JoyNovel

Leer para descubrir un mundo nuevo

Abrir APP
Menjadi Simpanan Suamiku

Menjadi Simpanan Suamiku

Autor:The_Suy

Terminado

Introducción
Metha seorang gadis kampung yang dinikahi oleh Roy akibat cinta satu malam. Setelah terjadinya sebuah pernikahan yang hanya diketahui oleh pihak tertentu, Roy terpaksa memboyong Metha ke kota dimana ia berasal. Metha yang mencintai Roy, namun tidak berbalas. Roy sudah mencintai wanita lain yang sebentar lagi akan dinikahinya. Akankah rahasia besar itu terus tersimpan atau akan terbongkar secepatnya? Ikuti kisahnya.
Abrir▼
Capítulo

"Aku menyukaimu, Metha." ujar seorang pria bernama Roy, yang kebetulan sedang mengerjakan sebuah proyek disebuah kampung tempat gadis bernama Metha itu berasal.

"A..aku juga, Mas," dengan tersipu malu Metha menanggapi ucapan Roy.

"Kamu mau gak jadi pacar Abang?"

Masih dengan malu-malu, Metha menganggukan kepalanya.

"Kamu beneran mau?" tanya Roy lagi untuk memastikan.

"Iya Mas, saya mau,"

Roy langsung memeluk tubuh gadis cantik itu dengan erat, hingga membuat Metha terkejut. Sebab ini pertama kalinya iya bersentuhan secara intens dengan seorang pria.

"Kita ke kosan ku ya," ajak Roy sembari bangkit menggandeng tangan Metha yang sudah resmi menjadi kekasihnya.

"Ta..tapi Mas, sa..saya takut," Metha menghentikan langkahnya, wajahnya masih tertunduk malu.

Roy mengehla nafas, ternyata merayu seorang gadis kampung lebih sulit ketimbang gadis kota.

"Oke Roy, sepertinya kali ini harus bersabar. Ternyata gadis ini tidak mudah untuk ditaklukan," batin Roy.

Roy kembali duduk di bawah sebuah pohon rindang, disebuah kebun yang jarang orang kunjungi.

"Ya sudah, kalau begitu lain kali saja. Emm..lain kali bisa kan?"

Metha tidak langsung menjawab, ia nampak berpikir.

"Ta..tapi saya boleh ajak Benu kan, adik saya?"

Roy memijat pelipisnya, ia ingin mengajak gadis itu untuk menghabiskan waktu bersama tapi jika adiknya ikut serta bisa-bisa dia kalah taruhan.

~

"Gimana Roy?" tanya Tian temannya yang sama-sama datang dari kota.

Roy, Tian, Abi, dan Dio para pria muda yang datang dari kota sebagai pengawas proyek yang dipercayakan oleh perusahaan tempat mereka bekerja. Empat serangkai yang masih muda dan belum berkeluarga, membuat hidup yang mereka jalani jauh lebih bebas.

"Setidaknya udah selangkah lebih maju dari kemarin," tanggap Roy santai.

"Maksudnya gimana?" Dio yang tidak sengaja mendengar pembicaraan Roy dan Tian akhirnya ikut nimbrung.

"Gue sudah jadian sama Metha. Bisalah selangkah lagi menuju kenikmatan. Gue saranin kalian buat siapin dananya, pastinya gue menang taruhan. Hahahaha.." dengan bangga Roy mengucapkan hal yang tidak pantas.

Di sudut kamar dengan luas yang tidak seberapa, seorang pria duduk mendengar pembicaraan mereka dengan kepala menggeleng.

"Dasar orang gak punya otak, anak orang dijadikan taruhan," gumam Abi sembari memandang layar pipih yang ada di tangannya.

"Bi, Lo gak ikutan taruhan?" tanya Dio yang ditanggapi dengan gelengan kepala serta senyum smirk.

"Malaikat kayak dia mah gak usah diajakin, yang ada kita diceramahi sama dia," timpal Roy yang disambut tawa oleh Tian dan Dio.

Abi memilih bangkit dari duduknya, dan keluar dari kamar. Lebih baik menikmati angin malam di luar dengan sebatang rokok yang akan mengepulkan asapnya.

"Eh Mas Abi, sendirian aja?" Abi yang larut dalam pikirannya pun terkejut mendengar suara yang berasal dari seberang jalan.

"Eh ternyata Neng Metha, dari mana kok jalan malam-malam?" Abi memperhatikan gadis yang tengah menjadi bahan taruhan ketiga kawannya.

Metha adalah bunga desa, kecantikannya tidak perlu diragukan lagi. Anak tunggal dari seorang juragan tanah, dengan sifat yang lembut serta polos, membuatnya menjadi incaran banyak pria. Metha, yang baru saja lulus dari sekolah menengah atas memilih untuk tidak melanjutkan pendidikannya, ia lebih suka untuk membantu ibunya yang memiliki sebuah toko sembako terbesar di kampungnya.

"Baru pulang dari toko, Mas. Kok sendirian aja?"

Abi melihat arloji yang melingkar di tangan kirinya, menunjukkan sudah jam sembilan malam.

"Kok pulangnya sendirian? Mana pekerja yang lainnya?" Abi tidak menjawab pertanyaan Metha, melainkan balik memberikannya pertanyaan.

"Saya lembur, Mas. Maklum Mas, akhir bulan. Kalau begitu saya permisi ya, Mas," Metha berpamitan hendak melanjutkan perjalanan yang masih lumayan jauh.

"Metha, biar aku antar," Abi berdiri dari duduknya dan berinisiatif untuk mengantar gadis itu pulang.

"Gak usah, biar gue aja!" seru Roy yang ternyata sudah berdiri di ambang pintu.

Abi tak bisa banyak berkata, ia menghentikan langkahnya dan membiarkan Roy yang mengantar gadis itu.

"Roy, jangan rusak anak orang demi ambisi Lo," bisik Abi ketika Roy melintas di sampingnya, namun Roy tidak menghiraukannya dan memilih terus melangkah.

"Ayo sayang, biar aku yang anterin," Roy meminta agar Metha masuk ke dalam mobilnya.

Sempat ada keraguan, namun gadis itu tetap juga masuk.

Roy tersenyum senang, sedangakn Abi merasa bersalah melihat bahaya yang sudah ada di depan mata tetapi tidak mampu berbuat banyak.

"Semoga Tuhan tetap melindungi mu," gumam Abi melihat kepergian mobil Roy.

"Sayang, aku kangen loh sama kamu," ujar Roy sambil menyentuh pipi Metha.

Gadis itu menunduk tersipu malu. Ia berusaha menahan rasa gejolak di dadanya.

Roy menepikan mobil di jalanan sepi yang jarang dilewati oleh orang banyak dan tidak ada rumah warga disekitar.

"Loh Mas, kok berhenti?" Metha melihat sekitar dan mendapati suasana gelap.

Entah kenapa cuaca tiba-tiba berubah, hujan turun dengan deras dan disertai petir. Metha melonjak kaget saat suara petir kembali menggelegar, dan menutup wajahnya.

Roy yang melihat ada kesempatan, akhirnya tersenyum smirk.

"Sepertinya alam sedang berpihak padaku," batin Roy dan mulai menarik tubuh Metha ke dalam pelukannya.

"Apa kau takut, Sayang?" Metha mengangguk di dalam peluka Roy.

Hujan yang turun semakin deras, kesempatan untuk Roy terbuka lebar. Pria itu mengangkat dagu gadis itu, lalu mantap wajahnya. Metha yang gugup hanya bisa memalingkan wajahnya. Roy tersenyum lalu mendaratkan bibir nya pada bibir ranum gadis itu. Metha yang awalnya melihat ke arah lain, sontak mendelikkan mata dan menatap Roy.

Ini ciuman pertama gadis itu, perlahan Roy melumatnya secara perlahan. Metha hanya bisa diam, dia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Roy menekan sediki pipi Metha sehingga bibir gadis itu terbuka, dan lidah Roy seketika menelusup masuk ke dalam rongga mulut Metha.

Metha merasa melayang, hal baru yang ia rasakan membuatnya dimabuk kepayang. Perlahan tangan Roy menyentuh buah dada yang terbalut baju kaos dengan ukuran besar. Metha semakin terkejut, sebab ini pertama kalinya ia mengalaminya.

Roy melepas ciumannya lalu menyeka bibir Metha yang masih meninggalkan jejak Saliva.

"Maaf sayang, aku tidak bisa menahan diri karena melihat kecantikanmu," Metha menganggukan kepala lalu kembali menunduk.

Roy kembali mencium Metha, namun kini ia mulai menjelajah leher jenjang sang kekasih.

"Ahhh..." Metha langsung menutup mulutnya, ia malu karena suara menjijikkan itu lolos begitu saja dari mulutnya.

"Bersuaralah sayang, karena itu sangat merdu di telingaku," tukas Roy yang kini sudah menyingkap baju kaos Metha ke atas, dan nampak buah dada indah, besar, kenyal dan padat.

GLEK!!

Roy menekan salivanya, melihat keindahan payudara kekasihnya. Metha tidak menolak, ia hanya memperhatikan apa yang akan Roy lakukan. Ternyata pria itu melingkarkan tangannya pada punggung Metha, dan berusaha melepaskan pengait bra-nya.

Roy menciumi permukaan payudara Metha dan sesekali menjilatnya. Metha memejamkan mata menikmati sensasi yang baru pertama kali ia rasakan.

"Ahhhh....." Desahan kembali keluar dari mulut Metha ketika Roy mulai mengulum dan menghisap pucuk payudara sang kekasih.

Refleks tangan Metha berada di belakang kepala Roy dan mulai meremas rambutnya. Ia juga menekan kepala pria itu agar semakin dalam menghisap putingnya.

Roy senang sebab Metha mulai terbuai dengan permainannya. Entah bagaimana caranya, kini gadis itu sudah dalam keadaan polos tanpa sehelai benang pun, sedangkan Roy masih berpakaian lengkap.

"Aku akan membuatmu melayang, Sayang. Berbaringlah," mereka berdua sudah berada di jok belakang, dan Roy menuntun Metha untuk bisa berbaring dengan melebarkan ke dua kaki yang ditekuk.

Tangan Metha berusaha menutupi bagian inti tubuhnya, namun Roy memindahkan.

"Jangan ditutupi, ini sangat indah sayang. Aku belum pernah melihat bentuk indah seperti milikmu ini," uajr Roy berbohong. Karena nyatanya ia sudah sering meniduri kekasih-kekasihnya.

Roy menikmati gua kenikmatan Metha dengan lidahnya, membuat Metha mengerang penuh nikmat. Sedangkan hujan di luar semakin deras sehingga membuat aksi hina mereka berdua smekain lancar.

Roy sudah melepaskan seluruh pakaiannya, Metha terkejut melihat junior Roy yang besar dan panjang. Roy menempelkan kepala juniornya pada mulut Metha dan meminta gadis itu untuk menghisapnya.

"Ini kan jorok, Mas."

"Cobalah sayang, ini nikmat. Seperti rasa lolipop," Roy terus merayunya hingga akhirnya Metha mau juga mengulum batang keperkasaannya.

"Oohhhh...enak sayang...ahhh..." Roy mendesah menikmati sentuhan bibir dan lidah kekasihnya yang polos.

Setelah puas dengan rongga mulut Metha ,kini Roy mulai mengarahkan juniornya pada rongga kenikmatan.

"Mas, jangan..."

"Tenang sayang, ini hanya sakit sedikit. Dan aku janji akan tanggung jawab serta menikahimu,"

Metha termakan bujuk rayu Roy, dan akhirnya mau menganggukkan kepalanya.

Perlahan Roy mencoba untuk menusuk pintu goa Metha yang masih sangat sempit, sesekali pemiliknya menjerit karena perih.

"Pelan-pelan, Mas!"

Roy terus berusaha untuk bisa menembus pertahanan goa Metha, meski sellau diwarnai dengan teriakan Metha yang menahan sakit.

Jleb!!

"Auuwww!!!"

Akhirnya junior Roy sukses menembus goa Metha, ia kembali mengulum bibir gadis itu sembari melakukan gerakan maju mundur secara perlahan.

Sedangkan Metha meneteskan air mata, antara menahan sakit dan juga merasa bersalah karena sudah berbuat jauh pada pria yang baru kemarin menjadi kekasihnya.

"Nikmatilah sayang, kau akan ketagihan," ujar Roy sambil terus menggenjot liang kenikmatan Metha yang baru saja sukses ia jebol.

Perlahan tapi pasti Metha mulai menikmati dan sesekali ikut mendesah ketika Roy mampu menyentuh titik sensitifnya.

Roy yang sudah kesetanan, mulai menggenjot dengan semakin kuat serta tempo yang cepat, hingga mobil berguncang.

"Ahhhh...Metha aku aja sampai, lubang mu sangat legit dan nikmat!!" ujar Roy yang terus meningkatkan goyangan pinggulnya, begitupun dengan Metha mendesah dengan keras, tanpa mereka sadari jika hujan sudah mulai reda.

DOK!!!

DOKKK!!

DOKKKK!!!

Suara pukulan dari luar mobil begitu kencang, sontak membuat dua insan yang baru saja mencapai puncak kenikmatan menjadi panik. Metha dan Roy buru-buru mencari pakaian yang berserakan.

"Keluar..!!!! Cepat!!!!"

Deg!

Suara itu membuat Metha semakin menegang, wajahnya pucat tubuhnya bergetar.

"Mass..aku takut. Itu suara ayah,"

"Apa? Ayah??"