JoyNovel

Lisons le monde

Ouvrir l'APP
Suamiku Duda Perjaka

Suamiku Duda Perjaka

Auteur:Yuliyhana

Mise à jour de

Introduction
Alesya seorang wanita yang memiliki kecantikan luar biasa. Mempunyai kulit putih bersih, wajahnya yang imut serta rambut panjangnya yang berwarna hitam legam. Membuat mata pria tidak berahli menatapnya saat ia berjalan di koridor kampus. Kecantikan yang ia miliki itu tidak lah berarti karena ia tetap sulit untuk mendapatkan pekerjaannya. Setelah dipecat secara tidak hormat dari sebuah minimarket karena telah difitnah mencuri barang teman kerja yang berada di loker. Karena ia seorang yatim-piatu tidak mempunyai keluarga maka ia harus berjuang sendiri untuk bisa hidup di kota metropolitan ini. Sahabat yang sudah dianggapnya seperti saudara yang ia miliki menawarkan sebuah pekerjaan. Alesya disuruh datang ke alamat yang tertulis di secarik kertas putih. Dengan perasaan yang begitu senang ia pun pergi menemui orang yang dimaksud sahabat tersebut. Tapi siapa sangka ternyata sahabat lnya itu malah menjualnya pada seseorang. Dan ia juga baru mengetahui saat orang yang ia temui itu mengatakan sebenarnya. Akankah Alesya memaafkan sahabatnya tersebut? Mengingat hanya dia yang dimiliki Alesya saat ini. Apakah kehidupan Alesya akan semakin menderita ulah dari sahabatnlya itu? Ikuti terus kisahnya... Ig_@yuliana Hartman
Afficher tout▼
Chapitre

“Plaaakk...”

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi mulus wanita cantik, yang sejak dari tadi menanggis pilu.

Wanita yang tubuhnya sedikit mungil itu terhuyung ke belakang saat tangan besar itu menyentuh pipinya.

Sungguh perih pipinya saat ini seperih hatinya yang sudah tidak berdaya akan perlakuan pria di hadapannya.

Pria dengan postur tubuh tegap kepala yang hanya sedikit ditumbuhi rambut menambah kesangaran di wajahnya.

“Jangan menanggis terus, semua itu tidak akan membuat kami luluh. Karena kamu sudah kami beli,” sarkasnya.

Membuat yang punya jati diri menelan air liurnya dengan susah.

“Amber sudah mendapatkan bayaran yang setimpal, jadi kami berhak untuk hidup kamu,” lanjutnya lagi.

Deg...

Jantung Alesya berhenti, mendengar pengakuan dari mulut pria bertubuh tegap tersebut. Sahabat yang sudah dianggapnya seperti saudara sendiri rela menjual dirinya demi uang.

Saudara satu-satunya yang ia miliki di dunia ini setelah kematian kedua orang tuanya. Tidak ada yang ingin merawatnya baik dari keluarga sang ayah maupun ibunya. Ia di biarkan berjuang sendiri untuk hidupnya. Hanya Amber yang ia punya, bersahabat sejak duduk di bangku SMA hingga di perkuliahan tidak membuat Alesya berpikir negatif tentang Ambar.

Namun, sekarang kenyataannya berubah. Amber dengan rela menjualnya entah uang yang didapatkannya untuk apa?

Tangis yang sejak tadi terdengar lirih terhenti saat pria itu mengatakan jika Amber di balik ini semua.

“Bos mau diapakan wanita ini?” tanya pria itu di sambungan selulernya.

“Baik,” sahutnya kemudian.

“Cepat kamu bersihkan tubuhmu itu dan pakaian ada di balik kamar itu,” tunjuk pria itu pada sebuah pintu yang masih tertutup rapat.

Dengan tenaga yang masih tersisa Alesya berjalan masuk ke dalam ruangan tersebut. Ia menatap ruangan itu yang diyakini adalah sebuah kamar. Karena terdapat kasur dan meja rias dan satu lemari kecil. Alesya mengintarinya mencari celah untuk ia melarikan diri dari pria itu. Tapi semua sia-sia ruangan itu tidak memberikan celah padanya, sepertinya memang sudah disetting sedemikian rupa.

Sesuai perintah, Alesya pun masuk ke dalam kamar mandi yang berada di dalam kamar tersebut. Menguyur tubuhnya di bawah kucuran air shower, tubuhnya yang sudah lelah itu kembali segar karena air dingin itu menyentuh permukaan kulitnya.

Tidak membutuhkan waktu lama Alesya pun telah keluar dengan menggunakan baju yang sudah disiapkan sebelumnya, baju berwarna soft blue dengan panjang sebatas lutut sangat pas di tubuhnya. Dalamnya juga begitu pas, entah siapa yang membelikan untuknya. Sengaja ia menggunakannya bajunya itu di dalam kamar mandi takut ada yang masuk secara tiba-tiba dan melihat dirinya yang tanpa busana.

Alesya langsung membuka pintu kamar tersebut setelah ia selesai, mendatangi pria yang membawanya tadi menggunakan mobil hitam, saat ia datang ke alamat yang ditulis Amber.

Alesya pasrah jika hidupnya tidak akan berlangsung lama. Karena ia juga sudah ingin bertemu kedua orang tuanya itu di surga Allah seperti janjinya pada sang ibu sewaktu kecil dulu.

Alesya di arahkan untuk duduk di sebuah sofa di dalam ruangan yang sedikit besar itu di mana terdapat sebuah televisi yang berukuran besar.

Alesya duduk ia merenungi nasibnya yang tidak pernah beruntung. Sampai-sampai seseorang yang berada di depannya tidak dihiraukannya. Tatapannya kosong ke depan.

“Hem...”

Dehemnya agar Alesya menyadari keberadaannya. Alesya langsung berpaling mendongakkan kepalanya ke atas guna melihat wajah orang yang sedang berdiri di depannya. Hanya sebentar saja ia melirik kemudian ia kembali menatap lurus ke depan seperti orang yang sudah kehilangan kesadarannya.

“Elo liat apaan sih?” celetuk pria itu.

Pria yang berbeda dari yang membawa Alesya ke sini. Pria ini begitu terlihat tampan, postur tubuhnya yang tinggi, rahang yang sedikit tegas, kulitnya putih bersih. Manik matanya berwarna abu. Membuat semua wanita ingin menjadi kekasihnya, apalagi mereka tahu jika ia merupakan pengusaha kaya raya.

Pria ini bernama Dennis Damara. Dennis merupakan otak dari penculikan dan pembelian Alesya dari Amber. Dennis melakukan itu karena kesalahannya di masa lalu dan ia ingin menebusnya sekarang.

“Elo nggak usah nanggis terus, gua jamin hidup lo setelah ini akan lebih baik,” celetuknya dengan kedua tangan di lipat di dada.

“Ikut gua,”perintah Dennis.

Dennis sudah menghilang di balik pintu, tertinggal Alesya yang masih diam di tempat duduknya.

“Elo nggak dengar apa, tadi bos bilang apa?” ujar anak buah Dennis.

Anak buah Dennis langsung memengang tangan mungil Alesya, menyusul Dennis yang sudah menunggu di ruang kerjanya.

Alesya di dudukkan di hadapan Dennis.

“Kamu, boleh pergi,” usir Dennis pada anak buahnya.

Dennis melemparkan kertas putih di depan Alesya. Kertas itu sudah terpenuhi oleh coretan tinta hitam.

“Elo baca tulisan yang ada di kertas itu,” suruhnya lagi.

“Nikah!” seru Alesya.

“Iya kita akan menikah besok lusa, hidup lo semua akan gua jamin, termasuk untuk biaya kuliah.”

“Setelah lo lulus dan berhasil mendapatkan pekerjaan lo boleh pergi jika lo mau,” lanjut Dennis.

“Buat apa lo lakukan ini semua sama gua?” tanya Alesya.

“Elo nggak perlu tau alasan gua, tapi yang lo harus tahu jika lo harus melaksanakan kewajiban lo sebagai istri termasuk urusan RANJANG,” ucap Dennis dengan penuh penekanan.

Alesya menelan air liurnya , ia begitu gugup saat Dennis mengatakan jika ia harus melayani Dennis.

Itu tidak ada dimimpinya, Alesya berusaha menjaga kesuciannya di kota metropolitan yang susah ini untuk suami yang ia cintai. Bukan suami yang datang tiba-tiba di hidupnya bahkan kenal pun ia tidak.

“Lo mikir apa lagi, cepat tanda tangani,” titah Dennis.

“Lo nggak ada pilihan lain selain menyetujui nya, jika tidak sahabat lo itu akan kami tembak karena sudah menjual orang yang tidak berguna.”

“Sebelumnya apa gua boleh telepon Amber dulu?” pinta Alesya.

“Cepat lima belas menit.”

Untung saja Alesya hapal nomor ponsel sahabatnya itu. Lama panggilan itu tak terjawab hingga Alesya melakukannya dua kali, barulah Amber mengangkatnya.

“Hallo,” sapa Amber di sebrang sana yang tidak tahu siapa yang menghubunginya.

“Amber ini gua,” lirih Alesya.

Amber diam mendengar suara Alesya, tentunya ia mengenal siapa yang menelepon saat ini.

“Kenapa lo lakukan ini semua sama gua, padahal lo tahukan kalau gua sudah menganggap lo sebagai saudara gua satu-satunya,lo tega mber,” lirih Alesya lagi tak tahan ia pun mengeluarkan air matanya.

“Maafkan gua sya, gua terpaksa lakukan ini. Lo tahukan nyokap gua butuh banyak biaya untuk pengobatan. Awalnya gua yang mau jual diri gua tapi karena mereka menginginkan lo terpaksa gua turutin, maaf,” balas Ambar.

“Tap-.”

Baru Alesya ingin menjawab tapi ponsel itu telah direbut kembali oleh Dennis.

Alesya menatapnya nanar.

“Sudah tunggu apa lagi,” celetuk Dennis mengingatkan.

Dengan perasaan yang tak menentu akhirnya Alesya pun menyetujui dan menandatangani surat itu.

Alesya nggak mau saudara yang ia punya satu-satunya akan pergi juga meninggalkan dirinya. Walaupun bagaimana pun Amber sudah dianggapnya sebagai saudaranya apalagi ibu Amber sering memasakkannya makanan.

“Bagus,” ucap Dennis ketika Alesya selesai menandatangani perjanjian itu.

“Elo akan ikut gua ke rumah, ingat saat di rumah gua lo harus bersikap seperti sepasang kekasih pada umumnya. Gua nggak mau semua orang mempertanyakan hubungan kita,” jelas Dennis.

“Sekarang lo, siap-siap gua nggak mau orang lihat wajah lo yang bengkak itu,” hardik Dennis.

“Di dalam kamar yang lo pakai tadi sudah ada perlengkapan make-up, lo bisa mengunakannya.”

Sesuai perintah Alesya pun beranjak dari duduknya, ia pergi ke kamar yang letaknya di sebelah ruang kerja Dennis.

Alesya melihat sebuah paperbag berada di atas meja rias, perlahan ia membuka dan melihat apa saja yang terdapat di dalamnya.

Alesya pun mulai mengaplikasikan makeup itu di wajahnya, seperti hari-hari biasa Alesya hanya mengunakannya senatural mungkin. Karena dirinya tidak menyukai make-up yang terlalu menyolok. Dan warna-warna make-up itu pun sesuai dengan kebutuhannya.

Belum selesai, Dennis sudah berdiri di ambang pintu menunggu Alesya selesai bermake-up untuk menutupi matanya yang sembab.

Bersambung...

Ig_Yuliana Hartman