Adakalanya kita yang telah ditakdirkan sebagai manusia biasa, tentu akan melakukan kesalahan yang dapat menjerumuskan kehidupan kita kedalam jurang kesengseraan.
Hukum timbal balik tak pernah terlepas dari kehidupan kita, apa yang kita tanam, itulah yang akan kita tuai.
Seperti Luna yang telah menanam ranjau didalam kehidupannya sendiri, maka ia pula yang harus siap untuk menerima segala resiko yang akan datang menemui dirinya.
Pilihan Luna untuk masuk kedalam perusahaan itu sepertinya sangat tidak tepat, dari tempat itu ia mulai terjerat dengan sebuah kisah percintaan yang seharusnya tidak tumbuh dan berkembang.
Keputusan Luna yang pada akhirnya membuat jalan hidup yang ditempuhnya semakin rumit, dipenuhi dengan air mata yang hanya dapat ia simpan sendiri tanpa bisa berbagi dan berkeluh kesah seperti orang lain.
Ini adalah kisah hidup Luna, sebuah perjalanan pahit dari sekenario ilahi yang telah ditakdirkan untuknya.
***
Seorang gadis cantik keluar dari dalam kamar mandi, ia baru saja siap membersihkan tubuhnya yang lelah setelah seharian berkerja.
Pandangannya tertuju pada bayang diri yang dipantulkan oleh cermin rias. Ditatapnya segala lekuk dan bentuk yang terdapat dalam diri, begitu sempurna tuhan menciptakannya.
Gadis berparas cantik, dengan tubuh kecil yang sangat proporsional dengan tinggi badannya yang hanya seratus lima puluh tujuh sentimeter itu. Berbalut kulit yang berwarna putih, ciri khas wanita berdarah Mandarin.
Luna adalah gadis asli Indonesia, namun ayahnya adalah keturunan China, hal itulah yang membuat Luna semakin mempesona. Bola matanya yang indah berwarna coklat dipadukan bulu mata yang lentik selalu mampu membuat para pria melirik ke arahnya.
Wajahnya terlihat murung, segaris senyuman tipis melengkapinya. Hatinya tak begitu senang saat melihat bayangan dirinya. Luna memutuskan untuk merebahkan diri diatas tempat tidur.
Ruangan yang cukup luas, dilengkapi dengan segala fasilitas, mencoba untuk memanjakannya, namun masih tak mampu menutupi rasa kalut dan penyesalan dalam dirinya.
Triiiing
Saat mata baru saja ingin terpejam, sebuah panggilan berdering dari gawainya. Seperti biasanya, Luna bergegas untuk bangkit, ia menghela nafas saat melihat nama kontak yang menghubunginya ditengah malam seperti ini.
"Hallo?" ucap Luna lembut.
"Fakhri sedang dalam perjalanan menjemputmu, kemarilah dan bawa berkas untuk besok," ucap seorang pria dengan nada tegas dari seberang sana.
Luna hanya bisa menurut, tanpa bisa menolak, seperti itulah takdir hidupnya, ia salah masuk kedalam lingkungan kehidupan yang berliku.
Gadis cantik itu bangkit dari tempat tidurnya, ia segera berganti pakaian, kemeja berwarna putih dengan motif garis-garis dipadukan dengan rok prisket berwarna Dongker yang hanya mampu menutupi sampai lututnya.
Suara bell terdengar nyaring didepan pintu apartemennya, Luna segera membuka pintu itu. Terlihat seorang pria dengan tersenyum manis menatap ke arahnya.
"Kau baik-baik saja Luna?" tanya Fakhri yang dapat melihat raut wajah kusut dari Luna.
Gadis itu hanya mengangguk, "Apakah aku memiliki hak untuk mengatakan jika aku sedang tidak baik-baik saja?" tanya Luna.
Fakhri terdiam, ia faham jika kehidupan yang Luna jalani tidaklah mudah. Mungkin semua orang akan melihat dari sisi kehidupan yang mewahnya saja, sehingga banyak wanita yang menatap iri dan ingin menjadi seperti Luna. Tanpa mereka tau bagaimana perjuangan Luna dalam menjalani hari-hari yang kejam.
Luna menatap ke arah Fakhri dengan sebuah senyuman tipis menghiasi wajahnya.
Seperti itulah kehidupan Luna, ia harus selalu sedia kapanpun dan di manapun saat ia menerima panggilan dari bosnya. Tanpa bisa menolak dan berkata tidak, bahkan ia mengorbankan segala waktu yang ia miliki untuk pria itu.
"Sudahlah, aku hanya bercanda, ayo kita berangkat!" ucap Luna dengan berpura-pura tersenyum bahagia.
"Biar aku yang membawanya!" Fakhri merebut sebuah tas berisikan berkas-berkas kantor dari tangan Luna.
Sepanjang perjalanan Fakhri mencuri-curi pandang ke arah Luna. Ia tau apa yang sedang dilamunkan oleh gadis itu. Fakhri pun hanya bisa menghela nafas.
"Bersabarlah Luna, kau tau Revan pada dasarnya adalah pria yang baik, hanya saja..." Ia tak mampu meneruskan kalimatnya.
Luna mengangguk ia faham maksud ucapan Fakhri. "Hmm aku faham, aku tidak masalah Fakhri, hanya saja tubuhku hari ini sedikit lelah," ucap Luna dengan tersenyum tipis.
Setelah beberapa menit dalam perjalanan, akhirnya mobil itu terparkir dihalaman sebuah bangunan yang sangat megah.
"Apakah kau ingin aku mengantarmu Luna?" tanya Fakhri yang masih duduk di kursi kemudi.
"Tidak perlu Fakhri, pulanglah! Kau juga lelah kan?" ucap Luna, dan diangguki oleh Fakhri.
Luna turun dari dalam mobil itu, ia menarik nafasnya dalam, lalu menghembuskannya kembali.
Setelah dirinya tenang dan mampu menutupi rasa gugupnya. Luna membuka pintu itu dan masuk kedalamnya.
"Selamat malam nona Luna!" ucap salah seorang pembantu yang baru saja keluar dari sebuah ruangan.
"Malam bik, apakah tuan ada didalam?" tanya Luna dan dianggukki oleh pembantu itu.
"Tunggu nona!" ucap pembantu itu dan berhasil menghentikan langkah kaki Luna yang tadinya ingin langsung masuk kedalam ruangan kerja Revan.
"Hmm sepertinya tuan sedang dalam keadaan kacau, karena..." Pembantu itu tak meneruskan kalimatnya, ia menunjuk ke arah atas, dan Luna faham maksudnya.
Hubungan sepasang suami istri yang berstatus sebagai tuan dan nyonya rumah itu sudah menjadi rahasia umum yang harus dijaga baik-baik. Mereka bukanlah keluarga harmonis, dan hal itu pula yang membuat Luna selalu ada dirumah itu kala sang tuan membutuhkan sandaran.
Luna tersenyum manis, ia tak lagi menjawab ucapan pembantu itu, dan memilih untuk langsung masuk kedalam ruangan.
Ruangan itu cukup luas sebagai kategori ruang kerja, rak-rak buku dan berkas tertata rapih menghiasi dindingnya, dipadukan dengan lukisan-lukisan mahal yang semakin menambah pesonanya.
Terlihat seorang pria tengah duduk bersandar dikursi kerjanya dengan mata yang terpejam. Luna meletakkan bawaannya diatas sebuah meja, lalu mengambil sebuah jas dan berjalan ke arah pria itu.
Deg!
Sebuah genggaman berhasil menghentikan gerakannya saat menyelimuti tubuh pria itu. Tatapan tajam dari bola mata yang telah memerah membuat dirinya semakin gugup.
Tatapan yang tajam namun penuh kerapuhan, menggambarkan bahwa ia sedang tidak baik-baik saja. "Maaf, aku hanya ingin menyelimuti..." Belum siap Luna meneruskan kalimatnya, pria itu menarik tengkuknya dan dalam sekejap telah mengunci sumber suara miliknya.
Luna tak bisa menolak, ia hanya bisa menuruti segala keinginan pria itu.
Tok tok tok
Suara ketukan berhasil menghentikan adegan dewasa yang terlarang dari dua insan yang belum memiliki ikatan yang sah dimata agama dan negara.
Ruangan itu terasa hening, setelah menerima nampan dari salah seorang pembantu, Luna membawanya menuju sebuah meja, lalu kembali untuk mengunci pintu ruangan agar segala sesuatu yang tidak diinginkan tidak terjadi.
Hampir saja adegan dewasa antara dua insan itu diketahui oleh orang lain, kebodohan Luna yang tadi lupa untuk mengunci pintu pasti membuat emosi Revan meningkat. Luna dapat melihat raut wajah Revan yang semakin kusut bagaikan jeruk purut.
Luna memberanikan diri untuk mendekat ke arah pria itu. "Maaf, aku..." ucapnya terhenti karena pria itu bangkit dan berpindah tempat duduk menuju sofa.
Luna hanya bisa mengikutinya dari belakang, lalu duduk disamping pria itu. "Aku tidak sengaja Revan!" ucapnya berusaha untuk memberi penjelasan.
Revan menatap tajam ke arahnya, sebenarnya pria itu tak mempermasalahkan apa yang baru saja terjadi, namun karena perasaan dan pikirannya yang sedang kacau, ia tak bisa menghilangkan wajah kusut itu.
Sebuah ide jahat melintas dibenak Revan, ia menatap tajam ke arah Luna.
"Tidak semudah itu untuk minta maaf, bagaimana jika pembantu itu langsung masuk kedalam ruangan ini?" ucap Revan dengan raut wajah tegas yang semakin membuat Luna tertunduk.
"Aku tau, aku janji tidak akan mengulanginya lagi," ucap Luna mencoba untuk meyakinkan pria itu.
"Kau ingin aku memaafkanmu?" Revan berhasil membuat Luna yang tertunduk kini beralih menatap ke arah dirinya.
Wajahnya yang cantik dan teduh mampu membuat hati Revan menghangat. Revan mendekat ke arah Luna, ia menepis jarak diantara mereka, membuat Luna semakin tersudutkan ke arah belakang.
Jantung Luna berdebar dengan kencang, keraguan melintas dibenaknya dilengkapi dengan rasa takut jika Revan bertindak diluar batas.
"Re-van, apa yang akan kau lakukan?" ucap Luna terbata.
"Apa yang akan ku lakukan? Bukankah kau dapat menebaknya dengan tepat?" Pria itu melemparkan senyuman nakal ke arah Luna.
"Kau tidak boleh bertindak diluar batas, ingat perjanjian kita!" tegas Luna dengan gugup.
Sudut bibir Revan terangkat ke atas, "Apakah aku terlihat seperti orang yang memegang janji?" tanya pria itu dengan mengedipkan sebelah matanya ke arah Luna.
"Tapi..." jawab Luna gugup.
Hati pria itu cukup puas mengerjai gadis cantik yang berada dihadapannya, segala permasalahan yang tadinya membuat moodnya buruk berhasil terhapus dari dalam benaknya. Revan kembali ke posisi semula, dan berhenti membully Luna.
"Nih!" Revan menyodorkan nampan yang berada dihadapannya kepada Luna.
Gadis cantik itu mengerutkan dahinya, mencoba untuk memahami maksud bosnya itu.
"Katanya mau dimaafin!" ucap Revan lagi dengan melirikkan pandangan ke arah Luna namun tangannya fokus mempermainkan benda pipih yang berada digenggamannya.
Luna menghela nafas, ia meraih piring itu, dan mulai menyendok kan makanan untuk Revan.
"Aaaaa!" ucap Luna seraya mengarahkan sendok itu ke arah Revan, ia memperlihatkan senyuman terpaksa yang membuat Revan semakin senang mengerjainya.
Pria itu tak segan-segan, ia menyantap makanan itu, seraya melemparkan senyuman nakal ke arah Luna.
"Apa agenda ku besok?" tanya Revan kepada Luna.
"Besok ada meeting sama tuan Abraham, dan rapat persiapan pemegang saham," ucap Luna yang hafal dengan jadwal kegiatan Revan.
"Hmm, bangunkan aku pukul lima pagi besok!" ucap Revan.
Luna mengerutkan dahinya, "Kau yakin? Bukankah kita..." Luna tak meneruskan ucapannya, ia hanya tak faham dengan alasan Revan yang minta dibangunkan secepat itu padahal ia tak memiliki agenda penting di pagi hari.
Luna tak ingin meneruskan pertanyaannya lagi, ia faham jika Revan sedang tak ingin banyak bicara. Setelah selesai makan malam Revan masuk kedalam sebuah ruangan tersembunyi yang ada didalam ruang kerjanya. Ruangan itu sengaja didesain khusus menjadi tempat istirahatnya jika sedang tak ingin kembali kedalam kamar.
Luna membawa nampan itu ke arah dapur, meninggalkan Revan seorang diri. Langkahnya terhenti saat melihat seorang wanita dengan pakaian tidur sedang duduk dimeja makan.
"Kau disini?" ucap wanita itu dengan menatap sinis ke arah Luna.
"Iya nyonya, ada berkas penting yang harus segera diselesaikan," ucap Luna dengan percaya diri, ia sudah terbiasa menghadapi wanita itu namun tetap saja rasa was-was selalu menyelimuti dirinya.
"Huhhhhh, aku tak mengerti apa yang membuatnya begitu rajin, hingga tak memperdulikan istrinya, terlebih berduaan dengan wanita lain didalam sebuah ruangan, entah pekerjaan apa yang akan dilakukan," ucap Meyda Anjani, istri Revandirgantara. Wanita itu berbicara dengan penegasan-penegasan yang menyudutkan Luna.
Ruangan yang hangat dan hening berubah menjadi dingin menusuk diantara kesepian. Bagaikan tumpukan panah tumpul yang terarah menyerang tubuhnya, sakit tapi tak berdarah.
Luna tetap berusaha untuk bersikap tenang, ia tersenyum tipis ke arah wanita itu. "Tuan sedang berusaha untuk menyelesaikan segala masalah diperusahaan nyonya, aku akan memintanya untuk segera menemuimu setelah ia selesai dengan pekerjaannya," jawab Luna.
"Cekh, tak perlu! Memangnya kau siapa? Dasar wanita tak sadar diri." Meyde berkata kasar terhadap Luna lalu beranjak pergi begitu saja.
Luna hanya bisa menghela nafas, ini bukanlah kali pertama ia menghadapi hal itu. Bahkan itu sudah menjadi makanannya sehari-hari.
Gadis cantik itu pun kembali ke tempatnya, ia mengunci pintu ruang kerja itu, laku menyusul masuk kedalam ruangan tersembunyi.
"Kau belum tidur Rev?" tanya Luna pada seorang pria yang tengah duduk disebuah sofa kecil.
Revan menggelengkan kepalanya, namun pandangannya tetap fokus menatap sebuah buku tebal yang berbicara tentang teori bisnis.
Luna menghela nafas, ia memutuskan untuk duduk disamping pria itu. "Rev, bagaimana jika kau kembali ke kamarmu?" ucap Luna dengan ragu, membuat Revan menatap tajam ke arahnya.
"Kau bertemu Meyda?" tanya Revan dan diangguki Luna.
Revan menghela nafasnya, "Tugasmu disini adalah untuk menemaniku, bukan mencampuri urusanku dengannya," tegas Revan yang langsung bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke arah sebuah ranjang.
Luna memejamkan matanya, kata-kata pedas dari mulut Revan dan Meyda memang telah jadi makanan sehari-harinya, namun tetap saja hal itu masih mampu membuat hatinya sakit.
Tanpa terasa air mata mengalir dari sudut-sudut mata Luna, ia tak lagi mampu membendungnya.
"Aku tau, aku hanyalah seorang wanita pengganti, yang harus selalu ada disaat kau membutuhkan teman, menghiburmu, menghapus segala rasa sakitmu, namun bisakah kau sedikit menghargai ku?" batin Luna menjeritkan segala keluh kesahnya.
Revan yang telah berbaring diatas ranjang itu pun merasa bersalah, ia tau jika Luna sedang tidak baik-baik saja, namun lagi-lagi ia lebih mengedepankan egonya.
"Tidurlah! Besok kau harus bangun pagi untuk membangunkanku," tegas Revan dengan mata terpejam.
Luna menyeka air matanya, ia menarik nafas dalam, lalu melangkahkan kaki ke arah salah satu ranjang yang berada diseberang ranjang Revan.
Kamar itu memang memiliki dua ranjang, satu milik Revan dan satunya lagi adalah milik Luna.
Walaupun Luna berstatus sebagai wanita pengganti, yang bertugas untuk menemani Revan, namun ia tak pernah mau tidur seranjang dengan pria itu, dan tak pernah menyerahkan kesuciannya untuk Revan.
