JoyNovel

Lisons le monde

Ouvrir l'APP
ARABELLA

ARABELLA

Auteur:Lina WH

Fini

Introduction
Arabella dan Renaga, menjalani pernikahan dengan harmonis meskipun mereka tak saling mengenal sebelumnya. Pernikahan mereka bukan karena perjodohan, bukan pula karena saling mencintai. Tetapi, karena keinginan Renaga untuk memiliki istri secepatnya. Namun suatu ketika Deirda ,lelaki masa lalu Arabella, hadir kembali. Akankah Arabella tetap mempertahankan pernikahannya dengan Renaga? Atau kembali tenggelan dengan lelaki masa lalunya? Cover By Ara Shop
Afficher tout▼
Chapitre

Menjelang petang, Arabella menapaki jalan utama menuju rumah kecil yang ia sewa sejak awal tahun. Langkah gontai pun tak bisa membohongi lelah yang ia sembunyikan.

"Ah ... rasanya aku kepengen nikah aja! Biar ada yang antar jemput aku untuk bekerja!" batinnya sambil menyibak rambut panjangnya yang sedikit basah karena keringat.

"Huft ... mana sampai rumah aku harus masak nasi, setrika, ah ... capek aku meskipun itu kebutuhanku semua. Kerja double-double, tapi gaji nggak cukup untuk buatku bersantai barang sejenak!" gerutunya, seakan tak ikhlas menjalani kehidupan yang harus ia jalani.

Beberapa meter ke depan, tampak sebuah kedai kopi. Biasanya Arabella menutup mata jika melewati kedai kopi tersebut, sebab kopi adalah minuman kesukaannya. Namun, ia tak ingin membuang-buang uangnya hanya sekedar untuk membeli secangkir kopi yang harganya setara dengan harga beberapa bungkus biji kopi asli.

"Tapi aku kepengen banget!" gumam Arabella sambil menggigit bibir bawahnya. Langkahnya pun sedikit lambat dan otaknya beralih fungsi menjadi kalkulator.

"Em ...!" Arabella memutar bola matanya. "Masih cukup sih, tapi dua hari ke depan aku cukup makan pakai sayur sop!" Senyumnya merekah, lalu ia pun melangkah kaki dengan pasti menuju kedai kopi yang penuh pengunjung.

Arabella memesan "Coffee Beer Yummy", kemudian mencari tempat duduk yang terlihat kosong di pojokan. Langkahnya tak gontai meskipun banyak pengunjung yang terlihat parlente.

Sambil menunggu pesanan datang, Arabella memainkan ponselnya yang jauh dari kata mahal.

"Huft ... chat dari kemarin nggak dibaca juga!" Ia menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan setelah melihat chat untuk ibunya tak kunjung dibaca meskipun ibunya terlihat sering online. "Antara sengaja nggak baca ... atau gaptek!" batinnya kembali dengan penuh kekesalan.

"Halo, Kak! Ini pesanannya!" kata seorang pelayan dengan sopan, senyumnya pun begitu lebar.

Arabella mengalihkan pandangan matanya ke arah pelayan. Ia pun menyunggingkan senyum manisnya.

"Terima kasih, Mas! Wangi sekali kopinya!" ucap Arabella yang tak sabar meneguk kopi tersebut.

Pelayan pun tersenyum. "Selamat menikmati, Kak!" ucapnya sambil membungkukkan badan dan berlalu pergi meninggalkan Arabella.

Arabella menikmati kopi tersebut, tak mau melewatkan sedetik pun. Ia tak menghiraukan orang-orang di sekitarnya, apalagi yang membawa pasangan.

"Halo ... selamat petang!" Arabella dihampiri seorang lelaki kekar, tegap dan bisa terlihat dengan jelas jika usianya jauh di atas Arabella.

Arabella tercengang. Ia memandang sekilas lelaki yang berdiri beberapa centimeter di hadapannya.

"Selamat petang," sahut Arabella sambil menyunggingkan senyumnya.

"Boleh saya duduk di sini?" tutur lelaki tersebut dengan sopan.

Arabella menatap wajah lelaki tersebut, kemudian mengalihkan pandangan matanya ke segala penjuru kedai kopi.

"Oh ... silakan!" sahut Arabella. Ia betpikir jika lelaki tersebut akan menumpang duduk di dekatnya karena semua bangku di kedai kopi telah penuh pengunjung.

"Terima kasih," ucap lelaki tersebut setelah duduk di bangku, tepat di hadapan Arabella. Mereka hanya terhalang meja bundar yang berdiameter kurang lebuh satu meter.

"Kenalkan ... saya Renaga!" ucap Renaga sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Arabella.

Arabella tersenyum. Ia urung untuk menanggapi uluran tangan Renaga, lelaki yang baru saja dikenalnya.

Pikiran Arabella melayang entah ke mana. Bahkan pikiran tak masuk akal pun menghantuinya. "Jangan-jangan, aku bakalan digendam, nih!" batin Arabella sambil menunduk dan menggigit bibir bawahnya.

"Eh ... saya Arabella!" Arabella menjawab, namun dengan sopan memberi isyarat kepada Renaga bahwa ia tak mau bersentuhan tangan.

Renaga mengangguk dan menarik tangannya kembali.

"Arabella masih sekolah? Atau sudah bekerja?" tanya Renaga tanpa basa-basi.

"Saya sudah bekerja," sahut Arabella dengan suara khasnya.

"Arabella tinggal di mana?" lanjut Renaga, bak seorang penyidik.

"Saya sewa rumah kecil di kompleks perumahan ini. Agak masuk ke dalam!"

"Kenapa nggak kost saja?" keryit Renaga.

Arabella menatap wajah Renaga. Ia dapat melihat dengan jelas, jika usia Renaga jauh di atasnya.

"Saya sewa rumah bersama teman-teman. Rumah tersebut terdapat empat kamar dan masing-masing kamar terisi. Saya rasa itu lebih baik daripada kost. Fasilitas lebih lengkap, termasuk garasi bagi yang punya kendaraan bermotor!" Arabella mengangkat kedua bahunya.

"It's okey! Arabella sudah punya calon suami?" Renaga menatap tajam wajah Arabella.

Arabella membalas tatapan Renaga, satu level lebih tajam.

"Kenapa memangnya?" Arabella mengalihkan pandangan matanya, lalu mengembuskan napasnya perlahan.

"Saya ingin tahu!" sahut Renaga dengan tegas.

"Belum. Saya belum ada calon suami!" Arabella membalas ucapan Renaga lebih tegas.

"Maukah kamu menjadi isteri saya?" Renaga kembali menatap wajah Arabella dengan serius. Ia sadar jika ucapannya terlalu lugas. Namun, bukan Renaga namanya jika tak berani berkata untuk menyampaikan isi hatinya.

"Wajahnya kayak sudah tua gitu. Mau dijadiin isteri ke berapa aku ini? Huft ... dasar lelaki!" batin Arabella. Ia mengangkat dagunya lalu memandang lekat wajah Renaga.

"Anda belum beristeri?" tanya Arabella dengan berani.

"Jika saya sudah betisteri, saya tidak akan menanyai Arabella seperti tadi!" Renaga menyeruput kopinya dan pandangan matanya kembali tertuju ke arah Arabella.

Arabella tak berbesar kepala dengan lamaran tak jelas dari lelaki yang baru saja dikenalnya.

"Baru juga kenal, ngapain ngajak nikah? Yang sudah lama kenal aja nggak ada ngajakin aku nikah!" batin Arabella sambil menikmati kopinya. "Hei ... ini kopi mahal. Aku nggak akan melewatkan kenikmatannya. Demi segelas kopi ... aku rela makan apa adanya untuk beberapa hari ke depan!" kata Arabella dalam hati.

***