JoyNovel

Lisons le monde

Ouvrir l'APP
Not Your Barbie Girl

Not Your Barbie Girl

Auteur:Nhoerriharigawajix

Fini

Introduction
Naya adalah gadis remaja berusia 19 tahun yang seumur hidupnya tinggal di pemukiman kumuh pinggiran Ibu Kota Jakarta. Anak haram dan anak pembawa sial, itulah yang sering Naya dengar sejak telinga berfungsi dengan sebagaimana mestinya. Bukan tanpa sebab orang-orang seperti itu. Naya lahir tanpa ada yang tahu siapa ayahnya. Ibu kandung yang bernama Eva pun meninggal selepas persalinan. Sang nenek yang begitu baik memeliharanya sejak kecil juga selalu bungkam jika Naya bertanya perihal ayah. Namun, disaat-saat terakhir sebelum meninggal, sang nenek membeberkan sebuah fakta yang mengejutkan. Dia mengatakan kalau ibunya Naya dulu adalah simpanan seorang pemilik perusahaan cokelat ternama yang ada di Ibu Kota Jakarta. Naya memutuskan untuk tidak menemui ayahnya. Baginya dia bisa hidup layak meski tanpa ada ayah. Sayangnya tak berapa lama muncullah Laura. Dia membujuk Naya untuk ikut dengannya. Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa setelah membuangnya mereka inginkan Naya?
Afficher tout▼
Chapitre

BRAK!

"Apa-apaan kalian!"

Terdengar suara gebrakan pintu disusul dengan suara lantang. Napas memburu, dengan bola mata tajam menyorot, membuat dua orang tengah bergelut di atas ranjang terlonjak seketika.

Mereka buru-buru meraih pakaian masing-masing dan segera memakainya. Hal itu berlaku hanya untuk si pria, sedangkan si wanita hanya menarik selimut untuk menutupi badan.

"Rania, ini bukan …"

"Bukan apa!" seru Rania saat sang suami berjalan mendekat. "Tega sekali kau padaku!"

"Wanita jalang, kemari kau!" Rania nyelonong begitu saja ke arah ranjang hingga menyerempet tubuh Johan.

"Wanita sialan!"

"Aw!"

"Hentikan, Rania! Jangan sakiti dia!" teriak Johan sembari menarik tubuh Rania supaya mundur.

Rania spontan berontak lalu menatap tajam ke arah suaminya itu. "Kenapa aku tidak boleh menyakitinya?"

"Brengsek kau!"

Plak!

Satu tamparan melayang sempurna di pipi Johan.

Johan yang merasakan perih, kemudian menatap Rania dan balik menampar.

"Berani sekali kau menamparku!" hardik Johan.

Rania tidak menyangka kalau suaminya tega membalas tamparannya itu. Dengan rasa sakit dan hati kecewa, perlahan buliran pun mulai menitik.

"Kau menamparku demi wanita itu?" Rania menjulurkan jari ke arah wanita di atas ranjang yang begitu santai seolah tidak merasa bersalah. "Kenapa?"

"Karena kau kurang ajar!" seru Johan.

Rania membuang napas sejenak, lalu menarik napas dalam-dalam. Sebisa mungkin ia hentikan air mata yang memaksa terus mengalir.

"Kenapa kau tega mengkhianatiku?" tanya Rania pelan. "Aku selalu setia padamu."

Johan terdiam bingung harus menjawab apa. Hubungan gelap ini bisa terjadi semula bukan karena kemauan Johan. Biat bagaimanapun juga, Johan sudah mengucap ikrar janji suci untuk menerima Rania apa adanya. Namun, desakkan ibu yang ingin memiliki keturunan, memaksa Johan untuk menikah lagi.

Rania dengan senang hati dulu menerima cinta Johan meski sempat ragu. Rania sudah tidak memiliki siapapun. Kedua orang tuanya sudah tiada dalam sebuah kecelakaan. Kala itu Johan datang membawa sejuta kasih sayang saat Rania terpuruk. Cinta pun tak bisa terbendung lagi.

"Menikahlah lagi!" perinta Lory pada Johan. "Rania tak kunjung bisa memiliki keturunan."

"Tidak mungkin aku mengkhianati Rania!" tolak Johan dengan lantang.

"Kau tidak harus menceraikan Rania, kau hanya perlu menikah lagi."

Dan sejak obrolan bersama sang ibu waktu itu, Johan pun goyah. Bohong jika ia tidak ingin memiliki keturunan. Suara tangis bayi, tentu akan melengkapi setiap pasangan. Dan sudah tiga tahun pernikahan tak kunjung Johab dapatkan.

"Aku tidak mengkhianatimu," kata Johan kemudian setelah beberapa detik terdiam. "Aku hanya menikah lagi."

"A-apa maksudmu?" Rania menatap tajam.

"Aku dan Johan sudah menikah."

Jawaban dari arah ranjang, membuat Rania serasa mendapat hantaman begitu keras. Hatinya yang semula kokoh mendadak remuk, sakit, perih dan hancur. Mata cantik dengan bola mata coklat, kini berkedut-kedut menahan air mata.

"Apa maksud dia?" tanya Rania lemah.

Sama sekali tidak merasa bersalah, wanita di atas ranjang dengan nama Lenka itu justru tersenyum tipis.

Di hadapan Rania, Johan menarik napas lalu ia embuskan diikuti dengan kedua tangan meraih tangan Rania. "Ya, aku dan dia sudah menikah."

Napas Rania seolah terhenti, bibirnya terbuka dan mata berkaca-kaca menitikkan air mata.

Plak!

Satu tamparan lagi mendarat di pipi Johan. Tamparan kali ini lebih menyayat dari pada sebelumnya.

Lenka buru-buru memakai bajunya kemudian berdiri menghampiri mereka berdua.

"Dasar wanita sialan!" Lenka kemudian mendorong Rania hingga jatuh tesungkur. "Berani-beraninya kau menampar Johan lagi!"

Saat Lenka hendak membungkuk meraih Rania, Johan lebih dulu menggapai pinggang Lenka membawanya mundur.

"Sudah, cukup!" hardik Johan.

Rania yang tidak terima diperlakukan seperti ini, segera bangkit lalu menggapai rambut Lenka hingga kepalanya mendongak.

"Kau yang wanita sialan!" balas Rania dengan mata memerah.

Dengan kuat Rania mendorong tubuh Johan hingga terjengkang jatuh di atas meja. Sementara setelah itu, Rania memutar satu tangan Lenka kebelakang dan mendaratkan satu lengannya di leher Lenka.

"Jangan sesekali membuatku marah!" kata Rania dengan sederetan gigi saling menekan. Suaranya membuat telinga Lenka sampai berdengung.

Ketika Johan bangun dan hendak membantu Lenka, Rania lebih dulu melotot. "Berani mendekat, kupatahkan leher wanita jalang ini!"

Johan mulai panik sendiri. Ia sampai mendesia ngeri karena amarah Rania benar-benar sudah berada dalam puncaknya.

"Lepaskan Lenka. Kumohon, Rania. Jangan sakiti dia, dia sedang mengandung."

Jedwaaaaar!!

Seperti tersambar petir di siang bolong, mendadak tubuh Rania melemas. Cengkeraman kuat itu perlahan terlepas hingga membuat Johan bisa menarik Lenka dengan cepat.

"Ka-kalian …" mata kembali nanar, Rania menatap sendu penuh rasa kecewa. "Sungguh biadab!" Suaranya menggelegar memenuhi ruangan kamar.

Prank!

Setelah berkata demikian, Rania meraih pot bunga berbahan keramik lalu melemparnya ke lantai hingga pecah perkeping-keping. Johan yang kaget sontak memeluk tubuh Lenka yang terjungkat.

"Aku akan balas perbuatan kalian!"

Brak!

Rania lantas berbalik badan lalu pergi sambil membantik pintu dengan keras. Tidak setangguh di dalam sana, Rania kini berlari menuruni tangga sambil menangis. Hatinya sangat hancur, benar-benar hancur.

Bugh!

Tidak melihat jalan, Rania menubruk Leta, yang tak lain adalah ibu mertuanya.

"Kenapa kau menangis?" tanya Leta acuh. "Wajahmu semakin jelek!"

"Kalian benar-benar jahat!" Rania hanya menyembur dengan perkataan, lalu kembali berlari meninggalkab rumah mewah tersebut.

Berlari dan terus berlari tanpa arah, Rania mulai merasakan lelah. Napasnya ngos-ngosan, kedua kakinya mulai terasa pegal. Ia duduk di kursi halte sambil bersandar pada tiang.