JoyNovel

Leer para descubrir un mundo nuevo

Abrir APP
Mendadak Cinta

Mendadak Cinta

Autor:Anna SeciL

Terminado

Introducción
Herdi Braja Prastio, seorang CEO yang terkenal arogan dan tegas serta sangat rapih dan apik. Sehingga semua karyawannya selalu manut apa yang dia katakan. Kesalahan kecil bisa membuat karyawan itu dipecat begitu saja. Tetapi sampai umur beranjak tiga puluh, Herdi tidak juga memiliki pasangan karena dia selalu sibuk dengan karirnya. Berbeda dengan Liona Dewinta, wanita ceroboh yang selalu saja salah. Dia baru saja dipecat dari perusahaan yang lama dan akan melamar di perusahaan tempat Hardi, karena sedang ada lowongan. Keduanya bertemu karena situasi genting Herdi. Saat orang tuanya datang dari luar negeri dan menuntut Herdin untuk segera menikah. Herdi tanpa sadar memilih Liona sebagai calon istrinya di depan orang tuanya. Liona yang tak bisa berpikir cepat mengiyakan semua permintaan Herdi. Apa mereka nantinya akan jatuh cinta?
Abrir▼
Capítulo

Hari ini Herdi harus menyiapkan rapat penting tentang cabang perusahaan yang akan dibangun. Lima belas menit lagi rapat akan segera dimulai karena Para investor sudah menunggu Herdi di ruang rapat. Tetapi sesuatu yang buruk terjadi ternyata sekretarisnya terlambat dia masih ada di jalan karena tadi pagi harus mengantarkan anaknya yang sakit.

Hardi lalu memasuki ruang dapat terlebih dahulu untuk membuka rapat terlebih dahulu sampai sekretarisnya datang membawa semua dokumennya.

"Pagi semua, Bapak Ibu yang hormati terima kasih telah hadir di rapat pembentukan cabang kita yang baru. Maaf atas keterlambatan sekretaris saya yang sedang ada halangan sedikit, jadi saya akan menjelaskan kisi-kisi yang sudah saya pelajari kemarin."

Herdi terus menjelaskan komponen-komponen tentang perusahaan yang baru. Dari keuntungan sampai kerugian dari segi keseluruhan proposal. Tak lama kemudian sekretarisnya, Dini datang.

"Maaf Pak saya terlambat."

"Iya, ya sudah cepat kita harus mulai presentasi."

Herdi lalu melanjutkan presentasinya dari awal hingga akhir para investor tertegun dengan pemikiran Herdi. Dia sangat cekatan dan bisa mengambil peluang-peluang yang tidak bisa dibayangkan oleh para investor.

Akhirnya para investor pun setuju dengan pembangunan cabang yang baru. Herdi berhasil memenangkan proyek dari rival bisnisnya karena pemikiran Herdi lebih luas dan lebih menguntungkan para investor.

Herdi adalah CEO perusahaan yang bergerak di bidang properti. Maka dari itu dia tidak mau ada kesalahan sedikitpun dan mengecewakan para investornya.

Setelah rapat, Herdi menyuruh Leon asisten pribadinya untuk memanggil Dini sekretarisnya itu ke ruangannya.

Tok tok tok …

"Masuk!"

Dini lalu membuka pintu dan menutupnya kembali Dia berjalan ke arah Herdi yang sedang duduk menatapnya. Didi lalu berdiri di depan meja Herdi memegang kedua tangannya gugup.

"Maaf Pak, ada apa ya?"

"Ini gaji kamu bulan ini dan ini pesangon. Silahkan keluar dari kantor saya!"

Herdi melempar dua amplop yang berisikan uang.

"Pak, Maaf Pak, saya mohon, saya minta maaf. Tadi pagi anak saya tiba-tiba sakit dan orang tua saya tak bisa mengantarnya. Jadi saya terpaksa untuk mengantarnya."

"Keluar dari ruangan saya!"

"Tapi Pak… "

"Saya bilang keluar!"

Dini lalu dengan tampang yang sangat kesal keluar dari ruangan Herdi dan dia mengambil tasnya di meja dan langsung pergi begitu saja.

Leon yang melihat bosnya memecat Dini, dia langsung menanyakan alasannya.

"Maaf Pak, Dini itu sebenarnya sangat cekatan, dia selalu membereskan semua urusan tepat waktu. Tapi dia memang akhir-akhir ini sering telat karena anaknya sedang sakit.

"Kamu mau membelanya, kamu mau saya pecat juga!"

"Baik Pak, saya diam."

Herdi sedikit memijat keningnya dia tampak sangat pusing. Tetapi dia kesal dengan Dini yang tidak mau jujur dengan apa yang terjadi.

Pasalnya semalam Herdi melihat Dini bersama dengan Zaki karyawannya di bagian marketing, terlihat sedang di Hotel tempat Herdi bertemu dengan orang tuanya.

Maka dari itu Herdi tidak percaya, Dini tadi pagi pergi untuk berobat.

"Oh ya, kamu tolong carikan pengganti Dini secepatnya. Saya tidak mau tahu!"

"Baik Pak."

Leon lalu keluar dari ruangan Herdi. Dia bingung dengan sikap bosnya itu. Selera bosnya soal karyawan memang harus perfect. Dia tak ingin orang yang ceroboh. Bisa-bisa orang itu dilempar berkas setiap hari.

Sementara Herdi bukan memikirkan tentang pekerjaannya yang repot jika tak memakai jasa sekretaris. Melainkan permintaan papanya yang meminta dia harus memperkenalkan calon istrinya nanti malam.

Leon pergi ke resepsionis meminta lamaran yang masuk.

"Chika, ada lamaran yang masuk gak?"

"Si Bos memecat sekretaris yang lagi ya?"

"Ya biasa, kan lu tahu lah dia pakai gak bisa kalau sekretarisnya itu lambat-lambat. Padahal proyeknya berhasil."

"Entah, itu nanti bininya kayak gimana ya kalau apa-apa lelet!"

"Hush, jangan ngomongin orang udah sini mana lamarannya!"

"Sebenarnya udah nggak ada lamaran, soalnya perusahaan kita sudah terkenal kalau si Bos itu galak banget dan salah sedikit dipecat. Ya makanya mereka mempertaruhkan karir di sini itu antara hidup dan mati, jadi kalau mereka masuk di sini berarti orang terpaksa kayak gue!"

"Aduh, gua harus cari kemana lagi ya. Bos minta cepat lagi!"

Tiba-tiba datang seorang wanita lumayan cantik berpakaian hitam putih, tinggi, jalan tertatih dengan heels yang agak kebesaran. Lalu masuk ke dalam kantor dan ingin menaruh lamaran di resepsionis.

"Permisi saya ingin taruh lamaran, Kak."

"Oh iya… "

"Sini lamarannya langsung saya periksa sekarang juga, karena kami sedang membutuhkan staff di bagian sekretaris."

"Iyaa pak. Makasih. Kebetulan saya memang jurusan Administrasi Perkantoran, ini lamaran saya."

Saat wanita tersebut menyerahkan berkasnya tiba-tiba heels yang dipakai patah, akibatnya wanita itu terjatuh dan langsung memeluk Leon. Berkasnya terlemlar bertebaran kemana-mana.

Bruk!!

Leon dan wanita itu jatuh secara bersamaan. Wanita itu dengan sigap lalu bangun.

"Ah, maaf Pak, maaf," Liona langsung memunguti berkas-berkas yang sedang berserakan itu

Leon menelan ludah melihat wanita itu yang sungguh ceroboh. Dia memikirkan tentang Bosnya itu. Akankah dia menerimanya.

Tetapi Leon sudah tidak punya kandidat lagi untuk diajukan. Dengan sangat terpaksa Leon mengajukannya.

"Ah Mbak, tolong tunggu di sofa. Saya bawa berkasnya sini ke atas, hari ini Mbak langsung interview."

"Oh ya makasih."

Wanita itu adalah Liona Deswita seorang perempuan cantik yang memang sangat ceroboh dalam melakukan hal apapun.

Dia baru saja dipecat kemarin dari perusahaan yang lama karena alasan yang kurang diterima.

Karena kehidupan Liona yang memang serba kekurangan, hari ini dia pergi kemana pun untuk mencari kerja.

Sampai dia tahu berita lowongan dari temannya di perusahaan ini dan dia langsung menuju ke sini tanpa mencari tahu perusahaan itu berdiri di bidang apa dan pekerjaannya apa.

Chika lalu mendapatkan telepon dari Leon untuk memanggil Liona naik ke atas. Dia menghampiri Liona.

"Maaf mbak. Silahkan naik ke atas. Ke lantai dua ruangan sebelah kiri."

"Oh ya Mbak, terima kasih."

Liona lalu berjalan ke lantai dua ke tempat ruang interview itu. Dengan sedikit pincang karena heels-nya patah. Liona sedikit malu karena dia menjadi sorotan tetapi mau tidak mau dia harus menjalani tes interview ini untuk mendapatkan pekerjaan.

Sesampainya di lantai dua di langsung menengok ke arah kiri ternyata di situ ada ruangan direktur. Dan sebelahnya lagi ada ruang rapat.

Liona bingung harus masuk ke ruangan yang mana. Akhirnya dia memilih masuk ke ruangan yang ada tulisannya direktur. Liona lalu mengetuk pintu.

Tok tok tok…

"Masuk!"

Herdi menyuruh orang yang mengetuk pintu itu masuk karena dia pikir itu adalah Leon. Dan Kebetulan sekali Dia sedang berganti kemeja sehingga Liona melihat Herdi tidak memakai baju.

"Aaaaa….. " Liona langsung berteriak ketika melihat Herdi.