JoyNovel

Lisons le monde

Ouvrir l'APP
Berakhirnya Dendam Cinta

Berakhirnya Dendam Cinta

Auteur:rannty

Mise à jour de

Introduction
CEO dari Perusahaan ternama Saka Corporation, sengaja menikahi wanita yang tidak ia cintai. Alasannya tidak lain tidak bukan adalah untuk, menuntaskan dendam cinta di masa lalu. Namun, setelah beberapa hari menikah dia selalu melihat sisi lain dari istrinya. Bukan sesuatu yang buruk, melainkan sikap dan sifat yang sangat bertentangan dengan apa yang ia ketahui selama ini. Crim Sakacoran, wanita pintar dalam segala hal. Tapi minim dalam pengetahuan tentang cinta. Laki-laki yang baru beberapa kali ia temui, datang secara tiba-tiba untuk menjadikannya ratu dikediamannya. Sayang, gelar Ratu hanyalah simbol karena tidak ada satu pun perlakuan yang dia terima layaknya Ratu dihati sang Raja. Mampukah sang Ratu bertahan? Akankah dia kalah dari sistem kekejaman sang Raja? Atau justru sang Raja yang akan kalah dan luluh oleh kelembutan sang Ratu?
Afficher tout▼
Chapitre

Di Negara K, ada beberapa pengusaha ternama. Salah satu diantaranya adalah CEO dari Saka Corporation, Clif Adisaka. Pemilik perusahaan besar di Kota B. Mengawali karir sejak masih muda, hingga di tahun ke-27 usianya, Clif berhasil masuk dalam deretan 3 pengusaha terkenal.

Bukan hanya terkenal akan kinerjanya dalam mengelola bisnis. Clif lebih dikenal karena ketegasan, kepandaian dan ketampanannya.

Dalam perjalanannya, Clif dibantu oleh sang Asisten Pribadi yang mengatur segala urusannya. Baik masalah kantor sampai kehidupan pribadi. Bagas Yudistira, Asisten Pribadi yang Clif angkat sendiri setelah dia mengajukan diri sebagai karyawan. Clif mempercayakan Bagas sebagai Asisten Pribadinya, karena mereka telah saling kenal saat Clif kuliah S2 di Negara Y.

Pagi itu,sosok gagah dan wibawa Clif mendominasi ruang rapat. Membahas projek kerjasama dengan Perusahaan Tiank Corporation, Clif memimpin jalannya rapat bersama beberapa pemegang saham lainnya.

Ditengah rapat, Bagas masuk kedalam ruangan. Karena dia adalah Asisten Pribadi CEO, maka dia bisa masuk ke ruang rapat tanpa meminta izin.

"Permisi Pak, maaf sebentar" tutur Bagas, sopan.

Entah apa yang Bagas katakan ditelinga Clif. Karena setelah mendengar perkataan Bagas, Clif langsung bergegas keluar dari ruang rapat. Menyerahkan keputusan diskusi pada Sekretaris dan Asisten Pribadinya.

"Selin? Kenapa kamu kembali lagi ke kota ini? Apa tujuan kamu kali ini?" batin Clif.

Mengendarai si keren Rolls Royce Platinum, Clif melenggang cepat menyusuri jalanan Kota B.

. . . . .

Crim Sakacoran, perempuan berhati lembut yang memiliki senyum manis dengan gigi kelinci imutnya. Ia bekerja sebagai seorang Editor, disebuah Perusahaan Media Cetak di Kota A. Beberapa hari yang lalu harus pindah ke Kota B, karena pekerjaan yang mengharuskannya untuk pindah.

"Crimer, tolong kamu cek lagi pekerjaan saya, ya" titah si Cantik angkuh.

Panggilan Crimer disematkan saat ia pindah tempat kerja. Semua senior memanggil Crim dengan embel-embel dibelakangnya. Karena menurut mereka, namanya itu sangat aneh dan akan lebih cocok kalau ada tambahan dua huruf dibelakangnya hingga menjadi Crimer.

Sedangkan di tempat ia kerja dulu di Kota A, semua rekan kerja memanggilnya dengan nama Coco. Karena memang itulah sebutan namanya sejak kecil.

"Maaf Mba, tapi pekerjaan saya juga belum selesai" jawab perempuan yang Cantik sebutkan tadi.

Sifat baik hatinya, selalu dimanfaatkan oleh rekan satu kerjanya. Jika menolak, mereka pasti akan bergunjing yang tidak-tidak.

"Jadi, kamu sudah tidak mau lagi bantuin saya?" pertanyaan yang menohok, membuat Coco merasa tak enak hati.

"Bukan begitu, Mba." sahut Coco.

"Jadi?"

"Iya deh, saya bantuin Mba." balas Coco menyetujui permintaan bernada perintah si Cantik.

"Nah, begitu dong. Saya ada urusan soalnya hari ini. Kamu kerjain baik-baik ya" titah si Cantik.

"Iya Mba" jawab lembut Coco.

Si Cantik angkuh pergi meninggalkan ruangan, dengan setumpuk pekerjaan yang dia timpa pada Coco.

"Hei, makan yuk" ajak teman Coco yang lain, Mutia.

Bukan sekedar gelar teman yang Mutia sandang. Dia adalah satu-satunya teman Coco di Kota B. Karena sama-sama dipindahtugaskan bersama dengan Coco.

"Maaf Mut, kerjaanku masih banyak" jawab Coco.

Mendengar jawaban seperti itu, Mutia melihat dan membolak-balik tugas yang tengah Coco kerjakan.

"Ini kan bukan kerjaan kamu, kenapa dikerjain?" seru Mutia, dia tahu betul apa saja yang termasuk pekerjaan sahabatnya.

"Iya, ini kerjaannya Mba Cantik" jelas Coco.

"Kesel deh, kamu kenapa sih selalu mau disuruh-suruh sama dia?" protes Mutia.

"Mba Cantik ngga nyuruh kok, dia minta tolong. Masak aku ngga mau nolongin dia" jelas Coco lagi.

"Itu mah bukan minta tolong, Coco. Dia itu lagi manfaatin kamu tau" sahut Mutia.

"Udah yuk, makan dulu. Laper tau" ajak Mutia, sama sekali tidak menggubris penolakan Coco.

Mereka pergi ke restoran yang tidak jauh dari Kantor untuk makan siang.

. . . . .

"Selin, itu Selin? Jadi benar dia kembali lagi kesini?" lirih Clif.

Perempuan yang dilihatnya, tengah menikmati makan siang bersama seorang wanita.

"Bagaimana, Pak? Bapak sudah menemui perempuan itu?" tanya Bagas, sekembalinya Clif dari luar.

"Tidak akan, jangan sampai dia tau keberadaan saya" ujar Clif.

"Lalu, apa yang akan Bapak lakukan selanjutnya?" tanya Bagas akan rencana bosnya.

"Saya minta, kamu cari tau dimana dia tinggal dan apa alasan dia kembali ke kota ini" titah Clif.

"Apapun itu yang berhubungan dengannya, segera laporkan ke saya" tambahnya.

"Baik, Pak. Akan saya laksanakan." jawab Bagas.

Esok harinya, Bagas kembali ke tempat dimana dia melihat Selin untuk pertama kali. Dia memang baru pertama melihatnya, tapi sebelum itu Bagas sudah tau dan paham bagaimana sifat dan kebiasaan Selin dulu.

Dalam pengintaiannya, Bagas menemukan sesuatu yang janggal. Perempuan yang dia lihat, amat jauh dengan apa yang pernah dia dengar. Sebab, Selin yang dulu tidak suka dengan yang namanya bekerja. Dia selalu melakukan kegiatan yang menghambur-hamburkan uang. Sementara perempuan yang dilihatnya saat ini, sangat giat dan rajin dalam bekerja.

Sikapnya yang ramah juga membuat Bagas terheran. Karena menurut penuturan bosnya, Selin adalah perempuan yang angkuh dan sombong.

"Coco, makan dulu yuk. Tapi sekarang, aku mau ajak kamu makan di tempat lain." ajak Mutia.

"Hm? Dimana?" tanya Coco, merapikan sedikit pekerjaannya.

"Ada pokoknya, udah kamu ikut aja. Aku jamin, makanannya itu enak. Dan yang paling penting harganya tidak menguras kantong" jelas Mutia.

"Iya iya, sabar dong" sahut Coco.

"Jauh ngga dari sini? Bisa jalan kaki, atau harus naik motor?" selidik Coco.

"Hee, naik motor. Tapi bentar doang kok, ngga nyampe lima menit " ralat Mutia.

"Iya iya, harus enak ya " ancam Coco.

"Pasti, aku jamin 95 persen deh" sahut Mutia.

"Kenapa cuma 95, ngga langsung 100 aja. Jangan-jangan...." sudut Coco.

"Udah, jangan kebanyakan mikir aneh-aneh."

Coco mengendarai sepeda motor, yang biasa ia tumpangi saat akan pergi bekerja. Sepeda motor matic, yang ia beli dari hasil menabungnya selama beberapa tahun bekerja sebagai Editor di Kota A.

Tabungan yang harus ia keluarkan, untuk membeli kendaraan roda dua. Sebagai alat trasportasi karena jarak dari kost-an dan kantor cukup jauh.

"Bareng aja ya, males aku keluarin motor" keluh Mutia.

"Bareng lah, kan satu tujuan kenapa mesti sendiri-sendiri" balas Coco.

Si roda dua melaju dengan cepat, melesat membelah jalanan yang siang itu tidak terlalu padat. Mutia membimbing Coco, menunjukan arah dimana tempat tujuan mereka berada.

"Stop-stop-stop..." titah Mutia, menepuk-nepuk pundak Coco.

Dengan lihai Coco segera menghentikan laju kendaraannya. Didepan mereka berdiri sebuah kedai makanan yang tampak sederhana, namun terlihat mewah dengan desain interior yang indah.

"Ini tempatnya?" tanya Coco, melihat kearah bangunan yang berdiri kokoh.

"Iya, gimana? Kalau dilihat dari tempatnya ngga mengecewakan, kan?" ucap Mutia.

"Iya, ya udah kita masuk sekarang" ajak Coco.

"Ayoo" sahut Mutia melenggang masuk kedalam kedai.

Kedai makanan yang mereka masuki siang ini, menyandang nama pulang ke rumah. Cukup unik memang, mengingat si pemilik kedai yang telah lama merantau ke kota besar. Pulang ke rumah setelah bertahun-tahun lamanya, mungkin itu sebabnya dia memberi nama tempat itu, Kedai Makan Pulang ke Rumah. Supaya orang yang dalam masa perantauan merasakan nikmatnya makan di rumah berkat nama tersebut.

Coco dan Mutia mencari kursi kosong, karena hampir semua sudut telah terisi penuh. Kedai tersebut memang tergolong tempat makan baru, tapi rasa masakan yang hampir sama dengan masakan rumah membuat banyak pengunjung ketagihan.

"Silahkan Mba, disana masih ada tempat yang kosong" tunjuk pelayan mengarahkan mereka.

bersambung..