JoyNovel

Let’s Read The World

Open APP
Hai Rama

Hai Rama

Author:Amelia

Updating

Introduction
Dua puluh tahun berlalu kini Rima tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik. Masih dengan keteguhannya memegang janji Rama, Rima berpikir bahwa waktu itu telah semakin dekat. Rama akan menemuinya meskipun lima belas tahun sudah Rima tidak mengetahui kabar Rama. Surat terakhir Rima untuk Rama yang dikirim lima belas tahun lalu sudah tidak pernah dibalas oleh Rama. Rama tak kunjung menemui Rima, kini Rima mulai khawatir bahwa Rama tidak memenuhi janjinya.
Show All▼
Chapter

Nuansa senja yang redup, matahari tertutup awan dan memancarkan garis cahaya dengan beragam warna yang memanjakan mata. Rima bersama orang tuanya sedang bersantai menikmati sore di teras rumah sembari menyiram bunga dan tanaman yang mengisi kebun kecil dirumah itu.

Seketika perhatian mereka tertuju kepada kesibukan rumah yang tepat berada di seberang rumah Rima. Sebuah keluarga kecil baru saja pindah dirumah itu. Tampak petugas pengiriman sedang sibuk memasukkan perabotan rumah yang baru datang itu.

“ Sepertinya mereka orang pindahan dari Bali yang dimaksut Pak Erwin ketua kompleks perumahan ma ” Ayah Rima menebak.

Sadar mengetahui bahwa ayah Rima memperhatikan dari balik pagar rumah, keluarga pendatang itupun tersenyum menghampiri ayah Rima dan menyapa.

“Selamat Sore Pak… Perkenalkan saya Wayan dan ini istri saya Rianti” sapa mereka sambil mengulurkan tangan.

“saya Adi dan ini istri saya Dewi, lalu ini anak saya Rima” menjabat tangan dan tersenyum ramah orang tua rima menyambut tetangga barunya.

“Ayo masuk dulu, kita ngobrol di dalam” pinta ibu Dewi

“Terimakasih namun sepertinya lain kali saja karena masih harus beberes rumah” kata Pak Wayan.

“cantik sekali Rima kelas berapa” tanya ibu Rianti

“kelas tiga SD tante”

“wah sama dong dengan anak tante. Namanya Rama mirip seperti nama kamu”

Rima tersenyum.

“Rama..!! kesini sayang. Ini kamu punya teman disini” Ibu Rianti memanggil Rama anaknya.

Rama pun datang sambil memegang sebuah remote mobil mainan kesayangannya.

“Pak Adi, bu Dewi, perkenalkan ini Rama anak kami”

“Rama om tante” Rama memperkenalkan diri sambil mencium tangan orang tua Rima. Lalu Rama juga berkenalan dengan Rima.

“aku Rama, nama kamu siapa” tanya Rama.

“namaku Rima”

Hari sudah menjelang malam. Perkenalan hangat antara dua tetangga tersebut memberikan kesan baik. Setelah saling berkenalan akhirnya keluarga Rama dan Rima kembali ke dalam rumah masing-masing untuk menyambut esok yang cerah.

Rima selalu memiliki kebiasaan menikmati langit malam di balkon kamarnya sebelum tidur. Menghabiskan waktu bermain bersama boneka kesayangannya dan seringkali sembari bermain biola hadiah ulang tahun pemberian ayahnya. Namun kini Rima tidak sendiri, ada Rama yang menemaninya dari balkon kamarnya Rama. Dari sinilah persahabatan mereka dimulai.

“Hai Rama!”

Seakan menjadi kebiasaan di pagi hari. Sapaan itu selalu dilontarkna Rima kepada Rama ketika mereka bertemu setiap pagi untuk pergi ke sekolah bersama-sama. Rama bagaikan pelindung untuk Rima. Dia selalu menjaga Rima dimanapun dan kemanapun saat mereka bersama. Termasuk ketika Rima diganggu oleh temannya disekolah. Rama selalu datang untuk melindungi Rima.

“Rima, kamu nanti pulang sekolah sendiri ya ”

“kenapa Ram, kita kan selalu bersama”

“Setelah jam sekolah nanti, Rama ada kelas berenang”

“Rima ikut ya, Rima gak berani pulang sendiri”

Belum sempat sama menjawab keinginan Rima untuk ikut dengannya, Rima segera menyambung kata-katanya.

“Rima janji deh gak akan ganggu Rama”

“Baiklah, kamu nanti lihat saja ya”

“oke!”

Rima menyanggupi permintaan Rama. Bel tanda waktu istirahat pun selesai, mereka berdua kembali ke kelas masing-masing.

Waktu berjalan begitu cepat. Sudah tiga tahun berlalu semenjak kedatangan Rama ke Jogja dan memulai persahabatan dengan Rima. Tahun ini menjadi tahun terakhir Rama dan Rima menjadi siswa sekolah dasar.

“Hai Rama!”

Kata sapaan itu masih selalu terucapkan setiap mereka bertemu di pagi hari. Namun ada yang berbeda kali ini. Rama tidak membalas sapaan Rima meskipun hanya dengan senyuman. Wajah Rama terlihat murung dan dia berlalu begitu saja meninggalkan Rima tanpa berjalan bersama menuju sekolah seperti biasa.

“Rama!!” Panggil Rima sekali lagi.

Langkah Rama yang menjadi cepat tidak seperti biasa Rima menyadari bahwa Rama dia sedang menghindarinya.

“Rama pelan-pelan dong!” teriak Rima sambil berlari mengejar Rama.

Tidak sedikitpun Rama berhenti atau menoleh. Langkahnya tetap pergi semakin menjauhi Rima.

Brakk!!!!!

Suara bertabrakan disusul dengan suara klakson panjang. Rama terkejut dan menoleh kebelakang. Tepat di perempatan jalan dai melihat semuanya.

“Rima…..” Rama menyebut nama Rima, dia tertegun seakan tidak percaya melihat Rima tergeletak tubuhnya bersimbah darah. Dia menjadi korban kecelakaan tabrak lari.

“Rima!!!!!” Rama berteriak dan berlari menuju Rima.

Sambil memeluk Rima yang hampir tidak sadarkan diri, Rama menangis memanggil Rima sambil berteriak meminta pertolongan. Orang-orang yang melihat kejadian itu langsung beramai-ramai menolong Rima.

“Rama… jangan tinggalkan aku” suara lirih Rima menahan sakit dan akhirnya dia benar-benar tidak sadarkan diri.

Rima dibawa ke rumah sakit. Kecelakaan cukup parah yang dialami anak seusia Rima membuatnya mengalami pendarahan dan tulang tengkorak belakang . Dokter pun cepat memberikan tindakan operasi. Orang tua Rima begitu sedih melihat keadaan putri satu-satunya harus terbaring merasakan sakit.

Disisi lain Rama duduk di sudut samping pintu operasi sambil menangis. Baju seragam yang dia kenakan penuh dengan darah Rima. Ibu Dewi menghampirinya dan memeluknya. Rama semakin menangis ketakutan melihat kondisi Rima.

“aku minta maaf tante, seharusnya aku tidak meninggalkan Rima” ucap Rama sambil menangis dan menyesali apa yang terjadi.

Rama merasa sangat bersalah atas kejadian yang menimpa Rima pagi ini. Dia yang selama ini selalu melindungi Rima, kini dia yang menyebabkan Rima celaka.

“gak apa-apa Rama, ini semua sudah takdir Tuhan” kata Ibu Dewi begitu menenangkan Rama walaupun dia juga merasa sangat terpukul.

“ini semua salah Rama tante, hukum Rama tante” Rama masih tidak bisa memaafkan dirinya sendiri. Dia terus menyalahkan dirinya.

“gak apa-apa sayang” ucap Ibu Dewi sambil terus memeluk Rama.

Tidak lama kemudian, orang tua Rama datang menghampiri keluarga Rima dan Rama anaknya. Mereka terkejut melihat Rama dan bajunya yang penuh darah.

“Rama..”

“Mama…” Rama tetap menangis menyesal.

“Mama… Rama yang buat Rima menjadi seperti ini ma..”

Ibu Rianti memeluk anaknya dan menenangkan. Dia merasakan kesedihan yang dirasakan anaknya.

“Mbak Dewi… yang sabar ya.. semoga Rima baik-baik saja” Ibu Rianti mengelus bahu Ibu Dewi lalu memeluknya menenagkan.

Ayah Rima dan Rama masih mengurus permasalahan ini dengan polisi yang juga berada disana. Mereka menginginkan penabrak anaknya yang kabur segera ditemukan. Ikatan kekeluargaan dau tetangga ini benar-benar baik dan dekat. Mereka kompak untuk saling membantu ketika salah satu dari mereka tertimpa musibah.

“Sudah, semuanya akan ditangani pihak kepolisian. Mereka sudah mengantongi identitas pelaku penabrakan itu” Ayah Rama memastikan keadilan untuk puterinya.

Orang tua Rama pun berpamitan untuk pulang setelah memastikan keadaan orang tua Rima sudah lebih tenang. Namun Rama menolak untuk kembali kerumah, dia ingin tetap berada di rumah sakit untuk memastikan kondisi Rima baik-baik saja.

Melihat Rama yang masih menangis, Ibu Dewi pun meminta Rama untuk pulang agar bisa beristirahat dan menenangkan dirinya di rumah.

“Rama pulang ya, istirahat. Ganti baju dulu. Besok boleh kesini lagi nemenin Rima” Ibu dewi meyakinkan Rama.

Rama pun mengiyakan dan pulang kerumahnya. Dalam pikirannya, dia masih sangat menyesali atas kejadian yang menimpa Rima pagi ini. Jika waktu bisa diulang, Rama tidak akan meninggalkan Rima seperti itu. Rama akan tetap menjaga dan menemani Rima.