JoyNovel

Leer para descubrir un mundo nuevo

Abrir APP
Untouchable Heart

Untouchable Heart

Autor:Dyah Lucky F

Terminado

Introducción
Satu kesalahan yang dilakukan Rinjani pada suatu malam, membawanya pada sebuah penyesalan besar. Hidupnya hancur ketika ia dihadapkan pada kenyataan bahwa dirahimnya telah tumbuh benih dari hubungannya bersama Adrian, sang kekasih. Belum cukup dengan kenyataan tersebut, Rinjani dihadapkan pada kenyataan bahwa Adrian menolak untuk mengakui bayi yang ada di rahim Rinjani dan memilih untuk pergi. Meninggalkan Rinjani yang hancur seorang diri. Sejak dulu, Rinjani adalah cinta pertama Randu. Perasaannya masih bertahan sekalipun Rinjani telah menjalin hubungan dengan Adrian. Ketika mengetahui Rinjani telah ditinggalkan oleh Adrian dalam kondisi yang tidak baik-baik saja, Randu memutuskan untuk menemui gadis itu, mengulurkan tangannya dan menggenggamnya erat. Lalu apa yang akan dipilih Rinjani selanjutnya? Yuk ikuti kisah mereka di sini :)
Abrir▼
Capítulo

Hari sudah siang, namun kamar dengan design minimalis tersebut masih gelap karena tirai dan jendelanya tidak dibuka sehingga cahaya mentari tidak bisa menerobos masuk.

Rinjani--penghuni kamar tersebut--memeluk lututnya sambil terus menangis di pojokan kamar. Entah sudah berapa lama ia menangis, mungkin sudah lebih dari dua jam, tapi air matanya terus saja mengalir seakan tak pernah habis. Bahkan kepalanya sudah terasa sakit dan hidungnya tersumbat.

Ia takut. Takut menghadapi kenyataan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Kenyataan pahit yang ia dapatkan dan sialnya harus ia hadapi setelah kebodohan yang ia lakukan bersama Adrian—sang kekasih pada suatu malam.

Tangannya menggenggam erat benda pipih berwarna putih, dengan dua garis merah tercetak di atasnya. Mata sembab Rinjani kembali menatap benda pipih tersebut, membuat dadanya kembali bertalu hebat.

"Adrian," gumamnya lirih.

Dering ponsel yang nyaring mengagetkan Rinjani yang masih menatap testpack di tangannya. Tubuhnya sedikit terlonjak hingga tanpa sadar mengeratkan genggamannya pada benda pipih di tangannya. Buru-buru ia menghapus air matanya, lalu mengambil ponsel yang tadi ia letakkan di atas kasur dan mendapati nama kekasihnya di layar panggilan.

"Jani, kamu kemana aja, Sayang? Aku dari tadi kirim chat kamu nggak bales," suara Adrian di seberang sana terdengar khawatir.

Rinjani menarik napas perlahan sebelum menjawab pertanyaan Adrian. Entah kenapa, mendengar pertanyaan dengan nada khawatir tersebut membuat Rinjani merasa sedikit lebih tenang. Sedikit. "Aku di rumah, Dri. Maaf tadi nggak pegang hp," jawabnya sebisa mungkin tanpa terdengar seperti orang yang baru saja menangis berjam-jam.

Tapi usahanya tentu saja gagal, karena di seberang sana Adrian mengernyitkan dahinya mendengar suara sang kekasih yang terdengar lemah dan sengau. "Kamu nangis, Jan? Hey, are you oke?" tanya lelaki itu dengan nada khawatir.

Mendengar pertanyaan tersebut membuat tangis Rinjani kembali pecah tanpa bisa menjawab pertanyaan Adrian.

"Aku ke rumah kamu sekarang," tanpa menunggu jawaban dari Rinjani, Adrian memutuskan panggilannya. Setengah jam kemudian lelaki itu sudah berada di depan rumah Rinjani, mengetuk pintu dengan tidak sabaran.

"Hei," Rinjani yang memang sudah menunggunya, menyambutnya di teras rumah, berusaha tersenyum meskipun wajahnya terlihat sangat menyedihkan. "Yuk masuk," ia menarik tangan Adrian dan membawanya duduk di ruang tengah. Siang itu tidak ada siapa-siapa di rumah selain Rinjani. Ayah dan ibunya tentu saja sedang bekerja di kantor masing-masing. Adiknya pun sudah berangkat kuliah sejak pagi tadi.

"Kamu kenapa, Sayang?" Kedua tangan Adrian menangkup wajah Rinjani agar gadis itu menatapnya. "Dari tadi aku chat kamu, tapi kamu nggak balas. Kamu bahkan nggak baca pesanku."

Rinjani menghembuskan napas pelan, mengatur debar jantungnya yang masih bertalu kuat. Saat merasa mulai tenang, ia menatap Adrian tepat di manik matanya. "Kamu jadi berangkat minggu depan?"

"Jadi," jawab Adrian dengan bingung. "Kamu nangis gini bukan karena aku mau berangkat minggu depan, kan?" Tanyanya meyakinkan. Rasanya tidak mungkin kalau Rinjani menangisinya sampai begini hanya karena ia akan berangkat ke Polandia untuk melanjutkan S2-nya. Karena seingatnya, Rinjani justru sangat mendukungnya untuk hal tersebut.

"Kalau aku minta kamu untuk batalin beasiswa itu, kamu mau?"

Mata Adrian membulat mendengar pertanyaan tersebut. "Kamu gila ya? Nggak mungkin lah aku batalin beasiswa itu. Kamu tahu sendiri perjuanganku gimana untuk bisa dapetin itu," ujar Adrian mulai emosi. "Lagi pula, selama ini kamu yang selalu mendukung dan menyemangatiku. Bahkan kamu selalu membantuku mempersiapkan segala kebutuhanku selama mengurus beasiswa ini. Kamu mau aku menyia-nyiakan kesempatan ini?"

Rinjani hanya menggeleng pelan. Ia menggigit bibir bawahnya dengan kuat, menahan tangisnya yang nyatanya tidak juga bisa ditahan dan akhirnya kembali pecah.

Rinjani tentu saja tidak mau dan tidak akan menghalangi Adrian untuk melanjutkan sekolahnya. Apalagi beasiswa tersebut adalah impian Adrian sejak mereka masih kuliah S1. Tapi jika membiarkan Adrian pergi, bagaimana dengan nasibnya? Bagaimana dengan janin yang kini ada di perutnya? Janin yang baru ia tahu kehadirannya pagi tadi. Rinjani tahu kalau Adrian menyayanginya. Tapi apakah Adrian mau bertanggung jawab atas janin di perutnya?

"Jan..." Adrian yang tidak mengerti kenapa Rinjani seperti ini hanya menghela napas pelan. Ia menarik gadis itu ke dalam pelukannya, mencoba menenangkan sang kekasih. "Kamu kenapa sebenarnya, Rinjani?" tanyanya pelan. Hubungan mereka baik-baik saja, seingatnya. Memang akhir-akhir ini mereka jarang bertemu karena Adrian yang sibuk mengurus keberangkatannya ke Polandia, dan Rinjani juga sibuk dengan pekerjaannya sebagai freelance digital designer. Meskipun begitu mereka masih rutin memberi kabar setiap harinya.

Lalu kenapa tiba-tiba Rinjani seperti ini? Adrian tidak tahu. Sejak pagi tadi ia tidak mendapat kabar dari gadis itu, bahkan pesan-pesannya pun diabaikan hingga membuat lelaki itu khawatir. Dan ketika akhirnya ia sampai di hadapan Rinjani, yang ia lihat adalah wajah berantakan yang tidak pernah Adrian lihat sama sekali sejak mereka pacaran bertahun-tahun lalu.

"Jan?" panggil Adrian lagi dengan pelan. Tangannya mengusap lembut rambut Rinjani yang masih sesenggukan, mencoba untuk menenangkan. "Tell me something, please?"

Rinjani masih enggan menjawab. Ia hanya mengeratkan pelukannya pada tubuh hangat Adrian.

"Kamu sakit?" masih belum menyerah, Adrian kembali bertanya. Rasanya baru kali ini ia melihat Rinjani seperti ini, hancur dan tanpa harapan. Tapi kenapa? tanyanya pada diri sendiri dalam hati. "Ada masalah sama kerjaan? Atau sama orang rumah?"

Di pelukannya, Rinjani hanya menggeleng lemah. Gadis itu merenggangkan pelukannya agar bisa menatap wajah sang kekasih. "Adrian," gumamnya pelan.

"Hm?"

"Boleh aku minta sesuatu?"

"Apa?"

Rinjani menatap lekat manik mata kekasihnya. "Jangan pergi. Jangan tinggalin aku."

Adrian berusaha mencerna kalimat yang diucapkan Rinjani. Yang bisa ia pahami adalah, Rinjani tidak ingin ia pergi untuk melanjutkan beasiswanya. "Kamu mau aku batalin beasiswaku?"

Rinjani mengangguk. Sebulir air mata kembali mengalir di pipinya.

"Jan, aku nggak lupa ya kalau dari awal aku mempersiapkan diri untuk beasiswa ini, kamu yang selalu jadi orang nomor satu yang mendukung dan membantu segala kebutuhanku. Kamu yang selalu meyakinkan aku kalau aku bisa dapetin ini. Kenapa sekarang malah minta aku batalkan?" jemari Adrian menyentuh pipi putih Rinjani, menghapus sisa air mata yang membasahinya lalu kembali menarik gadis itu ke dalam pelukannya. "Aku nggak akan menuruti permintaan konyol kamu apapun alasannya. Kamu tahu itu kan, Jan."

Di pelukannya, Rinjani mengangguk samar. Perempuan itu ingin mengatakan sesuatu tapi tidak tahu apa yang harus ia katakan. Mendengar kalimat terakhir Adrian tadi, membuat hatinya ngilu.

Apakah lebih baik kalau dirinya tidak memberi tahu Adrian perihal kehamilannya? Tapi janin yang ada di rahimnya kan juga anak Adrian. Hasil dari perbuatan bodoh mereka. Tapi bagaimana jika Adrian tidak menerimanya?

Berbagai pertanyaan tersebut kemudian menuntun mulut Rinjani untuk mengatakan yang sebenarnya. "Aku hamil, Adrian."