JoyNovel

Lisons le monde

Ouvrir l'APP
Miracle Of Love

Miracle Of Love

Auteur:Putri Safridah

Fini

Introduction
Naila menangis yang sejadi jadinya ketika ia membaca sepucuk surat yang membuat impiannya menjadi hancur berantakan. Sebuah surat yang didalamnya berisi perkataan yang begitu sangat menyakitkan dan juga yang membuat impian yang sudah ia rancang menjadi hancur berantakan. Ia sudah bertunangan dengan Dimas yang akan menjadi calon imamnya hanya dalam hitungan hari, tepatnya tiga Minggu lagi. Namun, petaka justru menghampiri di saat mimpinya untuk menjadi seorang pengantin yang hidup dengan bahagia harus kandas di tengah jalan. Mampukah Naila bertahan dan menata hatinya yang kini telah hancur berantakan menjadi kepingan kepingan kecil? Apakah ia akan menderita tiada Akhir? Ataukah ia mampu merubah situasi menjadi lebih baik dengan Kemampuan rahasia yang di milikinya? Sedangkan di sisi lain, Dimas sendiri juga merasakan sakit yang tak kalah sakitnya dengan Naila. Ia meninggalkan seseorang yang ia sayangi dengan terpaksa. Namun, ia juga tidak bisa hidup bersama Naila. Kini Naila bertekad kuat untuk bisa menata hidupnya kembali, dan menjadi seseorang yang lebih baik dari sebelumnya. ia tidak tahu apa mereka akan bersama kembali? Atau justru menemukan cinta lain walau harus saling menyakiti?
Afficher tout▼
Chapitre

Seorang gadis yang memakai hijab berwarna putih senada dengan pakaian yang juga berwarna putih yang indah berhiaskan permata di sekitar kainnya kini tersenyum dengan bahagia.

Ia tidak tahu mengapa tiba-tiba kekasihnya mengirimkan sepucuk surat yang biasanya hanya bisa berbalas pesan melalui media sosial dan aplikasi menelfon.

Namun, entah mengapa tiba-tiba kekasihnya mengirimkan sepucuk surat yang berada di dalam sebuah amplop coklat yang ditutup sangat rapat.

sehingga seperti menandakan surat tersebut hanya boleh dibaca gadis tersebut saja.

"Ada apa, Ya? Tumben Mas Dimas Kirim paket surat seperti ini?" Gumam gadis tersebut dengan perlahan membuka segel dari Amplop coklat yang kini sedang ia buka secara perlahan dan mulai membuka serta membaca isinya secara perlahan.

"Brrak!

"Kak Naila, Dari tadi ngapain aja sih?

Di panggilan sama Mama enggak dengar?

Kakak lagi apa? Seorang gadis yang memiliki usia tidak jauh dari gadis yang di panggil Naila tersebut pun tidak berani menatap wajah adiknya yang tiba tiba datang membuka pintu dengan kasar dan langsung masuk begitu saja duduk di samping nya yang sedang duduk di atas sofa berwarna pastel yang berada di dalam kamar yang memiliki perabotan yang di dominasi warna merah muda dan Putih.

"Itu bajunya pengantinnya kapan di lepas sih?

Kenapa di pakai terus?

Hayoo? Pamali loh belum nikah udah seharian pakai baju pengantin?

Ciee yang udah enggak sabar jadi pengantin," lanjut gadis tersebut yang kembali menggoda Naila yang merupakan kakak kandungnya yang sangat ia sayangi selama ini. Naila selalu membantunya dalam suka dan duka, apalagi dalam bertarung, Naila jagonya.

Naila selalu menghajar orang orang dengan ilmu bela diri yang ia miliki untuk membantu adiknya jika ada orang orang yang bertindak adik kepada adiknya.

Namun, kali ini keahlian kakaknya kali ini tidak dapat ia lihat,

Entah mengapa ia melihat wajah kakaknya saat ini ini tidak berani menatap wajahnya kakaknya hanya memalingkan wajah dan diam tanpa Kata.

"Kak!

Kakak Naila ? Tatap Aku kak!

Kenapa kakak tidak berani melihat aku kak?

Jujur sama aku ada apa kak?" Tanya gadis tersebut sembari mengguncang bahu Naila dengan sedikit kuat dan berdiri di hadapan Naila yang kini telah berwajah merah padam.

Wajahnya terlihat bengkak, bahkan matanya juga merah menyala.

"Bisa tinggalkan kakak sendiri dulu dek?

Kakak lagi ingin Sendiri," pinta Naila sembari menepis tangan adiknya yang kini mencoba menyentuh wajahnya yang kini terlihat kacau.

"Katakan!

Siapa yang membuat Kakak seperti ini?

tolong jawab jujur sama aku Kak!

Aku tidak ingin melihat kakak seperti ini!?

Di mana Kak Naila yang selalu kuat, dan juga memiliki ilmu bela diri yang selalu membela Aku dan juga menolong Aku dari orang-orang yang menyakitiku?

kemana Kak Naila yang selalu tertawa bahagia dan ceria?!

jawab Aku Kak?

siapa yang membuat Kakak seperti ini?

Apa yang sebenarnya terjadi Tolong jawab Aku sekarang!” Desak gadis tersebut dengan wajah yang kini mulai memerah dan menahan tangis tubuhnya bergetar hebat melihat kakaknya yang kini mencoba tersenyum walau air mata tak dapat membohongi dengan terus mengalir dari kedua pelupuk matanya.

Jawab Aku! Jika Kakak tidak ingin aku mengatakannya kepada Mama saat ini juga Kak!" Ancam gadis tersebut sembari melangkahkan kaki pergi menuju keluar kamar Naila yang segera dicegah oleh Naila yang menangkap lengan kanan gadis tersebut dengan wajah yang begitu sangat sembab,

Naila menggelengkan kepalanya meminta adiknya tersebut berhenti dan tidak membicarakan hal tersebut kepada orang tua mereka.

"Ini masalah Kakak dek, Bukan masalah kamu Santi,

Ini masalah Kakak, kamu tidak perlu ikut campur. Biarkan Kaka menyelesaikannya sendiri.

Kakak tidak ingin menjadi beban dan membuat masalah lagi Dek," Tutur nya dengan suara lirih dan juga parau,

Ia tak sanggup untuk berdiri sehingga ia jatuh meluruh ke lantai,

dan duduk bersimpuh ia menangis sejadi-jadinya hingga ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya yang kini menutup wajahnya yang yang sedang menangis tiada henti di depan adiknya yang merasa sangat sakit melihat keadaan seseorang yang sangat ia sayangi terlihat seperti sangat menderita.

matanya menatap sekeliling dengan secara liar ia mencoba mencari sesuatu yang mungkin menjadi pemicu dari apa yang dialami oleh kakaknya tersebut,

karena ia tidak yakin akan menjawab mendapatkan jawaban dari kakaknya yang terlihat sangat begitu sedih bahkan untuk berbicara saja kepadanya sangat enggan.

Naila seperti menyembunyikan perasaannya sendiri dari adik yang sangat ia sayangi tapi hal itu tidak disukai oleh Santi.

matanya menangkap selembar kertas yang kini tergeletak di atas lantai tadi tidak memperhatikan sekitar, ternyata ada selembar kertas dan juga amplop yang terjatuh di atas lantai ia memungut kertas tersebut dan segera membaca isinya.

"Tidak!

Jangan!

Jangan dibaca Dek!

jangan!

kamu tidak boleh membacanya,

kamu tidak boleh mengetahuinya!

berikan kertas itu kepada kakak!

jangan membuat masalah menjadi semakin rumit, tolong, jangan dek!" titah Naila yang segera mengejar Santi dan mencoba mengambil kertas tersebut dari tangan Santi yang segera ditahan oleh Santi yang juga memiliki ilmu bela diri,

mereka berdua sama-sama memiliki ilmu bela diri jadi sulit asalnya jika seandainya mereka bertengkar,untuk bisa berhenti tapi ketika mereka bertengkar mereka akan kembali rukun kembali.

tanpa harus ada meminta maaf salah satu dari mereka mereka selalu rukun dan damai tidak pernah ada masalah yang membuat mereka menjadi berselisih.

Namun, kali ini Naila tidak bisa membiarkan adiknya mengetahui isi surat tersebut karena hal tersebut akan menyakiti hati seluruh keluarganya.

"Kak!

Ini enggak benar kan kak?

Jawab aku Kak!" Tanya. Santi dengan wajah yang memucat dan mulai menangis terisak dan tersedu sedu,

Ia tidak sanggup melihat apa yang di alami oleh kakanya sendiri.

Siapa Meisya Kak?" tanya Santi dengan perlahan kepada kakaknya yang yang tidak bisa menjawab pertanyaan adiknya.

adiknya telah membaca adalah surat tersebut ia menemukan sebuah kertas undangan yang seharusnya menjadi kertas undangan mereka Namun, sepertinya itu tidak akan terjadi.

Hal itu dikarenakan yang tertulis di kertas undangan tersebut bukan nama dirinya dan juga Dimas kekasihnya. melainkan nama seorang wanita yang dulu pernah dekat dan satu kampus dengannya.

Yang juga menjadi rekan kerja di kantornya.

"Dimas Baskara?

Meisya Adelia,?

Apa maksudnya ini kak?

Kenapa bukan nama kakak yang ada di kertas undangan ini?

Kak jangan bilang kalau kertas undangan ini adalah jawaban dari isi surat ini?"tanya Santi menyelidik dengan urat leher yang tegang.

Darahnya seakan mendidih menggelegak.

"Iya Dek, kakak Minta tolong rahasiakan ini sama Mama, ya?

Kakak Minta Tolong jangan beritahu Mama,

Kakak takut Mama jatuh sakit setelah membaca isi surat ini." Mohon Naila dengan sungguh sungguh kepada Adiknya yang kini juga tak sanggup berdiri.

Ia memeluk erat kakak kesayangannya.

Ia tidak menyangka hal di takutkan ya selama ini menjadi nyata.

Dia memang curiga dengan Meisya selama ini yang sering curi curi kesempatan bila Naila sedang bersama Dimas.

Bahkan di sempat ultimatum Nesya agar tidak menggangu hubungan Kakaknya.

Namun, ternyata malah berita yang tidak menyenangkan yang ia dapat.

"Drrt... Drrrt...Drrt" ponsel Naila bergetar dia tas meja riasnya.

Santi yang melihat itu segera bergegas mengangkat ponselnya dan segera menjawab telfon dari si pemanggil.

"Assalamualaikum, Halo?

Naila, kamu sedang sibuk, tidak?

Kami ingin datang nih kami bawa sample makanan untuk Acara pernikahan kamu, kemungkinan kamu pasti suka." Terang seseorang dengan sangat antusias mengutarakan maksudnya. Namun, Tidak ada jawaban dari sebrang telfon tersebut.

"Halo? Naila?

Kamu dengar 'kan?"

"Maaf kak Dani, Kak Naila sedang tidak enak badan.

Sekali lagi maaf ya, 'kak,"

Dani terkejut mendengar penuturan suara gadis bukan Naila melainkan suara seseorang yang juga ia sangat kenali, Suara Santi.

"Halo? Santi!

Dek!

Halo!?" Dani terkejut dan panik karena sambungan di putus sepihak.

Ada apa Dani? Kok wajah kamu panik? Tanya seorang Gadis yang juga merupakan sahabat Naila yang sedang bekerjasama dengan Dani mencari sample makanan yang kemungkinan cocok menjadi Menu di Acaranya Naila,

Kini mereka sedang ada di restoran elit yang cukup terkenal dengan masakan yang enak.

"Aku tidak tahu Sania, aku curiga ada hal yang tidak beres." Sahut nya dengan berjalan mondar mandir di depan waiters yang masih bingung dan belum mendapatkan keputusan dari Dani yang tadi meminta nya membawakan beberapa makanan yang akan mereka pesan untuk acara Naila.

"Maaf Sir, Apa semuanya baik baik saja? Disini saya hanya menjalankan tugas, bagaimana keputusan nya Sir?”

Note:

Apakah sebenarnya isi surat itu?

Apa hubungannya dengan Meisya?

Mengapa nama Meisya yang akhirnya tersemat di kertas undangan yang seharusnya tertulis nama Naila?