JoyNovel

Leer para descubrir un mundo nuevo

Abrir APP
Lingkaran Merah

Lingkaran Merah

Autor:Iky Aw

Terminado

Introducción
Namaku Putra Halilintar. Panggil aku Li. Aku adalah juara silat nasional. Usiaku 25 tahun, tubuhku atletis meski wajahku tidak terlalu tampan, dan aku punya satu kelebihan, kecerdasanku di atas rata-rata. Namaku di elu-elukan oleh seluruh pecinta beladiri pencak silat di negara ini, bahkan yang tidak faham sama sekali dengan pencak silat juga mengidolakanku. Sebagian besarnya adalah kaum wanita. Namun, di balik nama yang mentereng itu, tidak pernah ada yang tahu latar belakang kehidupanku. Aku sebenarnya adalah anggota salah satu keluarga ‘Lingkaran Merah’. Sebuah aliansi organisasi bawah tanah sejenis kartel Silanoa di Mexico atau Yakuza di Jepang. Namun, organisasi ini tidak mengedarkan obat-obatan terlarang atau perdagangan manusia. Itu semua seperti mainan tikus got di mata kami. Menjijikkan. Organisasi ini jauh lebih berkelas. Kamilah yang mengendalikan peredaran uang di dunia, perdagangan internasional, aktivitas shadow economy, underground production, pencucian uang illegal, bahkan kami mampu mengendalikan system pemerintahan sebuah negara. Aku adalah juara silat nasional. Kemampuan beladiriku sangat di butuhkan di organisasi semacam ini. Di keluarga Lingkaran Merah ini aku menempati posisi yang cukup di hormati. Kepala tukang pukul. Aku membawahi setidaknya lima belas orang tukang pukul. Tugas kami sederhana, menghabisi siapapun yang lancang memasuki wilayah territorial Lingkaran Merah. Aku memutuskan bergabung dengan organisasi itu karena satu alasan. Dua puluh tahun silam, orang tuaku adalah korban kebiadaban Lingkaran Merah. Dan, aku hanya ingin membalas luka lama.
Abrir▼
Capítulo

Gedung berukuran besar yang berdiri menjulang di tengah Kota Surabaya itu sudah penuh sesak oleh ratusan orang sejak siang tadi. Sebagian besar adalah supporter yang mengibarkan bendera kebesaran sambil menyanyikan yel-yel dengan begitu bersemangat. Sebagian lagi lebih sekedar hanya ingin menonton. Mereka duduk berdesakan di tribun yang semakin ke belakang semakin tinggi posisi tempat duduknya. Tribun itu mengitari aula dan menyisakan hamparan lantai di tengahnya.

Tepat di pusat gedung, di tengah hamparan lantai, terbentang matras berwarna hijau setebal lima senti meter. Luasnya sekitar 10x10 meter. Di salah satu sudutnya terdapat segitiga berwarna merah, berseberangan secara diagonal dengan segitiga di sudut lain yang berwarna biru. Dua sudut tersisa menampilkan warna asli matras. Di dalam petak matras terdapat lingkaran berdiameter 8 meter dengan garis lingkarnya berwarna putih, dalam lingkaran itu terdapat lingkaran yang lebih kecil. Diameternya hanya 3 meter saja, dengan warna garis lingkar senada. Di dalam lingkaran kecil itulah pusat perhatian seisi gedung berkiblat. Mereka menyebutnya ‘Gelanggang’.

Dua menit yang lalu, aula terasa pengap oleh riuh para penonton. Tepatnya, ketika nama Sang Juara Bertahan di sebut oleh panitia penyelenggara untuk memasuki gelanggang. Beberapa orang berseru memberi semangat sambil memukul-mukul drum kecil, beberapa lagi meneriakan namanya sambil mengibarkan bendera.

“Samuel!”

“Samuel!”

“Samuel!”

Seruan dari para penonton mengiringi langkah Sang Juara Bertahan menuju pusat gelanggang, lalu berdiri tegap di sana. Sepintas lalu, ia merapatkan telapak tangan di depan dada lalu menunduk memberi hormat ke arah panitia di balik meja pajang. Kemudian memperagakan satu dua gerakan silat. Sebelum akhirnya kembali ke sudut merah. Sudut miliknya.

Dua meter dari salah satu sisi Gelanggang terbentang meja panjang. Beberapa orang berpakaian rapi duduk manis di balik meja, menggenggam sepucuk pena dan beberapa lembar kertas. Mereka adalah panitia penyelenggara. Sementara di tiga sisi lain, terdapat lima meja kecil yang hanya cukup untuk satu orang. Dua meja di sebelah kiri gelanggang, dua di sebelah kanan dengan jarak lima meter satu sama lain. Satu lagi meja terletak tepat berseberangan dengan meja panjang panitia. Di atas meja kecil itu terdapat dua bendera kecil berwarna merah dan biru, dan juga sebuah tablet 14 inchi. Siapapun yang duduk di balik meja kecil itu akan di sebut sebagai ‘Juri’.

Satu menit berlalu, suasana aula terasa berbeda. Tidak ada lagi seruan-seruan memberi semangat sambil memukul-mukul drum kecil dan mengibarkan bendera. Tepat ketika Si Penantang memasuki gelanggang, saat itu juga suara cemoohan terdengar dari seluruh sudut aula, menggema di langit-langit gedung.

“Huuuuuuu!”

“Huuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu!”

“Balek wae cuk!”

“Asuuuuuu!”

“Menyerah sajalah, Bung!”

Di tengah teriakan-teriakan meremehkan itu, Si Penantang tak secuilpun merasa gentar. Ia melangkah tak kalah gagah dengan Sang Juara Bertahan dan melakukan hal yang sama seperti yang di lakukan oleh Sang Juara Bertahan. Kemudian Si Penantang berdiri tegak menghadap suara-suara yang meremehkannya lalu menunduk dan menebar senyum hangat.

“Lihat saja. Akan ku bungkam mulut besar kalian,” gumam Si Penantang. Dia kembali ke sudut biru. Mendengar intruksi dari dua pelatihnya.

“Kendalikan diri, jangan terpancing emosi,” ujar salah satu pelatih di sudut biru seraya menempelkan handuk basah di tengkuk leher Si Penantang. “Yang terpenting adalah poin.” Sang Pelatih melanjutkan.

Si Penantang menggangguk. Paham.

Di tengah arena pertarungan telah berdiri seorang pria berbadan tinggi besar mengenakan seragam putih seperti para juri. Di pinggangnya melingkar sabuk berwarna kuning yang terikat simpul di pinggang kirinya. Dilah wasit, sang pemimpin pertarungan.

“Pesilat silahkan maju.” Wasit memanggil dengan meregangkan tangannya ke arah sudut para petarung. Kedua petarung melangkah gagah ke tengah arena, berdiri sigap saling berhadapan.

“Kalian sudah tahu peraturannya. Bertanding secara sportif. Mengerti?” Wasit berucap tegas sambil menepuk pundak kedua petarung. Kedua petarung mengangguk mantap.

“Kembali ke sudut masing-masing.” Perintah wasit. Kedua pesilat pun melangka mundur.

Wasit memasang kuda-kuda khas pencak silat. Kaki kirinya maju kedepan sedikit tertekuk sehingga tubuhnya agak condong ke depan. Kaki kanannya menjulur lurus ke belakang. Kedua lengannya menunjuk kedua sudut petarung.

“Sudut biru siap?” Wasit melihat ke arah Sang Penantang. Petarung mengangguk dalam posisi sigap sempurna.

“Sudut merah siap?” Wasit melihat ke arah sudut yang satunya. Sang Juara bertahan menggangguk mantap sembari melemaskan kedua kaki. Dia terlihat lebih rileks dari penantangnya.

“Mulai!” Wasit berseru. Bersamaan dengan itu, gong telah berbunyi. Tribun penonton semakin riuh. Suara-suara semangat dan meremehkan saling bersahut-sahutan di langit-langit aula.

Babak pertama pertarungan di mulai.

Kejuaraan resmi pencak silat di selenggarakan setiap tahun oleh pengurus IPSI Provinsi Jawa Timur. Tujuannya untuk menemukan atlet-atlet pencak silat terbaik dari seluruh pelosok Jatim. Setiap Kota dan Kabupaten akan mengirimkan satu kontingen terbaiknya.

Ikatan Pencak Silat Indonesia atau IPSI menaungi setidaknya 16 organisasi pencak silat. Beberapa di antaranya berpusat di Jawa Timur, seperti Persaudaraan Setia Hati, Persaudaraan Setia Hati Teratea dan IKS PI Kera Sakti yang berpusat di Madiun, PSN Perisasi Putih & Kelatnas Perisasi Diri di Surabaya, dan Pencak Silat Nahdlatul Ulama Pagar Nusa di Jombang. Selain melestarikan budaya peninggalan leluhur, di setiap tahunnya organisasi pencak silat tersebut selalu melahirkan atlet-atlet terbaik pencak silat yang siap mengharumkan nama bangsa.

Namun di kejuaraan resmi seperti saat ini, para atlet tidak mewakili organisasi mereka. Tidak ada yang peduli dengan latar belakang aliran silat yang mereka pelajari. Semua akan berpindah fokus ke daerah mana yang mereka wakili. Seperti kedua pesilat yang saat ini sedang bertarung.

Tribun semakin bergemuruh. Riuh suara penonton semakin pecah memekakan telinga. Hampir seluruh isi tribun meneriakan nama yang sama. Nama Sang Juara Bertahan.

“Ayo, Samuel!”

“Samueel!”

“Hancurkan rahangnya, Sam!”

“Hambur barisan giginya, Kawan!”

“Patahkan hatinya!”

“Tampar masa depannya!”

Seluruh penonton itu bisa di pastikan berasal dari Surabaya, kota yang di wakili oleh Samuel Sang Juara Bertahan. Kenapa jumlah mereka bisa sebanyak itu dan menguasai seisi tribun? Simpel. Karena mereka adalah Tuan Rumah. Kejuaran ini di selenggarakan di Gelanggang Olah Raga Pancasila, Surabaya.

Sementara Si Penantang, dia tidak punya satupun pendukung yang menyerukan namanya sambil memukul-mukul drum. Tidak ada yang menyanyikan yel-yel sambil mengibarkan bendera dengan begitu bersemangat. Tidak ada supporter dari Kota Malang yang hadir, kota yang di wakilinya di laga final ini. Kalian tahu sendiri sejarah panjang perselisihan antar pemuda dari dua kota itu, bukan? Baguslah jika iya. Tidak perlu di jelaskan lagi mengapa tidak ada supporter dari Kota Malang yang hadir di GOR Pancasila Surabaya sore ini.

Sebelum hari ini, keduanya telah bertemu tiga kali. Di tiga laga sebelumnya Si Penantang tak pernah sekalipun menang. Dua tahu lalu, ia kalah di perempat final pada kejuaraan yang sama. Awal tahun lalu, ia kembali kalah pada seleksi PON. Enam bulan berselang, kekalahannya lebih mengenaskan lagi. Ia K.O di ronde kedua pertandingan. Namun, kali ini ia datang kembali dengan amunisi baru. Strategi baru.

Di tengah gelanggang itu, dua petarung telah berdiri gagah, merobek sore yang cerah.

Sebelum saling menyerang, kedua petarung itu bersalaman sesaat. Tradisi pencak silat. Sang Juara Bertahan tersenyum simpul seraya berkata sombong, “Kalahkan aku, Kawan. Akan ku kabulkan satu permintaanmu.”