JoyNovel

Lisons le monde

Ouvrir l'APP
Istri Nakal Ustad

Istri Nakal Ustad

Auteur:ALICE

Mise à jour de

Introduction
Rayyan, seorang ustad muda yang terpaksa menikah dengan Adinda, gadis nakal, tak tau agama karena sebuah janji dengan orang tua Adinda yang sudah meninggal. Ketika Rayyan membawa pulang Adinda sebagai istirnya, sang umi marah besar. "Ray, ceraikan Adinda. Dia tak pantas untuk kamu, ustadzah Fatimah jauh lebih pantas buat kamu." kaya sang Umi. Adinda pasrah. "Ustad, jangan berpisah dengan kak Adinda, Aisyah mohon. Kak Adinda sedang hamil." dia aisyah adik kandung Adinda. Bagaimana kisah Adinda dan perjuangannya agar diterima dikeluarga ustad rayyan? bisakah adinda mempertahankan pernikahannya?
Afficher tout▼
Chapitre

Bismillah..

Seorang laki-laki berpakaian muslim, dengan surban dilehernta mengucapkan basmallah sebelum dia memulai sesuatu. Dia tak yakin dengan keputusannya, awalnya, tapi setelah dia membaca basmallah dia meyakinkan diri.

Pertama, karena dia sudah berjanji.

Kedua, dia juga ingin wanita disampingnya itu menjadi wanita yang lebih baik.

***

Sebuah kecelakaan mobil terjadi di jalan tol. Korbannya ada dua orang paruh baya yang akan berangkat ke pengajian. Nomer telpon sang anak tak juga bisa dihubungi, dalam keadaan sekarat seorang wanita paruh baya dan laki-laki paruh baya itu meminta suster untuk mengubungi Rayyan. Tertulis disana nama Ustad Rayyan.

"Tolong hubungi kontak itu, sus." kata pria baruh baya yang sudah sesak nafas dan juga luka dimana-mana.

Suster pun menghubungi nomers tersebut. Ustad Rayyan sedang mengisi ceramah disebuah masjid di kota. Dia diminta sang abi yang sakit untuk menggantikannya. Kedua pria dan wanita paruh baya itu sudah beberapa bulan ini belajar agama dan konsuktasi agama dengan ustad rayyan. Mereka yang dulu tak pernah sholat akhirnya mau bertobat. Tapi sayang anak sulungnya masih susah untuk disuruh sholat. Dia membangkang perintah papanya.

Kebetulan ustad rayyan pun baru selesai ceramah. Dia mendapatkan telpon dan langsung mencari keberadaan Adinda yang orang tuanya duga ada di cafe tempat biada dia nongkrong dengan teman-temannta. Hpnya tak bisa dihubungi? Ustad rayyan sendiri tak tau kenapa?

Ustad rayyan dan supirnya langsung datang ke cafe yang disebut. Sesampainya disana ternyata Adinda sedang mengobrol dan tertawa-tawa dengannya. Ustad Rayyan langsung menghampiri Adinda.

"ke rumah sakit, orang tua anda mengalami kecelakaan. Ponsel anda tak bisa dihubungi!" kata Rayyan pada Adinda.

Tawa Adinda berhenti. Adinda beberapa kali melihat ustad rayyan, yang akan terus diceramahi tapi Adinda tak akan mendengarkan ocehan rayyan yang baginya tak penting itu.

"Jangan bercabda deh, ustad. Anda mau bikin saya taubat kan?" kata Adinda, biasanya mama dan papanya juga naik mobil dan tak ada apa-apa. Adinda kembali bercanda dengan teman-temannya.

"Saya gak bercanda. Untuk apa saya bercanda!" rayyan mulai kesal, hidup wanita didepannya itu benar-benar kekinian dan anak kita. Pakaian anak kecil dipakai, rayyan tak habis pikir. Kalau melihatnya saja Rayyan selalu berucap istigfar.

Adinda langsung lari ke mobilnya setelah ustad rayyan menyebutkan rumah sakit tempat orang tuanya dirawat. Adinda langsung menuju rumah sakit itu dan masuk ke ruangan tempat kedua orang tuanya dirawat.

"Mama.."

"Papa.."

Mama dan papanya dibaringkan disatu ruangan yang sama, Adinda menangis melihat kedua orang tuanya yang sekarat, terluka parah. Kenapa bisa sampai kecelakaan padahal kedua orang tuanya biasa mengendarai mobil.

"Adinda, jaga aisyah dengan baik." kata sang mama terbata-bata. Adinda menggeleng dan menangis, mama dan papanya harus menjaga aisyah.

"Tak boleh, mama dan papa harus menjaga aisyah dan adinda, mama dan papa gak boleh ninggalin kita. Nanti aisyah bisa sedih." kata adinda mengusap pipi sang mama.

Hal yang tak pernah rayyan lihat pada diri Adinda yang seorang pembangkang, yang selalu membangkang perintah orang tuanya. Dia menangisi kedua orang tuanya. Detik itu rayyan tau pasti adinda dulu anak yang baik. Entah bagaimana dia berubah jadi pembangkang.

Rayyan hanya berdiri dan memperhatikan adinda dengan orang tuanya. Rayya meminta supir untuk menjemput aisyah di pondok pesantren. Aisyah adalah salah satu murid yang pintar di pondok pesantrennya. Rayyan ingin aisyah juga melihat keadaan kedua orang tuanya, sebelum penyesalan datang terlambat.

Mungkin sekarang keadaan adinda bisa disebut penyesalan yang selalu datang diakhir. Rayyan sering mendengarnya.

"Kak.."

Jarak pondok hanya beberapa jam ke rumah sakit. Asiyah sudah datang, dia langsung mendekati kakaknya dan memeluk sang kakak. Mereka harus kuat dengan kemungkinan terburuk. Aisyah memang lebih muda sepuluh tahun dari Adinda yang berusia 24 tahun, tapi kalau masalah iklas dan tawakal, Aisyah lebih jago dari Adinda.

"Aisyah, jaga kakak kamu. Kamu juga adinda." kata mama mereka pada keduanya.

"Iya mama kami akan saling menjaga, tapi adinda mohon jangan tinggalin adinda." adinda menangis.

"Ustad, menikahlah dengan Adinda dan ajari dia tentang agama." kata papa adinda pada rayyan. Rayyan diam, rayyan bingung harus bagaimana?

Menjadikan adinda agama juga baik tujuannya. Tapi... Rayyan meminta waktu, dia menelpon abi dan menjelasakan semuanya. Setelah itu rayyan kembali dengan supirnya yang juga pintar agama dan juga bisa menjadi saksi juga penghulu untuk pernikahan dadakan itu.

Mereka hanya bisa melihat mama dan papanya yang mulai ditangani dokter. Mereka diminta keluar dan melihat prosesnya diluar. Beberapa kali dokter memacu kembali jantung mama dan papanya adinda, tapi mereka masih tak sadarkan diri.

"Adinda mau menikah denga ustad rayyan, adinda mau belajar agama tapi mama dan papa harus sembuh." kata adinda pada kedua orang tuanya.

"Janji akan belajat menjadi istri yang baik bagi ustad rayyan, kan?" kata sang papa bertanya pada adinda. Adinda mengangguk.

"Asal tuhannya ustad rayyan mau menyembuhkan papa dan mama." adinda menatap ustad rayyan yang berdiri disamping papanya.

"Kita coba."

Ustad rayya memanggil supirnya untuk masuk dengan disaksikan oleh abinya yang sudah meretui niat baik rayyan agar adinda mau belajar agama. Ustad rayyan menjabat tangan papa adinda dan mengucapkan ikr

"Bismillahhirrohmannirohim, saya nikahkan rayyan bin usman dengan anak saya adinda binti ahmad dengan seperangkat alat sholat dan alquraan dibayar tunai."

Bismillahirohmanirohim..

Rayyan bertekat dengan niat baiknya pada Adinda walaupun dia tidak begitu mengenal Adinda. Dengan mantap dia menjabat tangan papa adinda dan menjawab ucapan papa adinda.

"Saya terima nikah dan kawinnya adinda binti ahmad dengan seperangkat alat sholat dan alquran dibayar tunai."

Abi usman, ayah rayyan sendiri yang menjadi saksi kalau pernikahan itu sudah sah. Abi yang memimpin doa lewat telpon. Mendoakan pernikahan rayyan semoga menjadi ibadah rayyan dan adinda. Semoga langgeng sampai maut memisahkan.

Dokter pun mulai menangani kedua orang tua adinda. Adinda dan aisyah hanya bisa menunggu. Rayyan menatap wanita yang kini sudah menjadi muhrimnya itu, takdir tuhannya tak bisa ditebak, rayyan datang untuk berceramah tapi dia malah menikah. Rayyan ikut duduk dan berdoa didepan ruang operasi mama dan papa mertuanya kini.

Tapi ...

Dokternya keluar, dia tertunduk keluar dari ruang operasi. Adinda dan aisyah menghampirinya. Dokter malah memberitahu kalau kedua orang tua adinda tak bisa diselamatkan, mereka sudah tau dari awal.

"Luka dikepala mereka sangat fatal." kata sang dokter.

Adinda meluruh, kakinya lemas bak tak bertulang. Adinda menangis sejadi-jadinya. Menyalahkan tuhannya ustad rayyan. Dia terus menyalahkannya.

"Mana tuhan anda, katanya dia maha penolong. Tuhan anda juga anda pembohong ustad."

Adinda tak sadarkan diri setelah itu. Pemakaman pun dilakukan. Hanya ada ustad rayyan dan masih supir ustad rayyan yang mengurus semuanya. Hingga kedua jasad orang tua adinda dan aisyah dimasukan keliang lahat.

"Kakak, yang ikhlas. Kakak harus mendoakan mama dan papa supaya mereka diberi tempat terindah disisi Allah swt." kata aisyah memeluk kakaknya yang tak henti menangis.

Aisyah pun menangis, tapi dia tau, dunia ini memang sementara. Akhirat lah yang kekal, yang hidup entah kapan dan bagaimana akan mati. Adinda pingsan dalam pelukan aisyah. Ustad rayyan membopong adinda masuk ke mobil.

Rayyan membawanya kembali ke rumah megah mereka yang ada disebuah kompleks elit. Ustad usman sendiri yang membawa adinda hingga ke kamar, merebahkan tubuh adinda disana.

"Ustad, ustad tidak akan meninggalkan saya dan kakak saya kan? Ustad akan tetap menjadi suami kakak saya kan? Menjaga saya dan kakak saya, seperti seorang kakak sungguhan. Maskudnya pernikahan ini bukan pernikahan main-main hanya untuk membuat almarhum papa saya pergi dengan tenang kan?"

Ustad rayyan akan pergi, membiarkan adinda istirahat dengan pengawasan aisyah. Tapi ucapan aisyah menghentikan rayyan. Rayyan tersenyum dan mengangguk.

"Saya berjanji akan menjaga kamu dan kakak kamu. Menjadi imam kakak kamu sampai maut memisahkan kami. Saya akan tepati janji saya. Kamu tenang saja."

Aisyah lega mendengarnya. Rayyan pamit untuk keluar sebentar.