JoyNovel

Let’s Read The World

Open APP
Satu Hari Mengubah Segalanya

Satu Hari Mengubah Segalanya

Author:Raflesia Arnoldi

Finished

Introduction
Bagaimana jadinya jika gadis yang masih duduk di bangku SMA akan memiliki seorang anak? Dia Sisil, gadis yang mahkotanya direnggut oleh kekasih sahabatnya sendiri. Setelah mengetahui dirinya hamil, si pelaku malah enggan untuk bertanggung jawab. Lalu bagaimana kisah mereka selanjutnya? Apakah ayah dari janinnya akan sadar dan mau bertanggungjawab? Simak kisah mereka dalam cerita Satu Hari Mengubah Segalanya.
Show All▼
Chapter

"Nanti jangan lupa dikerjain ya," peringat seorang gadis yang sedang mengemasi alat tulisnya.

Bel sekolah sudah berbunyi sejak dua menit yang lalu. Tapi Dara, gadis cantik yang pantang pulang sebelum tugasnya selesai itu masih berusaha memasukkan buku-bukunya ke tas. Lagipula hanya satu soal lagi, jika lebih dari itu dia akan memilih mengerkerjakannya di rumah.

"Iya," jawab Sisil, sahabat Dara yang saat ini terlihat tidak baik-baik saja. Pandangannya kosong, badannya bergetar, serta kedua telapak tangannya basah sebab terus menggenggam sesuatu sejak tadi. 

"Lo kenapa si, dari tadi kayaknya murung terus, deh. Lagi gak enak badan?" Tangan Dara menyentuh kening Sisil, tapi yang ia rasakan biasa saja suhunya.

"Gak panas," ujar Dara.

"Gue gak papa, Dar."

Dara mengangguk. "Ya udah, ayo!" ajaknya sambil menarik tangan Sisil agak kencang, sampai-sampai membuat sang empu melebarkan bola mata.

"Jangan diambil!" peringat Sisil. Namun terlambat, Dara sudah mengambil sesuatu yang sedari tadi berada di genggaman sahabatnya itu. Lagipula jatuhnya tepat di depan kaki Dara, tak heran jika gadis itu terbeo dan langsung memungut benda itu.

"Testpack?" gumam Dara sambil menatap raut wajah Sisil yang tampaknya sudah gusar.

Jantungnya berdegup kencang, berkali-kali Sisil menelan salivanya untuk membasahi kerongkongan. Gadis itu sudah pucat, mata yang kini membendung airpun seketika jatuh tanpa bisa dicegah.

"Sil, testpack siapa?" tanya Dara tanpa mengalihkan pandangannya.

Yang ditanya masih bungkam. Secepat kilat, dia mengambil benda itu yang berada di tangan Dara.

"Sil, kenapa lo nangis?" panik Dara saat sahabatnya langsung duduk sambil menutup wajahnya menggunkan kedua tangan.

"Darrr," panggil Sisil dengan suara serak.

"Sil, bukan punya lo 'kan?" Gadis itu sedikit memicingkan matanya. Dia langsung berhambur memeluk sahabatnya saat suara tangisan Sisil bertambah kencang, napas gadis itu tidak teratur.

"Sil, lo kenapa si? Bilang sama gue," ucap Dara. Tangan putihnya mengelus punggung Sisil. Jantungnya jadi berdegup kencang kala sahabatnya melepaskan pelukan dan menatapnya sendu.

"G-gue, h-hamil."

"APA?!" Dara langsung berdiri, degupan jantungnya terasa berhenti saat mengetahui sang sahabat sedang mengandung. Gadis itu tampak bergeming kemudian mengusap wajahnya gusar kala menyadari ini berita tak main-main, sedikit tidak percaya karena yang ia tahu, Sisil itu termasuk gadis cuek kepada lawan jenisnya.

Tangis Sisil semakin menjadi, hal itu membuat Dara meneteskan air matanya, antara kasihan dan kecewa. Dia kembali duduk dan memeluk sahabatnya sayang, memberikan kenyamanan agar Sisil tidak merasa takut.

"Maafin gue, Dar." Sisil memukul perutnya sendiri, merasa hina dengan semua yang menimpanya sekarang.

"Sil, jangan!" sentaknya. Dara langsung menggengam tangan Sisil. "Berbuat hal hina termasuk dosa, tapi berusaha membunuh janin yang tak bersalah bukannya lebih berdosa?"

"Sekarang bilang sama gue, siapa ayah anak ini?" tanyanya dengan nada lembut.

"Maafin gue, Darr."

"Sil, lo sahabat gue. Apapun yang udah terjadi, itu kehendak dari yang di atas. Lo bakal tetep jadi sahabat gue, ngerti?"

Sisil mengangguk, lidahnya terasa kelu kembali. Mengatakan siapa sebenarnya pelakunya sekarang memang akan mengubah semua, tapi jika harus menunggu hari berganti juga tidak baik.

"Siapa yang udah buat lo gini, Sil?"

Yang ditanya masih diam.

"Sil, kita sahabatan udah bertahun-tahun, masa iya lo gak mau ngasih tau siapa ayah anak itu?" jeda sejenak. "Gue bakal bantu," ucap Dara yakin.

Sisil tampak tertegun di tempat duduknya, dia bingung, sangat bingung sekarang.

"Sisil ... lo gak usah takut."

"Sagara," ucapnya dengan tatapan nyalang.

"M-maksud lo, Sa-sagara-"

"Sagara Bisma, pacar lo sendiri."

Seakan mendapat hantaman keras tak berwujud, Dara tak bisa menahan untuk meringankan tangannya menampar Sisil.

Plakk!

Keadaan hening, Sisil yang masih sesenggukan dengan bekas tangisan di pipi seketika kembali mengeluarkan air mata. Bukannya melawan, dia tak memiliki hak untuk marah atas perlakuan sahabatnya sendiri yang baru kali ini berlaku kasar.

"Drama apa yang lagi lo lakuin? Gak lucu tau, Sil!" Nafas Dara memburu, dia sama sekali belum percaya jika kekasihnya yang sudah menanam benih di rahim sahabatnya sendiri.

Sisil kembali terisak. Kali ini bukan karena kehamilannya, melainkan sudah membuat kecewa sahabatnya berkali lipat. Dia merasa tak pantas disebut sahabat.

"Maafin gue, Dar."

"Bilang sama gue, kalo yang lo katakan itu bohong!"

"Bilang sama gue, Sil! lo cuma mengada-ada cerita 'kan?!" ulangnya.

Sisil menggeleng, dia mengatupkan tangannya untuk meminta maaf. "Gue gak bohong, Dar. Dia, dia, dia-"

"Cukup!" teriak Dara. Dia menunjuk wajah Sisil menggunakan telunjuknya. "Lo tu jahat banget, ya. Gue sayang sama lo, kenapa lo tega ngelakuin ini sama gue?!" ujarnya keras. Gadis itu terduduk di lantai, memandangi pantulan dirinya sendiri yang tidak jelas sambil menangis.

"Darrr," panggil Sisil dengan suara serak. "Maafin, gue ...."

"Lo jahat sil, gue gak nyangka lo sejahat ini." Gadis itu terkekeh, kemudian bangun dari duduknya dan menatap sang sahabat sendu.

Memandang sebentar manik mata Sisil, Dara langsung melenggang meninggalkan sahabatnya seorang diri dengan perasaan berkecamuk.

Dia lari lunggang-langgung, membiarkan air matanya mengalir deras. Lagipula siapa yang akan melihat, orang-orang sudah pulang sejak tadi. Hanya ada siswa yang berorganisasi saja yang masih berkeliaran di koridor sekolah, itupun jarang.

Sedangkan Sisil, gadis itu masih terisak dengan kepergian sahabatnya. Tidak ingin menerima takdir ini, tapi kenapa datang padanya?

"Maafin gue, Darr ...," paraunya.

Sisil memegangi kepalanya yang terasa nyut-nyutan. Dia berdiri, mengambil tas punggungnya dan mulai melenggang meninggalkan kelasnya.

Ia terus menyeret kakinya di koridor, beberapa pasang mata yang berpapasan hanya menatap khawatir karena Sisil terlihat sangat pucat.

Dua orang yang diketahui anggota OSIS itu menghentikan langkah sejenak, lalu saling bertatapan dan berniat membantu Sisil. Mungkin mereka mengira Sisil memang sedang sakit dan untuk itu dia baru pulang.

Bruk!

"Astaga!" pekik salah satu anggota OSIS. Baru saja berniat menghampiri Sisil, mereka langsung berlari dan membopong tubuhnya karena ini sudah menjadi kewajiban.

"Kak, tolong!"

Salah satu lelaki yang sedang berjalan di koridor mendekat, dia langsung ikut membantu membawa tubuh Sisil karena kedua gadis itu tidak cukup kuat.

"Biar aku aja," ucapnya.

Diapun membawa tubuh Sisil ke UKS.

***

Sisil membuka matanya, dia mengerjap beberapa kali karena merasa asing dengan ruangan putih di hadapannya.

"Minum?" tawar lelaki yang tadi membawa tubuh Sisil.

Gadis itu menoleh, kemudian menggeleng sebagai jawaban. "G-gue mau pulang," ucapnya sambil mendudukkan tubuh.

"Lo bawa kendaraan?" tanyanya.

Sisil menggeleng.

"Gue anterin lo."

"Gak, gak usah!" tolak Sisil.

Lelaki itu menghela napas. "Lo masih sakit," ujarnya. "Gak usah ngerasa gak enak."

Dengan ragu, Sisil mengangguk.