JoyNovel

Lisons le monde

Ouvrir l'APP
SEASON OF MY LIFE IN SEOUL

SEASON OF MY LIFE IN SEOUL

Auteur:Stevany Boo

Fini

Introduction
Kematian dan pasangan hidup selalu menjadi misteri bagi setiap orang. Begitu pun dengan hidup Raka seorang yang harus menerima takdir untuk ditinggalkan oleh keluarganya kerena dibunuh oleh yang tak dikenal. Tak jauh, kehidupan Kavithya yang sempurna membuatnya harus menikah dengan pilihan orang tuanya demi keberlangsungan bisnis mereka. Bagaimanakah kedua orang yang memiliki takdir berbeda ini akhirnya memilih untuk menikah agar dapat menyelamatkan hidup mereka masing-masing? “Bagaimana kalau kita menikah saja?” ujar Raka dengan santai. Akankah dengan mereka melarikan diri ke Seoul akan merubah nasib mereka?
Afficher tout▼
Chapitre

Malam ini langit dipenuhi dengan gemerlap bintang nan indah. Di taman itu duduklah seorang anak gadis yang baru saja menerima kabar kelulusan akan gelarnya sebagai anak sekolah menengah atas. Kini dia sudah berhak memakai kartu tanda pengenal sebagai awal dari kehidupan orang dewasa yang akan dialami dalam hidupnya.

“Thya!” sapa beberapa sepupunya.

Gadis yang dipanggil Thya itu membalas sapaan mereka dengan senyuman manisnya.

Thya kembali menatap sekitar, sesekali menatap beberapa teman-teman Ayah yang baru saja datang. Mereka memakai pakaian yang sangat rapi, seperti akan mendatangi sebuah acara khusus.

“Ckk… kenapa mereka datang ke acara keluarga seperti ini? Lagian kenapa Ayah mengundang mereka?” delik Thya yang memiliki nama lengkap Kavithya Atmaja.

Thya duduk sendiri di meja paling ujung, karena dia bingung apa yang harus dilakukannya.

Setelah meminum beberapa jus yang ia minta khusus pada pembantu, ia mulai resah dan semakin tak betah harus berada bersama orang-orang yang akan membicarakan bisnis yang tiada habisnya itu.

Matanya yang bulat dan besar segera mencari di mana keberadaan sang Ibu.

“Bu Raina ada di mana?” tanya Thya pada salah satu pembantu yang tak sengaja lewat di hadapannya.

“Oh Ibu… beliau ada di dekat kolam Nona.” Tangan pembantu itu berusaha menunjukkan dimana tepatnya Nyonya berada.

Thya memberikan senyuman tipis, lalu beranjak pergi menemui Ibunya yang tampak sedang asyik mengobrol dengan beberapa kolega bisnisnya.

Langkah gadis ini sedikit terbatasi karena gaun panjang nan ketat sedang ia pakai. Lekuk tubuh indahnya sangat terlihat jelas akibat gaun yang sangat menempel pada kulit putihnya itu.

Tak lama, Thya sampai di tepian kolam dimana di atas sana terdapat puluhan lilin kecil yang sedang mengambang asyik menyinari sampai dasar kolam. Beberapa kelopak bunga warna-warni ikut menghiasi setiap sudutnya. Dan Thya sama sekali tak perduli dengan semua nama kelopak bunga yang bertebaran itu.

“Bu… boleh bicara sebentar?” ucap Thya agak keras agar bisa menyela obrolan Rania dengan teman-temannya itu.

Sontak semua mata tertuju pada Thya, gadis yang sebenarnya sedang memberanikan dirinya itu.

“Tentu Nak,” balas Rania dengan hangat. Ia pun permisi dari kerumunan beberapa wanita seumurannya itu, dan diikuti dengan langkah kaku Thya.

“Kamu udah ketemu sama keluarga Pak Dera?”

Thya menggelengkan kepala, dan menghela napas panjang. “Bu, bukannya ini hari perayaan kelulusanku? Kenapa nggak ada satu teman yang datang? Kenapa semua yang hadir teman bisnis Ayah saja?” keluh Thya sambil berusaha terdengar baik-baik saja.

Rania sudah menduga anak semata wayangnya akan menanyakan hal seperti ini padanya.

Rania mendekat lalu mengusap rambut panjang hitam Thya yang dibiarkan tergerai begitu saja.

“Kamu tahu kan Ayah itu sifatnya gimana… jadi sebaiknya kamu jangan terlalu berharap pada Ayah.”

Thya mendengus, wajahnya kecut. “Ya, Ayah emang selalu egois!”

Rania tertawa kecil melihat keluh kesah anaknya yang seperti baru saja tahu karakter suaminya itu.

“Kita turuti saja kemauan Ayahmu sekarang, karena Ibu yakin semua yang dilakukan Ayah pasti karena sayang sama kamu!”

Lagi-lagi Rania mengatakan hal yang sulit dimengerti oleh otak kecil Thya itu.

Terdengar riuh suara di tengah taman, itu pertanda acara malam ini akan dimulai.

Rania melangkah ke arah suara lalu diikuti oleh Thya dengan langkah kakunya.

Thya memilih duduk di meja kosong, di paling pojok tempat dimana para pembantu rumah sedang berkumpul sambil berdiri menikmati acara ini.

Pemandu acara dengan gampangnya memeriahkan acara, juga makanan manis tak hentinya di hidangkan di setiap meja.

Thya nampak sangat ingin sekali keluar dari kerumunan ini, namun apa daya… dia harus selalu siap sedia ketika Ayahnya memanggil untuk sekedar sambutan atau menyapa beberapa koleganya. Ya, dia berpikir, itulah tugasnya terlahir di dunia ini. Sungguh tak asik!

Semakin malam, acara semakin meriah. Ia juga tak melihat dimana Ayah dan Ibunya berada.

“Nona Thya kenapa duduk di sini sendirian?” ucap salah satu pembantu yang sedari tadi memperhatikan Thya.

“Oh, aku agak kurang sehat, lagian aku nggak dicariin sama Ayah dan Ibu, jadi lebih baik aku di sini saja sampai acaranya selesai,” ucapnya ketus.

Pembantu tersebut tersenyum miris, lalu melangkah menjauh meninggalkan Thya yang memang ingin dibiarkan sendirian itu.

“Ini bukan acaraku, tapi kenapa aku harus repot-repot di sini? Apalagi pakai gaun ketat seperti ini! Merepotkan saja!” Ia mengeluh untuk kesekian kalinya.

Setelah beberapa saat kemudian, mata Thya menemukan sosok Ayahnya dan Ibunya berada. Ia pun segera menaruh minuman jusnya diatas meja lalu bergegas menemui mereka berdua.

Saat beberapa langkah lagi akan sampai, mulut Thya sudah siap menyapa mereka, tapi ternyata ada seorang laki-laki yang mendahuluinya untuk menyapa.

Thya pun akhirnya berdiri mematung, tanpa tahu harus melakukan apalagi melihat kedua orang tuanya sangat akrab dengan laki-laki tersebut.

“Sudahlah aku sekarang hanya harus kembali ke tempat duduk dan menunggu acaranya sampai selesai… ya simplenya seperti itu!” ucapnya dalam hati untuk mengobati rasa kesalnya.

Namun ketika Thya berencana untuk kembali ke tempat duduknya yang berada di ujung taman itu, Rania melihatnya. “Thya! Mau ke mana? Sini!” teriak Rania yang melihat anaknya berjalan dengan gontai itu.

Thya pun menengok dan nampak Ayah dan laki-laki yang namanya entah siapa itu, mereka tersenyum padanya, seolah mereka semua tengah menyambut kedatangan Thya di tengah mereka.

“Nak sini sebentar!” pinta Ayahnya yang bernama Riswan. Suaranya yang dalam dan berwibawa membuat Thya tak mampu untuk menolaknya.

Laki-laki itu semakin tersenyum ke arah Thya. Hal ini membuat Thya merasa tidak nyaman.

“Siapa sih itu? Kayaknya aku baru pertama kali ketemu sama dia!” ucapnya dalam hati.

“Nak, kenalkan ini Reto, anak pertamanya Pak Dera!” ucap Riswan pada Thya.

Thya melihat laki-laki yang bernama Reto itu mengulurkan tangan indahnya, “Kenalin aku Reto, seneng banget bisa ketemu langsung sama kamu!”

Dahi Thya otomatis mengernyit mendengarnya, “Apa maksudnya ketemu langsung? Memangnya dia tau aku sebelumnya?” batin Thya.

Mau tak mau, gadis itu harus menerima jabatan tangan dari laki-laki yang menurutnya sedang tebar pesona itu.

“Kenalin aku Kavithya, senang berkenalan sama kamu!” balas Thya yang maksudnya hanya membalas kebaikan kata-kata Reto.

Riswan sangat bahagia melihat mereka berdua akhirnya secara resmi berkenalan, begitu pun Rania, namun sebagai Ibu dia merasakan separuh hatinya agak hancur mendapati kenyataan yang sebentar lagi akan didengar oleh anak semata wayangnya itu.

“Kalau begitu kalian mengobrol saja di sini, kami mau menyapa tanu lain!” Dengan segera Riswan menggandeng lengan istrinya agar bergegas meninggalkan mereka berdua.

Thya pun kaget dan hampir akan menahan Ayahnya, namun Reto mampu mengalihkan perhatian Thya dengan sekejap, “Kamu sebentar lagi bakalan tau kalau kita akan dijodohkan!” bisik Reto dengan lembut ke telinga Thya.