JoyNovel

Lisons le monde

Ouvrir l'APP
Farfalla Si Wanita Malam

Farfalla Si Wanita Malam

Auteur:Queen_KTH

Fini

Introduction
Mawar Eva atau yang biasa dikenal dengan nama Farfalla (Kupu-kupu Malam). Seorang wanita cantik dengan lekuk tubuh indah itu berprofesi menjadi seorang wanita penghibur. Sebuah kenyataan menyeretnya pada masalah besar, di mana di masa lalu dirinya ternyata seorang putri dari mafia bisnis dalam dunia gelap. Farfalla mendapatkan tugas untuk membunuh musuh ayahnya. Ya, orang-orang yang telah menghabisi nyawa ayahnya di masa lalu. Akan tetapi, dia justru malah terjebak perasaan yang mana dirinya malah jatuh cinta pada sosok laki-laki arogan dan dingin bernama Sakya Ravindra Carter.
Afficher tout▼
Chapitre

"Semakin hari sentuhamu semakin membuatku gila, Farfalla." Laki-laki itu menatap Farfalla, lalu dia mendaratkan bibirnya di bibir ranum wanita yang ditindihnya itu.

Setelahnya dia pun menggulingkan tubuhnya sendiri ke samping wanita cantik, yang saat ini masih berada dalam puncak kenikmatan. Wanita bernama Farfalla itu tersenyum, dia bangkit dengan tubuh polosnya sembari merapihkan rambutnya yang basah karena keringat.

Farfalla menatap dengan mata biru menawannya. Dia tersenyum manis, menampilkan lesung pipi yang akan membuat siapa saja terpesona karena itu. Tidak perlu berpakaian seksi, berlenggak-lenggok memamerkan bentuk tubuhnya, hanya cukup menatap sembari tersenyum saja sudah cukup membuat semua pria bertekuk lutut di depannya.

"Sepertinya perawatan kemarin cukup berpengaruh." Suara lembut itu bisa membuat para kaum Adam berdebar.

Pesona seorang Farfalla memang tidak bisa ditandingi. Dia bagaikan seorang Dewi yang terperangkap dalam jati diri seorang wanita malam. Farfalla duduk di depan meja rias. Dia membiarkan punggung polosnya menjadi tontonan laki-laki itu. Seperti sudah mengenal Farfalla sejak lama, aksi wanita itu membuat si pria ikut bangkit dan mendekat. "Apa pun itu, katakanlah!"

Dagu si laki-laki mendarat di pundak Farfalla. Di sana ada tato kupu-kupu yang hinggap di kelopak mawar, itulah ciri khas dari seorang Farfalla, dan karena itu juga wanita itu dijuluki Farfalla yang artinya memang kupu-kupu. Laki-laki itu selalu royal saat memberikan hadiah untuk wanita yang menemani tidurnya. Apalagi ini Farfalla, wanita cantik yang memiliki tarif paling tinggi di club sana. Hanya orang-orang tertentu yang memiliki VIP Card yang bisa bermalam dengan Farfalla.

"Temani aku besok malam dan apa pun itu akan kuberikan padamu. Bagaimana?" Penawaran yang cukup bagus, sayangnya tidak semudah itu mengajak Farfalla kembali bergulat di atas tempat tidur.

Pria itu memakaikan pakaian dalam Farfalla. Dia mengecup singkat keningnya, lantas beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Farfalla hanya mematung, dia memang menikmati setiap pekerjaan yang dilakukannya. Semua yang dia inginkan akan bisa dia beli dengan uang hasil keringatnya itu. Hanya saja, pilu terus menggerogoti hati kecilnya yang setiap malam hanya bisa menjerit menahan beban hidup.

Farfalla pergi ke kamar mandi lain, yang sebenarnya masih berada di ruangan itu. Setidaknya butuh satu jam untuk dia membersihkan diri, satu jam lagi untuk seorang Farfalla kembali siap keluar dari ruangan kerjanya itu.

"Seperti biasa, 75 banding 25, kan?" Farfalla mengangguk.

Laki-laki itu mengeluarkan dompetnya. Seperti biasanya, jatah Farfalla akan jauh lebih banyak dari tarif yang sudah ditentukan club. Bukan Farfalla yang memintanya, tetapi semua laki-laki yang turun dari tempat tidurnya akan melakukan hal yang sama. Setidaknya memang 100 persen dari tarif itu utuh untuk Farfalla dan 25 persen dari jumlah tersebut diberikan ke pihak club.

Setelah menerima uang itu, Farfalla langsung memasukkannya ke dalam tas, lantas pergi dari sana. Tentu aksi itu dilakukannya setelah pelanggannya itu pulang. Farfalla kini keluar kamar dengan wajah yang tampak masih fress. "Udah melayani berapa laki-laki hari ini, Mawar?"

Farfalla tidak menjawabnya, dia hanya melirik dengan ekspresi datar. Seperti itulah dia. Tampaknya Farfalla hanya akan bersikap manis dan lembut pada pelanggannya saja. Suara ketukan dari high heels merah milik Farfalla selalu menjadi pusat perhatiannya, sekalipun musik tengah menguasai bangunan mewah di sana.

"Jangan hanya satu pelanggan sehari saja, Mawar. Saya repot menghadapi mereka yang terus merengek meminta tempat tidurmu."

"Aku lelah, hari ini cukup saja."

"Akan pergi ke mana kamu?" Pertanyaan itu hanya menjadi bualan yang tidak akan pernah mendapatkan jawaban dari seorang Farfalla.

Tidak perlu mendengar jawaban dari mulut mungilnya itu. Semua orang juga sudah tahu, dia akan pergi ke mana setelah melakukan pekerjaannya itu. Farfalla mengambil segelas minuman yang dibawa pelayan di sana, dia duduk di samping seseorang yang kini hanya tertunduk dengan botol minuman keras di tangannya.

"Aku akan menikahi kamu, jadi keluarlah dari tempat seperti ini, Mawar!"

"Sayangnya aku tidak akan membiarkan kamu menikahi gadis kotor sepertiku, Diran." Suara Farfalla membuat laki-laki di sampingnya itu tersenyum kecut.

Lantas dia melirik Farfalla, melemparkan tatapan teduh yang selalu membuat Farfalla merasa kalau itulah obat lelahnya selama ini. "Jangan melakukan hal bodoh," ucap Farfalla.

"Aku tidak bisa melihat mereka menatapmu seperti seekor singa yang kelaparan. Aku juga tidak bisa mendengar desahan napasmu dengan laki-laki lain. Mawar! Aku—" Farfalla menggeleng, dia menutup mulut Diran dengan mulutnya sendiri.

Diran menjauhkan tubuh Farfalla darinya. "Sekarang kamu adalah Mawar Eva, bukan Farfalla. Jangan melakukannya lagi atau aku akan kehilangan kendali," ucapnya.

"Baiklah, maafkan aku. Jadi, siap untuk mengantarkan aku pulang hari ini?" Mawar melebarkan senyumannya, dia bangkit, dan mengulurkan tangannya ke arah Diran.

Diran menerima uluran tangan itu, dia membiarkan Mawar bergelayut manja di lengannya sembari menyenderkan kepalanya. "Apa dia ada di rumah?"

"Aku tidak akan pulang jika dia ada di rumah. Aku tidak bisa membiarkannya menyakitimu terus."

"Diran!" rengek Mawar.

"Mawarku yang cantik, tolong mengertilah. Kali ini, kalau dia sampai menyentuhmu lagi maka aku akan mematahkan lehernya. Aku tidak akan ...." Mawar tidak peduli dengan ocehan sahabatnya itu. Dia tahu kalau Diran sangat peduli dan bahkan sangat mencintainya.

Mawar Eva bukanlah gadis biasa. Dia adalah seorang wanita penghibur yang hidup bersama kedua orang tua angkatnya yang hidup dalam kesusahan. Mawar seringkali mendapatkan perlakuan kasar dari sang Ayah yang merupakan seorang penjudi dan pemabuk. Bahkan, adanya Mawar di club sana adalah ulah ayah angkatnya sendiri.

Sementara di sisi lain, dalam kegelapan beberapa pasang mata tengah mengamati Mawar dan Diran. Keduanya saling mengangguk, lalu berjalan satu persatu mengikuti Mawar dan Diran.

"Saya sudah mendapatkan datanya. Jika benar dia datang ke tempat itu, maka dia memanglah orangnya."

"Tetap jaga jarak, jangan sampai membuatnya curiga karena kita hanya menjaganya bukan membuat dia ketakutan!" Perintah itu membuat semua orang yang mengikuti Mawar mengangguk.

***

"Apa kalian sudah menemukannya?"

"Abian bilang dia sudah menemukannya. Sekarang mereka masih memastikan apakah benar itu Nona Aluna atau bukan," ucap salah satu laki-laki yang kini hanya menunduk saat memberikan jawaban pada tuannya.

Tangan laki-laki itu bergerak, yang membuat si anak buah dengan cepat mundur dan pergi dari ruangan itu. Sementara dia kini mulai meraih sebuah bingkai foto. Di sana ada dua orang anak kecil dan kedua orang dewasa yang berpose penuh kebahagiaan. Seketika tangannya terkepal dengan kuat.

***

"Ibu! Kenapa? Kenapa tidur di bawah kayak gini coba." Mawar membangunkan ibunya yang saat dia datang tengah terkapar di lantai.

Diran dan Mawar menggotong tubuh lemah seorang wanita yang tadi dipanggil Ibu oleh Mawar. Wanita itu memiliki luka di keningnya yang saat ini tampak sudah mengering, dan juga sekujur tubuhnya dipenuhi luka lebam. "Kita bawa dia ke dokter aja, ya!"

"Kita pergi ke dokter ya, Bu?"

"Ibu gak apa-apa. Ini cuma—"

"Mau ngapain kamu pulang?" tanya seseorang dari arah pintu masuk.

Sontak dengan cepat Diran bangkit dan menutupi tubuh Mawar. "Minggir kamu atau saya akan—"

"Akan apa? Justru saya akan melaporkan Bapak ke polisi kalau sampai berani menyentuh Mawar!" Kini Diran tidak berbohong. Dia mengeluarkan ponselnya dan siap untuk menghubungi pihak berwajib.

"Sebentar lagi dia akan mati, jadi tidak perlu pergi ke rumah sakit," sahutnya yang kini pergi ke ruangan lain. Laki-laki itu diketahui bernama Manuel Mawardi mantan ajudan dari salah satu mafia terkenal di Indonesia. Itulah kenapa orang banyak mengenalnya, juga banyak yang tunduk padanya.

"Jangan dengarkan Bapak, Bu. Ibu pasti sembuh, kok. Oh iya, Mawar bawakan buah sama roti kesukaan Ibu. Jadi, sekarang Ibu makan dulu ya, Mawar mau cuci sama kupas buah-buahan ini dulu."

"Diran! Temani Ibu sebentar, ya!"

"Mawar!" panggil Diran yang merasa khawatir saat Mawar memilih untuk pergi ke dapur. Mawar menggeleng, dia juga mengusap lengan Diran sembari berjalan sebagai pertanda kalau dirinya tidak apa-apa.