JoyNovel

Let’s Read The World

Open APP
Pernikahan Ara Dan Ken

Pernikahan Ara Dan Ken

Author:Bibil

Updating

Introduction
Ara, gadis malang yang baru saja kehilangan ingatannya, akibat sebuah kecelakaan. Tragedi itu tidak hanya merenggut ingatan, tetapi juga seluruh kehidupannya. Untuk menggenapi asal usulnya yang sudah hilang, dia akhirnya melakukan sebuah pernikahan kontrak dengan lelaki patah hati yang bernama Ken. Mereka akhirnya menjalani kehidupan bersama meski tanpa cinta. Sampai pada masanya, Ara jatuh cinta kepada Ken. Namun, petaka itu datang. Ghea, mantan tunangan ken kembali masuk ke dalam kehidupan Ken.
Show All▼
Chapter

Sudah terhitung beberapa kali tangan mungil itu menggosok-gosokkan kedua tangannya, menyalurkan rasa hangat ke tubuh. Matanya terfokus pada adegan-adegan di luar kafe. Melihat anak-anak yang sedang bermain hujan. Tertawa bersama seolah tak ada beban hidup. Gadis itu ikut menyunggingkan senyum manisnya.

Secangkir kopi menemani gadis itu semenjak hujan mulai menyirami bumi. Suasana dingin karena hujan menjadikan kopi sebagai penghangat. Kopi yang semula terisi penuh, sekarang terlihat tinggal setengah dari cangkirnya. Sepertinya, ia sudah banyak menyeruput kopi itu.

Gadis itu mengecek benda yang melingkar ditangannya. Ternyata, ia sudah menunggu kurang lebih tiga puluh menit. Decakan demi decakan keluar dari bibirnya. Sebab, orang yang ia tunggu tak kunjung datang.

"Awas aja kalo dia gak datang, aku bakal pergi dan membiarkannya mengurus sendiri," monolognya pada diri sendiri.

"Hey!" Suara seseorang dari arah belakang membuat gadis yang sedang bermonolog terlonjak kaget. Seketika ia menoleh dan mendapati orang yang telah lama ia tunggu sedang berjalan ke arahnya. Tak lupa pula dengan cengirannya.

"Hum bagus sekali. Aku udah lumutan di sini dan kamu baru datang?"

Lawan bicara gadis itu segera menarik kursi dan duduk di samping Ara. "Ara ... di luar sana itu lagi hujan. Mengertilah keadaanku!"

Ara hanya memutar bola matanya malas, "Heuh kamu sangat menyebalkan. Apa gunanya mobil mewahmu, Audrey?" Ara sangat kesal. Bagaimana tidak, ia sudah menunggu terlalu lama dan alasan yang diterimanya tidak masuk akal.

"Ih jangan cemberut! Wajahmu mendadak jelek seperti tu." Sepertinya Audrey memiliki niat untuk menambah kekesalan Ara. Sebenarnya, Audrey malu jika mengatakan ia terlambat datang karena telat bangun. Bisa seharian ia diejek oleh Ara.

Ara sudah tak memperdulikan Audrey. Ia segera mengambil cangkir kopinya. Namun, tangannya belum sampai, Audrey lebih dulu mendahuluinya mengambil alih kopi itu dan meminumnya. Seketika mata Ara melotot seakan mau keluar dari tempatnya, "Eh, kenapa kamu minum sisa minumanku? Kamu udah gak punya uang buat membelinya?" dumel Ara sambil bersedekap dada. Ia mengalihkan pandangannya pertanda kesal.

Rasa bersalah dalam diri Audrey rupanya sedang mode off. Ia tidak memperdulikan Ara. Malahan, ia menyeruput kopi itu berkali-kali hingga tandas. "Kau ini pelit sekali sama sahabatmu sendiri. Aku hanya membantumu menghabiskannya."

Ara masih tak bergeming. Hanya helaan nafas kasar yang terdengar. Seketika Audrey sedikit merasa bersalah atas kelakuannya pada Ara. Ia sudah membuatnya lama menunggu lalu bertingkah seenaknya. Mata Audrey menjelajahi isi kafe, spontan ia berkata, "Apa mereka belum datang?"

Pertanyaan itu berhasil menyita perhatian Ara dan menoleh ke arah Audrey. "Apa kau melihat mereka di sini?"

Bukan jawaban yang didapat Audrey, melainkan pertanyaan balik yang dilontarkan Ara. Audrey menghela nafasnya gusar, Ara masih marah padanya dan ia harus mencari cara untuk membujuknya. "Ara, tadi aku minta maaf! Kalo kamu mau memaafkanku, aku akan menuruti apapun kemauanmu."

Wajah Ara yang semula ketus berubah menjadi melunak dengan mata yang berbinar mendengar tawaran dari Audrey. "Apa kau serius?" Audrey mengangguk mantap. Langsung saja Ara mencubit pipi chubby sahabatnya seraya mengucapkan terima kasih.

"Heuh sepertinya aku harus menunggu lagi," ujar Ara diikuti tawa Audrey. Lalu keduanya saling memandang dan tertawa bersama.

***

Flashback on

"Mah gimana persiapannya, udah selesai belum?" Seorang lelaki tampan bertubuh atletis, dengan matanya yang sipit, hidung mancung, rahang yang tegas, dan alis tebal sedang menuruni tangga dengan berlari kecil.

Senandung-senandung kecil mengiringi langkahnya, menandakan betapa senangnya ia hari ini. Dengan setelan jas yang rapi, ia berjalan menghampiri Mamanya yang sedang menyiapkan makan malam.

"Ken, kita akan makan malam di sini. Kenapa kau harus memakai pakaian seperti itu?" Jelas Mamanya heran, Ken memakai pakaian formal seperti akan mengadakan rapat penting. "Ma, hari ini itu, hari penting buat aku. Jadi apa salahnya berpenampilan seperti ini." Ken seakan tak mau kalah debat dari Mamanya.

"Terserahmu Nak, kau tidak akan pernah membiarkan Mama menang." Marta selaku Mama Ken selalu jika sudah beradu mulut dengan anaknya.

Ken hanya terkekeh mendengar dumelan Mamanya. Ia mencium pipi Marta dan duduk manis di meja makan.

"Wah sepertinya, anak dan istriku ini sudah siap bertemu dengan calon istri dan calon besannya." Bromo yang merupakan Papa Ken tersenyum sumringah melihat keantusiasan anak dan istrinya menyambut tamu mereka.

"Harus gitu dong, Pa. Malam ini harus terlihat sempurna bagi keluarga yang akan makan malam." Ucapan Ken mampu membuat keduanya tertawa. Mereka sudah siap menyambut kedatangan tamu yang ditunggu-tunggunya.

Menu makan malam sudah siap, Ken yang sudah rapi dan orang tuanya pun seperti itu menandakan bahwa mereka benar-benar siap untuk menyambut tamu penting mereka.

Suara ponsel Ken yang menandakan pesan masuk membuat Bromo dan Marta mengalihkan pandangannya ke arah Ken. Ken segera merogoh ponsel yang berada disaku jasnya dan melihat pesan apa yang dikirimkan padanya. Bromo dan Marta terus berfokus pada Ken. Hingga ekspersi Ken yang semula bahagia berubah menjadi raut wajah yang tak dimengerti.

"Ada apa, Son? Sesuatu buruk sedang terjadi?" Bromo langsung menanyai Ken ketika melihat perubahan mimik wajahnya.

"Tidak akan ada makan malam dan pernikahan ke depannya. Semuanya telah berakhir malam ini!" Usai mengatakan itu, Ken segera berlalu dari hadapan orang tuanya. Sedangkan Bromo dan Marta masih terkejut dengan apa yang dikatakan Ken. Tetapi, mereka bisa menebak, sesuatu yang tak diinginkan telah terjadi.

Flashback off

Ken masih melamun sambil memandangi kota kelahirannya. Dengan tangan yang ia masukkan ke dalam saku celana, membuatnya ia terlihat semakin tampan dan dewasa. Pikirannya masih menerawang ke masa lalu, lebih tepatnya pada saat malam kegagalan ia bertemu dengan tunangannya. Satu kalimat yang dikirimkan oleh tunangannya malam itu mampu mengubah semuanya.

Jika dulunya Ken, laki-laki yang baik, ramah, dan lembut kepada wanita. Maka sekarang semua itu berbanding terbalik. Karena mantan tunangannya memutuskan hubungan mereka tanpa alasan, membuat Kem berspekulasi bahwa semua wanita itu sama saja. Mereka akan pergi ketika bosan terhadap pasangannya. Maka jangan heran jika sekarang ia masih melajang. Ia terlalu pemilih, lebih tepatnya sudah tidak mempercayai cinta dan wanita dalam waktu yang bersamaan hanya karena kesalahan mantan tunangannya di masa lalu.

Sebuah tepukan dipundaknya mengembalikan kesadarannya. Ia menoleh, senyum merekah menghiasi wajahnya. "Kau sudah lama tiba?"

Orang yang ditanyainya berputar mengelilingi meja dan duduk di kursi kebesaran Ken. "Sebenarnya aku sudah lama sampai. Tapi sepertinya kamu sedang berada di tempat lain. Ragamu ada di sini tapi isi pikiranmu sedang berkelana," jelas orang itu.

Ken ikut duduk tapi ia di sofa. Ia melirik tamu selaku sahabatnya sebentar lalu menghela nafasnya dengan kasar. "Sangat susah untuk melupakan semua itu, Agam. Apalagi kami menjalin hubungan lumayan lama. Dan dengan gampang ia memutuskannya dalam waktu semalam. Jika kau ada diposisiku, apa kau sanggup?" Ken menjelaskan dengan tatapan kosongnya. Dapat diketahui bahwa kejadian yang ia alami sangat berpengaruh baginya.

Agam yang mendengar itu segera berpindah posisi dari kursi ke sofa. Ia segera menepuk-nepuk pundak Ken seraya berkata, "Ken, aku tau seperti apa perasaanmu waktu itu. Tapi kau tidak bisa terlalu terpuruk dalam kesedihan. Semua kejadian pasti ada hikmahnya. Kita tidak tau, mungkin ke depannya kamu bisa berbahagia dengan orang lain yang tidak kamu dapatkan sama mantan tunanganmu itu."