JoyNovel

Leer para descubrir un mundo nuevo

Abrir APP
Getir

Getir

Autor:Uly Mulyana

Terminado

Introducción
"Aku juga nggak mau menikah sama kamu, jadi kamu nggak usah sok menderita karena bukan cuma kamu yang terpaksa di sini. Aku juga," ujar Dara dengan nada yang sedikit marah. Dara mengusap pipinya yang basah oleh air mata. Menatap nanar pada pria yang duduk dengan wajah frustasi di depannya. Mereka dipaksa menikah oleh orang tua mereka hanya karena perjanjian konyol di masa silam. "Sekarang kita nggak bisa apa-apa karena memang harus menjalani pernikahan ini Alvan." Ujar Dara dengan nada pasrah. Alvan menghela panjang dan mengusap wajahnya dengan kasar. Mau tidak mau ia haruslah terima. Pernikahan tanpa cinta memang sangat tidak ia inginkan sedari dulu tapi beginilah hidup. Alvan menatap pada Dara yang mengenakan hijan dengan warna hitam dan gamis dengan warna senada. "Kita buat perjanjian, aku tidak ingin ada kontak fisik di antara kita dan karena kita menikah tanpa adanya cinta maka tidak ada ketentuan untuk saling melarang apa pun yang salah satu di antara lakukan."
Abrir▼
Capítulo

"Aku juga nggak mau menikah sama kamu, jadi kamu nggak usah sok menderita karena bukan cuma kamu yang terpaksa di sini. Aku juga," ujar Dara dengan nada yang sedikit marah.

Dara mengusap pipinya yang basah oleh air mata. Menatap nanar pada pria yang duduk dengan wajah frustasi di depannya. Mereka dipaksa menikah oleh orang tua mereka hanya karena perjanjian konyol di masa silam.

"Sekarang kita nggak bisa apa-apa karena memang harus menjalani pernikahan ini Alvan." Ujar Dara dengan nada pasrah.

Alvan menghela panjang dan mengusap wajahnya dengan kasar. Mau tidak mau ia haruslah terima. Pernikahan tanpa cinta memang sangat tidak ia inginkan sedari dulu tapi beginilah hidup.

Alvan menatap pada Dara yang mengenakan hijan dengan warna hitam dan gamis dengan warna senada.

"Kita buat perjanjian, aku tidak ingin ada kontak fisik di antara kita dan karena kita menikah tanpa adanya cinta maka tidak ada ketentuan untuk saling melarang apa pun yang salah satu di antara lakukan."

Dara tersenyum tipis dan mengangguk setuju. Entah apa yang membuatnya sangat mudah untuk mengangguk dan setuju begitu saja.

"Baik. Itu artinya kita tidur di kamar yang terpisah dan malam ini sebagai seorang lelaki maka kamu tidur di bawah atau di sofa,"

Alvan menatap pada Dara dengan alis yang terangkat.

"Apa maksud kamu? Jangan ambil kesempatan untuk tidur dengan nyaman dengan menjafikan nama wanita sebagai alasan," kata Alvan sedikit protes karena tidak terima.

Dara menatap geram pada Alvan yang menurutnya sangat mebyebalkan. Pria ini tidak ada rasa simpatiknya sama sekali.

"Alvan. Apa kamu tidak merasa malu jika aku yang tidur di sofa? Aku ini seorang wanita yang harusnya memang dimanja," kata Dara.

"Kenapa kamu tidak keluar saja? Di dalam rumah ini masih banyak kamar yang kosong dan pasti membuat kamu bisa tidur di atas ranjang yang empuk," kata Alvan dengan gayanya yang sangat terlihat santai.

Kini giliran Dara yang menghembuskan nafas panjang dan terdengar kasar. Pria ini menguji kesabarannya, sangat.

"Apa yang ada di dalam otak pintarmu itu saat akan membuka pintu itu dan ternyata tidak bisa untuk terbuka?" tanya Dara dengan mata yang memicing pada Alvan.

Raihan mengangkat lagi alis matanya seraya menatap pintu yang sejak ia dan Dara masuk tadi sudah tertutup dengan sangat rapat.

"Kunci?" cetusnya masih menatal pintu.

Dara hanya mengedikkan bahunya sebagai jawaban. Pria itu seortuinyq tidak butuh jawaban dari bibirnya lagi.

"Oke sebagai pria yang baik aku yang akan tidur di sofa tapi tidak untuk besok karena besok aku yang berganti untuk tidur di ranjang itu," kata Alvan dengan nada pasrah.

Senyum langsung terbit begitu saja di bibir Dara. Ia menunjukan senyuman manisnya pada Alvan yang ditanggapi dengan malas oleh pria yang kini sudah menjadi suaminya itu.

Alvan melangkah dengan gontai pada tempat tidur dan mengambil bantal serta selimut untuk ia bawa ke sofa.

Dara yang mekihat itu membulatkan matanya.

"Itu kamu ngapain bawa selimuOkeAku tidur pake apa?" tanya Dara dengan tidak suka atau tidak setuju dengan Alvan yang membawa selimut.

"Kamu nikmati kasurnya dan aku nikmati selimutnya. Kalau kamu nggak mau, kamu bisa tidur di sofa dengan pake selimut dan aku yang akan tidur di kasur tanpa selimut," kata Alvan memberi pilihan pada Dara.

"Nggak mau biar aku yang akan tidur di kasur. Nggak apa-apa nggak pake selimut asal badanku nggak pegel nantinya," kata Dara.

Bagi Dara, lebih baik tidur tidak mengunakan selimut dari pada memakai selimut tapi rasa badannya tidak nyaman. Dara bisa tidur dengan tidak memakai selimut.

"Oke."

Satu kata yang Alvan ucapkan dan lalasung melanglah pada sofa. Membaringkan tubuhnya di sana dengan tubuh dibaluti selimut.

Alvan mengambil ponselnya dan membuka aplikasi chating dengan seseorang. Seketika bibirnya tersenyum melihat dalah satu pesan masuk dari seseorang.

"Bisa senyum juga dia," gumam Dara di dalam hati.

Gadis itu memperhatikan Alvan yang tersenyum sambil terus memainkan ponselnya.

Menghela nafas pelan Dara melangkah ke arah kamar mandu dan keluar dengan keadaan sudah berwudhu.

Dara menggelar sajadah di samping tempat tidur dan melaksanakan sholat isya yang memang belum sempat ia lakukan tadi. Masih beruntung sholat isy bisa dilakukan hingga waktu pajar tiba.

Setelah selesai sholat isya, Dara mengambil sarung yang ia taruh di dalam kopernya. Sebelumnya Dar sudah mengatur ac untuk tidak terlalu dingin karena ia tidak memakai selimut.

Dara menaiki tempat tidur dan menyelimuti bagian kaki hingga pinggang dengan kain sarung yang tidak terlalu panjang.

Membaca doa dan mencoba menutup mata hingga ia terlelap dengan tenangnya.

Sementara Alvan masih asyik dengan ponselnya. Kali ini pria itu tengah melakukan vidio call dengan seseorang yang ia panggil Lidia.

Lidia dan Alvan adalah sepasang kekasih yang katanya saling mencintai dan mereka masih saling berhubungan layaknya kekasih pada umumnya meski Alvan sudah menikah.

Alvan dan Lidia masih melakukan vidio call.

"Kamu bemeran nggak tidur sama Dara kan Van? Aku beneran takut," kata Lidia di seberang sana.

Alvan tersenyum dan mengarahkan kamera ponselnya pada tempat ttdur di mana Dara yang sudah tidur dengan pulas. Gadis itu dengan tubuh terbaring ke arah kanan.

"Lihat kan? Aku tidur di sofa Sayang, dan tempat tidur cuma Dara yang tidur di sana," kata Alvan dengan lembut.

Pacarnya itu tersenyum dan mengangguk.

"Kenapa kamu nggak tidur di kamar lain aja sih Van? Kasian kanunya tidur di sofa begitu," kata Lidia.

Alvan tersenyum tipis dengan sesekali matanya menatap pada pintu yang tertutup rapat.

"Pintunya dikunci sama mama dari luar dan aku nggak punya kunci duplikatnya," kata Alvan dengan nada kurang semangat.

"Ini udah malam. Sekarang kamu tidur ya, aku juga udah ngantuk banget, Sayang. Badan aku juga capek hari ini salaman sama tamu terus," kata Alvan menunjukkan wajah lelahnya.

"Iya Van. Aku juga udah ngantuk sekarang kamu tidur aja kalau begitu. Aku tutup ya telponnya," jawab Lidia.

"Iya," kata Alvan.

Dan setelah vidio call mereka mereka mati. Alvan menarik selimut, menyamankan posisinya pada sofa yang sebenarnya tidak nyaman tapi mau bagaimana.

Tapi hanya sesaat karena selanjutnya Alvan terbangun lagi. Ia ingat jika ia belum melaksanakan sholat isya dan ini sudah larut malam.

Alvan bangun dari sofa dan berjalan menuju kamar mandi. Telat memang tapi darivpada ia tidak melakukan sholat isya lebih melalukan walau sedikit telat dan mungkin tidak bisa dibilang telat juga karena waktu untuk melakukan sholat isya masih sangatlah panjang.