PRANGG!!!!
PYARRRR!!!!
Piring, gelas, dan berbagai bendang-benda yang ada di ruang tamu saat ini sudah hancur lembur. Semua barang itu terlempar kesana dan kemari.
“Ini semua gara-gara kamu!!!” teriak wanita paruh baya dengan wajah yang merah padam.
Gadis kecil dengan wajah yang penuh dengan derai air mata itu hanya dapat menahan isak tangisnya agar tidak semakin membuat marah wanita paruh baya ini. Ia sekuat tenaga menahan isak tangisnya agar tidak semakin membuat suasana semakin runyam.
Baju yang sudah berlumuran darah, tangan yang kotor, lutut yang tergores, rambut yang sudah acak-acakan, dan mata yang sudah sangat sebab. Sungguh, sangat iba sekali nasib dari gadis kecil ini.
Sedangkan wanita paruh baya itu masih saja mengamuk. Semua barang yang berada di dekatnya saat ini ia lempar kesana-kemari tak tentu arah. Seolah saat ini ia sedang meluapkan emosinya itu melalui barang yang ada di dekatnya.
Entah itu adalah barang yang bagus ataupun entah itu adalah barang yang sudah kusut sekalipn, ia sama sekali tidak peduli.
Penampilannya pun tak jauh beda dari gadis kecil tersebut, rambut yang acak-acakan, mata yang sembab karena menangis terus-menerus, dan wajah yang merah padam menahan amarahnya.
Wanita paruh baya ini tau, ia sangat tau sekali. Jika gadis kecil yang ada di hadapannya saat ini adalah putrinya. Putri cantiknya yang kedua. Akan tetapi, putrinya ini juga telah membuat runtuh dan hancur dunianya saat ini juga.
Gadis kecil yang berstatus sebagai putrinya ini adalah orang yang telah membuat nyawa Ayahnya meninggal. Camkan itu, MENINGGAL!
Entah sudah berapa kali wanita paruh baya ini membanting dan melempar semua benda, hingga jatuh berserakan seperti ini. Semua pecahan kaca yang justru bisa saja membuat orang lain celaka jika menginjaknya. Namun, ia sekarang tidak memperdulikan hal itu. Yang ada di dalam pikirannya sekarang adalah ia masih tidak yakin jika Ayahnya meninggal begitu saja karena gadis kecil ini.
Suaminya yang berusaha mati-matian untuk menahan wanita ini agar tidak kembali membanting dan melempar barang itu pun, sepertinya hanya sia-sia saja. Semua usaha orang yang ada di sini yang ikut menahan wanita paruh baya ini agar tidak lepas kembali, sepertinya percuma saja.
Entah menapa, tenaganya kali ini begitu kuat sekali. Seperti seolah orang yang sangat dilandungi kabut amarah yang mendalam dan tidak tertahankan lagi.
“Hiks … Mah, hiks. Bukan Lisa yang udah bikin Kakek meninggal, Mah. Hiks …”
Semua orang yang ada di rumah ini dan berada di ruang tamu ini. Seolah tidak mendengar ucapan dari gadis ini. Papanya yang sangat ia sayangi pun hanya bisa menatapnya dari kejauhan sembari meringis pelan. Sedangkan Kakaknya, justru malah Kakaknya itu seperti Mamanya. Kakaknya menatap gadis kecil ini dengan tatapan sinis yang sulit sekali untuk diartikan.
“KAMU PELAKUNYA! KAMU YANG UDAH BIKIN---”
Belum sempat wanita paruh baya itu melanjutkan ucapannya. Namun, justru malah matanya terpejam begitu saja.
Ia pingsan! Ya, ia tak sadarkan diri saat ini.
Suami, anak gadis pertamanya, dan anak kecil yang terlihat sangat memperihatinkan itu sama-sama berteriak, “MAHHH!!!”
Semuanya yang ada di sini panik. Mereka semua tidak mengira jika pada akhirnya wanita paruh baya ini akan terjatuh pingsan dan tak sadarkan diri.
Sontak saja lelaki yang berstatus sebagai suaminya itu pun segera membopongnya menuju ke lantai atas, yaitu menuju ke kamarnya.
Gadis kecil yang melihat Mamanya pingsan itu pun tak kalah sedihnya. Air mata yang turun dari pelupuk matanya itu semakin deras jatuhnya. Ia tak menyangka jika Mamanya yang akan melayangkan ucapan kasar dan membentak dirinya lagi itu malah jatuh pingsan tak sadarkan diri.
Ia sangat khawatir dengan keadaan Mamanya saat ini.
Sang Kakaknya dengan wajah yang merah padam itu langsung menghampiri gadis kecil itu. Derai air matanya pun sama, sedari tadi masih menets secara terus menerus.
“Lo!” ucap gadis dengan umur yang terpaut agak tua dari gadis kecil itu sembari menunjuk ke arah gadis kecil ini.
“K-kak, ini b-bukan s-salah a-ad-adek kan, hiks … hiks …”
Dengan wajah yang merah padam dan dengan tangan yang terkepal itu ia berkata, “INI SALAH LO! INI SEMUA SALAH LO! ANDAIKAN TADI LO NGGAK TELEDOR!! KAKEK PASTI NGGAK TERKAPAR DAN MENINGGAL!! INI SEMUA SALAH LO!!”
Gadis kecil ini yang dibentak oleh Kakaknya pun hanya bisa menerimanya. Sejujurnya, ada perasaan terkejut sekaligus perasaan takut saat suara bentakan itu tepat di depan wajahnya. Akan tetapi, ia tak memiliki tenaga untuk melawan bentakan dari Kakaknya ini. Ia tak berani untuk sekedar membalas membentak Kakaknya yang sangat ia sayangi.
“T-tapi, K-kak aku ng-nggak salah … hiks …”
Gadis kecil ini yang melihat Kakaknya terdiam sebari menatap tajam ke arahnya itu semakin membuatnya bertambah takut. Ia pun akhirnya memberanikan diri untuk meraih tangan Kakaknya ini.
Namun, saat tangannya itu akan menyentuh tangan dari Kakaknya. Tiba-tiba saja Kakaknya itu menepis tangannya.
Segitu tidak inginkah Kakaknya itu kepada dirinya?
Segitu dipandang buruk kah dia saat ini?
Ia sekarang tak tau harus apa. Ia bingung.
Ia hanya gadis kecil yang tak berdaya, ia tak tau jika semuanya akan berakhir seperti ini, dan ia juga tidak menyangka jika hari ini akan ada kejadian seperti ini dalam hidupnya.
Andaikan tadi ia tidak bermain di pinggir jalan, andaikan saja tadi ia tidak berlarian ke jalanan, andaikan saja tadi mainannya itu tidak jatuh di jalanan, dan andaikan saja tadi tidak ada mobil yang melaju dengan kecepatan yang tinggi. Mungkin, ini semua tidak akan pernah terjadi hari ini.
Apakah benar?
Apakah benar yang dikatakan oleh Mamanya tadi?
Apakah benar jika memang dia adalah penyebab dari meninggalnya Kakeknya?
Tolong, siapapun itu beritahu kepadanya jika ini semua hanya mimpi! Ini semua hanya kenyataan saja!
PLAK!
Tamparan keras itu mengenai pipi mulusnya. Pelaku dari tangan yang menamparnya ini adalah seseorang yang berada di hadapannya, yaitu Kakaknya.
Lihatlah, jika tadi Mamanya yang memakinya dan memarahinya habis-habisa. Sekarang ia harus menerima tamparan keras yang sangat pedih ini di pipinya.
Apakah memang Kakak dan Mamanya sudah tidak memiliki rasa iba kepada dirinya?
Mengapa Kakak dan Mamanya sangat menyalahkan dirinya?
Apakah nantinya semua orang juga akan menyalahkan dirinya?
Ia memegang pipinya yang terasa sakit ini dengan kedua tangan mungilnya yang sedikit terluka tadi. Luka-luka yang ada di tubuhnya yang belum diobati sama sekali.
“LO, PEMBUNUH!”
