalau Raph adalah bintang di tim sepak bola putra, kita juga punya bintang di tim basket putri, Jo.”

Go mengarahkan kamera pada perempuan yang mengenakan hoodie hitam di sebelah Raph. Ia tertawa lebar, rambutnya panjang hitam diikat ekor kuda. Tak jauh beda dengan Raph, ia pun tampak sangat menikmati waktunya mengganggu Bie.

“Jodie, kami memanggilnya Jo. Kepribadiannya sebelas dua belas dengan Raph, termasuk cara dia berjalan, makan, cara bicaranya kadang terdengar kasar. Jika kalian biasa melihat perempuan anggun dan rupawan, dia tidak. Jo adalah siluman, laki-laki yang terjebak di dalam tubuh perempuan.” Go bertingkah berlebihan kali ini. “Aku akan menyelamatkannya suatu hari nanti.”

Laki-laki itu kembali fokus pada kamera dan tersenyum bangga. “Dia adalah calon pacarku! Oh, bukan. Pacar!” Go mendekatkan bibirnya pada kamera. “Dia tidak mau mengakuinya.”

Go meletakkan dua jari di bibirnya, kemudian menempelkannya ke gambar Jo di kamera. “I love you Jo.”

Kemudian kameranya beralih pada laki-laki dengan tato di lengan kanan dan kirinya yang sedikit berotot, ia mengunyah permen karet sesekali tersenyum lebar kemudian bergabung dengan Raph dan Jo yang mengganggu Bie.

“Itu Sean. Penampilannya tampak menyebalkan, ya … dia memang begitu.”

Go tertawa. “Tidak, aku bercanda. Dia kepala dari setiap hal aneh yang ingin kita lakukan ke guru, seperti … memberi obat pencuci perut dalam gelas milik guru konseling. Sean adalah sosok yang paling ditakuti oleh Dill, ya karena dia suka mengancamnya. Bukan mengancam karena apa, ancaman dia membuatku, Jo, Raph, bahkan Lily juga ikut menerima manfaatnya. Dia mengancam Dill agar memberikan salinan jawaban tugas sekolah!”

Kamera beralih ke arah lain, laki-laki berkacamata yang duduk diam sambil tersenyum melihat tingkah Jo, Raph, dan Sean.

“Itu Dilan, kami memanggilnya Dill. Suatu keajaiban dia mau bergabung dengan kelompok kami. Oh!” Go tertawa. “Aku lupa, tentu saja dia terpaksa bergabung pada awalnya, Sean memaksanya!”

Go berdehem sesaat setelah tertawa. “Si jenius yang kemampuannya tidak diragukan oleh seantero sekolah. Dialah orang yang ditunjuk di kelas saat ada soal matematika rumit yang harus diselesaikan. Aku tidak tahu apa yang dia makan sehari-hari sehingga otaknya bisa seperti itu, ck ck ck.” Go menggelengkan kepalanya.

Kamera beralih pada sosok laki-laki bertubuh kurus yang bergerak gemulai sambil tertawa. Jo menunjuknya sambil tertawa pula.

“Dia Atlee. Dia mengenalkan namanya pertama kali Lee, tapi kami memanggilnya Lily.” Go tertawa. “Bukan tanpa alasan kami memanggilnya seperti itu. Berlawanan dengan Jo, Lily adalah perempuan yang terjebak di tubuh seorang laki-laki! Aku tidak akan menyelamatkannya, kami suka melihatnya seperti itu.”

Go mengusap rambutnya ke belakang lagi.”Dia suka menari, pandai memasak, dan berjalan dengan gemulai. Sayangnya, kadang ia tidak ikut bergabung di setiap kami berkumpul, dia harus bekerja paruh waktu.”

Kamera kali ini mengarah pada laki-laki berkulit putih bermata sipit yang tengah duduk sambil membaca buku. Sesekali ia berbicara dengan perempuan berambut coklat yang ada di sebelahnya.

“Itu Mizu. Orang tuanya pindah ke sini untuk bekerja dan secara otomatis dia juga tinggal di sini, tapi dia pernah berkata bahwa bila urusan pekerjaan orang tuanya selesai, mereka akan kembali ke negaranya, Jepang. Aku sebagai ketua kelompok ini sangat bangga karena ada orang asing yang mau bergabung. Dia si irit bicara, bukan karena tidak paham dengan bahasa kami, dia hanya bicara seperlunya saja, tapi dia sering berbicara berdua dengan Eve.”

Go tersenyum. “Aku sedikit iri dengannya yang bisa begitu dekat dengan Eve. Oh ya, Mizu bergabung di tim basket sekolah kami dan memiliki penggemar sendiri, tapi tentu saja anggotanya lebih banyak Klub Penggemar Go.” Go tertawa dengan percaya diri.

“Dia berbakat di klub basket putra, dia juga pintar. Orang kedua setelah Dill yang dipercaya guru mengerjakan tugas rumit.”

Kamera beralih pada perempuan di sebelah Mizu, duduk sambil menopang dagu, sebelah telinganya dipasang earphone dan sebelahnya lagi dibiarkan menggantung. Ia sesekali berbicara dengan Mizu, lebih tepatnya menjawab pertanyaan Mizu.

“Itu Evelyn. Eve. Dia cantik dan kuakui, dia yang paling cantik di antara perempuan di kelompok kami. Oh, ralat. Seantero sekolah. Julukannya Miss Perfect, kadang Ice Princess meski menurutku dia tidak dingin, hanya cuek. Kalau kau yang duduk di sebelahnya tiba-tiba jatuh ke jurang, dia tidak akan berteriak minta tolong. Kalau yang jatuh itu Mizu … apa ceritanya akan berbeda ya?” Go bergumam.

“Aku pernah menjadi pacarnya dan astaga … hanya bertahan sesaat. Tentu saja, aku laki-laki yang butuh kasih sayang dan perhatian, tapi aku tidak mendapatkanya dari Eve. Sangat disayangkan.”

Go tersenyum lebar, merentangkan sebelah tangannya yang bebas.

“Itulah kami, Blizzard. Oh, mengapa namanya Blizzard? Ya … bukankah itu nama yang unik untuk suatu kelompok? Lagi pula … kami bersepuluh bisa berkumpul seperti ini, dengan kepribadian kami yang berbeda. Well … mereka berkata keberadaan kami seperti badai salju, mengguncang sekolah. Kalau kalian tanya tentang Blizzard pada para warga sekolah kami, termasuk guru, mereka akan tahu.”

Go tersenyum sambil memperlihatkan deretan giginya.

“Hei Go! Apa yang kau lakukan di sana?”

“Ketua! Kalau kau tidak ke sini, aku yang akan datang ke sana dan menyeretmu!”

Christine dan Jo berteriak memanggilnya, membuat Go menoleh pada mereka.

“I’m coming!”

Go kembali pada kamera. “Yah, sampai jumpa di lain kesempatan! Aku Go si tampan, kalian harus mengingatnya!”

Go belum mematikan rekamannya, tapi ia bergumam. “Aku akan mengunggahnya di Youtube, semoga saja bisa viral. Aku tidak akan menunjukkannya pada mereka, bisa-bisa aku mati berdiri.” Kemudian rekaman mati.

Go menyimpan kameranya, kemudian berjalan setengah berlari menghampiri yang lain.

“Oh kekasihku Jo, apa kau sudah merindukanku?” tanyanya.

Sebaliknya, Jo melotot sambil berkacak pinggang.

“Jika kau masih menyebutku begitu akan kusobek mulutmu!”

Go tertawa, ya … tentu saja Jo menjadi kekasih Go adalah bayangan yang ada di pikiran sang ketua kelompok. Halusinasi yang diharapkan berubah jadi kenyataan.