JoyNovel

Leer para descubrir un mundo nuevo

Abrir APP
Cincin Bulan Persahabatan

Cincin Bulan Persahabatan

Autor:Ideabadar

Terminado

Introducción
Ihsan mencari sahabat kecilnya yang hilang, Dia ingin menepati janji di masa kecilnya, di sisi lain dia harus memilih antara cinta dan persahabatan Ihsan adalah sosok yang mati-matian mengejar janji masa kecilnya, hingga dia menyadari bahwa Mawar yang dikejarnya sejak kecil itu semua fatamorgana. Cinta sudah berubah seiring dengan waktu yang berjalan.
Abrir▼
Capítulo

Desa Gedung Dalam Baru, Lampung

1991

Pekat pagi masih menyelubung. Kembara jiwa masing-masing teriring dengan keimanannya. Kicauan burung belum ada yang terdengar, namun kokok ayam sudah terdengar mulai menggema, membelah kelamnya malam menjelang pagi. Satu, satu. Bergantian. Mega masih belum terlihat, hamparan hijau masih bersembunyi, hanya kelebatan kelelawar yang masih tersisa bertahan, mencari serangga yang menjadi santapannya sehari-hari.

Semilir angin begitu teduh menyambut hari yang baru. Seorang wanita berkulit putih bersih, berjalan agak tergesa-gesa, menyisir jalan yang masih membasah menyisakan embun yang turun, jilbab putihnya berkibar di bagian ujungnya. Matanya yang mulai terbiasa dengan gelapnya pedesaan, tidak membuat kakinya canggung lagi, apalagi seorang anak kecil menuntun jalan yang dilewatinya. Mereka memasuki belokan jalan tanggul ledeng , menyisir di sebelah kirinya dan nampak padi-padi yang siap panen, belum terlihat kuningnya pucuk padi dan hijau tuanya daun karena masih gelapnya pagi.

Sesekali langkah mereka harus menghindari katak yang melompat lewat, menyeberang jalan yang memisahkan antara ledeng dan balong. Hamparan perdu bambu masih gelap hanya terlihat rumpun yang memenuhi kaki langit utara, menutup semesta mengelilingi pinggiran balong sebelah utara. Balong adalah muara pusat berakhirnya air hujan mengendap, disana hidup bermacam-macam hewan air, bahkan menjadi pusat pemancingan desa. Katak-katak di balong masih menyisa mendendangkan syair kebanggaan mereka, mereka bersyukur, musim penghujan ini dimanfaatkan untuk melestarikan jenisnya. Hasilnya akan terlihat mulai esok hari ketika matahari telah menggantikan peran malam yang sudah terlihat kelelahan, ada telur yang disusun di uluran panjang seperti usus bening, ada yang berbentuk busa mengumpul di atas air, begitulah titah kehidupan yang harus katak jalani.

Anakan ikan gabus, Kocolan masih betah di pinggiran balong karena ketika malam mereka harus berada di pinggiran yang airnya lebih jernih dan dangkal. Santapannya yang berupa nyamuk dan serangga lembut lainnya pasti akan bertelur di pinggiran mulai dari sore hari hingga mentari muncul kembali di kaki langgit timur. Wulungan, Luwing, atau si kaki seribu merambat cepat dengan kaki-kaki lembutnya, karena tempatnya tidur tadi malam tergenang air sehingga membuatnya harus naik di potongan kayu yang terapung. Entah sampai kapan dia terapung-apung di atasnya, kecuali kayu itu terdorong gelombang air atau tertiup angin sepoi hingga menyentuh pinggiran balong.

Capung masih berteduh di balik-balik daun rerimbunan, yang kadang daun itu bergerak terkena kumpulan embun yang siap menetes ke bawah. Burung-burung masih bertengger lelap di antara reranting pohon yang menjulang, mencoba meraih langit. Semut dan rayap telah bersiap-siap menjalankan rutinitasnya kembali untuk mengumpulkan makanan, hanya menunggu kemilau sedikit sinar dari arah timur, maka mereka akan memulai titah alam untuk meneruskan kelestarian jenisnya.

“Ayo Mbak Fatimah, Ibuku wes gak kuat lagi. Sepertinya mbah Par membutuhkan bantuan Mbak lagi,” lelaki kecil itu berjalan semakin cepat.

Wanita itu hanya tersenyum sambil mempercepat langkahnya. Wanita berjilbab itu sudah sangat maklum dengan bocah kecil yang memanggilnya pagi-pagi buta ini. Ihsan Nur Ali memang sering membuat orang gemes.

Ihsan Nur Ali

Bocah berusia 6 tahun lebih dua bulan. Anaknya menggemaskan, banyak bertanya, bawel. Ayahnya bernama Ali Rahman, bekerja sebagai buruh tani karena tidak mempunyai lahan sendiri. Sosok ayah yang sangat bertanggung jawab dan sabar. Ibunya bernama Nur Aliah, ibu rumah tangga yang baik, penyayang. Selain ibu rumah tangga ibunya juga membuat dan menjual kue. Setiap hari Ihsan membantu ibunya berkeliling kampung atau ke kampung tetangga, menjual kue, apalagi baru satu bulan ini Ihsan masuk Sekolah Dasar, sehingga Ihsan membawa kue buatan ibunya ke sekolah untuk dijual ketika waktu istirahat. Adiknya yang berumur 3 tahun kini masih tidur, Fajar namanya, sering setiap kali Ihsan yang menjaga dan bermain bersamanya. Ihsan sangat menyanyangi adiknya.

Ihsan. Rambutnya hitam belah pinggir dan klimis, pipinya gembul, agak gemuk karena sering makan kue apalagi tahu bunting buatan ibunya, benar-benar tidak tahan.

“San, apakah benar ibumu bilang sudah tidak tahan lagi dan adikmu akan segera lahir?” wanita berjilbab itu sebenarnya hanya mengisi waktu sambil menguji sebatas mana kemampuan Ihsan dalam merespon sesuatu. Beberapa kali kejadian yang sama, Ihsan memanggilnya di pagi buta sebelum subuh katanya ibunya akan melahirkan, ternyata hanya gejala biasa yang dialami ibu hamil.

Seekor burung Trotok, si pengerat kayu melintas di atas kepala mereka sambil berdendang membelah pagi buta, trotok…tok…tok.

“Dibilangin kok gak percaya sih Mbak, kan Mbak sendiri yang sering ngajarin Ihsan kalau bohong itu dosa!” Ihsan cemberut sambil mempercepat laju langkah kakinya.

Siti Fatimah

Wanita berjilbab, wajahnya putih bersih. Ayahnya seorang Pengusaha dan ibunya, Ratih seorang ibu yang lembut. Dia praktek KKN di desa Gedung Dalam Baru, Lampung. Kuliah di Universitas Indonesia, Fakultas Kedokteran, semester enam. Fatimah lebih suka praktek di desa walaupun jarak Salemba dan Lampung lumayan jauh, karena selain bisa belajar sekaligus membantu masyarakat yang di tempatnya belum ada pelayanan kesehatan, dan pilihannya adalah di Lampung. Siti Fatimah, di kampus adalah seorang aktivis dakwah maka tidak salah jika selain praktek dia juga mengajar TPA di desa Gedung Dalam dan Ihsan adalah salah satu muridnya.

Fatimah praktek bersama satu rekannya; Ningsih. Fatimah pagi ini tidak mengajak Ningsih ikut karena masih tertidur, terlihat mukanya tadi sangat lelah, karena kemarin banyak pasien plus pemberian penyuluhan masalah bahaya penyakit yang disebabkan oleh nyamuk, maklum lagi musim hujan. Selain itu juga sering membantu persalinan mbah Par, seorang bidan yang usianya telah menua.

Belum sempat Fatimah meneruskan interogasinya, Ihsan sudah mulai bawelnya, “Mbak, kalau ibu mau melahirkan lagi berarti nanti Ihsan punya adik dua ya?”

“Insyaallah, Ihsan akan punya adik lagi.”

Pertanyaan itu ternyata tidak sampai disitu saja.

“Apakah nanti adikku akan keluar dari perut ibu? Soalnya waktu melahirkan Fajar aku kan masih sangat kecil, ” Ihsan berbicara sambil melangkah, hanya saja kini langkahnya agak diperlambat.

“Tentu saja.”

“Berarti Ihsan dan Fajar dulu juga keluar dari perut ibu ya mbak?”

“Tentu saja.”

“Apakah adikku nanti kalau lahir, akan sama seperti aku ketika aku lahir dulu ya mbak?”

“Tentu saja Ihsan, lihatlah rumahmu sudah kelihatan,” rumah Ihsan yang kecil dan berdinding geribik anyaman bambu yang dipotong tipis, tinggal beberapa meter lagi karena telah melewati tikungan pertigaan di pojok rumahnya.

“Waduh gawat dong Mbak?” Ihsan berhenti dan berbalik kearah Fatimah, mukanya terlihat was-was dan ketakutan.

“Gawat kenapa?” Fatimah jadi ikut panik.

“Ayo cepetan Mbak?”

“Cepetan kenapa?” Fatimah semakin bingung.

“Untung mbak Ningsih tidak ikut, dia kan paling doyan telur,” ada sedikit kelegaan di wajah Ihsan lalu dia meneruskan langkahnya, “Ayo Mbak!”

Fatimah memegang tangan Ihsan dan menariknya, “Mbak masih belum ngerti dengan maksudmu, ayo jelaskan dulu!”

“Nanti kalau sampai mbak Ningsih ikut pasti adikku akan digorengnya, makanya ayo buruan Mbak.”

“Digoreng?” wajah putih itu pias semakin bingung.

“Iya, kan mbak Ningsih paling doyan sama telur goreng, makanya adikku nanti sebelum menetas harus dijaga, jangan sampai mbak Ningsih tahu,” Ihsan menjelaskan seperti gaya profesor, dan itu yang membuat Fatimah ingin terpingkal-pingkal. namun ditahannya agar tak membuat Ihsan kehilangan gayanya.

“Kalau begitu ayo kita laksanakan tugas untuk menjaga adikmu,” kini Fatimah berjalan seiringan dengan Ihsan, “Memangnya kamu tahu dari mana kalau adikmu akan menjadi telur dulu?”

“Dari Bowo, dia itu paling pintar di kelasku Mbak. Katanya kehidupan itu dimulai dari telur lalu ketika aku bertanya, dia juga mengatakan dulu aku juga berbentuk telur sebelum aku menjadi seperti ini. Tentu saja adikku nanti juga berbentuk telur, kan Mbak tadi yang bilang kalau adikku nanti sama denganku ketika lahir, makanya kita harus menjaga telur itu sebelum menetas.”

Terlihat pak Ali di depan pintu, mengamati mereka dengan pandangan gelisah, “Assalamu’alaikum,” Ihsan dan Fatimah hampir bersamaan mengucapkan salam, sejak Fatimah dan Ningsih KKN di sini, seolah salam itu mulai menggema di setiap rumah.

“Wa’alaikumsalam, mari Mbak silakan, sepertinya istri saya akan melahirkan,” ibu jari pak Ali mengisyaratkan Fatimah untuk masuk ke rumah.

“Masuklah Mbak dan tolonglah Ibuku, aku akan menjaga keamanan di depan pintu. Siapapun yang ingin mengambil adikku akan berhadapan denganku, pahlawan super hero!” tangannya bertolak pinggang seperti gaya Superman dalam Superman Return, Fatimah hanya tersenyum, dan pak Ali semakin bingung dengan keadaan anak pertamanya yang semakin hari semakin menjadi-jadi, tapi rasa sayangnya membuatnya tersenyum bangga.

Fatimah memasuki rumah dan Ihsan sendirian berjaga-jaga di depan pintu, saat itulah adzan subuh menggema.

Alunan kerinduan telah didendangkan

Hati telah terpaut, jiwa telah membuncah

Alhamdulillah, bahagiaku menemui-Mu

Marilah kita menunaikan shalat

“Ayo pahlawanku, kita ke masjid dulu,” Ali sambil mengenakan peci mengajak anaknya yang masih menebar pandang ke segala penjuru.

“Tapi Pak? Ibu butuh keamanan,” semburat wajahnya terlihat serius.

“Tapi, kata mbak Fatimah kan sholat berjamaah bagi laki-laki wajib.”

“Tapi…, baiklah aku izin dulu sama mbak Fatimah,” Ihsan berlari masuk ke rumah dan menuju ke kamar melihat ibunya yang berbaring dan wajahnya berlumuran keringat, Fatimah dan Mbah Par berada di sampingnya.

“Mbak, tolong jaga Ibu baik-baik. Jangan biarkan mbak Ningsih mengambil adikku, aku akan shalat di masjid sebentar. Tugas ini kupercayakan pada mbak, karena aku percaya pada mbak, ok! Aku berangkat dulu, Assalamu’alaikum,” Ihsan berlari menyusul ayahnya meninggalkan ibunya yang semakin bertambah bingung, mbah Par sempat kehilangan konsentrasinya sejenak, dan Fatimah yang tersenyum menjawab salam sambil menggelengkan kepalanya beberapa kali

Kembara jiwa yang merindukan kesucian akan nafsu yang menggelayuti setiap jiwa manusia, menghangatkan kalbu yang sakit, menghangatkan kehidupan insan dari pekat gelapnya perjalanan, meneduhkan perasaan was-was, mendendangkan kesyukuran, meneduhkan kelopak mata, menguatkan indera, mencerdaskan akal. Marilah kita shalat dan menuju kemenangan.

Selesai shalat tidak seperti biasanya, Ihsan langsung berlalu untuk menuju rumah meneruskan misinya. Ayahnya hanya tersenyum. Baginya, Ihsan adalah anak yang penurut walau kadang sering nakal.