JoyNovel

Lisons le monde

Ouvrir l'APP
Suami Berondong

Suami Berondong

Auteur:Erisna Aisyah

Fini

Introduction
Cinta tak selamanya penuh dengan warna. Ada juga masanya menjadi kelabu, seperti hidup yang tak selalu diliputi dengan kebahagiaan. Begitu juga dengan apa yang dirasakan oleh seorang dosen muda bernama Maya Khumaira Zahra. Kisah cintanya kandas di tengah jalan, saat hari pernikahannya hampir saja tiba. Padahal, semua perlengkapan pesta sudah tersedia, undangan pun sudah disebar semua. Namun, ternyata calon suaminya lebih memilih untuk menikahi gadis lain yang sedang mengandung buah cintanya. Hatinya terasa sakit, menimbulkan sebuah trauma yang mendalam pada hal tentang cinta. Hingga akhirnya, untuk menutupi rasa malu keluarganya, sang ayah meminta temannya untuk menikahkan anaknya dengan Maya. Apa jadinya, jika dia tahu kalau ternyata lelaki yang dinikahkan dengannya adalah mahasiswa didikannya sendiri, yang terkenal paling bandel dan suka iseng padanya? Bagaimana dengan kisah rumah tangganya, jika ternyata laki-laki yang menjadi suaminya itu masih memiliki sifat kekanak-kanakan? Mampukah Maya menghadapi segala rintangan kisah cinta dalam rumah tangganya? Ikuti terus keseruan kisahnya! Jangan lupa dukung penulis dengan memberikan review, hadiah, follow dan masukkan karyanya ke dalam tab favorit! Terima kasih.
Afficher tout▼
Chapitre

Bunyi hentakan high heels yang beradu dengan lantai, terdengar nyaring di sepanjang koridor. Masih terlalu pagi, bagi seorang dosen untuk datang ke kampus. Apalagi, jadwal mata kuliahnya dimulai nanti pukul 10.15 WIB, sedangkan sekarang baru menunjukkan pukul 07.48 WIB.

Beberapa mahasiswa menunduk, saat dia lewat di depan mereka. Bukan karena apa, tetapi kegalakan dan sifat dinginnya sudah terkenal sejagad universitas itu.

"Selamat pagi, Bu!"

Beberapa mahasiswa menyapanya dengan ramah. Ada juga yang hanya diam menunduk, tetapi setelah dilewati olehnya malah berlagak seperti orang yang menantang. Dasar pengecut! Begitu teman-teman yang lain mengatainya.

"Hm, pagi!" jawabnya dengan singkat, tanpa menoleh ke arah mahasiswa yang menyapanya.

Bukan sekali dua kali dia sengaja datang lebih awal, tetapi hampir setiap hari. Semuanya demi apa? Ya, seorang lelaki yang berhasil meluluhkan hatinya yang beku.

"Pagi, Sayang!" sapa seorang lelaki berwajah ketimuran itu, lalu mendekat sembari membentangkan tangannya.

"Mas ... jangan begini!" Dia melepaskan dekapan lelaki itu, merasa risih karena masih di lingkungan kampus.

"Kenapa, Sayang? Bukankah biasanya juga kita begini?" tanya lelaki itu, seakan tidak terima dengan perlakuan kekasihnya.

"Bukan begitu, Mas, tapi ini masih di lingkungan kampus. Kamu nggak mau, 'kan, kalau dicap sebagai dosen yang mengajarkan perilaku mesum pada mahasiswanya oleh seluruh penghuni kampus?" ucapnya, mencoba memberi pengertian pada sang kekasih.

"May, kita ini cuma pelukan, nggak lebih. Banyak, kok, mahasiswa-mahasiswa yang melakukan ini di luar jam kuliah," ujar lelaki itu.

"Tapi Mas Dion belum tahu, 'kan, kalau peraturan di kampus ini sudah bertambah lagi?"

Dion mengernyitkan dahi. "Maksud kamu?"

Maya menggeleng pelan, kemudian segera mengambil ponsel dari dalam tas tangannya. Mengutak-atik sebentar layarnya, kemudian menunjukkan sebuah pesan di aplikasi WhatsApp miliknya.

Di dalam sana, tertulis sebuah pesan dari sebuah grup yang berbunyi ....

"Tidak boleh berpelukan antara dua orang lawan jenis di lingkungan kampus, baik itu dosen maupun mahasiswa!

Tidak boleh melakukan hal mesum di lingkungan kampus!

Intinya, tidak boleh berpacaran di lingkungan kampus!

Bagi yang melanggar, akan dikenakan sanksi!"

Dion mendengkus kesal setelah membaca pesan itu.

"Kenapa harus seperti itu, sih?!" serunya, berjalan menuju ruangannya.

"Tak apa, Mas. Ini juga demi nama baik kampus," ujar Maya dengan lembut, mengikuti kekasihnya.

Ya, hanya pada Dion lah Maya bisa berbicara dengan lembut, selain kedua orangtua tentunya. Selebihnya, jangan harap!

"Hah, persetan dengan aturan itu! Pokoknya, aku pengen kita tiap hari bisa seperti ini," ucapnya, kemudian menarik Maya masuk ke dalam dekapannya setelah menutup ruangan itu.

"Mas, tolong jangan begini!" seru Maya, mencoba melepaskan diri dari kekasihnya.

"Sebentar saja, May. Aku sudah tidak tahan jika setiap hari harus seperti ini. Aku janji, setelah ini nggak bakal ulangi lagi," pinta Dion, setengah memohon padanya.

Maya menghela napas sejenak, menimbang segala resiko jika melanggar aturan itu.

"Baiklah, sekali saja. Hanya ini, tidak lebih," ucap Maya pada akhirnya, menunjuk bibirnya yang memakai lipstick tipis.

Dion melebarkan kelopak matanya. "Beneran?"

Maya mengangguk pelan, merasakan jantungnya berdegup dengan tidak wajar. Terlalu cepat dari biasanya.

Dion merasa senang, gairahnya mulai terpancing keluar. Perlahan, dia mulai mendekatkan wajahnya pada Maya. Mengikis jarak di antara keduanya, sampai akhirnya benar-benar tak berjarak sama sekali.

Beberapa saat, keduanya mulai terengah. Maya segera mendorong tubuh Dion, saat dia mulai merasakan hawa panas yang Dion tunjukkan. Tiba-tiba saja, dia teringat ucapan sang ayah. "Jaga diri dan kehormatanmu!"

"Kenapa kau mendorongku, May?" tanya Dion, terlihat jelas kekecewaan di matanya.

"Maafkan aku, Mas. Tapi aku tidak bisa melakukannya lebih dari ini. Kalau kau benar-benar serius, temui kedua orangtuaku. Kita menikah secepatnya," ujar Maya, merapikan penampilannya setelah mengambil kaca dari dalam tasnya.

Dalam hatinya, dia telah mengutuki dirinya sendiri. Kenapa dia mau melakukan hal semacam itu? Padahal, dia tahu betul larangan-larangan dalam agamanya. Dalam hati, timbul rasa bersalah dan juga penyesalan.

"Tapi aku ingin, May ...."

"Enggak, Mas! Temui kedua orangtuaku, atau kita akhiri semua ini!" tegas Maya, kemudian segera meraih handel pintu dan keluar dari ruangan itu.

'Kenapa dia jadi aneh seperti ini?' batin Dion.

"May ... tunggu, May!" cegah Dion, menggapai pergelangan tangannya.

Maya menghentikan langkahnya dan menoleh. "Apalagi, Mas?"

"Oke. Lusa, aku akan datang ke rumah orangtuamu sepulang dari kampus. Kita akan menikah dalam waktu dekat!" ucap Dion.

Maya bergeming.

'Pendengaranku tidak salah, 'kan, seorang Dion Mahendra akan menikahiku dalam waktu dekat?' batin Maya, antara terkejut bercampur senang.

"May ... Maya! Kamu dengerin aku ngomong, 'kan?" Dion melambai-lambaikan tangan di depan wajahnya.

"A-aku ... hanya terlalu bahagia, Mas," jawab Maya, mengulum senyum.

"Benarkah?"

Maya mengangguk.

"Ohh ... syukurlah!"

Dion merentangkan tangannya, hampir saja membawa Maya masuk ke dalam dekapannya, kalau saja seseorang tidak mengagetkan keduanya.

"Ekhem ...!"

Sepasang kekasih itu menoleh, sempat terkejut dengan siapa yang kini berada di depam mereka.

"Lussi? Ada apa?" tanya Maya, mencoba mengembalikan imagenya sebagai dosen yang dingin.

"Ma-maaf, Bu. Sa-saya tidak bermaksud untuk mengganggu," ucap gadis itu, menunduk takut.

"Hm. Lupakan apa yang sudah kamu lihat!" titah Maya, sedikit melirik lelaki yang ada di sampingnya.

Dion yang mengerti apa maksud dari lirikan kekasihnya itu, segera angkat bicara.

"Benar. Lupakan semua yang kamu lihat, anggap saja tak pernah ada kejadian ini!" sahutnya kemudian.

"Ba-baik, Bu ... Pak," jawab Lussi, sembari melirik dua dosen di depannya secara bergantian.

"Katakan, apa yang membuatmu datang ke sini?" tanya Maya dengan wajah datar.

"I-ini, Bu, saya ingin menyerahkan hasil skripsi saya." Lussi menyerahkan sebuah berkas yang berisi hasil skripsinya.

Maya mengernyit. "Loh, bukankah seharusnya besok?"

"Ehm ... besok, saya mau menjemput Mama di rumah sakit, jadi tidak masuk kuliah, Bu," jawabnya.

"Ohh ... ya sudah." Maya menerima berkas itu, kemudian bergegas masuk ke dalam ruangannya.

***

Senja mulai berganti malam. Maya baru saja selesai menunaikan salat Maghrib, begitu juga dengan kedua orangtuanya. Mereka segera berkumpul di ruang makan untuk menyantap makan malam.

Tidak seperti biasanya, hari ini Maya terlihat agak berbeda. Begitu juga dengan ayahnya yang sejak tadi mengulum senyum, seperti hendak menyampaikan sesuatu.

"Pa ... Ma ...," panggil Maya, menatap kedua orang terkasihnya itu.

Bersamaan dengan ucapannya, sang ayah juga memanggil. "May ...."

Mendengar itu, ketiganya tertawa bersamaan.

"Papa duluan," ucap Maya pada akhirnya, bersiap mendengarkan apa yang hendak dibicarakan.

"Ehm, begini, May. Usia Papa dan Mama 'kan sudah semakin menua, kami ingin ... kamu segera menikah," ujar sang ayah.

"Benar, May. Mama juga ingin segera menimang cucu seperti yang lain," tambah ibunya.

Deg!

'Kenapa kebetulan sekali? Aku juga sebenarnya ingin membahas itu,' ucapnya dalam hati.

"Kamu ingat, 'kan, sama Radit?" tanya sang ayah.

Sejenak, Maya mengingat-ingat nama yang ayahnya sebutkan. Ada perasaan aneh yang tiba-tiba menggelitik pikirannya.

"Radit ... yang dulu tetangga kita?" tanya Maya.

"Ya. Dia sekarang sudah dewasa sekali, May, dia juga sudah mapan," sahut sang ayah antusias.

"Ohh ... lalu?" Maya mulai memasukkan sesendok nasi dengan lauknya ke dalam mulut.

"Ayah ingin ... kamu segera menikah dengannya."

Deg!

"Uhuk ...!"

***EA***

Next