Ayolah non Vella, kita harus kuat menghadapi cobaan ini."
Bi Darti, terus membujuk anak majikan yang terus menagis setelah kepergian papanya menyusul mama tercinta di surga.
"Sekarang aku sebatang kara bibi."
"Tidak non, masih ada bibi yang sangat mencintai dan menyayangi non Vella dengan tulus."
"Bibi janji ya, tidak akan pernah pergi meninggalkan Vella." menatap bibi Darti.
"Bibi janji."
Tidak lama mereka ngobrol-ngobrol diruang tengah, sebuah mobil keluaran terbaru memasuki perkarangan rumah Vella.
"Siapa itu bi?"
"Mungkin pengacara papanya non Vella, yang akan membacakan surat wasiat dari tuan Burhanuddin."
Bi Darti membuka pintu, dan mempersilahkan Hendra untuk langsung keruang tengah untuk membacakan surat wasiat pada Vella.
Setelah mendengar dan melihat sendiri isi surat wasiat tersebut, Vella langsung syok. karena disana juga terdapat sebuah perjanjian dimana dia harus menikah dengan keturunan keluarga Wong, yang merupakan sahabat baik kedua orang tuanya.
Dalam surat wasiat, papanya juga menjelaskan dimana perjodohan Ravela dan Nick sudah diatur sejak lama dan pernikahan akan dilangsungkan saat usianya genap delapan belas tahun, setelah menamatkan sekolah.
"Kenapa papa pergi setelah aku berusia delapan belas tahun, dan aku juga dijodohkan bi... hick... hick... aku masih ingin melanjutkan kuliah ku." menagis dalam pelukan bibinya.
"Nona Vella masih bisa melanjutkan kuliah dan mewujudkan impian Nona, meskipun sudah menikah." terang pengacara.
"Bagaimana jika aku menolak perjodohan ini?"
"Jika nona menolak, maka nona akan kehilangan semua harta warisan. termasuk rumah besar ini." terang pengacara.
"Kenapa bisa seperti itu?" Vella menatap tajam pengacara, merasa tidak terima dengan isi surat wasiat tersebut.
"Perlu nona tahu, perusahaan yang dikelola oleh orang tua nona mengalami kebangkrutan, bahkan nyaris tutup. semua aset hendak disita oleh bank. untuk menyelamatkannya, keluarga Wong turun tangan membantu sehingga semua kembali berjalan normal, dengan satu syarat jika nona harus menikah dengan putra mereka satu-satunya yang bernama Nick." tutur pengacara yang dibenarkan oleh bibi Darti.
"Tapi kenapa aku tidak pernah diberitahu papa selama ini."
"Tuan Burhanuddin, tidak ingin nona menjadi resah dan tetap fokus pada pendidikan. lagian tuan Burhan yakin jika nona tidak akan menolak perjodohan ini, mengingat dulunya nona sangat dekat dengan tuan muda Nick." terang bi Darti.
"Nick, bahkan aku sudah hampir melupakan wajahnya, karena sudah sangat lama sekali kami tidak bertemu." jawab Vella mencoba untuk mengingat-ingat kembali wajah Nick.
"Besok malam, keluarga Wong akan berkunjung kerumah ini untuk membicarakan tentang pernikahan. sebaiknya nona mempersiapkan diri." terang pengacara pribadi mereka.
"Aku masih tidak terima dengan perjodohan ini." Vella berusaha menolak, dia tahu perbedaan usia nya dan Nick sangat jauh.
"Percayalah, kedua orang tua pasti ingin yang terbaik untuk anak-anak nya." bujuk bibi. sehingga tidak ada bantahan lagi dari bibir Vella, dia hanya bisa pasrah akan keadaan dan nasip yang akan membawanya, akankah bahagia atau malah sebaliknya.
"Demi rumah besar yang begitu banyak meninggalkan kenangan indah bersama kedua orang tuaku, perusahaan papa dan kelangsungan pendidikan. aku harus menerima perjodohan dan pernikahan ini, meskipun tidak ada cinta dihatiku untuk laki-laki yang bernama Nick." bathin Vella sedih sambil mengigit bibir bawahnya menahan perih yang menghujam hulu hatinya.
"Dulu aku selalu memimpikan menikah dengan laki-laki yang mencintai dan aku cintai, tapi sekarang kenyataan aku harus menikah dengan laki-laki yang hampir tidak aku kenal sama sekali."
