JoyNovel

Leer para descubrir un mundo nuevo

Abrir APP
ARROGANCE OF LOVE

ARROGANCE OF LOVE

Autor:Tri asih

Terminado

Introducción
Bayu adalah suamiku. Kami menikah katena dijodohkan oleh kedua orang tua kami. Awal pernikahan terasa kaku, karena kami tak saling mengenal satu sama lain. Terapi seiring berjalannya waktu, Bayu mulai mencintaiku apalagi kami memiliki buah dari pernikahan kami. Menginjak satu tahun usia pernikahan kami, Bayu mulai menunjukkan sifat aslinya. Ua arogan dan srlalu merasa benar apa yang ia ucapkan. Apalagi ditambah mantan pacarnya yang selalu menggangu kehidupan rumah tangga kami. Akankah Kami bisa melalui rintangan dengan lancar ataukah menyerah begitu saja?
Abrir▼
Capítulo

Aku adalah Salmah, gadis desa yang lugu dan terlahir dari keluarga sederhana. Keluargaku hanyalah seorang pedagang sayuran, sedangkan ayah adalah bekerja sebagai pensiunan Guru SD.

Dalam pergaulan, aku tidak cukup bergaul cenderung menarik diri. Biarpun wajahku cantik aku tak pernah memamerkan kecantikanku pada orang lain, justru aku berhijab saat ini.

Usiaku sudah cukup matang yaitu 20 tahun. Setelah selesai menamatkan SMA, aku membantu ibu di rumah berjualan. Hingga pelanggan ibu tertarik padaku. Beliau bermaksud menjodohkan aku dengan putranya yaitu Bayu. Seorang sarjana, yang bekerja di perusahaan bonafit di kota besar.

"Jeng.. Anaknya masih single ya, boleh dong saya jodohkan dengan anak saya. Kelihatannya Salmah gadis yang baik," kata bu Rima langganan ibu.

"Wah gak tahu saya bu.. Tetapi selama ini Salmah gak pernah cerita tentang teman laki- lakinya bu," ujar Ibu sambil menata sayuran.

"Nah.. Mumpung belum punya calon, sebaiknya nak Salmah segera menikah dengan anak saya. Kebetulan Bayu, anak saya ingin segera menikah, Jeng."

"Ya nanti saya sampaikan ke Salmah, semoga ia mau ya bu. Dan kita jadi besanan," kata ibu dengan tersenyum.

Sore itu aku di panggil ibu dan bapak di ruang makan.

"Nak... Bapak pingin ngomong denganmu."

Aku tertegun.. Sepertinya penting topik pembicaraannya. Aku membetulkan tempat dudukku.

"Ada apapak, sepertinya penting sekali?"

Aku melirik Ibu. Ibu balik menatapku dengan senyuman.

"Begini Sal.. Ibu kamu tadi ketemu bu Rere bermaksud menjodohkan anaknya dengan kamu. Apa kamu mau dengan perjodohan ini. Mengingat usiamu sudah 20 tahun, sudah saatnya kamu menikah," Kata bapak panjang lebar.

Aku kaget mendengar itu semua. Dijodohkan dengan laki-laki yang sama sekali aku tak mengenal sebelumnya.

"Ibu juga pasrah Nak kalau kamu mau, biar besok ibu atur waktunya ketemu dengan bu Rere." Wajah ibu serius menatapku, berharap aku mau menerima perjodohan ini.

Aku tak bisa berbuat apa-apa. Yang mereka inginkan adalah agar aku bahagia dengan memiliki suami dan anak nanti.

"Baiklah bu.. Kalau itu kemauan bapak dan ibu, aku menyetujui nya. Tetapi apakah anak bu Rere mau denganku yang hanya lulusan SMA pak?"

Aku terus terang minder dengan keadaanku. Bu Rere sendiri orang terpandang. Suaminya seorang pejabat dan bu Rere sendiri ibu rumah tangga dan sosialita.

"Kamu jangan pesimis begitu nak.. Siapa tahu nak Bayu ini bisa mengangkat derajat kita. Kita tidak miskin lagi Nak."

"Buah itu pak, yang Salmah maksud. Kalau masalah harta tidak akan dibawa mati."

"Betul nak.. Semoga Bayu laki-laki yang baik dan tepat untukmu."

Aku bergemuruh hebat. Aku tak ingin semua perjodohan ini berakhir dengan tidak bahagia dan bercerai. Aku bergidik ngeri.

Setelah mengatur tempat dan waktunya, aku dan ibu menunggu Bu Rere dan anaknya di restaurant.

Tak menunggu lama orang yang kami tunggu akhirnya datang juga.

"Maaf menunggu lama ya, " Kata bu Rere dengan wajah tidak enak.

Di belakang bu Rere berdiri laki-laki tegap, berjambang dan sangat tampan. Raut mukanya teduh dan bersahabat. Apakah ini yang namanya Bayu??

"Oh ini to yang namanya Bayu, tampan sekali?" Puji ibuku.

Kami saling bersitatap. Dan iapun tersenyum kearahku membuat aku salah tingkah. Apakah aku menyukainya?

Aku sangat bahagia, karena hari pernikahanku tinggal satu hari lagi. Orang rumah sudah sibuk mempersiapkan segala sesuatunya.

Calon suamiku ingin pesta pernikahan kami mewah. Hingga ibu-ibu satu rt diturunkan langsung untuk membantu urusan perdapuran.

"Salmah.. Ibu bangga padamu nak, sebentar lagi kamu akan menikah dengan nak Bayu anaknya bu Rere. Semoga kalian bahagia ya sayang. Ibu tak sabar ingin menimang cucu," kata ibu sambil membelai rambutku.

"Ah ibu.. Aku jadi sedih, harus meninggalkan ibu dan bapak di rumah." Tak terasa air mataku jatuh ke pipi menahan haru.

"Jangan berkata itu nak.. Kewajiban istri kalau sudah menikah mengabdi ke suami, berbakti dan melayani suami. Kamu tahu kan kewajiban istri bagaimana?" tanya ibu lembut. Aku menganggukkan kepala.

Kamipun berpelukan, menahan kebahagiaan yang akan datang. Bapak berjalan dan menghampiriku.

"Sudah nak.. Kamu harus istirahat untuk besok. Ayo bu.. Kita ke kamar." Bapak mengajak ibu kembali ke kamarnya.

Aku menatap langit-langit kamar. Sebentar lagi kamar ini akan kutinggalkan. Banyak kenangan yang tersimpan di dalam kamar ini.

Keesokan harinya tiba. Aku dirias dengan make up yang cukup tebal dan gaun pengantin yang anggun. Di sebelahku Bayu dengan jas hitam dan peci. Sungguh menawan penampilannya hari ini. Aku tersipu malu. Banyak yang memuji kecantikanku.

Saat ijab qabul diikrarkan, Bayu dengan lancar membaca lafadz nya. Aku terharu dengan situasi ini. Setelah ijab qabul akupun bersimpuh sebagai tanda berbaktinya istri pada suami, dilanjutkan kepada orang tua kami. Suasana pun mengharu biru.

"Selamat ya nak.. Jaga diri kamu baik-baik. Ingat pesan ibu ya," bisik ibu di telingaku.

Acara resepsi pun digelar. Kami sangat bahagia sekali, ketika tamu undangan mengucapkan selamat pada kami. Begitu pula dengan tenang teman Bayu. Mereka datang dengan kompak.

Salah satu temannya yang menarik perhatianku yaitu gadis cantik yang tak lepas memandang Bayu. Ada apa dengan mereka? Apakah mereka pernah menjalin hubungan? Aku jadi terusik dibuatnya.

Bayu berbisik ke arahku sembari memperkenalkan mereka satu persatu.

Dan aku tahu bahwa gadis itu bernama Siska mantannya. Aku jadi tahu dengan tatapan itu.