JoyNovel

Leer para descubrir un mundo nuevo

Abrir APP
Bukan Istri Figuran

Bukan Istri Figuran

Autor:ALWA

Terminado

Introducción
Azalia Anjani sungguh tidak menyangka kalau sosok yang menikahinya saat ini bukanlah pria yang dia cintai. Atthalah Abhiseva dan Atharazka Bimasena adalah dua orang yang terlahir mirip. Hanya dalam hal pembawaan mereka terlihat berbeda. Athar meninggal sebulan sebelum pernikahannya bersama Azalia dilaksanakan, tidak ingin gagal mendapatkan Azalia menjadi menantu di keluarga Aritama, maka Airlangga Aritama meminta putra keduanya untuk menikahi Azalia. Lalu akan seperti apa mahligai rumah tangga Attalah dan Azalia saat tabir ini perlahan menemukan jalannya untuk terungkap?
Abrir▼
Capítulo

Bandung ….

Dua tahun sudah Atharazka Bimasena menjalin hubungan dengan wanita yang amat sangat dia cintai. Siapa lagi kalau bukan, Azalia Anjani.

Bagi Athar dua tahun sepertinya sudah cukup dan ini adalah saat yang tepat untuk mereka menunjukkan keseriusannya.

Duduk berhadapan dengan kedua orang tua Azalia sepertinya bukan hal yang mudah untuk sulung dari tiga bersaudara itu.

“Jadi apa yang menjadi maksud kedatanganmu kali ini, Nak?” tanya Andi Herlambang yang tidak lain dan tidak bukan adalah papa dari Azalia Anjani.

“Jadi begini, Pa—”

“Papa sedang bicara dengan Nak Athar, bukan dengan kamu, Nak.” Kedua bibir milik Azalia pun dengan sangat cepatnya terkatup rapat saat mendengar apa yang menjadi ultimatum sang papa. Kalau di dunia ini ada yang tidak bisa untuk Azalia tentang maka itu adalah sang papa, Andi Herlambang.

“Maaf, Pa.” Namun apa yang Azalia katakan itu tidak lagi digubris sang papa. Kedua titik atensi milik Andi saat ini hanya tertuju pada Athar. Namun apa yang Andi katakan itu tidaklah membuat Athar merasakan apa yang disebut dengan tertekan.

“Saya ke sini dengan niat baik saya untuk melamar putri Om, Azalia Anjani,” jawab Athar dengan nada yang terdengar sangat lantang. Andi merespons apa yang dikatakan oleh Athar hanya dengan memperlihatkan raut wajahnya yang sangat datar tersebut sehingga Athar bingung harus memberikan alasan seperti apa untuk menimpalinya.

“Bagaimana, Om?” tanya Athar karena sudah satu menit berlalu dia masih tak mendapat jawaban apa pun dari pria yang terlanjur dia yakini akan menjadi ayah mertuanya itu.

“Untuk hal tersebut om serahkan ama Alia, mau atau tidaknya om ikut ama jawaban anak om saja,” putus Andi. Dan kini semua titik atensi hanya tertuju pada Azalia Anjani seorang, bahkan sang mama pun Adisti Angelika melakukan hal yang sama.

“Jadi bagaimana, Al?” tanya Athar yang tidak bisa lagi untuk menyembunyikan rasa tremor dalam dirinya setelah ini.

“A-aku mau, Mas,” jawab Azalia tanpa rasa ragu sedikit pun di dalam benaknya saat ini. Bagaimanapun saat ini sudah banyak hal yang Azalia dan juga Athar lalui untuk bisa sampai di titik ini. Lalu atas dasar apa lagi Azalia harus meragukan semua hal yang terdapat dalam diri Atharazka Bimasena Aritama.

Mendengar jawaban yang diberikan oleh Azalia senyum manis pun lantas saja tersungging di kedua bibir milik Athar.

“Terima kasih, Al. Terima kasih,” tutur Athar penuh rasa syukur di dalam hatinya saat ini. Namun suasana bahagia itu sungguh adalah hal yang tidak bertahan lama, semuanya langsung saja berubah secara drastis saat kedua manik mata milik Andi kembali tertuju hanya pada Athar.

“Nak Athar, bisa kita bicara sebentar?” tanya Andi dan karena hal itu juga Athar merasa kalau dirinya sedang dalam kondisi yang tidak benar-benar aman lagi.

“I-iya, Om,” jawab Athar terbata-bata, tapi di sisi lainnya pun dia seperti tidak menemukan celah untuk mengatakan ini sebagai hal yang bisa dia tolak dengan sangat mudahnya.

“Di taman belakang saja bagaimana?” tanya Andi dan untuk Athar dia sama sekali tidak memiliki celah untuk menolak apa yang dikatakan Andi.

“Terserah Om saja.” Andi tidak lagi merespons ucapan Athar, dia hanya langsung saja membawa kedua kaki jenjangnya untuk menuju titik yang telah mereka sepakati tersebut.

Namun sudah 5 menit keduanya duduk di bangku taman, antara Andi dan juga Athar belum ada yang saling mengucapkan kata dari kedua bibir mereka. Athar tahu kalau dalam hal yang akan terjadi ke depannya itu bukanlah hal yang mudah untuk Andi sehingga dia hanya bisa menunggu kapan Andi siap untuk ini semua.

“Thar, ada satu pertanyaan yang ingin om sampaikan ke kamu.” Athar hanya terdiam saat mendengarkan hal tersebut.

“Apa, Om?” Ada banyak pertanyaan di dalam benak milik Athar, tapi yang bisa untuk dia lontarkan hanyalah dua kata itu dan rasa-rasanya pun pertanyaan itu sudah cukup untuk mewakili segala tanya dalam benak miliknya.

“Kamu tahu tidak kalau ada satu pria yang cintanya tidak akan habis untuk seorang wanita? Kamu tahu siapa pria itu?” Kedua alis milik Athar pun saling bertautan satu sama lain saat mendengar apa yang dikatakan oleh pria paruh baya di hadapannya saat ini. Namun Athar juga sadar kalau untuk menyatukan pikirannya dengan Andi bukanlah perkara yang bisa dikatakan sebagai hal yang mudah.

“Seorang suami ke istrinya?” Namun apa yang menjadi jawaban dari Athar barusan dengan sangat cepatnya dibantah dengan sebuah gelengan kepala oleh Andi Herlambang.

“Bukan itu, Thar.” Athar pun mengatupkan kedua bibirnya dengan sangat rapat saat mengetahui kalau apa yang menjadi jawabannya itu adalah hal yang salah.

“Sosok pria yang tidak pernah habis cintanya untuk seorang wanita itu adalah seorang ayah ke putri mereka. Kalau om bisa jujur om justru lebih siap untuk melepaskan Anindya dibandingkan Azalia.” Athar pun cukup peka kalau apa yang Andi katakan itu belumlah menyentuh garis finishnya, masih ada kelanjutan dari ini semua. Sehingga hal yang paling benar untuk dia lakukan saat ini adalah diam.

“Om bisa bersama dengan Anindya sejak dia lahir sedangkan Azalia dia baru bisa om dekap saat usianya 3 tahun. Hanya ada satu inginnya om, Thar. Kalau nanti cinta kamu untuk Azalia sudah habis, jangan bilang ke dia, ya? Bilangnya ke om saja, nanti om yang akan jemput dia.”

DEG!

Mendengar kata demi kata yang terus saja terlontar dari kedua bibir Andi maka hal tersebut sudah cukup untuk mengajarkan Athar tentang bagaimana sakitnya dikuliti secara hidup-hidup.

“Om, saya nggak mungkin seperti itu pada Azalia. Saya cinta banget ama dia.” Andi pun kini menilik secara tajam ke dalam dua manik mata milik Athar dan yang dia temukan di sana hanya kejujuran sehingga dia pun tidak tahu dari arah mana lagi dia bisa mengatakan kalau Athar hanya sedang membohonginya? Sepertinya tidak ada sama sekali.

Namun saat Athar telah selesai dengan apa yang menjadi sanggahannya itu, Andi tidak lantas memberikan sanggahannya. Ayah dua orang putri itu hanya menghela napasnya dengan sangat dalam. Dan di titik ini kembali Athar merasakan kalau apa yang terjadi antara dirinya dan juga Andi bukanlah hal yang mudah untuk menemukan titik terangnya.

“Thar … kita ini hanya manusia biasa. Jadi kamu jangan ambil alih tugas Tuhan untuk mengambil keputusan akhir dari semua ini. Ingat manusia hanya bisa untuk berencana, tapi keputusan akhirnya tetap pada Tuhan. Dan kita juga tidak pernah tahu tentang apa yang akan terjadi ke depannya. Tetaplah pada porsinya masing-masing anak muda.”