JoyNovel

Lisons le monde

Ouvrir l'APP
Batas Kesabaran Seorang Istri

Batas Kesabaran Seorang Istri

Auteur:Satra Olesti

Fini

Introduction
Salma pergi ke luar kota untuk membantu membiayai kuliah adiknya dan berjanji kepada orang tuanya akan pulang membawa ijazah sarjana adikny. Namun, rencana Salma berubah setelah dia mengenal Bram hingga berakhir menikahinya secara mendadak. Bram adalah pria yang tiga belas tahun lebih tua darinya. Bram dan Salma saling mengenal sejak bekerja di tempat yang sama. Hanya saja, rumah tangga mereka mulai berantakan. Sifat Bram tiba-tiba berubah layaknya yang semula bersikap seperti suami idaman kini menjadi suami tak berperasaan. Bukan kebahagian yang ia dapat dari suaminya melainkan rasa sakit, terkadang pula menerima pukulan, bahkan sesekali pergi dari rumah untuk menenangkan pikiran. Batas kesabaran Salma sebagai seorang istri sudah habis, akan tetapi kata cerai tidak berlaku baginya karena harus mempertahankan anak-anaknya yang tidak ingin ia jadikan korban keegoisan dia dan suaminya. lalu, akankah Bram kembali berubah? Ataukah Salma akan memilih jalan terakhir? Yuk simak ceritanya!
Afficher tout▼
Chapitre

“Cerai? Oke. Ini memang akhir dan keputusan yang paling terbaik diantara kita!”

Awan bercorak mengepung dunia angkasa. Bulan purnama mengambang di antara bintang-bintang. Desis angin malam merusak gendang telinga. Mata manja dan kalbu suci terpana keindahannya. Setiap kali kesejukannya menerpa, seakan tubuh berada di surga. Raga terhipnotis, nurani tak mampu menepis. Akal terbang tinggi berilusi tentang mimpi yang begitu membahagiakan.

Di bawah kamar jendela, Salma duduk sambil memejamkan mata bening lentiknya. Salma adalah gadis desa dari keluarga yang sederhana. Wanita yang baru saja berulang tahun yang ke dua puluh lima tahun itu tengah memikirkan bagaimana ia dapat membantu adiknya untuk kuliah.

Salma tidak bisa melakukan apa-apa jika dia tidak keluar dari daerah yang ia tempati karena di sana tidak ada lowongan pekerjaan jenis apapun. Salma akhirnya mengumpulkan niat untuk pergi ke luar kota dengan tujan untuk mencari pekerjaan agar dia bisa membantu membiayai uang kuliah adiknya.

Pagi pun telah mengambil alih, Salma pergi ke salah satu kios yang tidak jauh dari rumahnya untuk membelikan alat-alat dapur yang mulai menipis.

“Eh, bukannya itu Salma ya?” bisik ibu-ibu penggemar gibah di kampungnya yang terdengar jelas ditelinga Salma.

“Iya, Jeng, itu Salma. Gadis itu sudah berumur loh, tapi sampai sekarang dia tidak kunjung dilamar oleh lelaki manapun. Mungkin … ya? cuma dia yang tahu kenapa. Selain itu, dia juga tidak pernah pergi keluar kota untuk mencari uang seperti anak saya. Dia selalu jadi beban orang tuanya,” sambung yang lainnya.

Terlahir dengan wajah yang biasa-biasa saja dan tidak secantik wanita-wanita yang ada di dalam kampungnya, tidak kunjung di pinang oleh lelaki walaupun sudah cukup berumur, tidak memiliki pekerjaan sehingga selalu menjadi beban keluarga. Semua itu adalah makanan sehari-hari yang selalu mengusik ditelinga Salma dari mulut tetangga maupun dari ibu-ibu pengemar gibah.

“Sabar, Sal. Mereka cuma ibu-ibu yang kurang kerjaan,” batin Salma.

Salma bukanlah seorang wanita yang sabar, dia juga akan melakukan apapun jika ada orang yang mengusiknya dari belakang. Salma akan menjawab secara langsung kepada siapa saja yang menceritakan hal-hal tidak baik tentangnya. Namun, di sisi lain dia juga sudah merasa lelah akan hal itu, karena bukan hanya satu atau dua orang yang harus ladeni, tapi hampir satu desa menceritakan tentang dia.

Salma sama sekali tidak tahu kenapa ibu-ibu desa sangat gemar menceritakan hidupnya, padahal dia sendiri tidak pernah memiliki masalah dengan mereka semua. Meskipun Salma juga bukan gadis yang baik-baik saja, akan tapi dia tidak pernah mempermalukan keluarganya atas apa yang ia lakukan.

Tidak seperti biasanya, Salma hanya melewati ibu-ibu penikmat gibah itu dengan tenang. Salma berjalan seolah-olah tidak melihat dan mendengar apapun. Salma kemudian menyibukkan dirinya untuk memilih bahan makanan yang ingin dibelinya.

Tiba di rumah, Salma mendengar suara tangis yang tidak asing dari kamarnya. Suara tangis itu tidak lain dari adiknya. Sebagai kakak tertua, Salma pun masuk ke dalam kamar tepat dimana adiknya berada.

“Fa, kamu kenapa?” tanya Salma seraya menepuk bahu adiknya dengan pelan.

“Kak, Difa ingin kuliah. Difa ingin mengubah kehidupan kita yang selalu sulit dengan keuangan ini. Difa ingin mensukseskan keluarga kita. Difa ingi keluarga kita bahagia. Difa ingin, ayah dan ibu tidak bekerja dengan keras lagi untuk menghidupi keluarga kita. Kak, Difa lelah dengan serba kekurangan ini, Difa ingin mengubah nasib dengan kuliah.”

“Fa, kakak tahu kalau kamu ingin membahagiankan keluarga kita, tapi kuliah bukanlah satu-satunya jalan untuk sukses. Kamu masih bisa melakukan hal yang lain untuk sukses. Siapa yang tidak ingin kamu kuliah, Fa? Semuanya ingin yang terbaik untuk kamu, tapi kamu tidak boleh memaksakan kehendak yang kita tidak mampu melakukannya,” nasihat Salma kepada adiknya.

“Kak, Difa sudah mendaftarkan diri untuk masuk perguruan tinggi. Difa lulus. Difa akan berangkat secepat mungkin. Difa akan berusaha untuk sukses. Difa titip keluarga kepada kakak.” Difa menyodorkan lemaran kertas yang menunjukkan bahwa dia telah lulus di salah satu kampus idamannya.

“Apa? Kamu lulus? Fa, kenapa kamu tidak bilang bahwa kamu telah mendaftarkan diri untuk masuk kuliah. Pikirkan baik-baik, kuliah itu tidak mudah loh apalagi masalah biaya.”

“Kak, aku janji tidak akan meminta uang sepeserpun dari kalian saat aku kuliah. Aku akan bekerja. Dan … tidak ada yang bisa mengubah keputusannku!” tegas Difa yang kemudian menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.

Difa adalah adik pertama Salma dari lima bersaudara. Sedari kecil, Difa adalah orang yang sangat pintar, dia selalu meraih juara satu sejak duduk di bangku SD sampai lulus SMA. Dia sangat suka belajar dan tentu sangat sayang dengan keluarga mereka. Hanya saja, Difa tidak lulus untuk mendapatkan beasiswa kuliah yang entah kenapa mungkin belum rejeki untuknya. Di sisi lain, Difa terlahir dengan tubuh yang bisa dikatakan kurus sehingga siapaun yang mendengar bahwa dia akan kuliah sambil bekerja mungkin itu hanyalah terdengar sebagai lelucon karena selama ini dia tidak ikut serta bekerja membantu kedua orang tuanya untuk bersawah atau pekerjaan berat lainnya, dia hanya tinggal di rumah sambil belajar.

Tekad bulat dari Difa adalah pilihan hidupnya. Salma tidak bisa mematahkan semangat dari adiknya yang memiliki cita-cita sangat mulia itu.

Selang beberapa jam kemudian, kedua orang tua mereka tiba di rumah. Mereka baru saja pulang dari kebun untuk memanen cabe. Sembari menyiapkan makanan yang baru saja selesai ia masak, Salma memanggil Difa untuk keluar dari kamar agar perutnya terisi karena subuh, Difa mengurung diri di kamar mereka berdua.

Namun, usaha Salma hanyalah sia-sia. Difa tak kunjung membuka pintu apalagi melangkahkan kakinya untuk keluar mengisi perutnya yang kelaparan itu.

Setelah semuanya selesai makan, Salma pun pergi untuk mencuci piring mereka. Ibunya yang tengah beristirahat di tempat tidur yang sengaja di letakkan di dalam ruangan dapur kerena tempat itu sangat lah sejuk sehingga dikhususkan untuk beristirahat jika mati lampu atau kepanasan.

Setelah pekerjaannya selesai, Salma kemudian mendekati ibunya yang sedang menikmati hembusan angin yang kian bersepoi-sepoi itu.

Salma langsung duduk di sebelah kanan ibunya lalu menawarkan diri untuk mengusuk ibunya yang terlihat sangat kelelahan itu. Ibunya tentu tidak menolak atas tawaran yang sangat langkah itu, karena biasanya Salma sangat tidak suka mengusuk meskipun ibunya beberapa kali meminta kepadanya.

“Bu, Salma dan Difa memiliki rencana yang sangat mulia.”

“Mulia, rencana apa itu?” tanya bu Tia penasaran.

“Salma dan Difa akan berangkat ke kota. Allhamdulillah, Difa lulus di salah satu perguruan tinggi yang dia idamkan. Namun, dia tidak lulus beasiswa. Jadi aku berencana pergi bersamanya untuk mencari kerja di kota tempat Difa kuliah agar setidaknya bisa membantu membiayai kuliahnya.”

“Apa? Kenapa Difa tidak memberitahukan kabar bahagia itu kepada ayah? Kapan kalian akan berangkat? Apakah kamu bisa bekerja di luar kota, Sal?” tanya bu Tia tanpa henti.

Salma hanya menganggukkan kepala atas pertanyaan ibunya.

“Panggilkan ayah dan Difa, kita harus membicarakan ini terlebih dahulu,” suruh bu Tia.

Salma pun dengan segera memangil ayahnya dan Difa hingga semuanya sudah berkumpul. Ibu Tia pun menceritakan semua yang telah diberitahukan oleh Salma kepadanya.

Bukan hanya Salma dan bu Tia. Pak Ali pun ikut terkejut mendengar kabar bahwa Difa lulus di salah satu perguruan tinggi itu.

Bersambung ....