Aku tidak pernah menyangka akan masuk di ekskul yang penuh dengan drama ini. Ekskul Teater. Sejujurnya aku tidak suka bermain peran. Aku terpaksa masuk ekskul teater karena ada Raisya-sahabatku. Aku adalah tipe orang yang sulit untuk beradaptasi. Makanya ketika ada pemilihan ekskul bagi peserta didik baru, aku mengisikan pilihan teater agar sama dengan Raisya. Karena aku malas mencari teman lagi.
Sampai berakhirlah aku pada MOAT atau Masa Orientasi Anggota Teater. Semua anggota teater yang baru bergabung diwajibkan ikut MOAT. Kukira MOAT itu hanyalah masa orientasi biasa. Tetapi ternyata kami dibagi menjadi beberapa kelompok. Setiap kelompok harus memilih satu judul tetaer dan memainkannya di sepanjang jalan yang sudah ditentukan oleh senior.
Yang lebih sialnya lagi, kelompok MOAT juga tidak bisa memilih sendiri, tetapi dipilihkan oleh kakak seniornya. Dan aku tidak satu kelompok dengan Raisya. Aku berusaha ingin satu kelompok dengan Raisya. Tetapi keputusan kakak senior sudah tidak bisa diganggu gugat. Aku harus menerima satu kelompok dengan semua orang asing ini.
Setelah kakak senior pergi, kami saling berkenalan. “Namaku Kinara Citrasari dari jurusan Rekayasa Perangkat Lunak. Panggil aja Kinar.”
Setelah itu semuanya bergantian memperkenalkan diri. Dalam satu kelompok terdiri dari lima orang. Kebetulan dalam kelompokku semua anggotanya adalah cewek. Jadi aku tidak terlalu ilfeel dengan mereka. Tetapi tetap saja aku lebih pendiam di antara mereka. Padahal kalau ikut teater seharusnya lebih banyak bicara dan percaya diri.
“Untuk MOAT nanti kita mau memainkan tetaer apa?” tanya cewek yang kuketahui bernama Dela dari jurusan akuntansi.
“Bagaimana kalau teater Cinderella aja?” usul Nana yang berasal dari jurusan Multimedia.
“Tapi kalau Cinderella kan butuh pemeran pangeran. Sedangkan di kelompok kita nggak ada yang cowok. Gimana kalau legenda telaga warna? Kan nggak butuh peran pangeran tuh,” sanggah Laila yang masih satu jurusan dengan Nana.
“Jangan. Legenda Telaga Warna kan butuh peran raja juga. Pokonya jangan itu deh,” ucap Sela dari jurusan Tata Boga.
“Kalau semuanya jangan, terus mau pakai cerita apa?” tanya Dela. Raut wajahnya sedikit tertekuk. Ternyata susah juga ya bermain teater tanpa ada cowok. Seakan-akan sang pangeran sangat dibutuhkan dalam setiap pertunjukan teater.
“Kalau menurut kamu gimana, Kinar?” tanya mereka secara bersamaan. Memang sedari tadi aku hanya memilih diam. Karena aku memang tidak tau apa-apa tentang teater. Bahkan aku juga tidak pernah menonton pertunjukan teater. Aku lebih paham dengan drama korea dibandingkan teater Indonesia. Bukannya tidak punya rasa nasionalisme, tetapi aku hanya tidak suka dengan teater dan drama local yang menurutku terlalu berbelit-belit alurnya.
Aku hanya menggeleng sembari mengedikkan bahu. Biarkan mereka saja yang menentukan. Aku ikut keputusan bersama saja. Semisal mereka tetap ngotot meminta pendapatku, maka akan kujawab judul drama korea saja.
“Jangan cuma ngikut doing dong. Ayo kasih saran.”
Kutatap sekilah wajah Dela. “Hotel Del Luna bagus,” jawabku dengan memasang muka datar. Yang lainnya memasang wajah beo.
“Hotel Del Luna itu apa?” tanya Nana.
“Drama Korea,” jawab Sela. “Duh, Kinar suka bercanda deh. Kita kan butuhnya teater buat MOAT. Masa iya mau memainkan Hotel Del Luna? Capek lah.”
Aku hanya mengedikkan bahu. “Hotel Del Luna kan panjang episode-nya. Bisa nih kita mainin dari start sampai finish. Biar nggak ngulang gitu. Kalau cuma teater Cinderella atau pun yang lainnya itu kan singkat. Jadinya pasti nanti mengulang adegan lagi.”
“Tapi kan Hotel Del Luna itu bukan dari Indonesia,” kata Dela.
“Lha emang Cinderella dari Indonesia juga?” tanyaku balik. Mereka semua hanya diam. “Udah deh, kalian pikir aja sendiri ya. Aku ngikut aja.”
Mereka kompak menghela napas.
“Gimana kalau bawang merah dan bawang putih aja? Nanti endingnya kita ganti aja. Biar nggak usah ada peran pangerannya. Untuk alur dan naskah serta pembagian tokohnya biar aku yang atur deh. Kalian terima jadi aja. Tapi kalian nanti harus setuju sama peran yang aku berikan.”
Aku tak menjawab ucapan Dela. Sementara Sela, Laila, dan Nana menyetujui saja.
“Oke, besok kita ketemuan ya? Aku berikan naskahnya sama sekalian kita latihan buat MOAT. Setuju?” tanya Dela lagi.
Aku hanya mengangguk sekali. Yang lainnya juga setuju. Setelah deal dengan teater yang akan ditampilkan saat MOAT, Dela pun mengkonfirmasikan kepada kakak senior untuk di data.
Kelompok yang sudah didata diperbolehkan pulang. Ternyata kumpul teater hari pertama Cuma untuk perkenalan dan menentukan kelompok MOAT serta perannya. Bagiku ini tidak asyik sama sekali.
***
“Kinar pulang,” ucapku saat berada di depan pintu rumah. Ini sudah menjadi kebiasaanku, bahkan terkadang aku sampai berteriak.
Sebenarnya tidak ada yang menyambutku juga. Karena aku hanya tinggal bersama Bi Mirah saja di sini. Papa dan Mama sering pergi ke luar kota untuk urusan bisnis mereka. Mereka jarang sekali ada di rumah dan diam menikmati waktu bersama anaknya.
Terkadang aku iri dengan Raisya yang selalu mendapatkan kasih sayang lebih dari kedua orang tuanya. Aku ingin seperti Raisya. Tidak dimanjakan dengan harta, tetapi dirawat dengan penuh kasih sayang. Sementara aku kebalikan dari Raisya. Aku memang punya banyak harta, semua yang kuminta pasti diberikan oleh Papa dan Mama, kecuali kasih sayang. Papa dan Mama tidak memberikan permintaanku yang satu itu.
Bi Mirah datang menghampiriku yang masih berdiri di ambang pintu. “Kinar, kok nggak langsung masuk?” tanyanya. Karena biasanya aku langsung masuk saja tanpa dihampiri oleh Bi Mirah.
“Sengaja sih, pengen disambut dulu sama Bi Mirah,” jawabku sambil nyengir kuda.
Bi Mirah terkadang bisa menjadi Mamaku. Karena aku lebih sering hidup bersamanya. Bi Mirah juga yang menemani tumbuh kembangku. Terkadang kalau aku ada masalah atau apapun itu, aku lebih memilih bercerita kepada Bi Mirah dibandingkan dengan Mama dan Papa.
Tidak tau kenapa, tetapi rasanya lebih nyaman saja bercerita pada Bi Mirah. Mungkin karena sedari kecil aku sudah hidup bersamanya. Sehingga aku lebih dekat dengan Bi Mirah dari pada dengan Mama dan Papa.
“Ya sudah, ayo masuk. Bibi bantu bawa tasnya.” Bi Mirah mengambil tas dari gendonganku dan membawanya ke dalam rumah.
“Waduh, kok tasnya Kinar berat sekali. Isinya batu ya? Apa kalau murid baru buku pelajarannya di bawa semua?”
Aku terkekeh mendengar ucapan Bi Mirah. “Ngapain bawa buku semuanya, Bi?” tanyaku balik.
“Kan belum dikasih jadwa pelajaran, jadinya semua bukunya di bawa,” kata Bi Mirah asal.
“Ya nggak lah, Bi. Jadi kan Kinar ikut ekskul teater dan disuruh bawa baju ganti karena kan baju seragamnya besok masih dipakai lagi. Lagian kalau latihan teater kan berkeringat karena butuh oleh tubuh, olah suara, dan latihannya kadang juga di tengah lapangan. Jadi biar nggak kotor,” jawabku.
Setelah itu aku langsung naik ke lantai atas dan mengganti baju lalu turun untuk makan siang. Sementara tasku disimpan oleh Bi Mirah di ruang belajar di lantai satu.
Saking dekatnya aku dengan Bi Mirah, aku sampai menyuruh Bi Mirah memperlakukan aku seperti anaknya sendiri. Awalnya aku dipanggil dengan embel-embel nona. Tetapi semenjak aku memasuki bangku SMP, aku menyuruh Bi Mirah untuk memanggilku dengan Kinar saja. Awalnya Bi Mirah menolak. Tetapi aku meyakinkan Bi Mirah agar memanggil namaku dengan embel-embel nona di hadapan Mama dan Papa saja. Selebihnya, aku meminta untuk dipanggil Kinar saja.
