Rintik hujan cukup deras mengguyur bumi, namun itu sama sekali tidak menyurutkan langkah Aleena berlari menyusuri trotoar demi mencapai bangunan megah yang berdiri menjulang di sudut kota. Air mata yang sejak tadi menitik tersamarkan oleh deras rintik hujan yang mengguyur. Membuat siapa saja yang melihat Aleena tidak akan menyadari kalau gadis berkulit putih berparas ayu itu tengah terisak di sela-sela langkah kakinya.
Aleena baru saja selesai menjalani tes wawancara di sebuah perusahaan ketika ponsel dalam saku rok span warna hitam yang dia kenakan untuk interview berdering cukup nyaring.
Aleena mengerutkan kening mendapati nomor asing itu masuk ke dalam ponsel Made in China miliknya. Nomor siapa? Atau kantor mana yang menghubungi dirinya siang ini? Seingat Aleena, ini panggilan terakhir yang dia dapatkan. Dalam artian, seharusnya sudah tidak ada lagi kantor yang menghubungi dirinya untuk panggilan interview.
Dengan alis berkerut Aleena mengangkat panggilan itu. Ia tentu penasaran, apakah ini panggilan yang penting atau hanya nomor salah sambung?
"Selamat siang, dengan Aleena. Maaf dengan siapa saya berbicara?"
Sebuah kalimat pembuka ala anak kantoran yang begitu formal dan sopan yang Aleena pelajari selama dia duduk di bangku SMK. Aleena lulusan SMK Administrasi Perkantoran, tentu hal-hal seputar pekerjaan kantor yang dia pelajari, termasuk untuk urusan telepon-menelepon.
"Mbak Aleena, saya dari RS X ingin mengabarkan bahwa ibu dari Mbak Aleena saat ini sedang kritis dan perlu penanganan serius. Diharapkan Mbak Aleena untuk segera datang ke rumah sakit untuk menandatangani berkas persetujuan tindakan medis yang akan dilakukan pada Ibu, Mbak."
Dunia Aleena seakan berhenti berputar. Matanya membulat dengan bibir setengah terbuka. Jantungnya seperti hendak loncat dari tempatnya berada.
Ini bukan telepon palsu yang biasa mencari mangsa dengan modus macam ini, bukan? Tapi biasanya telepon macam itu meminta transferan uang. Bukan malah menyuruh korban datang ke rumah sakit yang memang ada dan berdiri dengan megah di sudut kota!
Aleena masih mencoba mencerna kalimat yang tadi dia dengar. Berharap Aleena hanya salah dengar atau sedang berhalusinasi. Namun agaknya Aleena salah! Dia sama sekali tidak sedang berhalusinasi. Salah dengar pun tidak karena suara dari seberang kembali membangunkan Aleena dari harapan palsunya mengenai kebohongan berita yang dia dengar.
"Dimohon Mbak Aleena bisa segera datang, saat ini dokter menantikan izin dan tanda tangan Mbak Aleena untuk surat keperluan tindakan medis untuk ibu, Mbak. Kami tunggu Mbak Aleena di IGD."
"Ba-baik, Mbak! Saya segera kesana!"
Aleena segera menyambar tasnya yang tergeletak di kursi. Mengabaikan beberapa peserta interview lain yang menatapnya dengan sorot mata bingung. Wajahnya begitu tegang. Jantungnya berdegup kencang tidak karuan. Apa yang terjadi dengan ibunya? Bukankah tadi ibunya baik-baik saja ketika Aleena pamitan hendak pergi interview? Harusnya saat ini ibunya berada di kios bakso milik mereka. Warung bakso peninggalan almarhum ayahnya yang meninggal lima tahun yang lalu. Warung yang sampai sekarang masih memberikan pemasukan untuk mereka bahkan mengantarkan Aleena sampai lulus dari bangku SMA, tapi kenapa sekarang ibunya malah berada di IGD rumah sakit megah dengan kondisi yang begitu buruk?
Aleena sudah tidak bisa berpikir apa-apa lagi, ia terus melangkahkan kaki menuju halte bis yang ada tidak jauh dari gedung kantor yang dia datangi. Dia punya motor sebenarnya, namun hanya satu dan dia lebih memilih kemana-mana naik bis supaya ibunya bisa memakai motor itu untuk berangkat ke kios bakso mereka. Aleena sudah berdiri di halte, mengabaikan hasil dari interviewnya hari ini, yang ada di pikiran Aleena hanya satu, satu sampai di rumah sakit dan berharap bahwa ibunya baik-baik saja!
Mendung yang sejak tadi menggantung nampaknya sudah tidak mampu lagi menahan beban berat yang dibawanya. Hujan rintik mengguyur tanah. Membasahi baju dan tubuh Aleena yang nekat turun dari bus dan berlari sekuat tenaga.
Entah apa yang terjadi, jalanan begitu padat. Macet malah! Bisa Aleena lihat kendaraan roda empat atau lebih bahkan sama sekali tidak bisa bergerak. Akan sangat membuang waktu jika Aleena tetap diam di dalam bus menunggu bus itu bergerak mengantarkan dia ke rumah sakit tempat ibunya berada. Jadi Aleena memutuskan untuk turun dan berlari menuju gedung rumah sakit yang sudah terlihat oleh matanya.
Aleena begitu takut, sangat takut! Dia sudah kehilangan lima tahun yang lalu dan sekarang Aleena tidak ingin kehilangan lagi atau lebih tepatnya belum ingin kehilangan lagi!
***
"Mana informed consent-nya, Sus? Sudah siap?"
Julius tahu, pasien di bed nomor tiga itu dalam prognosis yang cukup buruk! Harus segera mendapat tindakan dan untuk itu Julius sangat memerlukan informed consent untuk pengambilan keputusan akan tindakan medis yang akan Julius lakukan pada wanita paruh baya itu.
"Tadi saya sudah hubungi keluarganya, Dok. Mungkin baru perjalanan."
Julius mendengus. Berapa lama lagi dia harus menunggu? Kondisinya sudah cukup buruk dan Julius masih harus menunggu tanda tangan surat persetujuan keluarga itu?
"Yang bawa ke sini tadi nggak bisa suruh tanda tangan dulu?"
Tentu Julius sudah tidak bisa menunggu lagi. Nalurinya sebagai dokter seperti disiksa dengan kondisi yang demikian.
Pasien dalam kondisi yang sangat memprihatinkan, Julius bisa melakukan sesuatu untuk menyelamatkan nyawanya, tapi melakukan tindakan medis tanpa persetujuan keluarga juga bukan hal yang tepat dan melanggar kode etik. Bisa-bisa hal tersebut akan menjadi bumerang untuk dirinya dan rumah sakit jika sampai pasien kenapa-kenapa. Mereka bisa dituntut oleh pihak keluarga.
Tapi membiarkan pasien dalam kondisi demikian tanpa bisa segera ditangani, itu juga bukan hal yang baik. Lantas Julius harus apa?
"Yang tadi bawa ibu itu kemari pihak kepolisian, Dok. Dia korban tabrak lari."
Julius mengacak rambutnya dengan gemas. Rasanya ia seperti dikungkung. Dan itu menyiksa nuraninya! Sangat menyiksa. Harus berapa lama lagi dia menunggu? Kalau lebih dari lima belas menit, maka Julius bisa pastikan bahwa dia harus menyerahkan pasiennya pada sejawatnya di bagian forensik.
"Tolong hubungi lagi keluarganya, Sus. Tanya sudah sam--."
"Sus! I-ibu saya di mana, Sus? Pasien atas nama Sri Suryanti?"
Kalimat tanya itu memotong kalimat Julius. Bisa dia lihat gadis belia dengan baju basah kuyup itu terengah-engah di sisinya, tepat di depan meja jaga perawat.
"Kamu anaknya?" tanya Julius lantas meraih papan berisi surat persetujuan yang bahkan sudah disiapkan dari tadi.
"Be-betul, Dok. Saya anaknya! Bagaimana kondisi ibu saya, Dok?"
Gadis itu masih sangat muda. Tubuhnya menggigil sedikit dengan kulit pucat. Penampilan basah kuyup yang harusnya membuat iba itu malah membuat Julius hampir gila karena belahan dada gadis itu tercetak dengan begitu jelas di balik kemeja putih yang basah kuyup.
Namun Julius harus ingat betul, dia tengah dibutuhkan saat ini, dia sudah ditantang malaikat maut untuk berperang di dalam OK!
"Percaya saya, ibumu dalam kondisi yang cukup buruk. Jadi bantu saya dengan menandatangani persetujuan ini sehingga saya bisa sesegera mungkin melakukan tindakan untuk menyelematkan nyawa ibu Anda. Tolong, waktu kita sudah tidak banyak. Jadi jangan buang-buang waktu lagi. Saya benar-benar menantikan surat ini!"
