JoyNovel

Lisons le monde

Ouvrir l'APP
My Alien Boyfriend

My Alien Boyfriend

Auteur:Carmen Irene

Fini

Introduction
Stefani Wilhelmina, 26 tahun, baru saja putus dari James—laki-laki super berengsek yang sudah ia pacari selama lima tahun Suatu hari ia mendapat kekuatan aneh dari alien masokis bernama Aaron saat ia sedang menghabiskan waktu di taman. "Oke, Stefani. Langsung saja kita ke topik utama. Karena sekarang kamu sudah memiliki sebagian dari kekuatanku, sekarang kita bisa terhubung satu sama lain. Jadi, kalau ada apa-apa atau kamu butuh bantuanku, aku bisa segera mendatangimu. Tapi, sebagai bayarannya, aku membutuhkan energimu untuk bisa tetap berada di sini." Cara Aaron mengambil energi kehidupannya yang tidak biasa, beralasan bahwa itu caranya untuk membiasakan diri dengan kehidupan di bumi setelah pesawatnya jatuh membuat Stefani awalnya enggan untuk percaya. Apakah Aaron bisa menghilangkan kepercayaan pada laki-laki yang telah hilang setelah James mencampakkannya?
Afficher tout▼
Chapitre

Stefani memandangi langit malam yang dipenuhi dengan banyaknya bintang yang bertebaran di langit. Dia mengarahkan tangannya ke arah salah satu bintang yang menarik perhatiannya; berwarna merah kebiruan dan cahayanya yang terlihat agak samar, berbeda dengan bintang lainnya yang dia lihat.

"Andai bintang yang aku lihat saat ini itu nyata. Mungkin aku bisa berharap sesuatu dengan bintang itu. Misalnya, keabadian atau sihir?"

Kamu yakin dengan pilihanmu itu?

"Siapa itu?" tanyanya, menoleh ke belakangnya. Namun dia tidak menemukan siapa pun di sana. Merasa kalau itu hanya sekadar perasaannya, dia kembali mengarahkan pandangannya ke bintang berwarna merah kebiruan yang entah bagaimana terlihat lebih terang dari sebelumnya, hingga dia terpaksa harus memicingkan kedua matanya karena sinarnya terlalu menyilaukan matanya.

Perlahan, bintang itu semakin mendekat ke arahnya, disusul dengan sinarnya yang semakin terang. Saat dia berusaha untuk lari menjauh dari sinar itu, dia merasakan kalau kedua kakinya terasa sulit untuk digerakkan. Begitu juga dengan seluruh tubuhnya yang terasa begitu kaku dan berat, seolah tidak ingin membiarkannya menghindar dari bintang itu.

Lalu, bintang itu bergerak semakin dekat dan mulai masuk ke dalam tubuhnya. Seluruh tubuhnya kini terasa begitu panas, sampai dia berteriak kesakitan. Anehnya, dia sama sekali tidak bisa mendengar suaranya, sekeras apa pun dia berteriak. Saat dia membuka matanya, dia mulai menyaksikan tubuhnya yang kini berwarna sama seperti bintang yang dilihatnya tadi; seluruh tubuhnya kini berwarna merah kebiruan. Panik, dia berusaha menggosokkan tubuhnya agar warna yang dilihatnya itu hilang. Tetapi semakin dia berusaha menggosoknya, sinar itu justru semakin kuat dan mulai menghisap energinya.

"Sebenarnya... apa yang... sedang terjadi?" tanyanya, merasakan energi tubuhnya yang mulai berkurang. Ia mulai merasakan pandangannya yang kabur dan gelap, disusul oleh suara tubuhnya yang jatuh menghantam tempatnya berdiri tadi.

#

"Kamu baik-baik saja?"

Saat mendengar suara yang sepertinya tengah memanggilnya itu, dia mulai membuka kedua matanya. Perlahan, dia bisa melihat seorang laki-laki dewasa yang tengah menatapnya dengan wajah khawatir.

"Syukurlah kamu baik-baik saja. Sepertinya memang intuisiku tidak salah, kalau kamu adalah orang yang tepat untuk mendapatkannya."

Dia mencoba untuk bangun dari tempatnya berbaring, yang baru disadarinya kalau dia kini berada di tempat yang berbeda dengan tempatnya tadi. Kepalanya masih terasa agak sakit, namun dia tidak menghiraukannya. Laki-laki itu lalu menawarkan diri untuk membantunya duduk, yang segera ditolaknya.

"Aku bisa duduk sendiri. Daripada itu..." katanya, mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya. "Kita sekarang ada di mana?"

Laki-laki itu terdiam beberapa saat, ikut melihat ke arah matanya memandang. "Saat ini kamu berada di rumahku. Kenapa?"

"Ru-rumahmu?" tanyanya gelagapan. Dia membelalakkan matanya, terkejut dengan jawaban yang diberikan oleh orang yang ada di depannya. "Kenapa aku bisa ada di rumahmu? Bukankah..."

"Iya, aku tahu. Memang tadi kamu berada di taman. Dan maafkan kelancanganku karena telah membuatmu pingsan tadi. Tapi, berkat bantuanmu, sekarang aku tidak perlu lagi kesulitan untuk beradaptasi di sini."

Dia menaikkan sebelah alisnya. "Maksudnya?"

Laki-laki tadi melegakan tenggorokannya. "Ada baiknya kalau aku menjelaskannya perlahan. Sebelum itu, nama kamu siapa?"

Dia menatap laki-laki itu dengan wajah bingung. "Stefani. Stefani Wilhelmina. Kamu sendiri?"

"Aaron. Oke, Stefani. Langsung saja kita ke topik utama. Karena sekarang kamu sudah memiliki sebagian dari kekuatanku, sekarang kita bisa terhubung satu sama lain. Jadi, kalau ada apa-apa atau kamu butuh bantuanku, aku bisa segera mendatangimu. Tapi, sebagai bayarannya, aku membutuhkan energimu untuk bisa tetap berada di sini."

"Tunggu dulu. Ini maksudnya apa? Aku... punya... sebagian kekuatanmu?"

Dia menganggukkan kepalanya. "Tepat sekali. Di luar dugaan, kamu cepat tanggap juga. Jadi kita sepakat, ya? Sebelum itu..."

Sebelum dia menyadari apa yang tengah terjadi padanya, laki-laki itu tiba-tiba mendekatkan wajahnya ke arahnya dan segera mencium bibirnya. Yang membuatnya heran, dia sama sekali tidak bisa marah saat laki-laki itu melakukannya. Justru dia menikmati cara laki-laki yang tadi memperkenalkan diri sebagai Aaron tadi menciumnya. Cepat, intens, dan terasa seperti magnet. Rasa manis dan sensasi seperti tersengat listrik segera menyebar ke seluruh tubuhnya. Namun di saat bersamaan, dia juga merasakan tubuhnya yang mulai kembali terasa lemas, seperti sebelumnya.

"Selesai. Terima kasih atas makanannya." ucap Aaron, setelah melepaskan ciumannya dari Stefani. "Stefani?"

Dia memegangi bibirnya yang tadi dicium oleh Aaron. "Makanan? Maksudmu ciuman tadi itu makananmu?"

Aaron tersenyum sambil mengelus rambutnya. "Iya. Tadi sudah kujelaskan, bukan? Sebagai ganti atas kekuatan yang kamu miliki saat ini, kamu harus memberikan energimu padaku."

"Tapi kamu nggak bilang kalau caranya seperti itu!" protesnya, melayangkan tamparan ke wajah Aaron. Sepertinya dia menampar laki-laki itu terlalu keras, karena suara tamparannya seakan menggema di seluruh ruangan, disusul dengan tubuh Aaron yang terhempas beberapa meter dari tempatnya berbaring saat ini.

Aaron memegangi pipinya yang tadi ditampar Stefani dan mulai menyunggingkan senyumannya. "Bisa tampar yang satunya lagi?" tanyanya, menunjuk ke arah pipi kirinya yang belum ditampar olehnya. Aaron segera bangkit dari tempatnya jatuh tadi dan berjalan dengan cepat menghampirinya, lalu duduk di sebelahnya.

Dia memegangi tangan yang dipakainya tadi untuk menampar laki-laki itu dengan wajah ketakutan, mengabaikan pertanyaan Aaron tadi. "Tadi... Tadi itu apa? Bagaimana bisa aku melakukannya sejauh itu?"

"Itu salah satu kekuatan baru yang kuberikan padamu. Kamu bisa mengaktifkannya kapan saja, asalkan kamu memberikanku energi kehidupanmu setiap pagi. Bagaimana? Kamu suka?"

Dia menganggukkan. "Suka banget!"

"Jadi aku boleh minta hadiahku kan?" tanya Aaron, mengarahkan wajahnya mendekat padanya. Dia bisa mencium aroma manis yang menempel pada tubuh Aaron, yang membuatnya merasa ingin menyerang laki-laki. Bukan ke arah perkelahian pastinya.

"Hadiah apaan? Baru jelasin sedikit saja berlagak banget." sahutnya, menjauhkan wajahnya dari laki-laki tadi.

"Yah, sayang banget. Padahal aku suka waktu kamu menamparku seperti tadi. Belum pernah ada yang menamparku selama ini, jadi kamu mesti senang karena kamu menjadi orang pertama yang berhasil menamparku sampai seperti tadi."

Wajah Aaron terlihat begitu senang saat menjelaskan hal itu, membuatnya bertanya-tanya apakah seharusnya dia merasa takut karena mendapatkan kekuatan baru dan menjadi orang pertama yang berhasil menampar Aaron seperti tadi, atau merasa senang karena orang yang ada di hadapannya ini memiliki bakat tersembunyi yang sudah menjadi impiannya sejak lama.

"Tapi kelihatannya kamu tuh, yang senang banget abis aku tampar tadi. Kayaknya tadi ada yang ngomong sama aku kalau ada yang ingin ditampar lagi. Siapa ya?"

"Kamu mau menamparku lagi?" tanyanya dengan mata berbinar.

Dia tidak menjawab pertanyaan Aaron tadi, dan mulai beranjak dari tempatnya berbaring. Rasa sakit di kepalanya kini sudah hilang tak berbekas, dan dia merasakan seluruh tubuhnya kini terasa lebih ringan dari sebelumnya. Lalu dia menoleh ke arah Aaron, yang masih duduk di sebelahnya, sambil mengarahkan jemarinya menelusuri wajah laki-laki tadi. Kulit laki-laki itu terasa begitu dingin, namun dia mengabaikan sensasi dingin itu dan menatap mata Aaron.

"Kamu tahu kan, kalau kamu tidak bisa langsung mendapatkan hadiahmu?"

"Kalau begitu, aku harus melakukan apa agar kamu mau menamparku seperti tadi?" tanyanya dengan wajah bingung.

Jemarinya lalu berhenti tepat di bibir laki-laki itu, yang terasa begitu dingin. Dia mengusap bibir laki-laki itu perlahan. "Panggil aku Nona Stefani. Dan tundukkan kepalamu setiap kali kamu berbicara denganku. Paham?"

Laki-laki itu menganggukkan kepalanya dan menunduk, persis seperti yang dimintanya tadi. Dia tersenyum puas melihat reaksi laki-laki tadi, dan menjauhkan jemarinya dari wajah Aaron.

"Nona Stefani. Tolong tampar makhluk hina yang ada di hadapan Nona saat ini. Tampar saya sampai Nona merasa puas menampar saya." ucapnya, tetap menundukkan kepalanya seperti yang dimintanya tadi.

"Bagus. Sekarang angkat kepalamu dan tatap kedua mataku."

"Baik, Nona Stefani." jawab Aaron, mendongakkan kepalanya ke arahnya dan menatap kedua matanya. Lalu tangannya dengan cepat menampar laki-laki itu hingga kembali terhempas beberapa meter hingga punggungnya menghantam dinding ruangan itu seperti sebelumnya.

Rasanya dia mulai menyukai kekuatan barunya itu, pikirnya ketika melihat Aaron berusaha keras untuk bisa berdiri dan kembali berlari ke arahnya. Begitu Aaron kembali berdiri di hadapannya dengan menundukkan wajahnya, dia kembali melayangkan tamparannya ke pipi laki-laki itu berkali-kali hingga dia merasa puas.

"Masih mau lanjut?" tanyanya, menaikkan kepala laki-laki tadi hingga menghadap ke arahnya, yang dijawabnya dengan anggukan kepalanya. Dia segera menjauhkan tangannya dari laki-laki tadi dan berjalan menuju pintu ruangan ini.

Lalu berbalik menatap laki-laki tadi. "Nggak deh. Nanti kamunya keenakan."

"Kok gitu sih? Padahal lagi seru-serunya juga." dengus Aaron, terlihat kecewa dengan penolakannya. Dia tidak menggubris perkataan Aaron tadi dan mencoba untuk membuka pintu ruangan ini.

"Pintunya kenapa terkunci?" tanyanya saat membuka pintu tersebut. "Aaron, kamu sengaja mengun-"

Belum sempat dia mengakhiri pertanyaannya, laki-laki itu tahu-tahu sudah berada tepat di hadapannya, membuatnya nyaris melompat saking kagetnya. "Iyalah. Kalau nggak begitu, nanti kamu bakal pergi dari tempat ini."