Adera Accelyne Cara, gadis yang biasa dipanggil Dera atau Ace. Dera adalah wanita cantik yang merupakan putri tunggal dari pasangan Afandi dan Syla. Dera terlahir dari keluarga yang serba ada namun, ia tidak pernah menyombongkan apa yang ia punya. Adera bisa dibilang sebagai anak emas dari sejak masih sekolah dasar, karena prestasinya sudah terlihat sejak sekolah dasar, ia selalu mempertahankan prestasinya sampai ia mengembuskan napasnya nanti.
Adera tidak pernah mengeluh dan menyerah. Padahal hanya ia, Tuhan, dan keluarganya saja yang mengetahui tentang apa yang ia rasakan. Teman-temannya selalu menyangka bahwa Dera adalah gadis yang kuat dan tidak pernah mengeluh. Padahal jika di belakang mereka semua, sakit yang diderita Dera itu tidaklah ringan.
Dera selalu memakai topeng kebahagiaannya ke mana pun ia pergi, karena ia harus selalu terlihat bahagia oleh orang lain, walaupun dirinya yang sesungguhnya sedang terluka. Dera hanya tidak mau menampilkan kesedihan dan lukanya pada khayalak ramai.
Tahun ini, Dera sang wanita yang cerdas berambut panjang resmi naik ke kelas XI IPA 1 yang kini ditemani oleh Risa, teman kecilnya sejak sekolah dasar. Dera dan Risa mulai melangkah ke ruangan kelas baru mereka. Dera memilih tempat duduk paling depan agar mudah memahami apa yang disampaikan oleh guru, tak lupa ia mengajak Risa untuk duduk bersama di sampingnya.
Dera adalah salah satu wanita yang dikagumi fisikanya oleh para guru dan juga teman-temannya di sekolah. Sejak sekah dasar, Dera sangat senang dengan pelajaran berhitung. Dera juga sempat menjabat sebagai wakil ketua OSIS saat kelas 10. Ia terpilih karena sikap berani yang ia miliki sejak sekolah dasar. Dera memang selalu tampil ceria. Namun siapa sangka, ada suatu hal yang tidak diketahui teman-temannya. Dera ternyata menderita kanker leukemia stadium 3 dan kanker kelenjar di kepalanya yang berhasil merenggut kebahagiaan masa remajanya.
"Ra, ketua kelas lagi aja, Ra!" pinta Risa saat mereka sudah di dalam kelas.
"Gak mau. Kasih kesempatan yang lain, dong! Jangan gue mulu," tolak Dera karena ia merasa bosan setelah 5 tahun ini selalu terpilih menjadi ketua kelas.
"Kalau bukan lo, siapa lagi?" ucap Risa mencoba meyakinkan Dera, pikirnya karena hanya Dera-lah yang kiranya bisa adil dalam organisasi.
15 menit kemudian, datang seorang wanita separuh baya dengan senyum manisnya."Assalamualaikum ... selamat pagi, Anak-anak."
“Waalaikumsalam, Bu," jawab semua murid di kelas itu dengan serentak.
"Subhanallah, Dera ... ganteng banget itu cowok yang di samping bu Mitha, kalau kayak gini caranya gue semakin semangat buat sekolah," ujar Risa dengan semangatnya yang histeris melihat pria di samping bu Mitra itu.
"Berisik lo!" sentak Dera memperingati.
"Tapi benar kata Risa. Cowok itu ganteng ... manis pakai banget," batin Dera.
"Baiklah, Anak-anakku, ibu tidak akan kenalan dengan kalian semua. Karena kalian sudah tentu tahu, ‘kan? Nah, ibu akan kenalkan murid baru di sini. Kalian memang sudah saling kenal di kelas ini sejak kelas sepuluh, tetapi kalian harus menerima teman baru di sini, ya," ujar bu Mitha. "Silakan, Nak," tambah bu Mitha.
"Halo! Nama gue Daveno Raditya Danendra, kalian bisa pangggil gue Dave. Gue pindahan dari SMA Taruna, Bandung. Gue pindah ke SMA Garuda ini karena ayah gue pindah tugas dan gue harus ikut pindah sekolah. Itu saja kenalan singkat dari gue, kalau mau tau lebih lengkap bisa ngobrol saat istirahat ya. Oh iya, jangan lihat-lihat! Nanti baper sendiri gue gak tanggung jawab ya, yasudah itu saja. Terima kasih," ucap panjang laki-laki itu.
"Pede banget hm," batin Dera.
"Yasudah, Dave. Kamu boleh duduk di sebelah Ryan, di belakang Dera lebih tepatnya," ujar bu Mitha sambil menunjuk ke arah Dera.
"Baiklah, ketua kelas tolong pimpin do'a!" pinta bu Mitha
"Belum ada yang mau, Bu. Dera yang biasa jadi ketua kelas dia nggak mau mencalonkan lagi, Bu," sahut Risa.
"Dera, mau tidak jadi ketua kelas lagi?" tanya bu Mitha.
“Yasudah bu, saya mau,” ucap Dera dengan terpaksa. Bayangkan saja! 5 tahun berturut-turut Dera terus menjadi ketua kelas.
Tak lama, bu Mitha menulis nama Dera di Papan tulis, dan menanyakan siapa yang minat menjadi wakil yang akan membantu Dera. Beberapa detik setelah bu Mitha melontarkan pertanyaan, ada seorang pria yang mengangkat tangannya dengan isyarat ia minat menjadi wakilnya Dera. Dia adalah Dave.
"Yang lain setuju tidak jika Dera dan Dave yang akan memimpin kelas ini?"
"Setuju, Bu," ucap serentak murid kelas 11 IPA 1 itu menyetujukan kedua orang itu. Mereka percaya, bahwa Dera dan Dave bisa memimpin dengan baik. Dera juga sudah berpengalaman memimpin organisasi, dari mulai ketua ekstrakulikuler paduan suara, ketua Rohani Islam
Rohis
dan wakil ketua OSIS.
Dera terlihat belum begitu akrab dengan kaum adam yang satu itu, bahkan Dera terlihat sedikit canggung dengan Dave, karena baru kali ini ada laki-laki yang sedikit dingin terhadapnya. Biasanya, setiap laki-laki yang dekat dengan Dera, akan cepat akrab. Namun, dari kejauhan, terlihat Dave seolah memperhatikan Dera. Entah itu ada hal yang ingin ia sampaikan atau ada rasa yang ia pendam untuknya.
Bel istirahat berbunyi, tetapi Dera masih berkutat dengan tugas fisikanya. Tidak ada kata bosan dalam diri Adera untuk mengasah kemampuannya setiap hari. Karena baginya, ilmu tidak ada yang akan sia-sia jika dilakukan dengan sungguh-sungguh dan diamalkan kepada orang banyak.
Dave menggigit bibir bawahnya ketika hendak menghampiri Dera, ia takut Dera tidak menerima kehadirannya. Namun, Dave berpikir bahwa Dera itu cewek yang beda. Tidak alay, tidak seperti cewek-cewek lain yang sering membuntuti Dave di sekolah lamanya.
"Hai, Ra," sapa Dave terhadap Dera yang masih sibuk dengan tugasnya.
"Eh, Dave," ucap ramah. "Gimana di sekolah baru? Nyaman gak?" lanjut Dera.
"Nyaman kok, Ra." Dave tersenyum. “Apa lagi ada lo,” lanjutnya dalam hati.
"Oh, syukur deh."
