"Hatiku terlalu kecil untuk dapat mengerti. Aku terlalu dungu untuk memahami. Problematika dalam keluarga yang teramat pelik. Namun, hatiku pun ingin dipahami. Aku pun ingin dimengerti. Perhatian dan bermanja sangat kurindui."
Anggara Saputra
***
Wajah tegas bergaris lembut itu menangkup dagunya. Malam ini ia duduk di balkon. Iris hitam pekatnya tak lepas dari langit. Bintang berpijar terang di peraduannya. Bersih dengan terpaan sinar rembulan.
Hatinya kosong. Tak terisi layaknya langit malam. Rembulan bersanding bintang. Semilir angin menari riang. Embusannya sesekali menyibak rambut lembutnya yang menjuntai pada dahinya yang bersih.
Ia terlalu terlena dalam buaian imaji yang membawanya terbang jauh ke negeri seberang. Belaian manja yang ia dambakan hanya sekedar mimpi. Tak pernah lagi ia rasakan.
Lalu imajinya menguap. Kembali terngiang dalam benaknya bagaimana mami dan papinya bertengkar sore tadi.
"Dasar perempuan tidak berguna!" Bariton suara papi meninggi.
"Apa yang kau inginkan dariku?" ucap mami dengan parau.
"Kau harus bertanggung jawab atas keretakan keluarga ini. Karena ulahmu itu kita jadi seperti ini. Jika saja Gara tahu semua, kau---." Suara papi semakin meninggi dan terputus.
"Ceraikan saja aku!" Suara mami semakin parau.
"Andai saja aku tidak mencintaimu pasti sudah kulakukan." Suara papi tercekat.
Terdengar mami terisak. Menutup mulutnya sendiri. Namun, punggungnya berguncang.
Mereka tidak tahu kalau Gara berada di balik pintu. Pria jangkung itu baru saja pulang. Mendengar suara keras dari dalam rumah, Gara memilih diam.
Hingga beberapa waktu berlalu, Gara tidak mendengar lagi suara keras dari dalam rumah. Ia memutuskan masuk. Di dalam terlihat sepi. Mungkin mami sudah masuk kamar.
Lalu terlihat papi tergesa keluar. Melewati Gara tanpa sepatah kata pun. Membanting pintu dengan keras.
Gara memilih masuk kamar. Membersihkan diri. Guyuran air dingin sedikit membuatnya segar. Kekalutan dalam benaknya sedikit mencair.
Sepanjang malam ia habiskan untuk termenung. Mengira-ngira apa yang harus ia lakukan. Saat keluarganya terancam hancur.
Gara menghela napas dalam. Menghembuskan dengan kasar. Ia lakukan berulang kali. Berharap sesak dalam rongga dadanya berkurang.
Lalu tiba-tiba ia teringat seseorang. Raut teduh yang pernah ada dalam hidupnya. Wanita yang selalu menemaninya. Bercanda bersama. Wanita itu selalu memanjakannya. Belaian lembutnya selalu menghangatkan hatinya.
"Kak Sella-aku rindu. Di mana kau sekarang?" gumam Gara dalam kesedihannya.
Kerinduannya semakin membuncah. Di saat seperti ini tak ada teman untuk sekadar mengadu. Berbagi cerita bersama. Bahu untuk berasandar. Semua sepi, seorang diri. Meratapi hari-harinya yang makin suram.
Gara tak pernah tahu mengapa kakaknya pergi. Entah ke mana. Bagaimana kabarnya. Selama ini ia sudah berusaha mencari tahu namun mami seolah menyembunyikannya.
Anggara Saputra juga tak pernah mengerti apa sebenarnya pemicu keretakan keluarganya. Suara papi yang selalu meninggi. Sedang mami mengalah. Namun, ketika ditanya penyebab pertengkaran mereka, tak ada jawaban.
"Gara! Makan malam sudah siap." Terdengar lamat suara mami.
"Iya, Mi. Lima menit lagi Gara turun."
"Di tunggu Papi, loh!" suara lembut mami kembali terdengar.
"Iya, Gara nyusul."
Gara benar-benar tak habis pikir. Setelah pertengkaran mami dan papi siang tadi, mereka masih saja bisa berbaikan secepat ini. Mau tidak mau Gara menuruti keinginan mami. Secepat kilat pria itu beringsut. Lalu menuruni tangga dengan gontai.
Di meja makan, tampak pria paruh baya telah menunggu. Mami menyiapkan minuman di dapur. Teh hangat kesukaan Gara sudah siap di atas meja. Tinggal wedang jahe kesukaan papi masih disiapkan mami.
"Bagaimana usahamu?" Papi membuka pembicaraan setelah Gara duduk di kursi.
"Lancar!" Gara menjawab singkat.
"Sebaiknya kamu bisa membagi waktu dengan perusahaan. Perusahaan kita butuh kamu juga. Bagaimanapun kamu harus terjun langsung."
"Iya, Pi."
"Jadi, maksudnya kamu bisa membagi waktu? Besok papi tunggu di kantor.
"Gara mau ngatur waktu dulu."
"Baiklah. Kapan pun kamu siap."
Mami sudah selesai dengan wedang jahe di tangannya. Matanya masih sembab. Meski senyum terukir di bibirnya namun, tak dapat di tutupi mata itu sendu. Menahan luka yang dalam.
Mata bulat mami menyempit. Meski guratan kesedihan merongrong jiwanya namun orang lain tak akan tahu. Mami benar-benar menjaga auranya. Terlihat dari tampilan mami yang selalu menarik. Wanita cantik itu selalu terlihat rapi dan anggun.
Semarah apa pun, papi tidak pernah mau bercerai dengan mami. Lalu apa yang terjadi dalam pernikahan mereka. Sehingga selalu ada pertengkaran. Seingat Gara, sewaktu ia kecil tak pernah melihat mami dan papi bertengkar.
Lalu tibalah saat itu. Di mana Kakaknya Gisella pergi. Pertengkaran demi pertengkaran menghiasi hari-hari mereka. Seolah camilan yang disuguhkan. Mau tidak mau. Suka tidak suka harun ditelan.
Gara kecil tak mengerti. Peristiwa apa yang terjadi, sehingga mengubah keluarga harmonis menjadi retak. Hingga sedewasa ini, Gara tetap saja tidak bisa memahami. Acap kali ia tanya mami atau papi jawabannya sama. Taka ada jawaban yang pasti.
"Tidak ada apa-apa, Gara. Papi dan mami hanya salah paham saja. Itu sudah biasa dalam kehidupan rumah tangga," ujar mami saat Gara menanyakan perihal bertengkarnya mami dan papi.
"Tapi apa masih wajar kalau pertengkaran hampir tiap hari?"
"Nanti pada saatnya kau akan memahami."
"Kapan? Gara sudah sebesar ini. Apa masih belum cukup umur juga?"
"Mami janji akan menceritakan kalau sudah waktunya tepat."
Gara berkecamuk dalam pikirannya sendiri. Memikirkan ucapan mami. Ada sesuatu yang disembunyikan mami. Gara ingin tahu itu apa. Sudah sebisa mencari tahu. Namun hasil yang sama yang ia dapat. Nihil!
Makan malam berlalu begitu saja. Makanan terasa sangat hambar bagi Gara. Apalagi dengan kepergian papi, yang katanya ada lemburan di kantor. Gara yakin kepergian papi disebabkan pertengkaran tadi sore.
Meski begitu, Gara salut pada papi. Semarah-marahnya dia masih menyempatkan makan malam bersama. Meski akhirnya papi pergi lagi.
Gara sudah terbiasa dengan suasana seperti itu. Pria berkulit bersih itu lalu pergi ke kamarnya. Mengistirahatkan tubuh lelahnya. Juga pikirannya yang gundah.
Pagi ini, Gara sudah bersiap ke kafe. Tempat itu ia kelola bersama temannya. Hari ini ia ingin mengatur jadwal agar bisa menyisihkan waktunya untuk perusahaan papi.
Mobil sport yang ia kendarai berhenti di depan kafe yang telah ramai pengunjung. Mayoritas dari mereka muda-mudi. Suasana kafe yang eksotis dan terkesan romantis membuat tempat itu digandrungi anak muda.
"Hallo, Gara! Hari ini pengunjung kita ramai," ujar seorang pria yang tak lain sahabat Gara.
"Aku harus atur jadwal. Papi menginginkan aku untuk terjun ke perusahaan."
"Itu gampang! Serahkan padaku."
"Oke, aku percaya padamu. Besok aku ke perusahaan Papi."
"Siap, Bos besar!"
Gara menepuk bahu sahabatnya itu. Lalu ke ruangannya. Mengecek segala sesuatu yang perlu dilakukan hari ini untuk esok bisa ia tinggalkan.
Hingga sore, Gara sibuk dengan kafenya. Sore itu kafe masih saja ramai. Sampai tanda close di pampang sepasang muda mudi keluar.
"Itu pelanggan kita yang terakhir," ujar Gara kepada sahabatnya.
Gara bergegas pulang. Mobilnya merayap perlahan. Di tengah kota metropolitan macet masih saja membudaya. Kelip lampu jalan mulai menyala.
"Aku kesorean," gumam Gara.
Di depan gerbang, Gara membunyikan klakson. Biasanya satpam dengan sigap membuka. Sampai berkali-kali, tak terlihat satpam.
Tak ingin membuang waktu, Gara turun dari mobilnya. Membuka gerbang yang memang sengaja tidak di kunci. Di halaman tampak mobil papi.
Prang
Gara mendengar suara barang pecah dari dalam rumah. Secepat kilat ia berlari. Masuk ke dalam tanpa mengetuk pintu.
Apa yang dilihat Gara membuatnya termangu. Mami meringkuk di pojok ruangan. Papi berdiri dengan wajah berapi-api. Barang-barang berserakan di lantai.
"Sudah kubilang jangan ke mana-mana tanpa aku! Awas kalau kau ulangi lagi. Kau bisa minta antar aku kapan pun. Atau kepada Gara." Suara papi meninggi.
Gara mendekati mami. Duduk meringkuk di dekat wanita yang telah melahirkannya itu, "Memangnya mami dari mana? Kok nggak minta antar Gara? Sudah tahu papi seperti itu."
Tak ada sepatah kata pun terucap dari mami. Hanya buliran bening terus saja mengalir di pipinya. Sedang kedua tangan menutup mulutnya.
