JoyNovel

Lisons le monde

Ouvrir l'APP
Patah Hati Terberat

Patah Hati Terberat

Auteur:Fafa_El.Zhafa

Fini

Introduction
"Nggak!! ini nggak mungkin terjadi!! Kinan gak mungkin meninggal kan mas??? Nggak mungkin huhuhu" aku menangis kencang karna kinan-ku pergi selama nya ke surga. Kisah ini bercerita sebuah keluarga yang kehilangan Putri kecil mereka. Hingga mengubah semuanya. Mampukah Pras dan Dinda melewati semua?? Jangan lupa like, rate dan subscribe yaaa!!!
Afficher tout▼
Chapitre

"Ummi ayo kita ke sana. Kinan mau main itu ummi" ucap kinan--putriku yang berusia 3th menunjuk bangku di seberang taman.

Sore itu aku dan Kinan sedang jalan di taman.

Duduk santai melepas penat sebagai ibu rumah tangga dengan pekerjaan rumah yang tiada habisnya. 

"Iyaa nak. Tunggu sebentar, ini ummi beres ini dulu ya" ucapku sambil membereskan beberapa sampah yang dibuat oleh diriku dan Kinan. 

"Aaaaaaahhhhh" belum selesai aku dengan sampah-sampah ini terdengar jeritan Kinan. 

"Astagfirullah kinaaaaannnn" jeritku. Entah bagaimana kejadiannya, putriku sudah tergeletak bersimbah darah. Dan motor yang menabraknya melaju dengan kencang.

"Ya Allah. Kinan.. sadar nak ini ummi" tangisku.

Darah semakin banyak mengalir di kepalanya. Aku berteriak meminta tolong dan orang-orang langsung mengerumuni kami. 

"Ayo bantu panggilkan taxi dan bawa ke rumah sakit" ucap salah satu warga yang membantu Kinan. 

Aku panik. Kinan-ku semoga dia baik-baik saja. 

Tak lama setelah itu taxi datang dan aku langsung membawa Kinan ke rumah sakit tak lupa kini satu warga yang mendampingiku. 

"Bagaimana bisa begini Bu?" Tanya ibu-ibu di sampingku

"Aku pun juga tak tahu mbak. Waktu itu aku membereskan sampah. Belum selesai, aku mendengar jeritan putriku" jawabku tergugu. 

"Semoga putri ibu baik-baik saja ya. Semoga tidak berakibat fatal mengingat banyak darah yang keluar" ucapnya. 

"Amiiinnn.. semoga mbak"

Sesampainya di rumah sakit, Kinan langsung di larikan ke UGD. 

"Ibu silahkan tunggu di luar ya" ucap salah satu suster ketika aku ingin ikut masuk ke dalam. 

Aku mengangguk dan segera duduk di kursi ruang tunggu. hatiku gelisah memikirkan keadaan Kinan. 

"Ibu yang sabar ya, tetap berdoa semoga putri ibu baik-baik saja" ucap perempuan yang ada di sebelahku.

Aku mengangguk lemah. pikiranku kalut dengan segala kemungkinan yang terjadi.

"Kalau begitu saya permisi dulu ya Bu" pamitnya, membuatku tersenyum lemah.

"Terima kasih atas bantuannya" ucapku tulus.

kemudian, dia bangkit dan berlalu meninggalkanku sendiri. 

Aku mengambil benda pipih yang berada di dalam tas. aku akan menghubungi Mas Pras atas kejadian ini. 

Semoga mas Pras bisa pulang, mengingat dia sedang di tugaskan untuk ke luar kota oleh atasannya. 

Tuutt.. Tuuut..

Ponselku berdering, menunggu panggilan terhubung.

"Ya sayang" ucap mas Pras di ujung sana, ketika panggilan ku mulai terhubung.

"Mas" panggilku lirih. 

"Kenapa sayang? Kamu habis nangis? ada apa?" Tanya mas Pras beruntun.

Lama aku tak menjawab pertanyaan yang mas Pras berikan. aku tergugu dengan air mata yang berlinang. 

Hatiku hancur menghadapi kenyataan yang terjadi pada Kinan.

"Sayang ada apa? Jangan bikin mas khawatir" tanya mas Pras lagi.

"Kinan mas" aku menggigit bibir bawahku dengan kuat. 

"Kenapa dengan Kinan" mas Pras tak sabar.

Aku menghembuskan nafas pelan. meminimalisir detak jantungku yang tak karuan. 

"Kinan tertabrak motor mas, dan sekarang di larikan ke rumah sakit" aku berbisik lirih, tapi mampu membuat mas Pras terkejut di ujung sana. 

"Bagaimana bisa Dinda? kamu kemana??" mas Pras begitu panik dengan kabar yang aku berikan. 

Pandanganku menerawang, ingat dengan kejadian beberapa menit lalu, aku dan Kinan bercanda tertawa tapi sekarang berubah duka.

"Ceritanya panjang mas, mas bisa pulang sekarang? pintaku dengan penuh pengharapan.

"Mas pulang akan pulang sayang. katakan sekarang Kinan di rawat di rumah sakit mana?" tanya mas Pras.

"Rumah sakit Dharma Husada" jawabku. 

Setelah itu mas Pras langsung mematikan sambungan telpon. aku kembali duduk di kursi menanti kedatangan dokter keluar dari ruangan. 

"Sayang" aku mendongak menatap mas Pras yang entah sejak kapan berdiri di hadapanku. Sontak aku langsung memeluknya. Menumpahkan segala tangisku. 

"Kuat yaa… Kita berdoa untuk kesalamatan Kinan" ucapnya sambil menengkanku. 

Bagaimana aku bisa kuat. Bayang-bayang saat Kinan tergeletak bersimbah darah, sudah cukup membuatku begitu terpukul.

"Kinan mas, anak kita" tangisku. 

"Sudah. Itu dokter keluar" ucapnya. 

Langsung aku dan mas Pras menghampiri dokter yang baru saja keluar dari ruangan. 

"Bagaimana kondisi anak saya dok" tanya mas Pras berusaha tenang. 

"Anak bapak dan ibu mengalami koma. Karna benturan yang sangat keras tadi dan juga mengalami kehilangan darah yang sangat banyak. Kita berdoa semoga ananda segera berlalu dari komanya" jelas dokter. 

Mendengar kinan koma sontak membuatku menjerit tertahan. Ini salahku, aku yang tak mengawasi Kinan dengan baik. 

"Tolong lakukan yang terbaik dokter" pinta mas Pras parau. 

Aku tau diapun sama terpukulnya saat ini. Kinan-- anak semata wayang kami terbujur tak berdaya di dalam sana. 

"Kami akan melakukan yang terbaik pak. Banyak berdoa ya buat ananda" ujar dokter. 

"Boleh kami lihat keadaan Kinan?" Tanya mas Pras. 

"Tentu. Kalau begitu kami permisi dulu" pamit dokter. 

Setelah dokter pergi, aku dan mas Pras langsung masuk ke ruangan Kinan.

Kini aku dan mas Pras berada di ruangan Kinan. Di depan kami, putri kecil itu terbujur dengan berbagai macam kabel yang terpasang di tubuhnya. 

"Sayang, ini ummi. Lihat, Abi sudah pulang nak" ucapku parau. 

Aku menyentuh pipinya dengan hati-hati. Menatap wajahnya yang begitu damai, seolah-olah dia tertidur dengan tenang. 

"Abi pulang nak, Kinan mau minta dibelikan apa? Ayo bangun sayang. Kita main bersama lagi" ucap mas parau. Dia sedang berjuang keras untuk menahan air matanya. 

Untuk pertama kalinya dalam hidup aku melihat sisi kelemahannya. Ketegasan dan keteguhannya selama ini, lebur melihat kondisi putri yang amat disayanginya. 

"Ayo sayang. Ayo bangun, Abi rindu dengan Kinan. Sekarang Abi pulang nak, ayo bangun. Anak Abi anak yang kuat" tangis mas Pras. 

Aku memeluknya. Kami menangis berdua. Mencoba menguatkan satu sama lain. Tak ada yang lebih menyakitkan selain melihat buah hati terbaring tak berdaya. Andai takdir bisa di pinta, ingin rasanya diri ini saja yang menggantikannya. 

"Bagaimana kejadiannya dik" tanya mas Pras di sela tangisnya. 

"Waktu itu aku dan Kinan sedang jalan-jalan ditaman mas. Kinan begitu bahagia, dan dia menunjuk salah satu bangku kosong di seberang taman. Aku mengiyakan permintaannya. Tapi sebelum itu aku membereskan sampah yang dibuat kami berdua. Belum selesai aku membersihkan serakan sampah, Kinan tiba-tiba menjerit. Aku langsung menoleh dan Kinan sudah tergeletak di tengah jalan. Sedangkan motor itu terus melaju dengan kencang" jelasku sesegukan. 

Kini aku dan mas Pras berada di ruangan Kinan. Di depan kami, putri kecil itu terbujur dengan berbagai macam kabel yang terpasang di tubuhnya. 

"Sayang, ini ummi. Lihat, Abi sudah pulang nak" ucapku parau. 

Aku menyentuh pipinya dengan hati-hati. Menatap wajahnya yang begitu damai, seolah-olah dia tertidur dengan tenang. 

"Abi pulang nak, Kinan mau minta dibelikan apa? Ayo bangun sayang. Kita main bersama lagi" ucap mas parau. Dia sedang berjuang keras untuk menahan air matanya.