JoyNovel

Lisons le monde

Ouvrir l'APP
Bukan Pernikahan Paksa

Bukan Pernikahan Paksa

Auteur:Waterlily_Girl

Fini

Introduction
Lily Anasya, seorang gadis yatim piatu yang hanya tinggal bersama dengan neneknya. Lily pernah menjadi korban penipuan, dan hampir dijual oleh orang yang tidak bertanggungjawab beberapa tahun yang lalu. Untungnya Lily masih bisa selamat dan kini kembali ke kotanya, di Kalimantan. Sekarang, ia malah mau menerima sebuah lamaran dari seorang ibu muda bangsawan, untuk dinikahkan dengan putra beliau, Leo Rafasha. Sebagai penebus rumahnya yang sekian lama tergadai. Leo, ialah seorang pria berwajah tampan dan dingin. Serta punya sikap kasar, dan juga tempramen. Mungkin banyak yang mengira ini ialah sebuah pernikahan paksa. Namun, faktanya Lily malah menerimanya dengan sebuah asa. Beserta sebuah 'Niat' yang kini tertanam di dalam hati dan jiwa.
Afficher tout▼
Chapitre

"Bagaimana, Bu? Apa Ibu setuju dengan penawaran saya?" tanya seorang ibu muda kepada seorang nenek, yang tiada lain adalah neneknya Lily.

"Maaf, saya tidak akan pernah menyerahkan cucu saya! Urusan rumah ini, saya akan berusaha keras untuk menebusnya sendiri." Nenek Lily menatap ibu muda itu dengan emosi.

Neneknya Lily pernah menggadaikan rumahnya beberapa tahun yang lalu. Sebagai biaya, mengganti kerugian yang ditimbulkan Lily. Saat ia bekerja di sebuah perusahaan besar. Namun ternyata Lily hanya dijebak, dan disuruh membayar ganti rugi sebanyak sepuluh juta rupiah.

Walaupun Lily sudah mengganti semuanya, tetap saja Lily tidak diizinkan pulang ke kampung halamannya. Ia malah dijual kepada orang yang tidak dikenal. Namun, pertolongan Allah yang membuat Lily selamat dari tempat itu.

"Hmmm, itu terserah pada anda. Saya hanya memberikan penawaran yang sama-sama menguntungkan kita. Ibu dapatkan kembali rumah ini, sedangkan saya mendapatkan seorang istri untuk anak saya." Ibu muda itu terlihat tersenyum licik.

"Kenapa harus cucu saya? Bukankah masih banyak gadis lain di luar sana?" tanya Neneknya Lily, sembari menahan emosi.

"Ya, saya menginginkan cucu Ibu, karena rumah kalian telah tergadai kepada saya." Beliau kembali tersenyum, sesekali menatap ke arah hujan yang mengguyur dengan derasnya.

Deg! Neneknya Lily mulai bimbang. Beliau sebenarnya tau apa yang menjadi alasan ibu muda itu menginginkan cucu beliau. Karena faktanya, tidak ada orang yang mau menikahkan gadis-gadisnya dengan anak ibu itu.

Karena mereka tau, bahwasanya anak ibu itu seorang yang cacat dan memiliki jiwa yang tempramental. Ia bisa melukai siapapun yang membuatnya emosi. Itulah kabar yang sering didengar oleh neneknya Lily. Sehingga beliau pun tidak rela, jika Lily sampai menjadi korban pria itu.

"Saya tidak akan pernah rela, cucu saya dinikahi oleh pria yang berjiwa tempramen!" tegas neneknya Lily.

Andai hanya cacat semata, sepertinya tidak masalah. Namun, kalau sampai punya jiwa tempramen, siapa yang bisa menjamin. Neneknya tidak bisa membayangkan, jika Lily sampai diperistri olehnya.

"Maaf, Ibu tidak berhak menghina anak saya. Karena Ibu belum pernah bertemu dengannya!" tegas Ibu muda itu dengan serius.

"Saya tetap tidak akan menyerahkan cucu saya kepada anda!" sahut neneknya Lily.

"Hmmm, sepertinya Ibu menantang saya?" tanya ibu muda itu dengan licik.

"Assalamualaikum, Nenek! Tante!" seru Lily di ambang pintu.

"Waalaikum salam," sahut neneknya dengan wajah khawatir.

"Gadis itu kan, yang barusan hampir tertabrak tadi?" gumam ibu muda itu.

Flashback beberapa waktu lalu.

Di pagi ini Lily berjualan seperti biasa. Ia menjajakan sayuran yang ia buat ke setiap perumahan yang ada di daerahnya. Ia berjualan menggunakan motor matic sederhana yang ia punya. Namun, baru saja motornya melintasi jalan raya. Tiba-tiba ada sebuah mobil yang melaju kencang ke arahnya.

Ciiittt! Mobil itu berhenti mendadak di depan Lily. Membuat Lily menjadi oleng, dan malah terjatuh dari motornya. Penghuni mobil itu terlihat panik melihat keadaan Lily yang kini terjerembab di aspal.

"Leo! Apa yang kau lakukan?" tanya seorang ibu muda, kepada sang pengemudi itu.

"Le-Leo tidak sengaja, Bu." Pria yang menyetir itu mulai terlihat panik, dan yang duduk di sampingnya itu terlihat seperti ibunya.

"Sudah Ibu bilang kan, kakimu masih sakit. Kau masih belum bisa menyetir!" tegas ibunya kecewa, sembari mulai turun dari mobilnya.

Ibu muda itu segera turun ke arah jalanan. Membantu Lily yang terjatuh di dekat mobil mereka. Untungnya itu hanya sebuah kecelakaan ringan saja. Namun, tetap saja beliau terlihat panik.

"Kau tidak papa, Nak? Maafkan atas kecerobohan anak saya, ya." Beliau terlihat membantu Lily berdiri.

"Ti-tidak papa, Tante. Lagian aku tadi jatuh sendiri kok. Bukan karena tertabrak mobil kalian," sahut Lily ramah.

Ibu muda itu menatap Lily dari ujung kepala sampai ujung kakinya. Terlihatlah seorang gadis cantik yang memakai tunik serta hijab pashmina yang berwarna dusty. Terlihat sederhana, namun begitu cantik ketika Lily yang mengenakannya.

"Tante ganti kerugiannya ya," ucap beliau mengambil beberapa lembar uang di dalam dompetnya.

"Eh, tidak usah Tante." Lily terlihat berusaha membangunkan motornya, agar tidak menimbulkan kekhawatiran di hati beliau.

"Biar Tante bantu," ucap beliau, sembari membantu Lily.

"Terimakasih, Tante." Lily kembali tersenyum manis ke arah beliau.

Pria yang menyetir mobil itu menatap mereka dengan sinis. Seorang pria tampan, namun memiliki beberapa perban di wajahnya itu terlihat tidak suka. Ia menyalakan klakson mobilnya, berharap sang ibu segera meninggalkan gadis itu.

Teeeet!

"Astagfirullah," ucap ibunya dan Lily bersamaan.

Bagaimana tidak terkejut. Mobil yang hanya berjarak satu meter di belakang mereka itu membunyikan klakson secara tiba-tiba. Tak lama kemudian, terlihatlah pria itu mendongakkan kepalanya ke luar jendela mobilnya.

"Bu, bisakah kita pulang dengan cepat!" serunya.

"Iya, sabar dulu Nak."

"Ya sudah, Tante pulang dulu ya. Sampai ketemu lagi," ucap beliau kepada Lily.

"Iya, hati-hati Tante." Lily tersenyum ke arah beliau.

Ibu muda itu segera masuk ke dalam mobil. Beliau menatap putranya dengan emosi. Bagaimana mungkin putranya bisa bersikap seperti itu. Karena dulunya, putranya ini termasuk sebagai orang yang baik dan juga sopan.

"Leo, berhentilah bersikap semaumu!" tegas ibunya.

"Ah, sudahlah Bu. Ibu tidak perlu terlalu dekat gadis asing. Karena bisa saja ia sengaja menjebak kita!" Ia menatap ibunya dengan sinis.

"Leo, apa maksudmu? Dia itu seorang gadis yang baik. Buktinya, dia tidak meminta ganti rugi kepada kita." Ibunya menatap Leo dengan serius.

"Tapi Leo tidak suka!" tegasnya kesal."

"Leo! Kau tidak boleh berkata begitu. Ya sudah, kau pindah tempat. Biar Ibu saja yang menyetir." Ibunya keluar dari mobil, dan mulai masuk dari pintu sebelah.

Leo dengan sigap menggeser posisinya, membiarkan ibunya menyetir mobil mereka. Sebenarnya dulunya Leo adalah seorang pria yang baik, tegas serta pekerja keras. Hanya saja sebuah kejadian tragis beberapa tahun yang lalu telah membuatnya menjadi seperti ini. Ia mengalami sebuah luka bakar di wajah, serta patah tulang pada kakinya.

Semenjak saat itu, teman-teman beserta wanita yang pernah mengejarnya dulu, malah menjadi lebih menghindarinya. Akhirnya Leo memutuskan untuk tidak mengurus perusahaannya lagi. Ia lebih memilih mengurung diri di dalam rumahnya sampai saat ini.

"Leo, berhentilah bersikap seperti itu. Jangan kau menganggapvmvm kepribadian tiap orang itu sama." Ibunya membujuknya dengan perlahan.

"Tidak, Bu. Semuanya sama saja bagi Leo! Hanya Ibu wanita satu-satunya yang berhati tulus." Leo menatap wajah ibunya dengan nanar.

"Leo, Ibu sangat berharap kali ini kau mau menerima permintaan Ibu. Ibu mohon, berusahalah bersikap baik di hadapan wanita yang akan Ibu lamarkan untukmu hari ini." Beliau menatap Leo serius.

"Kenapa Ibu begitu yakin dengannya? Bukankah kita belum pernah melihatnya Dan satu hal lagi, Leo sudah tidak percaya dengan seorang wanita selain Ibu!" tegas Leo.

"Aku akan menunggu di mobil saja nanti, Bu." Ia meneruskan ucapannya.

Walaupun luka bakar di wajahnya sudah perlahan sembuh. Namun, Leo tetap saja tidak mau bergaul dengan orang luar. Karena ia sudah tidak percaya lagi dengan orang-orang yang pernah meninggalkannya dulu.

Di tempat tadi, terlihatlah Lily mulai memacu motornya dengan perlahan. Namun, tiba-tiba ia tak sengaja melihat sebuah dompet wanita. Sepertinya dompet ibu muda yang turun dari mobil tadi.

"Astaga, itu kan dompet ibu muda tadi." Lily beranjak dari motornya, lalu memungut dompet yang ada di hadapannya.

Baru saja membuka isinya, dan membaca alamatnya, tiba-tiba ada sekelompok ibu-ibu yang menghampirinya. Lily dengan sigap menyimpan dompet itu di dalam tasnya. Ia tersenyum kearah mereka.

"Sayur, Bu?" tanya Lily, sembari turun dari motornya.

"Eh, iya Nak." Ibu-ibu itu menuju jalan, tempat Lily berhenti.

"Saya beli dua bungkus ya," ucap salah satu ibu paruh baya, sembari mengambil uang harga sepuluh ribu.

"Saya juga dua, ya." Ibu-ibu yang lain juga menimpali.

"Baiklah, tunggu sebentar ya." Lily segera mengambilkan pesanan ibu-ibu tersebut.

Setelah selesai, Lily kembali memacu motornya seperti tadi. Ia sangat senang karena sayurnya pagi ini sudah laku sepuluh bungkus di tempat itu. Lily berharap, ia bisa meraup pundi-pundi rupiah yang lebih banyak di tempat lain. Yang pasti, setelah ia mengembalikan dompet ibu muda tadi.

Namun, baru saja ia memacu motornya. Tiba-tiba hujan malah turun dengan derasnya. Lily tidak punya pilihan lain, selain kembali dulu ke rumahnya, sembari menunggu hujan reda. Karena jarak yang ia tuju masih lumayan jauh.

Sesampainya di rumah, Lily terlihat bingung, manakala matanya melihat ada mobil yang terparkir di halaman. Karena, siapa juga yang mau bertamu ke rumah sederhana miliknya

"Itu mobil siapa?" gumamnya, sembari melajukan motornya ke teras.

Lily bergegas melangkah menuju pintu rumahnya. Namun, alangkah terkejutnya ia dengan apa yang ia lihat sekarang. Neneknya sedang berbincang-bincang dengan ibu muda yang bertemu dengannya di jalanan raya tadi.

Leo yang memantau dari dalam mobil juga tidak kalah terkejut melihat Lily baru saja pulang ke rumahnya. Ia benar-benar tidak menyangka, bahwasanya gadis yang hampir ditabraknya tadi, ialah gadis yang akan dilamarkan untuknya.

"Hmmm, sepertinya menarik." Ia tersenyum licik ke arah Lily.

Flashback off.

Lily segera masuk ke dalam rumahnya. Lalu membuka tasnya, dan mengeluarkan dompet ibu muda tersebut. Beliau tercengang melihat apa yang dilakukan Lily.

"Maaf, Tante. Tadi dompet Tante jatuh, dan aku tidak sempat mengejar Tante."

"Alhamdulillah, untung ya kau yang menemukannya. Kau memang anak yang baik ya Sayang." Beliau tersenyum ke arah Lily, serta terenyuh dengan ketulusan Lily.

Berbeda dengan neneknya. Neneknya malah menatap mereka dengan sinis. Ia tidak suka, manakala Lily terlihat akrab dengan ibunya Leo.

"Lily, ayo cepat mandi. Nanti, sakit lho." Neneknya memintanya dengan lembut.

"Baiklah, Nek. Oh ya, kenapa kalian bisa saling kenal?" tanya Lily bingung.

"Ini urusan orang dewasa, Sayang. Ayo cepat mandi," pinta neneknya lagi.

Lily mengangguk, lalu segera meninggalkan tempat itu. Terlihatlah ibunya Leo menatapnya sembari tersenyum. Lalu beralih ke arah neneknya Lily. Membuat neneknya menjadi semakin khawatir.

"Oh, jadi namanya Lily?" tanyanya.

"Jangan sebut nama cucu saya. Saya ingatkan sekali lagi, saya tidak akan menyerahkan cucu saya kepada anda!" tegas neneknya lagi.

"Itu terserah anda, saya tetap berhak membawanya bersama saya. Permisi," sahut ibu muda itu dengan sinis, sembari meninggalkan rumah sederhana milik Lily dan neneknya.

Beliau melenggang menuju mobil, karena hujan sudah terlihat teduh. Tak lama kemudian, mobil mulai melaju meninggalkan pekarangan rumah Lily.

"Hmmm, neneknya menolak kita." Ibunya menceritakan isi percakapan mereka tadi kepada putranya.

"Apa? Keterlaluan sekali mereka!" umpat Leo kesal.

"Kenapa kau malah terlihat kesal? Bukankah kau memang tidak mau menerima pernikahan ini? Apa jangan-jangan ..." Ibunya menggantungkan ucapannya, sembari menatap Leo menyelidik.

"Ti-tidak, Bu. Leo hanya tidak terima harga diri Ibu diinjak-injak oleh mereka! Liat saja, Leo akan buat perhitungan kepada mereka!" tegas Leo emosi.

Deg!