JoyNovel

Lisons le monde

Ouvrir l'APP
Antara Menunggu Dan Menerima

Antara Menunggu Dan Menerima

Auteur:Anisa Cahya

Fini

Introduction
Bagaimana jika kita di bingung kan dengan dua pilihan, antara menunggu orang yang kita cinta dan mencintai kita, atau menerima orang yang mencintai kita dan bersedia mengorbankan apapun untuk kita ?. Inilah kisah cinta segitiga antara Ayla Azrani, Alief Adi setya, dan Abraham de Vries. Semua ini bermula dari kepergian Alief untuk melanjutkan studi nya ke Amerika, lalu hadirlah Abraham de Vries, seorang polisi ber kebangsaan Belanda, yang sudah menetap di Indonesia sejak remaja. Hubungan dengan cinta yang kuat, terjadi diantara Alief dan Ayla. Namun, cinta pandang pertama Abraham kepada Ayla, membuat pandangannya selalu dipenuhi oleh Ayla. Dibalik cinta segitiga yang bersemi itu, tersimpan misi tersendiri dalam hidup mereka. Mampukah ayla menjadi seorang designer busana terkenal ? Bagaimana dengan Alief yang ingin meraih gelar dokter spesialis bedah dari universitas kedokteran di Amerika ? Dan bisakah Abraham menyelesaikan misinya dalam menangkap sekelompok perampok museum ? Lalu, bagaimana kah hubungan cinta segita antara Ayla, Alief, dan Abraham ?
Afficher tout▼
Chapitre

Desiran angin menembus bilik-bilik jendela kamar Ayla. Gadis itu, cantik dan anggun. Matanya sipit tapi sendu, kulitnya seputih mutiara didalam laut Mediteranian, dan tubuhnya tinggi semampai. Rambutnya terbalut rapi dibalik jilbab berwarna hijau, yang sedikit-sedikit terhembus oleh angin.

Gadis itu berdiri dibalik jendela yang terbuka. Hawa dingin seakan tak mampu menembus kulit Ayla. Matanya berbinar karena pantulan cahaya bulan, dan senyumnya melebar karena pikirannya melintas kepada masa lalu indahnya saat pertama kali bertemu dengan kekasihnya, Alief.

2 tahun yang lalu tepatnya. Ketika Ayla sedang mengikuti kontes pameran busana. Seluruh mahasiswa UM menghadiri acara tersebut. Saat itu, Ayla sudah memasuki semester akhir. Dengan bakat yang sudah dibinanya sedari kecil, Ayla mampu mengalahkan 25 peserta kontes itu.

Saat Ayla beranjak untuk pulang karena acara sudah berakhir. Ia tersadar jika dompetnya terjatuh. Ayla segera mencari dompetnya itu, dan tubuhnya menabrak seorang lelaki. Layla mendongakkan wajahnya, lalu dilihatnya tubuh yang tegap tengah berdiri dihadapannya, parasnya tampan, terdapat lesum Pipit pada kedua pipinya saat tersenyum. Kulitnya putih, dan rambutnya tidak di jambul.

" Apakah ini dompet milikmu ? "

" Iya, terima kasih ". Layla menyunggingkan senyum, dan mereka berkenalan. Lambat laun, mereka semakin dekat. Bahkan saat acara wisuda, mereka sempat foto bersama, karena mereka lulus bersama.

Ayla seperti tak akan pernah melupakan kejadian itu. Hal yang masih terasa manis hingga saat ini, ketika di hari wisuda Ayla, kekasih nya itu memberikan buket bunga dan sebuah kotak kecil berwarna biru tua kepada Ayla. Ketika kotak itu dibuka, Ayla mendapati gelang perak yang indah, dengan dua buah liontin berbentuk hati yang menghiasi gelang itu, yang sampai saat ini masih melekat di tangan putih Ayla.

" Ayla sayang..." suara panggilan membuyarkan lamunan Ayla. Dengan langkah tergopoh-gopoh, Ayla menuruni anak tangga untuk menuju sumber bunyi. Ternyata mama nya yang memanggil Ayla untuk makan malam bersama.

Mama Ayla merupakan singgle parent sejak Ayla berusia remaja. Saat itu, ayah Ayla yang merupakan seorang perwira TNI berpangkat jendral, tewas tertembak oleh musuh. Namun, mama Ayla merupakan seorang wanita yang tangguh. Buktinya, ia bisa mengelola banyak perusahaan sekaligus membesarkan anak semata wayang nya hingga menjadi gadis yang hebat seperti sekarang.

" Duduklah ayla ! " perintah mama nya.

Ayla langsung duduk di hadapan mama nya , lalu mereka menyantap makanan malam itu dengan lahap. Seusai itu, Ayla kembali ke kamarnya untuk menyelesaikan rancangan gaunnya untuk di pajang sebagai koleksi butiknya.

Butiknya tidak terlalu besar. Akan tetapi, kualitas bahan maupun jahitan gaun-gaun yangbada di butik Ayla sangatlah bagus. Banyak orang luar negeri yang memesan gaun buatan Ayla. Dengan bantuan 2 orang asistennya, Ayla mampu membuat gaun-gaun yang selalu memuaskan pelanggan.

*****

Suara kicauan burung bersahutan menyambut pagi Ayla. Ia sedang bersiap di depan cermin, dengan mengenakan tunik polos sebatas lutut dan celana yang agak longgar. Rupanya, ia akan pergi ke butik nya di pusat kota Jogja, yang terletak tidak begitu jauh dari tempat tinggalnya, Sleman.

Dengan menaiki Honda jazz miliknya, Ayla berangkat tanpa supir. Sedangkan mama nya sudah berangkat lebih awal. Ketika sedang fokus menyetir, Ayla mendapati hp nya berdering, tanda panggilan masuk. Ia meminggirkan mobilnya sejenak.

Ketika di angkat, ternyata Alief yang menelepon dan bermaksud untuk mengajak Ayla jalan-jalan ke pantai Parangtritis sore itu juga. Ayla yang memang sudah merindukan kekasihnya, langsung menerima ajakan Alief tanpa basa basi.

Sekitar 30 menit kemudian, Ayla sudah sampai di butik nya. Matanya melihat seorang wanita mengenakan dress sebatas lutut, sedang berbicara kepada salah satu pelayannya.

" Nah, itu dia Mba Ayla " ucap pelayannya sambil menunjuk kearah Ayla. Ia langsung melangkahkan kaki nya menghampiri wanita itu.

" Selamat datang di butik kami nyonya. Silahkan duduk ". Ayla mengajak nyonya itu untukduduk di sofa yang telah tersedia.

" Begini nona Ayla. Saya ingin memesan sebuah gaun untuk di pakai 2 Minggu mendatang ".

Ayla manggut-manggut lalu berkata. " Baiklah nyonya, saya akan mendesain kan gaun untuk nyonya, dan saya kirimkan lewat email malam ini. Bagaimana ? ".

" Tak masalah, saya akan menunggu hasilnya " ucap wanita bule itu sambil tersenyum. Setelah merasa cukup, wanita itu pergi dari butik Ayla.

Selang beberapa waktu, sepasang kekasih datang ke butik Ayla. Mereka membeli salah satu gaun yang sudah terpajang rapi. Sepertinya, mereka akan menikah. Ayla menjadi sedikit iri hatinya, ia bertanya dalam hati, kapankah dirinya dan Alief akan memilih gaun bersama untuk acara pernikahan mereka.

Setelah pelanggannya mencoba gaun yang dipilih, ia membayar dan berpamitan kepada Ayla. Lalu sebuah bisikan mendarat di telinga Ayla.

" Cepatlah menyusul kami nona " ucap wanita pelanggan itu.

Walah Ayla bersemu merah karena malu, kemudian ia mengucapkan terimakasih kepada sepasang kekasih itu. Aku berharap segera menyusul kalian. Batin Ayla.

Setelah waktu siang telah tiba, Ayla pergi ke sebuah restoran dan membeli 5 porsi makanan cepat saji untuk dirinya, pelayan, sekaligus asistennya. Ayla memang seorang yang dermawan, ia selalu melakukan hal yang sama setiap harinya.

Baru setengah makan, Ayla teringat akan janjinya untuk berkencan dengan Alief sore ini. Segera dihabiskannya makanna itu, lalu beranjaklah pulang Ayla dari butiknya

.

*****

Sesampainya di rumah, Ayla mengistirahatkan tubuhnya sejenak. Lalu ia terbangun ketika suara adzan memanggilnya untuk sholat. Selepas sholat, Ayla mengganti pakaiannya dengan yang lebih layak untuk berkencan. Celana kulot berwarna abu-abu tua dan baju berbahan sifon dengan warna putih menjadi pilihannya sore itu. Ia tampak lebih cantik ketika wajahnya di poles tipis dengan make up.

Karena mama Ayla belum pulang, ia langsung pergi dengan berpamitan kepada pembantunya. Sepanjang perjalanan, Ayla tak henti-hentinya tersenyum, ia tak sabar untuk melihat kekasihnya. Jarak antara Bantul dan Sleman memang cukup jauh. Tepat pukul 17.12 WIB, Ayla tiba di pantai Parangtritis yang sudah sepi pengunjung. Ia melihat tubuh yang sangat dikenalnya sedang berdiri menghadap ke laut.

" Alief...." panggil Ayla lirih. Perlahan, Ayla semakin mendekat kepada Alief.

Lelaki itu tersenyum menyambut kedatangan Ayla, ia menatap lekat wajah Ayla dengan sorot mata penuh kerinduan, lalu berkata. " Aku sangat merindukanmu Ayla ".

Ayla melebarkan senyum manisnya. Teringat ketika pertemuan terakhirnya dengan Alief sebelum keberangkatannya ke Jakarta untuk bertugas, Ayla berkata kepada Alief bahwa ia akan sangat merindukannya. Dan sekarang Alief lah yang mengatakan bahwa dirinya sangat merindukan Ayla.

Mereka menikmati suasana senja dengan mengelilingi bibir pantai Parangtritis. Sang Surya menampakkan sinar sendunya ketika senja tiba, alunan angin perlahan mengibaskan jilbab Ayla yang berwarna abu itu. Alief menatap Ayla dengan penuh rasa kagum atas kerupawanan nya.

Dalam hati Alief berkata. Ayla sangat cantik dengan iringan sinar senja ini. Bola mata nya yang hitam membuat tatapannya begitu indah. Senyum nya begitu hangat, dan tutur katanya lembut. Dia begitu sempurna untukku. Ayla yang sadar bahwa dirinya sedang ditatap oleh Alief, ia segera memasang tampang cemberut, membuat Alief gemas.

Setelah mereka merasa sedikit penat, barulah Alief mengajak Ayla untuk duduk di atas pasir Parangtritis.

" Hari sudah hampir petang. Kita pulang saja Alief ".

" Baiklah, tapi Ayla harus satu mobil dengan ku " ucap Alief sambil tersenyum simpul.

" Bagaimana dengan mobilku ? "

" Biar sopir ku yang membawanya ". Alief beranjak lalu diikuti oleh Ayla.